Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Hukum Rimba di Pegunungan Kabut Darah
Udara di dalam Pegunungan Kabut Darah selalu terasa lembap dan membawa aroma karat yang menusuk hidung. Pohon-pohon kuno menjulang tinggi dengan kanopi daun yang begitu rapat, menghalangi cahaya matahari dan menciptakan suasana remang-remang layaknya alam baka, bahkan di siang bolong.
Bayangan sesosok remaja melesat cepat di antara dahan-dahan pohon besar, gerakannya lincah dan nyaris tanpa suara bak seekor macan kumbang.
Lin Chen mendarat di atas sebuah dahan pohon ek yang kokoh, menatap tajam ke semak belukar lebat di bawahnya. Telinganya menangkap suara dengusan napas yang berat dan serak.
Dari balik semak, muncul seekor makhluk setinggi pinggang manusia dewasa. Bulunya sekeras jarum baja berwarna abu-abu gelap, dan sepasang taringnya melengkung keluar dari rahang bawahnya.
Itu adalah Serigala Taring Besi, Binatang Iblis Tingkat 1 tahap menengah. Kekuatannya kurang lebih setara dengan seorang kultivator Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 4 atau 5.
"Target pertama," bisik Lin Chen dengan mata menyipit.
Seolah menyadari keberadaan mangsa di atasnya, Serigala Taring Besi itu mendongak, menatap Lin Chen dengan mata merah menyala. Tanpa ragu, monster itu menekuk kaki belakangnya dan melompat ke udara dengan raungan buas, taringnya mengarah lurus ke leher Lin Chen.
Lin Chen tidak mundur. Sebaliknya, ia melompat turun menyongsong serigala itu.
Saat mereka berpapasan di udara, Lin Chen memutar Qi di dalam Meridian Naganya, mengalirkannya secara brutal ke telapak tangan kanannya mengikuti jalur Tapak Guntur Pecah. Otot-otot di lengan kanannya menegang hebat hingga pembuluh darahnya menonjol. Sedikit kilatan cahaya biru redup yang menyerupai percikan petir membungkus telapak tangannya.
"Mati!"
Lin Chen menghantamkan telapak tangannya langsung ke tengkorak tebal sang serigala.
BAM!
Suara ledakan tumpul bergema keras. Tubuh besar serigala itu terhempas ke tanah seperti batu yang dijatuhkan dari langit, menciptakan kawah kecil. Tengkoraknya yang dikabarkan sekeras besi itu hancur berkeping-keping. Monster itu mati seketika, bahkan sebelum sempat merintih.
Lin Chen mendarat dengan ringan di tanah. Namun, saat itu juga, ia merasakan sakit yang luar biasa dari lengan kanannya. Beberapa urat meridian di tangannya robek akibat aliran Qi yang tidak beraturan dari teknik bela diri yang cacat tersebut.
"Ini akibatnya menggunakan teknik yang tidak lengkap," suara Mo Xuan terdengar tenang. "Kekuatan hantamannya meningkat dua kali lipat, namun setengah dari gaya tolaknya berbalik merusak tubuh pengguna. Kultivator biasa akan cacat setelah menggunakan teknik ini sebanyak tiga kali."
Namun, di saat bersamaan, Meridian Naga di dalam tubuh Lin Chen bereaksi. Energi emas yang sejuk mengalir seketika, menyembuhkan urat-urat yang robek hanya dalam hitungan detik.
Lin Chen mengepalkan tangannya yang sudah kembali normal, tersenyum puas. "Dengan ketahanan Meridian Naga, cacat dari Tapak Guntur Pecah tidak berarti apa-apa bagiku. Sekarang, saatnya makan."
Ia berjongkok di samping bangkai serigala, menempelkan telapak tangannya pada tubuh makhluk yang masih hangat itu, dan mengaktifkan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga.
Seketika, pusaran energi hitam pekat berputar di telapak tangan Lin Chen. Bangkai serigala itu bergetar hebat. Esensi darah, energi otot, dan secercah Qi liar yang ada di dalam tubuh binatang itu ditarik keluar secara paksa.
Dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, bangkai serigala berotot itu menyusut dengan cepat, berubah menjadi mumi kering yang kehilangan seluruh esensi kehidupannya. Jika ada kultivator yang melihat adegan brutal ini, mereka pasti akan lari terbirit-birit sambil berteriak memanggil Lin Chen sebagai iblis.
Lin Chen memejamkan mata, merasakan gelombang energi asing mengalir masuk ke Dantiannya, dimurnikan seketika oleh Seni Pemakan Surga menjadi Qi emas murni.
"Satu ekor Serigala Taring Besi memberi energi yang sama dengan sepuluh hari bermeditasi," gumam Lin Chen takjub. "Ini gila."
"Teruslah berburu. Ujian Klan tinggal dua puluh hari lagi. Kau tidak punya waktu untuk bersantai!" desak Mo Xuan.
