Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilih Aku atau Bayimu
Bab 35 – Pilih Aku atau Bayimu
“Satu langkah lagi kau maju, Kael… aku bunuh pewaris lo ini sekarang juga!”
Seluruh udara di dalam rumah kaca itu seakan berhenti berputar.
Pisau tajam milik Elena menempel tepat di perut Alya. Hanya selapis kain yang memisahkannya dengan kulit. Sangat tipis, tapi cukup untuk membuat jantung siapa pun yang melihatnya berhenti berdetak.
Alya bahkan tak berani menarik napas. Tubuhnya kaku total.
Kael berdiri sekitar tiga langkah di depan mereka. Wajahnya datar. Terlalu datar dan kosong tanpa ekspresi. Tatapan mata gelapnya menatap lurus ke arah pisau itu tanpa berkedip sedikit pun.
Dan justru ketenangan itulah yang terasa jauh lebih menakutkan daripada saat dia marah besar.
“Lepaskan dia,” suara Kael keluar pelan, namun terdengar berat dan mengandung ancaman mematikan.
Elena tersenyum miring penuh kemenangan.
“Tidak akan.”
Di sisi kiri, Serena masih berdiri memegang pecahan pot bunga.
“Kalau aku lempar ini ke kepala lo gimana?” tantang Serena.
“Coba saja gerak satu jari pun… aku akan sobek perut gadis ini,” jawab Elena santai tapi sadis.
Serena mendecakkan lidah kesal.
“Psikopat yang nggak kreatif.”
Di sudut lain, Riko sedang memeluk tubuh Mira yang gemetar hebat menahan tangis.
“Nyonya, jangan! Jangan nekat!”
“Alya! Sayangku! Jangan bergerak ya!” teriak Mira histeris.
Alya ingin menjawab, ingin bilang kalau dia baik-baik saja, tapi tenggorokannya terasa kering dan tercekat. Ia hanya bisa menatap Kael, meminta pertolongan lewat sorot matanya.
Dan pria itu menatap balik. Tatapannya tenang… terlalu tenang.
“Kael…” bisik Alya nyaris tak terdengar.
“Aku di sini.”
“Dia pegang pisau… di perutku…”
“Aku lihat. Aku perhatikan semuanya.”
“Aku takut.”
Untuk pertama kalinya malam itu, nada suara Kael terdengar sedikit retak dan bergetar.
“Aku tahu, Sayang. Aku tahu.”
Jantung Alya berdebar kacau. Ia belum pernah sekalipun mendengar Kael terdengar… takut.
Elena tertawa kecil memandangi pemandangan di depannya.
“Lihat dirimu, Kael. Raja kecil keluarga Lorenzo akhirnya berlutut juga pada yang namanya cinta.”
Kael melangkah maju setengah langkah.
SREET.
Pisau itu langsung menekan lebih dalam menembus kain baju Alya. Gadis itu meringis kesakitan.
Kael langsung berhenti bergerak seketika. Matanya berubah gelap pekat, penuh amarah yang siap meledak.
“Elena.”
“Hm?”
“Kalau kau berani melukai satu sentimeter pun kulitnya…”
Kael berbicara sangat pelan, tapi setiap katanya jelas dan menusuk.
“…aku janji, aku akan membuatmu berdoa supaya Tuhan mencabut nyawamu malam ini juga supaya tidak merasakan sakitnya tanganku.”
Elena justru tersenyum semakin lebar.
“Ancaman yang manis sekali. Aku suka.”
Alya berusaha keras berpikir jernih. Ia tidak bisa hanya diam jadi sandera.
Pisau. Jarak. Posisi Kael. Riko di sana. Jendela pecah. Lantai yang licin karena air hujan.
Ia harus membantu.
“Kael…” panggil Alya pelan.
“Jangan bicara banyak-banyak. Hemat tenaga.”
“Dengerin aku dulu.”
“Nanti saja.”
“Kamu nyebelin banget sih.”
“Fokus saja.”
Elena tertawa lagi.
“Masih sempat-sempatnya bertengkar manis? Menjijikkan sekali melihatnya.”
Tiba-tiba Mira melepaskan pegangan Riko dan langsung berlutut di lantai basah sambil menangis tersedu-sedu.
“Elena… tolong… aku mohon… ambil aku saja sebagai tebusan. Lepaskan putriku!”
Elena menoleh sekilas dengan wajah jijik.
“Kau? Aku sudah bosan dan muak melihat wajahmu dari dulu.”
Mira menangis semakin keras, lalu berteriak memberitahu.
