Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kehancuran yang Elegan
Pagi itu, kantor pusat Quizel Group terasa sangat mencekam. Kabar mengenai ancaman Tuan Wijaya ayah Rachel untuk menarik investasi besar mereka telah menyebar luas ke kalangan pemegang saham. Di tengah kekacauan itu, Leonard duduk di ruang kerjanya yang luas, menatap pemandangan kota dari dinding kaca.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Hanya satu orang di dunia ini yang berani melakukannya sekarang.
"Leonard, kopi?" Elara masuk dengan gaya santai, membawa segelas kopi hitam di satu tangan dan sebuah tablet di tangan lainnya. Penampilannya hari ini sangat kontras dengan suasana kantor; ia memakai setelan blazer putih yang membuatnya terlihat sangat berwibawa.
"Elara, aku sedang tidak ingin bercanda. Ayah Rachel benar-benar menarik dananya pagi ini. Saham perusahaan sedikit goyah," ujar Leonard sambil memijat pelipisnya.
Elara meletakkan kopi itu di meja Leonard dan menggeser tablet-nya. "Kenapa pusing? Justru ini saatnya kita memanen. Lihat ini."
Leonard melihat layar tablet itu. Di sana terpampang data keuangan perusahaan keluarga Wijaya yang ternyata sangat rapuh. Mereka memiliki hutang tersembunyi di beberapa bank luar negeri yang selama ini ditutupi dengan dana investasi mereka di Quizel Group.
"Mereka menarik dana dari kita bukan karena mereka kuat, Leonard. Tapi karena mereka panik. Rachel menggunakan sisa pengaruh ayahnya untuk menekanmu, tapi dia tidak sadar kalau dia baru saja memutus tali penyelamatnya sendiri," jelas Elara dengan seringai tipis.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan data internal bank luar negeri ini?" Leonard menatap Elara dengan tatapan tidak percaya.
"Sistem...maksudku, aku punya 'teman' di jaringan informasi global. Intinya, Leonard, jangan tahan mereka. Biarkan mereka menarik dananya. Dan saat harga saham mereka anjlok karena berita penarikan itu, kita beli semua aset fisik mereka dengan harga sampah."
Leonard terdiam. Strategi Elara sangat agresif, namun secara matematis sangat menguntungkan. Ia baru saja menyadari bahwa istrinya ini memiliki otak predator bisnis yang lebih tajam darinya.
Sore harinya, Elara memutuskan untuk mengunjungi penthouse baru yang diberikan Leonard. Ia perlu memastikan area itu aman untuk menimbun logistik rahasia. Namun, saat ia baru saja turun dari mobil di lobi gedung mewah tersebut, sosok yang sangat ia kenal mencegatnya.
Rachel. Wajahnya tampak kacau, matanya sembab, tapi amarahnya masih meluap-luap.
"Elara! Berhenti kamu!" teriak Rachel. Beberapa penghuni apartemen mulai menoleh.
Elara berhenti dan berbalik perlahan, melipat tangannya di dada. "Nona Rachel? Masih belum cukup dipermalukan semalam? Sekarang mau main drama di lobi?"
"Gara-gara kamu, ayahku marah besar pada Leo! Gara-gara kamu, posisi keluargaku terancam! Kamu pikir karena sudah kurusan dikit kamu bisa menang?" Rachel mendekat dengan langkah limbung. "Leo itu milikku! Kamu hanyalah parasit yang kebetulan beruntung!"
Elara tertawa pelan, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Rachel. "Parasit? Rachel, dengar baik-baik. Yang parasit itu adalah orang yang kembali saat mantan kekasihnya sukses setelah dulu meninggalkannya saat terpuruk. Aku? Aku adalah orang yang akan memastikan kamu tidak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan."
"Kamu—!" Rachel mengangkat tangannya hendak menampar Elara.
Namun, sebelum tangan itu mendarat, sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangan Rachel dengan sangat kasar.
"Sentuh dia, dan aku pastikan keluarga Wijaya akan tidur di jalanan malam ini juga."
Suara bariton yang dingin itu milik Leonard. Ia berdiri di sana dengan aura yang sangat mengintimidasi. Ternyata sejak tadi Leonard mengikuti mobil Elara karena merasa khawatir.
"Leo..." Rachel gemetar, ketakutan melihat kilatan amarah di mata Leonard.
"Pergi dari sini, Rachel. Jangan pernah muncul di depan istriku lagi. Arkan!" Leonard memanggil asistennya yang sigap muncul dari balik pintu lobi. "Pastikan Nona Rachel masuk ke daftar hitam seluruh gedung milik Quizel Group. Dan... kirimkan dokumen gugatan pencemaran nama baik atas kejadian semalam."