Lin Chen mengangguk mantap. Ia membalikkan badan dan menghilang lebih dalam ke arah pusat Pegunungan Kabut Darah.
Dua puluh hari kemudian.
Hujan badai kembali mengguyur Pegunungan Kabut Darah. Di dekat sebuah air terjun di area tengah pegunungan, seorang remaja dengan pakaian yang sudah tercabik-cabik tengah berhadapan dengan tiga ekor Macan Tutul Bayangan, monster Tingkat 1 tahap akhir.
Rambut remaja itu gondrong dan acak-acakan, tubuh bagian atasnya penuh dengan luka cakar yang baru mengering, memamerkan otot yang padat dan kulit berwarna perunggu. Matanya setajam pedang, dingin tanpa emosi.
Tiga macan tutul itu menyerang bersamaan dari sudut yang berbeda. Kecepatan mereka luar biasa, hanya meninggalkan bayangan hitam di udara.
Namun, Lin Chen tidak panik. Ia mengambil kuda-kuda rendah. Saat bayangan hitam pertama berada kurang dari satu meter di depannya, ia mendorong telapak tangannya ke depan.
BAM! BAM! BAM!
Tiga cetakan telapak tangan melesat nyaris di waktu yang bersamaan, diringingi gemuruh guntur yang menggetarkan udara di sekitar air terjun.
Ketiga macan tutul itu terlempar ke belakang secara bersamaan. Dada mereka melesak ke dalam, tulang rusuk mereka hancur total oleh daya ledak Tapak Guntur Pecah.
Lin Chen menarik napas panjang, menstabilkan Qi di dalam tubuhnya yang bergejolak. Aura yang dipancarkannya kini jauh lebih kuat dan berbahaya.
Selama dua puluh hari perburuan tanpa henti siang dan malam, tidur di atas dahan pohon dan bertahan hidup dari daging monster, Lin Chen telah bertransformasi total. Ia menelan lebih dari delapan puluh bangkai binatang iblis. Kultivasinya telah melonjak tajam menembus Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 6!
Selain itu, ia telah mencapai tahap Pencapaian Kecil untuk teknik Tapak Guntur Pecah, memungkinkannya melepaskan tiga serangan mematikan berturut-turut dalam satu tarikan napas.
"Ujian Klan akan diadakan besok pagi," Lin Chen mengepalkan tangannya erat-erat, air hujan mengalir deras di wajahnya. "Lin Lang, aku harap kau tidak mati ketakutan saat melihatku kembali."
Saat Lin Chen hendak melangkah maju untuk menyerap esensi ketiga macan tutul tersebut, telinganya yang kini sangat sensitif menangkap suara gemerincing senjata dan teriakan manusia dari arah tebing di seberang air terjun.
"Tunggu, bocah," Mo Xuan tiba-tiba berbicara dengan nada yang sedikit lebih serius dari biasanya. "Lihat ke celah batu di balik air terjun itu. Ada energi spiritual yang sangat murni di sana. Jauh lebih murni dari monster-monster rendahan ini."
Lin Chen menyipitkan mata, memfokuskan pandangannya menembus derasnya tirai air terjun. Di sebuah ceruk batu yang tersembunyi, tumbuh sebatang tanaman kecil dengan tiga helai daun berwarna putih pucat. Di tengah daun tersebut, terdapat sebuah buah sebening kristal seukuran ibu jari yang memancarkan pendar cahaya keperakan.
Napas Lin Chen seketika memburu. Meskipun ia tidak berpendidikan luas dalam bidang alkimia, ia tahu betul benda apa itu.
"Itu... Buah Kondensasi Tulang?" gumam Lin Chen. "Rumput spiritual tingkat 2! Bagi kultivator Ranah Pemurnian Tubuh, ini adalah harta karun absolut untuk menembus Bintang 7 dan Bintang 8!"
Namun, suara pertarungan semakin jelas. Dari balik semak-semak lebat, muncul sekelompok pemuda berpakaian seragam abu-abu yang bersimbah darah. Mereka berlari mundur ke arah air terjun, didesak oleh seekor kera raksasa berlengan empat yang mengamuk hebat.
Lin Chen mengenali seragam itu seketika. Itu adalah seragam murid Keluarga Wang, musuh bebuyutan Keluarga Lin di Kota Awan Merah. Pemimpin kelompok yang sedang bertarung mati-matian melawan kera itu adalah Wang Teng, jenius muda Keluarga Wang yang memiliki kekuatan Bintang 7.
"Menarik," Lin Chen menyembunyikan auranya sepenuhnya dan melompat ke atas kanopi pohon terdekat, menonton layaknya burung pemangsa yang sabar. "Biarkan mereka setengah mati melawan Kera Berlengan Empat itu. Buah Kondensasi Tulang itu adalah milikku."