“DIA SEDANG HAMIL! DIA LAGI MENGANDUNG ANAK KAEL! JANGAN GANGGU DIA!”
Elena memutar bola matanya malas.
“Ya tahu lah. Justru itu bagian yang paling kusuka dari drama malam ini.”
Tangan Kael terkepal kuat di sisi tubuhnya. Urat-urat di leher dan rahangnya menonjol jelas menahan amarah yang meluap-luap.
Serena berbisik pelan ke arah Riko,
“Lihat tuh wajahnya. Kalau dia meledak sekarang, kita semua bisa jadi korban balas dendamnya.”
Riko mengangguk pelan dengan wajah pucat.
“Saya rasanya sudah mau menulis wasiat mental nih, Nona.”
Elena menatap Kael dengan tatapan penuh obsesi dan kemenangan.
“Sekarang… kita main tebak-tebakan. Pilih.”
Seluruh ruangan kembali hening membeku.
“Pilih apa?” tanya Kael datar.
“Aku… atau bayi di dalam perutnya?”
Alya melotot kaget tak percaya.
“GILA YA! Nggak ada satu pun orang di sini yang mau milih lo!”
“DIAM KAU!” bentak Elena sambil menggoyangkan pisau di perut Alya.
“BERHENTI!” teriak Kael cepat. “Jangan sentuh dia!”
Elena tersenyum puas melihat Kael terpancing emosi.
“Nah, gitu dong. Baru enak diajak bicara.”
Ia menatap Kael dalam-dalam, menampakkan obsesi lamanya yang sudah menumpuk belasan tahun.
“Kalau kau benar-benar mau mereka berdua selamat tanpa ada luka sedikit pun… kau maju ke sini sekarang, berlutut di hadapanku, dan cium tanganku sebagai tanda takluk.”
Serena di belakang langsung muntah-muntah pura-pura.
“Aduh menjijikkan banget sih gaya lo!”
“KAEL JANGAN! JANGAN LAKUIN!” teriak Alya panik.
Elena kembali menekan ujung pisaunya. Alya menahan napas tertahan sakit.
Kael menatap wajah gadis itu sebentar, lalu tanpa berkata apa-apa… ia mulai melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
“KAEL!!!” jerit Alya merasa dadanya sesak sekali.
Tapi Kael seolah tak mendengar teriakan itu. Wajahnya tetap tenang, dingin, dan fokus saat berjalan mendekati wanita gila itu.
Elena tersenyum lebar seperti pemenang.
“Lihat? Semua pria Lorenzo itu sama saja. Paling bisa dikendalikan kalau soal wanita dan anak.”
Kael berhenti tepat di hadapannya.
Lalu…
Dengan sangat perlahan, ia benar-benar menekuk lututnya.
Ia berlutut.
Pria paling arogan, paling dingin, dan paling berkuasa yang pernah Alya kenal… kini berlutut di hadapan musuhnya.
Hanya demi Alya.
Hanya demi bayi yang ada di kandungannya.
Elena mengulurkan tangannya dengan sombong.
“Cium.”
Kael menundukkan kepalanya.
Wajahnya tak terlihat.
Saat bibirnya hampir saja menyentuh punggung tangan Elena—
BRAAAKKK!!!
Dalam sepersekian detik, Kael memutar tubuhnya dengan kecepatan kilat! Ia menghantam lutut Elena dari bawah dengan keras!
“AAAAAKKK!!!”
Elena menjerit kesakitan dan kehilangan keseimbangan. Tangannya terlempar ke atas. Pisau terlepas dari genggamannya!
“AYO ALYA LARI!” teriak Kael sambil menarik tubuh gadis itu keras-keras menjauh dari jangkauan musuh.
Semua kejadian berlangsung sangat cepat, hanya dalam hitungan detik!
DUK!
Serena tak mau kalah, langsung melempar pot bunga besar yang dipegangnya tepat ke kepala Elena!
“YES! TEMBUS!” teriak Serena heboh.
Riko langsung melompat ke depan menahan tubuh Elena yang jatuh dan mengikat tangannya dengan kuat di belakang punggung.
Mira langsung berlari memeluk Alya erat-erat menangis.
Kael berdiri tegak di depan mereka berdua, napasnya memburu, tatapannya tajam seperti elang yang baru saja menang.
Elena tergeletak di lantai, mulutnya berdarah, tapi masih tertawa-tawa seperti orang gila.
“Kau curang… Kael…”
Kael menatapnya dingin tanpa rasa belas kasihan.