Rachel jatuh terduduk di lantai lobi, menangis histeris sementara Leonard menarik Elara masuk ke dalam lift tanpa sepatah kata pun.
Di dalam lift yang sunyi, Leonard masih memegang tangan Elara dengan erat. Napasnya masih memburu karena emosi.
"Kamu tidak perlu mengikutiku, Leonard. Aku bisa mengatasinya sendiri," ujar Elara lembut, mencoba melepaskan tangannya.
Bukannya melepaskan, Leonard justru menarik Elara ke sudut lift dan menguncinya dengan kedua tangan di sisi kepala Elara. "Kenapa kamu selalu mencoba melakukan semuanya sendiri? Kamu istriku, Elara. Berhenti bersikap seolah-olah kamu tidak butuh siapa-siapa."
Elara menatap mata Leonard yang berkaca-kaca karena amarah dan... sesuatu yang mirip dengan rasa takut kehilangan. "Karena di dunia yang akan datang, Leonard, mengandalkan diri sendiri adalah satu-satunya cara untuk selamat."
"Persetan dengan duniamu yang akan datang!" Leonard membungkuk, wajahnya sangat dekat dengan wajah Elara. "Untuk saat ini, di dunia ini, biarkan aku yang menjagamu. Mengerti?"
Ting!
[Progres Hubungan: 70%.]
[Pemberitahuan: Target telah mencapai level 'Protective Obsession'. Anda mendapatkan akses ke fitur 'Shared Storage' (Anda bisa memberikan akses terbatas pada target)!]
[Bonus 300 Juta Rupiah telah masuk ke rekening!]
Elara tersentak. Shared Storage? Itu artinya dia bisa mulai memberi tahu Leonard pelan-pelan tentang kiamat yang akan datang.
"Leonard," bisik Elara. "Kalau aku bilang... aku butuh gudang ini untuk menyimpan makanan yang cukup untuk sepuluh tahun karena akan ada bencana besar, apa kamu akan percaya?"
Leonard menatap mata Elara dalam-dalam. Jika itu orang lain, ia akan memanggil psikiater. Tapi setelah melihat semua keajaiban yang dilakukan Elara seminggu ini, ia hanya mengangguk pelan.
"Jika itu kamu yang mengatakannya... aku akan membeli seluruh pabrik makanan untukmu."
Elara tersenyum, hatinya terasa hangat. Tanpa sadar, ia menjinjit dan mengecup pipi Leonard singkat. "Kalau begitu, mari kita mulai belanja besar-besaran, Sayang."
Wajah Leonard mematung, telinganya memerah. Ia hanya bisa mengangguk kaku sementara lift berdenting di lantai penthouse.
[Misi Sampingan: 'Beli Pabrik Logistik' Dimulai!]
[Hadiah: Poin Evolusi Infinite Space & 1 Miliar Rupiah!]
________
Pintu lift terbuka, menampilkan penthouse mewah dengan pemandangan 360 derajat kota yang masih berkilau sombong, tidak tahu bahwa beberapa bulan lagi peradaban ini akan goyah. Leonard masih mematung memegangi pipinya yang baru saja dikecup Elara, sementara Elara sudah melangkah masuk dengan gaya bos besar.
"Leonard, jangan bengong. Sini," panggil Elara sambil menyalakan tabletnya di atas meja marmer dapur.
Leonard berjalan mendekat, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berantakan. "Jadi... kamu serius soal bencana besar itu? Elara, kalau ini soal perubahan iklim atau krisis ekonomi, aku paham. Tapi sepuluh tahun pasokan makanan? Itu terdengar seperti... persiapan akhir zaman."
Elara menatap Leonard serius. "Memang. Anggap saja ini investasi paling penting dalam hidupmu. Kamu percaya padaku, kan?"
Leonard menatap mata jernih Elara. Logikanya berteriak bahwa ini gila, tapi hatinya yang sudah telanjur "bucin" memilih untuk menyerah. "Oke. Katakan apa yang kamu butuh."
"Pertama, pabrik pengalengan makanan milik Wijaya Group yang hampir bangkrut itu. Kita beli minggu ini. Kedua, aku butuh sistem pemurnian air skala industri di basement gedung ini dan di mansion," Elara menjentikkan jarinya. "Dan ketiga, aku ingin kita mulai memindahkan emas batangan dari bank ke bunker pribadi."
Leonard mengernyit. "Membeli pabrik Wijaya? Itu akan memberi mereka uang segar untuk membayar hutang."
Elara menyeringai licik. "Tidak, kalau kita membelinya melalui perusahaan cangkang di saat mereka benar-benar di titik nadir besok pagi. Kita tekan harganya sampai mereka merasa itu satu-satunya cara untuk selamat, padahal kita baru saja mengambil aset fisik terpenting mereka."
