Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Suasana di koridor utama pameran UMKM itu mendadak sunyi, seolah-olah oksigen di ruangan itu tersedot habis oleh ketegangan antara dua sosok yang pernah berbagi atap namun kini berdiri di dua kutub yang berbeda.
Reza, yang tadinya hendak melangkah pergi setelah merasa harga dirinya tercabik, menghentikan langkahnya tepat di batas karpet stan A.R Design.
Wajahnya merah padam. Sindiran Arumi tentang krisis bahan baku dan hilangnya kontrak 'Inti Serat' benar-benar menghantam titik saraf paling sensitif dalam bisnisnya.
Baginya, Arumi tetaplah sebuah kesalahan masa lalu yang seharusnya terkubur di selokan, bukan seorang pengusaha yang mampu mematikan langkah strategisnya.
Reza berbalik, menatap Arumi dengan tatapan yang bisa membakar apa pun yang ia lihat.
"Kamu pikir satu kontrak kapas organik bisa menjatuhkanku, Arumi? Aku punya ratusan mesin, ribuan buruh, dan modal yang bisa membeli sepuluh ruko seperti milikmu ini dalam sekejap!" Reza menunjuk ke arah manekin Arumi dengan jari gemetar. "Kamu hanyalah seorang penjahit yang sedang beruntung. Jangan merasa setara denganku."
Arumi tidak mundur satu inci pun. Ia justru melangkah keluar dari area stannya, berdiri tepat di lantai marmer yang sama dengan Reza, menghapus jarak yang selama ini Reza ciptakan untuk merasa lebih tinggi.
"Modal?" Arumi tertawa tipis, suara tawanya terdengar seperti denting kristal yang jatuh, indah namun tajam. "Uang adalah hal paling membosankan dalam bisnis jika pemiliknya tidak punya visi, Reza. Kamu terus-menerus bicara tentang mesin dan buruh, tapi kamu lupa bahwa industri tekstil sekarang sedang beralih ke etika dan kualitas."
Arumi melipat tangannya, matanya menatap tajam ke arah mata Reza yang mulai goyah.
"Dunia sedang memboikot bahan kimia ilegal yang kamu gunakan di pabrikmu. Investor mulai menarik diri karena isu limbah yang kamu sembunyikan. Dan di saat seperti itu, kamu malah menghina satu-satunya sektor yang sedang tumbuh pesat, sektor organik yang justru aku kuasai."
Arumi menjeda kalimatnya, memberikan tekanan pada setiap kata yang akan keluar selanjutnya.
"Seorang pengusaha besar yang gagal melihat potensi di depan matanya hanya karena kesombongan, adalah pengusaha yang sedang menunggu hari bangkrutnya. Dan hari ini, Reza... kamu bukan sedang melihat aku wanita yang malang. Kamu sedang melihat masa depan industri yang tidak akan pernah bisa kamu sentuh lagi."
Kalimat itu menghujam jantung Reza. Seluruh argumen yang sudah ia siapkan di ujung lidahnya mendadak menguap. Ia terpaku, bungkam seribu bahasa di depan puluhan mata pengunjung pameran dan awak media lokal yang mulai mengarahkan lensa kamera ke arah mereka.
Reza mencoba mencari kata-kata balasan, namun ia menyadari bahwa apa yang dikatakan Arumi adalah kebenaran yang pahit. Selama ini ia terlalu sibuk mengejar kuantitas dan margin keuntungan sampai ia buta terhadap perubahan pasar yang dikejar Arumi dengan begitu cerdas.
"Kamu..." Reza hanya mampu mendesis, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Sudahlah, Pak Reza," Arumi memotong dengan nada meremehkan yang sangat halus. "Simpan energimu untuk menjelaskan pada pemegang sahammu mengapa target produksi kuartal depan tidak bisa terpenuhi karena kekurangan bahan baku. Di sini, di pameran pasar kaget ini, aku punya lebih banyak kontrak yang harus kutandatangani daripada waktu untuk melayanimu."
