Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Rahasia Terbongkar Dia Bukan Orang Sembarangan
Berita tentang ledakan energi dahsyat di Lembah Sampah tidak lagi hanya menjadi desas-desus samar. Sejak pagi tadi, seluruh penjuru Akademi Bintang Utara bergemuruh. Para murid, guru, hingga tetua tertinggi berlarian ke sana ke mari dengan wajah penuh kebingungan dan kekhawatiran. Aura setingkat Raja yang memancar semalam begitu kuat hingga menggetarkan dasar-dasar bangunan megah di puncak gunung, membuat siapa pun yang merasakannya merasa seolah sedang berdiri di hadapan penguasa sejati.
Di Aula Agung, suasana terasa menyesakkan. Di kursi utama, Tetua Zhu—penguasa akademi dan pendekar terkuat di wilayah utara dengan tingkat kekuatan Penguasa Alam Tingkat Menengah—duduk dengan wajah keruh dan serius. Di sebelahnya, Pangeran Lan Feng duduk diam, wajahnya masih pucat dan sedikit bengkak bekas pertarungan kemarin. Di lantai bawah, Guru Meng berlutut gemetar, keringat dingin bercucuran di dahinya, merasa nasibnya kini tergantung sehelai rambut saja.
"Jelaskan sekali lagi, Meng!" bentak Tetua Zhu dengan suara berat yang bergema di seluruh ruangan. "Kau bilang di lembah bawah sana hanya ada sampah, murid buangan, dan orang-orang tak berguna? Lalu dari mana datangnya energi setingkat Raja itu?! Apakah kau mengira aku sudah tua hingga tidak bisa membedakan wibawa dewa dan manusia biasa?!"
"Maafkan hamba! Maafkan hamba!" Guru Meng menundukkan kepalanya sampai menyentuh lantai, suaranya parau ketakutan. "Memang benar yang hamba katakan! Di sana hanya ada murid baru bernama Xue Ying yang mendapat nilai terendah Tingkat Satu, pemuda lemah bernama Xiao An, dan barang-barang bekas! Hamba tidak tahu... hamba sama sekali tidak tahu dari mana kekuatan itu berasal!"
Lan Feng yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara, suaranya dingin dan penuh ketidakpercayaan.
"Tetua Zhu... kekuatan itu... rasanya sangat mirip dengan apa yang kurasakan kemarin saat aku bertarung dengan gadis itu."
Semua mata tertuju padanya. Tetua Zhu memicingkan mata tajam.
"Maksudmu... gadis bernama Xue Ying itu? Gadis yang kau katakan menghinamu dan kau hukum untuk dihukum mati secara perlahan di tempat pembuangan itu?"
Lan Feng mengangguk perlahan, wajahnya berubah rumit—campuran rasa malu, takut, dan penasaran yang luar biasa.
"Ya. Kemarin saat dia menangkis serangan penuh tenagaku... aku merasakan hal yang sama. Cahaya putih bersih yang tak tergoyahkan, tekanan jiwa yang menindas sampai ke tulang sumsum... dan ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang sangat kuno, sangat agung, seolah ada makhluk legenda yang bangkit di balik tubuh kecilnya."
Lan Feng menatap Tetua Zhu lekat-lekat.
"Semalam saat energi itu meledak... aku terbangun dari tidur karena rasa takut yang mendalam. Tubuhku gemetar sendiri, Tetua. Seolah ada suara yang berbisik di dalam kepalaku: Berlututlah... berlututlah di hadapan keturunan dewa..."
Tetua Zhu berdiri tiba-tiba, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang bisa menghancurkan nama baik dan keberadaan seluruh Akademi Bintang Utara selamanya.
"Kalau begitu... tidak ada waktu lagi. Kita harus turun ke sana. Sekarang juga! Aku harus melihat langsung siapa gadis ini. Dan kalau dugaanku benar... kita semua baru saja membuat kesalahan paling fatal dalam sejarah akademi ini."
Di Lembah Sampah, Xue Ying berdiri tenang di depan gubuk reyotnya.