Keesokan paginya, rencananya berjalan sempurna. Saham Wijaya Group anjlok parah setelah berita penarikan dana dari Quizel Group bocor ke media. Tuan Wijaya yang panik akhirnya menjual pabrik pengalengan dan logistik utamanya kepada pembeli misterius (yang sebenarnya adalah Elara dan Leonard) dengan harga hanya 20% dari nilai asli.
Di saat yang sama, Elara diam-diam menggunakan fitur Shared Storage yang baru terbuka.
"Leonard, tutup matamu sejenak," ujar Elara saat mereka berada di gudang kosong milik pabrik yang baru dibeli.
Leonard menurut. Saat ia membuka mata, gudang yang tadinya kosong melompong itu kini penuh sesak dengan ribuan dus air mineral dan beras yang sebelumnya dibeli Elara secara online.
"Ini... bagaimana bisa?" Leonard ternganga, ia meraba salah satu dus yang nyata di depannya. "Elara, kamu punya sihir?"
"Bukan sihir, ini teknologi... sebut saja begitu. Dan mulai sekarang, kamu juga bisa memasukkan barang ke sini kalau kamu memegang tanganku," Elara menjelaskan dengan santai.
Leonard menatap tangannya, lalu menatap Elara. Alih-alih takut, ia justru merasa sangat beruntung. Istrinya bukan hanya berubah cantik dan pintar, tapi dia adalah kunci keselamatan di masa depan.
Ting!
[Progres Hubungan: 75%.]
[Pemberitahuan: Leonard merasa sangat terikat dengan Anda karena rahasia besar ini. Status: 'Partner in Crime'.]
[Bonus 500 Juta Rupiah cair!]
Sore harinya, saat mereka sedang merencanakan pengamanan bunker, sebuah panggilan masuk ke ponsel Leonard. Itu dari Rachel. Leonard menyalakan loudspeaker atas isyarat dari Elara.
"Leo... tolong... Ayah kena serangan jantung setelah tahu pabrik kami dijual ke orang asing. Kami bangkrut, Leo. Tolong bantu aku sekali saja, demi masa lalu kita," suara Rachel terdengar terisak hancur.
Leonard melirik Elara. Elara hanya mengedikkan bahu, memberikan keputusan sepenuhnya pada Leonard.
"Rachel," suara Leonard terdengar dingin tanpa emosi. "Masa lalu itu sudah mati saat kamu mencoba membiusku dan menghina istriku. Jangan pernah hubungi aku lagi. Oh, dan soal pabrik itu? Pemilik barunya adalah istriku. Kalau kamu butuh bantuan, mungkin kamu bisa melamar jadi buruh cuci di sana."
Leonard langsung mematikan sambungan telepon.
Elara tersenyum puas. "Sadis juga ya kamu, Sayang."
"Hanya membalas apa yang pantas mereka dapatkan," Leonard menarik pinggang Elara mendekat, menatapnya dengan intensitas yang membuat Elara sedikit salah tingkah. "Sekarang, karena aku sudah menjadi 'Partner in Crime'-mu, apa imbalannya?"
Elara tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher Leonard. "Imbalannya adalah... aku akan pastikan kamu tetap hidup dan makan enak saat semua orang di luar sana berebut sepotong roti."
"Hanya itu?" bisik Leonard, wajahnya semakin mendekat.
"Dan mungkin... aku akan mengizinkanmu tidur di kamarku malam ini," sahut Elara berani.
Leonard tidak menunggu jawaban kedua. Ia langsung mencium Elara dengan penuh gairah sebuah ciuman yang menandakan bahwa Leonard Quizel kini sepenuhnya berada di bawah kendali Elara, baik di dunia ini maupun di dunia kiamat nanti.
[Misi 'Bangkrutkan Wijaya' SELESAI!]
[Hadiah: Senjata Keamanan Sistem 'Stun Pulse' & 1 Miliar Rupiah telah diterima!]
Bersambung....🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Cuma satu yang dipertanyakan. Apakah Elara memikirkan solusi? Atau hanya mengikuti misi dari sistem dan bertahan hidup?
Harusnya Elara memikirkan solusi untuk mengembalikan keadaan. Misalnya dengan mencari sebab dulu, baru menemukan solusi (walau masih belum pasti) dan menjadikan solusi itu tujuan cerita. Kita jadi tahu akan dibawa ke mana cerita ini pada akhirnya. Kedamaian hakiki walau ga bisa mengembalikan dunia secara utuh. atau mereka bisa mereset semuanya? Tapi kalau reset, Elara waktu rebirth pun ga ada niatan menghentikan terjadinya chaos. hanya sibuk menyiapkan 'payung'.
dan ke mana manusia-manusia pengkhianat itu? Kenapa Elara tidak pernah mencari mereka untuk balas dendam?