“Bodoh sekali kau. Aku ini mafia. Tentu saja aku tidak main ksatria.”
Beberapa menit kemudian.
Elena sudah diikat kuat di kursi besi yang tadi dipakai Mira. Ia masih sesekali tertawa sendiri dengan tatapan kosong.
Alya duduk di bangku kayu tua, tubuhnya masih gemetar hebat karena syok dan sisa ketakutan.
Kael langsung berlutut di hadapannya, setinggi pandangan mata gadis itu.
“Lihat aku, Alya.”
“Aku… aku baik-baik saja kok.”
“Itu bohong.”
“Gemetar ini karena… karena dingin aja kok.”
“Itu juga bohong.”
Kael mengangkat kedua tangannya, lalu memegang wajah Alya dengan sangat lembut dan hati-hati, seolah gadis itu adalah barang paling rapuh di dunia.
“Dia melukaimu? Di perut?” tanyanya cemas.
“Enggak… enggak apa-apa. Cuma keteken doang, nggak sampai berdarah kok.”
“Yakin benar?”
“Yakin deh. Paling yang sakit itu cuma harga diriku doang tadi.”
Kael menghembuskan napasnya yang tertahan sangat panjang, seakan baru sekarang ia bisa bernapas lega.
Ia menyandarkan keningnya ke kening Alya, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
Alya membeku.
“Kael…”
“Aku hampir kehilangan kalian berdua.”
Suaranya sangat rendah, sangat berat, dan terdengar sangat jujur.
Ia membuka matanya kembali, dan di sana Alya melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya selama ini.
Kael Lorenzo tadi benar-benar panik.
Sangat panik.
Hanya karena takut kehilangan dirinya dan bayi mereka.
Jantung Alya terasa hangat dan sesak di saat yang bersamaan.
“Aku masih di sini, Kael. Kita semua selamat,” bisiknya pelan menenangkan.
Kael menatap wajahnya lama sekali.
“Jangan pernah lakukan hal berbahaya seperti itu lagi.”
“Diculik gitu?”
“Bikin aku jantungan dan mau mati rasanya lihat kamu bahaya.”
Alya tersenyum kecil meski matanya basah.
“Berarti kamu sangat peduli ya sama aku?”
Kael mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya pelan.
“Lebih dari apa pun. Lebih dari yang dianggap aman oleh akal sehat.”
Tiba-tiba suara tawa keras Elena memecah suasana haru itu.
“Hahaha… lucu sekali kalian ini… sangat manis…”
Semua orang langsung menoleh ke arahnya.
Wanita itu menatap Alya dengan mata yang berkilat aneh dan gila.
“Kalian pikir tujuan aku datang malam ini cuma buat balas dendam doang?”
Kael berdiri perlahan, aura dinginnya kembali keluar.
“Kalau kau berani bicara ngawur lagi—”
“DIAM!” potong Elena cepat.
Ia tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berdarah sedikit.
“Aku datang ke sini BUKAN untuk membunuh Alya.”
Ruangan kembali hening total.
“Terus buat apa?” tanya Kael tajam.
Elena menatap lurus ke arah perut Alya, tatapannya penuh dengan keinginan memiliki yang mengerikan.
“Aku datang… untuk mengambil apa yang ada di dalam situ.”
Alya langsung reflek memeluk perutnya ketakutan. Mira menjerit kecil kaget.
Kael melangkah maju mendekati wanita itu, suaranya menggelegar.
“JELASKAN MAKSUDMU!!”
Elena menjilat bibirnya yang pecah-pecah.
“Karena bayi itu…”
Ia tertawa lagi.
“…bukan cuma sekadar pewaris keluarga Lorenzo biasa.”
Matanya naik menatap wajah Kael yang terpana.
“Itu adalah SATU-SATUNYA anak yang punya hak sah untuk membuka dan mengambil semua isi rekening rahasia serta harta peninggalan ibumu yang sudah meninggal belasan tahun lalu!”
BRUG!!
Seperti ada petir yang menyambar di dalam kepala Kael. Tubuhnya membeku kaku.
Untuk kedua kalinya malam itu, Kael Lorenzo tampak benar-benar syok dan tak percaya.
“Mustahil… Itu rahasia tertutup…” gumamnya pelan.
Elena tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi itu.
“Kalau memang mustahil dan bohong… lalu kenapa nama Alya yang tertulis jelas sebagai ahli waris tunggal di dalam surat wasiat tersembunyi yang dibuat ibumu sebelum dia mati?”