Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang di Leher Porselen
Dalam sebuah kamar hotel di Jakarta yang dingin oleh embusan AC sentral, Adnan duduk di balik meja kerja kayu jati yang berat. Tampak di hadapannya, layar laptop berpendar, menampilkan deretan foto digital yang dikirimkan oleh Jo Bima Arianto beberapa menit lalu.
Laporan Bima selalu presisi. Tidak ada kata-kata puitis, hanya fakta mentah yang dingin.
Laporan Operasional,
Subjek: Arini & Bagaskara,
16.45 WIB: Subjek bertemu di Halte Tua depan SMA lama. Terjadi interaksi fisik minimalis sentuhan merapikan rambut.
17.15 WIB: Subjek berpindah menggunakan kendaraan roda empat menuju kawasan Kota Tua Surabaya.
18.00 - 20.00 WIB: Subjek berada di dalam studio pemotretan Lensa Jingga milik Bagaskara Pradipta. Area privat, pemantauan visual terbatas.
20.15 WIB: Subjek pria mengantar pulang Subjek wanita hingga persimpangan dekat kediaman utama. Lalu subjek wanita menaiki mobilnya yang sengaja terparkir di sana.
Adnan menggeser kursornya. Ada satu foto yang diambil dengan lensa jarak jauh. Saat mereka berada di dalam studio melalui celah jendela yang gordennya tidak tertutup rapat. Lampu studio yang kuning temaram memberikan siluet yang intim.
Arini tertawa, kepalanya mendongak, sementara tangan Bagas berada di dekat lehernya. Mungkin sedang membetulkan posisi kerah baju atau kalung untuk keperluan foto.
Mata Adnan menggelap. Ia tidak menghancurkan laptopnya. Ia justru menyesap wine merahnya dengan perlahan, membiarkan rasa getir itu mengendap di lidahnya, "Kau sedang menari di atas api, Arini," gumamnya pelan.
“Dan api itu baru saja menjilat ujung gaunmu."
Sementara itu, di kediaman Adnan di Surabaya. Suasana terasa mencekam bagi mereka yang memiliki nurani. Darmawan dan Farida duduk di ruang tamu yang luas, dikelilingi oleh dekorasi arsitektur minimalis yang mahal namun tak bernyawa.
Bi Sum datang membawakan nampan berisi teh melati hangat, tangannya sedikit gemetar. Ia tahu ada yang tidak beres, majikannya tidak ada di rumah, dan mertua mereka datang tanpa pemberitahuan.
"Ibu Arini belum telepon lagi, Bi?" tanya Farida, suaranya terdengar letih. Matanya terus melirik ke arah jam dinding besar yang berdentang kaku.
"Belum, Nyonya Besar, tadi pamitnya cuma sebentar, katanya ada urusan mendadak," jawab Bi Sum tertunduk.
Darmawan berdiri, merapikan jas klasiknya, "Sudah jam sembilan malam, Ma, kita pulang saja. Adnan di Jakarta, istrinya entah di mana. Kita ini seperti tamu yang tidak diharapkan di rumah anak sendiri."
Farida menghela napas berat. Ia meletakkan sebuah kotak hadiah cantik dengan bungkusan kertas kado khas toko boutique di seberang halte tua tadi ke atas meja kaca.
"Tolong berikan ini pada Ibu Arini ya, Bi. Katakan Mama dan Papa datang mampir."
Mereka berjalan keluar dengan langkah gontai. Saat mobil Mercedes biru dongker itu meluncur keluar gerbang, dari arah berlawanan, sebuah mobil hitam merek ternama melaju pelan yang tak lain adalah mobil Arini.
Dalam kegelapan ruang kemudu, Arini mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. Mobil mertuanya dan mobil Arini sempat berpapasan di mulut jalan, hanya terpisah oleh kaca jendela yang gelap.
Farida sempat menoleh, merasa mengenali siluet di dalam taksi itu, tapi mobil Darmawan sudah terlanjur melaju menjauh.
"Pak, tadi itu seperti mobil yang membawa Arini," bisik Farida di dalam mobil.
"Sudahlah, Ma. Mungkin perasaanmu saja. Kita pulang, istirahat," sahut Darmawan dingin, meski dalam hatinya ia mulai merasakan keraguan yang sama.