Setelah proses pembukaan meridian selesai dan kekuatan barunya menetap, ia tidak lagi bersembunyi. Ia tidak lagi menyembunyikan auranya, namun juga tidak memamerkannya secara berlebihan. Ia hanya berdiri diam, namun udara di sekelilingnya berputar perlahan, tanah di bawah kakinya tetap kering dan bersih meski tanah sekitarnya berlumpur, dan setiap hewan atau serangga yang mendekat akan mundur perlahan seolah memberi hormat.
Di sampingnya, Xiao An berdiri tegak. Kini pemuda itu pun berubah. Berkat bimbingan langsung Xue Ying dan sisa energi yang melimpah dari peningkatan kekuatan gadis itu, meridian Xiao An yang tadinya tersumbat total kini terbuka lebar, dan kekuatannya melonjak drastis hingga setara murid elit tingkat menengah. Ia menatap siapa pun yang datang dengan tatapan tegas, siap menjadi perisai bagi penyelamatnya itu.
Jauh di ujung jalan setapak, rombongan besar mulai terlihat. Bendera akademi berkibar, aura kekuatan puluhan pendekar kuat menyapu lembah itu, dan di barisan paling depan, Tetua Zhu berjalan dengan langkah cepat dan wajah penuh gejolak, diikuti Lan Feng, Guru Meng, serta para tetua dan pengawal utama.
Saat mereka sampai dan melihat sosok Xue Ying yang berdiri tenang di tengah tumpukan barang bekas itu... langkah mereka terhenti serentak.
Hening.
Mata Tetua Zhu membelalak lebar. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Ia tidak melihat gadis berpakaian lusuh dan kotor seperti yang dibayangkannya. Di depannya berdiri seorang wanita muda yang cantik luar biasa, namun yang lebih mengerikan adalah aura yang dipancarkannya. Meski gadis itu diam dan tidak bergerak, di sekeliling tubuhnya terlihat samar-samar kabut cahaya putih yang berputar halus. Dan di matanya... ada kilatan kebijaksanaan dan keagungan yang hanya dimiliki oleh makhluk-makhluk kuno dalam legenda.
Tapi hal yang membuat jantung Tetua Zhu hampir berhenti berdetak bukan itu.
Mata Tetua Zhu tertuju pada leher Xue Ying, di mana tergantung sepotong batu kecil yang bersinar hangat, dan di tangan kanan gadis itu yang memegang sebuah lempengan batu hitam pekat yang terselip di ikat pinggangnya.
Lempengan Batu Cap Keluarga Hong...
Benda yang hanya dimiliki oleh keturunan darah murni Klan Dewa Burung Hong, salah satu dari Tiga Klan Kuno Penguasa Langit dan Bumi yang dianggap sudah punah ribuan tahun lalu!
Tetua Zhu terhuyung mundur selangkah, wajahnya menjadi pucat seputih kertas. Kakinya gemetar hebat.
"Le... lempengan itu... lambang itu..." suaranya bergetar tak mampu melanjutkan.
Guru Meng yang ada di belakang masih belum mengerti situasinya, ia malah maju selangkah, berniat mencari muka di depan atasan. Ia menunjuk Xue Ying dengan nada keras dan menghakimi.
"Lihat kan, Tetua! Dia masih di sini! Gadis pembangkang ini! Hamba sudah bilang dia cuma sampah... tapi dia sempat membuat keributan semalam! Biar hamba ajar dia pelajaran sekarang juga!"
Guru Meng mengangkat tangan hendak meneriaki atau bahkan memukul Xue Ying.
Namun...
PLAK!!
Sebuah tamparan keras datang bukan dari Xue Ying, melainkan dari Tetua Zhu sendiri!
Tetua Zhu menampar Guru Meng sekuat tenaga hingga lelaki itu terlempar jatuh, berputar beberapa kali di tanah dan mulutnya berdarah.
"Kau buta?! Kau bodoh?!" Tetua Zhu mengaum marah, matanya menyala penuh amarah dan ketakutan yang luar biasa. "Kau bilang dia sampah?! Kau bilang dia murid buangan?! Kau tahu siapa dia ini?!"