Arumi berbalik, memberikan punggungnya pada Reza, sebuah simbol penghinaan tertinggi dalam dunia bisnis. Ia kembali menyapa kurator dari Singapura dengan wajah ramah seolah Reza tidak pernah ada di sana.
Reza melangkah pergi dengan langkah cepat, hampir berlari menuju pintu keluar. Asistennya kewalahan mengikuti langkah kakinya yang penuh amarah. Begitu sampai di dalam mobil, Reza menghantam dasbor dengan kepalan tangannya.
"Cari jalan lain! Aku tidak peduli bagaimana caranya, ambil alih stok kapas itu atau hancurkan pengirimannya!" teriak Reza.
"Tapi Pak... kontrak A.R Design sangat kuat secara hukum, apalagi mereka didampingi firma hukum Madam Ling," asistennya menjawab dengan suara kecil.
Mendengar nama Madam Ling, Reza tertegun. Ia baru menyadari bahwa Arumi bukan hanya bangkit sendirian, ia telah beraliansi dengan musuh bebuyutan keluarganya. Ini bukan lagi sekadar urusan masa lalu ini adalah perang total.
Di stan pameran, setelah suasana mendingin, Mbak Lastri dan Shinta mendekati Arumi. Mereka telah menyaksikan seluruh kejadian itu dari balik tirai.
"Ibu Arumi tidak apa-apa?" tanya Mbak Lastri khawatir.
Arumi menghela napas panjang, lalu tersenyum pada timnya. "Aku baik-baik saja, Mbak. Justru aku merasa lebih hidup dari sebelumnya."
"Kami bangga pada Ibu," ucap Shinta dengan mata berkaca-kaca. "Ibu menunjukkan pada kita semua bahwa kita tidak perlu takut pada orang-orang seperti dia. Kami akan bekerja dua kali lebih keras untuk menyelesaikan pesanan hari ini. Biar dia tahu kalau janda-janda penjahit ini bisa mengguncang perusahaannya."
Arumi memeluk Shinta dan Lastri. Ia menyadari bahwa kekuatannya kini bukan hanya pada kecerdasannya, tapi pada loyalitas tak terbatas dari orang-orang yang ia angkat dari lumpur yang sama.
~~
Malam harinya, di butik barunya yang sunyi, Arumi duduk menghadap jendela besar. Ia memegang selembar kain sutra hitam yang akan ia kirimkan sebagai sampel untuk sebuah rumah mode di Paris.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal masuk.
"Kamu menang hari ini di pameran. Tapi ingat, Arumi... sebuah kerajaan tidak runtuh hanya karena kekurangan kapas. Aku punya cara lain untuk membungkammu. ~R."
Arumi tidak menghapus pesan itu. Ia justru tersenyum miring. Ia mengambil sebilah gunting dan memotong seutas benang merah di atas meja potongnya.
"Kamu masih belum mengerti, Reza," gumam Arumi. "Sebuah kerajaan runtuh bukan karena musuh dari luar, tapi karena rajanya terlalu sombong untuk menyadari bahwa fondasinya sudah keropos. Dan aku... aku sudah menarik satu benang utama yang akan membuat seluruh bangunanmu runtuh berantai."
Arumi mematikan lampu butiknya, meninggalkan bayangan manekin yang tampak seperti prajurit yang siap berperang. Ia tahu, mulai besok, Reza akan mulai bermain kotor.
Namun, Arumi sudah bukan lagi mangsa. Ia adalah pemburu yang sedang menunggu mangsanya masuk ke dalam lubang yang telah ia gali dengan kesabaran luar biasa.
Kini pemandangan ruko A.R Design bersinar di tengah kegelapan, sebuah simbol keberanian yang tidak akan bisa dipadamkan oleh gertakan pria mana pun.
...----------------...
To Be Continue ....