Arini melangkah masuk ke rumah dengan terburu-buru. Rambutnya sedikit berantakan, dan perasaannya campur aduk antara euforia yang ia rasakan bersama Bagas dan rasa bersalah yang kini menghantamnya begitu melihat lampu ruang tamu masih menyala terang.
"Ibu sudah pulang?" Bi Sum menyambut di depan pintu.
Arini mengangguk singkat, berusaha menghindari kontak mata, "Iya, Bi. Maaf kemalaman."
Bi Sum mendekat untuk mengambil tas Arini, namun gerakannya terhenti. Matanya yang sudah tua menangkap sesuatu yang kontras di kulit leher Arini yang putih porselen. Di sana, tepat di bawah garis rahang, ada bercak merah keunguan. Bekas gigitan kecil yang masih segar.
Jantung Bi Sum mencelus. Sebagai orang tua, ia tahu benar tanda apa itu. Namun, ia hanya diam, menelan ludah, dan berpura-pura tidak melihat. Rasa takut akan kemarahan Adnan atau kehancuran rumah ini membuat lidahnya mendadak kelu.
Arini berjalan ke ruang tengah dan hendak naik ke atas, namun langkahnya membeku. Matanya tertuju pada sebuah bingkisan di atas meja kaca.
Bungkusan itu, kertas kado motif bunga vintage dengan pita emas melingkar.
Arini mendekat dengan tangan gemetar.
Ia menyentuh bungkusan itu. Seluruh persendiannya terasa lemas. Ia tahu benar toko yang menggunakan bungkusan seperti ini. Toko Odelia, toko itu terletak persis di seberang jalan dari halte tua tempat ia bertemu Bagas sore tadi.
Apakah Adnan sudah pulang? Lalu ia sengaja membelu hadiah dan tanpa sengaja melihat ia dan Bagas di depan halte tua. Perasaan Arini semakin bercampur aduk tak karuan. Ingin menjerit tapi tak punya daya.
"Bi... ini... ini dari siapa?" suara Arini bergetar hebat.
Bi Sum datang dari dapur dengan wajah cemas, "Itu dari Bapak dan Ibu Besar, Bu. Tadi mereka datang mendadak, menunggu Ibu hampir dua jam. Karena Ibu tidak pulang-pulang, mereka baru saja pergi sekitar sepuluh menit yang lalu."
Wajah Arini seketika pucat pasi, seputih kapas, "Mertuaku? Mereka, mereka ke sini? Dan hadiah ini... Bi, mereka membelinya sore tadi?"
"Iya, Bu. Katanya tadi Nyonya Besar mampir ke toko di seberang halte lama tempat SMA Ibu dulu. Katanya mau kasih kejutan buat Ibu."
Mendengar kata halte lama, Arini merasa dunia di sekelilingnya berputar. Bayangan saat ia tertawa lepas bersama Bagas, saat Bagas membelai rambutnya, saat mereka berdiri cukup lama di pinggir jalan menunggu mobil... semuanya berputar seperti film horor di kepalanya.
Mereka melihatku,
Pikiran itu menghantamnya seperti godam. Jika mereka membeli hadiah itu sore tadi di seberang halte, berarti mereka ada di sana saat ia sedang bersama Bagas. Arini memegang lehernya, merasakan panas di bekas merah yang ditinggalkan Bagas di studio tadi. Ia merasa kotor, telanjang, dan terkepung.
"Apa... apa Mama mertuaku bilang sesuatu, Bi?" tanya Arini dengan suara serak, nyaris menangis.
"Nyonya Besar cuma kelihatan sedih, Bu. Tidak banyak bicara," jawab Bi Sum jujur.
Arini terduduk di sofa, menatap hadiah mewah itu dengan ngeri. Hadiah yang seharusnya menjadi simbol kasih sayang kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Ia membayangkan mata teduh mertuanya berubah menjadi penuh kebencian. Ia membayangkan Adnan pulang dan menemukan fakta ini dari orang tuanya sendiri.
Ia meraih ponselnya, hendak menghubungi Bagas, tapi tangannya terlalu gemetar bahkan untuk sekadar membuka kunci layar. Di tengah keheningan rumah yang besar itu, Arini sadar bahwa kejutan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan ia tidak memiliki tempat untuk bersembunyi.