Tetua Zhu menunjuk Xue Ying dengan tangan gemetar, suaranya pecah karena panik.
"Dia adalah keturunan Klan Dewa Burung Hong! Salah satu dari tiga keluarga tertua yang pernah memimpin dunia persilatan ribuan tahun lalu! Darah di tubuhnya adalah darah dewa! Lempengan di pinggangnya adalah bukti sah warisan nenek moyang! Dan batu di lehernya... itu adalah Batu Sinyal Ikatan Jiwa yang hanya bisa terbentuk jika pasangannya memiliki darah Naga Kaisar!"
"HAH?!"
Satu kata itu meledak di mulut semua orang yang hadir.
Lan Feng terhuyung mundur, matanya melotot tak percaya. Guru Meng terguling di tanah, menatap Xue Ying seolah melihat hantu atau dewa yang turun ke bumi. Para tetua lainnya saling pandang dengan wajah ketakutan dan penyesalan mendalam.
Klan Dewa Burung Hong... Klan yang konon kekuatan satu anggotanya saja cukup untuk mengalahkan seluruh kekuatan Akademi Bintang Utara sepuluh kali lipat. Klan yang dianggap legenda, mitos, dan sudah musnah sejak zaman purba.
Dan gadis yang selama ini mereka injak-injak, mereka hina, mereka anggap sampah... adalah satu-satunya pewaris klan itu?
"Mustahil... ini tidak mungkin..." gumam Lan Feng, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. "Kalau dia keturunan dewa... kenapa bakatnya tercatat Tingkat Satu? Kenapa dia terlihat begitu lemah saat masuk?"
Xue Ying yang sejak tadi diam, perlahan melangkah maju satu langkah.
Langkah itu tidak keras, tapi terasa seperti gempa bumi bagi semua orang di sana.
Gadis itu tersenyum tipis, senyum yang dingin, penuh ejekan, namun juga penuh wibawa yang tak tergoyahkan. Ia mengangkat tangan kanannya, dan di telapak tangannya, energi putih bersih berputar, perlahan berubah wujud menjadi sosok burung indah yang mengepakkan sayapnya—sempurna, hidup, dan memancarkan hawa suci yang membuat siapa pun yang melihatnya ingin berlutut dan menyembah.
"Kenapa Tingkat Satu?" suara Xue Ying lembut namun bergema menggetarkan hati, terdengar jelas hingga ke sudut paling jauh lembah itu.
"Karena aturan pengukur bakat kalian... hanya mengukur apa yang bisa kalian pahami. Hanya mengukur energi kasar, kapasitas meridian biasa, dan kekuatan fisik."
Xue Ying menunjuk ke arah Batu Pengukur Bakat yang entah bagaimana sudah melayang terbang dari atas gunung dan kini berdiri di sampingnya, ditarik oleh kekuatan alaminya.
"Bagi kalian, energi harus terlihat, harus terasa, harus kasar agar dianggap kuat. Tapi teknik keluargaku... Kitab Suci Penyucian Langit, mengajarkan sebaliknya. Menyembunyikan Cahaya dalam Debu. Memurnikan segala sesuatu sampai tidak tersisa apa pun yang bisa dideteksi mata biasa."
Xue Ying mengepalkan tangannya, dan batu raksasa itu langsung retak-retak hebat seolah hendak hancur lebur hanya karena tekanan niatnya saja.
"Jadi ya... memang benar aku Tingkat Satu. Tingkat tertinggi, tingkat yang paling murni, tingkat yang berada jauh di luar skala ukuran kalian yang sempit itu."
Xue Ying menatap Lan Feng, lalu beralih ke Guru Meng, dan terakhir menatap Tetua Zhu yang kini sudah berlutut sendiri di tanah dengan wajah pucat dan penuh penyesalan.
"Kalian bertanya-tanya kenapa aku tidak pernah mengungkapkan identitasku? Kenapa aku diam saja saat dihina, dicaci, dan diperlakukan seperti kotoran?"
Xue Ying mengangkat wajahnya, menatap ke langit biru di atas sana, matanya berbinar indah dan penuh rasa bangga yang tak terlukiskan.
"Sebab aku datang ke sini bukan untuk mencari hormat, bukan untuk mencari kemewahan, dan bukan untuk membanggakan asal-usulku. Aku datang ke sini karena aku berjanji pada satu orang. Satu orang yang jauh di sana, yang juga memiliki darah kaisar, yang juga menyembunyikan kekuatannya, dan yang bertarung mati-matian demi aku."
Xue Ying menunjuk dadanya sendiri, suaranya meninggi, penuh keyakinan dan keagungan yang meluap-luap.
"Aku menahan diri, aku menelan semua penghinaan ini, aku membiarkan kalian berpikir aku sampah... karena aku ingin membuktikan satu hal: Bahwa kekuatanku, harga diriku, dan kebesaranku... tidak berasal dari nama besar nenek moyangku. Tidak berasal dari latar belakang keluargaku. Dan tidak berasal dari perlindungan siapa pun."
"Aku menjadi kuat... karena aku menginginkannya. Aku menjadi hebat... karena aku berjuang untuk itu sendiri. Dan aku menjadi sosok yang kalian takuti ini... semata-mata karena aku ingin layak berdiri di sampingnya, pria yang kucintai, calon penguasa dunia ini."
Xue Ying kembali menatap mereka yang masih berlutut ternganga.
"Dan sekarang... rahasia sudah terbongkar. Kalian sudah tahu siapa aku. Aku bukan gadis desa biasa. Aku bukan murid sampah. Aku adalah Xue Ying, pewaris sejati Klan Dewa Burung Hong, pemilik Meridian Terbuka Sebagian, dan pemegang kekuatan Setingkat Raja."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada dingin yang menusuk tulang:
"Dan sekarang... apakah kalian masih berpikir... bahwa kalian berhak menilai, menghukum, atau bahkan sekadar berdiri sejajar di hadapanku?"
Keheningan mencekam menyelimuti tempat itu.
Tetua Zhu menundukkan kepalanya serendah mungkin, keringat dingin mengalir deras. Ia sadar betapa besar dosa yang telah mereka perbuat. Mereka telah merendahkan, menghina, dan menganiaya keturunan dewa. Kesalahan ini bisa berakibat pada kehancuran total Akademi Bintang Utara.
Lan Feng menatap wanita muda di depannya dengan rasa penyesalan yang mematikan. Ia yang merasa paling hebat, paling tampan, paling berkuasa... ternyata hanya seperti semut di hadapan wanita yang pernah ia anggap barang rampasan itu. Gadis yang ia coba miliki... ternyata adalah putri surga yang tak tersentuh.
Dan di sudut sana, Guru Meng sudah pingsan ketakutan, sadar bahwa masa depannya, kekuasaannya, bahkan nyawanya sendiri kini tergantung pada belas kasih gadis yang pernah ia hukum hidup di tempat sampah ini.
Xue Ying membalikkan badan, tidak lagi peduli pada mereka yang gemetar di belakangnya. Ia menatap ke arah selatan, ke arah tempat di mana Ren bertarung. Senyum lembut kembali terukir di bibirnya.
"Ren... mereka sudah tahu sekarang. Mereka akhirnya sadar siapa aku. Tapi bagiku... semua gelar ini, semua kekuatan ini, semua rasa hormat ini... tidak ada artinya dibandingkan satu sentuhan tanganmu."
Xue Ying mengangkat kaki, melangkah meninggalkan mereka.
"Bangunlah," ucapnya pelan namun terdengar oleh semua orang. "Aku tidak akan menghancurkan akademi ini. Belum saatnya. Tapi ingatlah hari ini dengan baik. Mulai detik ini, aturan berubah. Kalian tidak lagi mengajariku. Akulah yang akan menjadi pelajaran bagi kalian semua."
"Karena aku bukan orang sembarangan. Dan mulai sekarang... kalian semua hidup di bawah bayanganku."
Rahasia telah terbongkar. Topeng telah dilepas. Dan Akademi Bintang Utara kini sadar sepenuhnya: Di antara mereka, tersembunyi seekor Burung Hong Agung yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengepakkan sayapnya dan terbang menaklukkan langit.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