Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Pagi itu, langit Los Angeles yang biasanya cerah seolah tertutup kabut tipis yang menyesakkan.
Bagi Audrey, udara di koridor kampus terasa lebih berat dari biasanya. Setiap kali ia melangkah, memori tentang sentuhan tangan Kensington di bawah selimut semalam membakar kulitnya.
Rasa malu yang bercampur dengan amarah yang meledak-ledak membuatnya merasa kotor. Ia merasa dikhianati oleh rasa ingin tahunya sendiri.
Pelecehan. Kata itu terus bergema di kepalanya. Bagaimana mungkin pria itu bisa melakukan hal serendah itu di ranjangnya sendiri, sementara sahabatnya sedang bercinta di seberang ruangan?
Audrey mencoba menenangkan diri saat memasuki ruang kelas. Beruntung, hari ini jadwal kuliah hanya diisi oleh mahasiswa baru.
Tidak ada senior, tidak ada Marco, dan yang paling penting—tidak ada Kensington Valerio. Ia duduk di barisan paling depan, mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan diktat hukum internasional.
Namun, ketenangan itu hancur saat Odetta duduk di sampingnya dengan napas terengah-engah. Wajah Odetta memerah, matanya berkilat menyimpan informasi panas.
"Drey! Kau harus dengar ini," bisik Odetta, suaranya gemetar karena antusiasme yang berlebihan. "Rumor gila menyebar pagi ini. Kensington Valerio... dia baru saja membuat rekor baru."
Audrey mencoba tetap fokus pada bukunya. "Aku tidak tertarik, Det."
"Kau pasti tertarik! Semalam, setelah dari arena boxing, kabarnya dia tidak langsung pulang. Marco cerita kalau Ken meniduri seorang mahasiswi dari Fakultas Seni. Dan yang lebih gila lagi? Mereka berangkat ke kampus bersama pagi tadi dengan mobil Ken. Marco bilang Ken baru benar-benar 'selesai' jam empat pagi."
Deg.
Pena di tangan Audrey patah. Tinta hitamnya merembes ke jemarinya, namun ia tidak peduli. Jam empat pagi? Jam empat pagi ia melihat Kensington masih berbaring di sampingnya, meski ia sempat tertidur lagi setelah interaksi panas itu.
Bagaimana bisa? tanya Audrey dalam hati. Kebingungan itu dengan cepat berubah menjadi rasa muak yang tak tertahankan.
Jika Kensington benar-benar pergi menemui gadis seni itu setelah menyentuhnya, maka pria itu bukan hanya dingin—dia adalah monster tanpa nurani.
"Apa berita itu valid?" tanya Audrey, suaranya terdengar tajam dan dingin.
Odetta mengangkat bahu. "Tidak ada bukti foto sih, kau tahu kan Ken sangat tertutup. Namun Marco tidak pernah bohong soal Ken."
Kemarahan Audrey mencapai puncaknya. Ia merasa seperti dipermainkan. Ia mengira—meski hanya sesaat—bahwa ada kejujuran dalam ketidaksenonohan Kensington semalam. Ternyata, bagi Kensington, Audrey hanyalah "pemanasan" sebelum ia pergi mencari mangsa yang sebenarnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Audrey berdiri. Ia menyambar tasnya dan keluar dari kelas maba, mengabaikan teriakan panggilan Odetta.
Kakinya melangkah cepat menuju gedung Fakultas Hukum tingkat atas. Ia tidak peduli jika ia dianggap gila atau tidak tahu sopan santun. Ia harus menghadapi pria itu.
Audrey sampai di depan kelas senior. Pintu terbuka lebar karena kelas baru saja usai. Di sana, di meja paling sudut, Kensington sedang duduk santai sambil memutar-mutar sebuah pemantik api perak di tangannya.
Di sekelilingnya, beberapa gadis tampak mencoba mencuri perhatiannya, namun ia mengabaikan mereka semua.
Audrey melangkah masuk, membelah kerumunan mahasiswa senior yang menatapnya dengan heran. Ia berdiri tepat di depan meja Kensington.
"Aku ingin bicara," ucap Audrey tegas.
Kensington mendongak perlahan. Matanya yang dingin menatap wajah Audrey yang memerah karena marah. Ia tidak tampak terkejut. "Bicara saja di sini. Aku tidak punya rahasia."
"Aku ingin bicara berdua saja. Sekarang," tekan Audrey.
Kensington menghela napas panjang, lalu berdiri. Ia memberikan isyarat pada teman-temannya untuk memberi ruang. Mereka berjalan menuju koridor balkon yang sepi, tempat angin berembus cukup kencang.
Kensington mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaketnya, berniat menyalakannya. Namun, sebelum pemantik itu memercikkan api, Audrey menyambar rokok tersebut dan mematahkannya menjadi dua.
"Bisa kau jelaskan apa maksud semua ini?" tanya Audrey dengan nada gemetar. "Berarti tangan yang kau gunakan untuk menyentuhku semalam... tangan yang kau gunakan untuk melecehkanku di ranjangku sendiri... adalah tangan yang juga menyentuh wanita dari Fakultas Seni itu?"
Kensington diam sejenak. Ia menatap potongan rokok yang jatuh di lantai, lalu kembali menatap Audrey. "Kau mendengar rumor itu?"
"Menjijikan!" teriak Audrey. "Kau benar-benar manusia paling menjijikan yang pernah kutemui. Kau masuk ke kamarku, kau menyentuhku seolah aku ini salah satu koleksi novelmu, dan kemudian kau pergi ke wanita lain?"
Kensington menyandarkan punggungnya di pagar balkon. Ia tampak sangat tenang, sebuah ketenangan yang membuat Audrey ingin menamparnya. "Kau keberatan?" tanya Ken pendek.
"Kau menjijikan!" balas Audrey lagi, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku benci diriku sendiri karena sempat mengira kau punya sedikit rasa hormat pada wanita."
Kensington tersenyum sinis. "Rasa hormat? Di dunia ini tidak ada ruang untuk itu, Audrey. Terutama jika menyangkut kebutuhan fisik." Ia menjeda sejenak, tatapannya menajam. "Lagipula, aku mendengar kau memacari seorang pria SMA. Sander, bukan?"
Audrey tersentak. "Iya, kenapa? Ada masalah?"
Kensington melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Audrey bisa mencium aroma maskulin yang kini terasa seperti racun baginya.
"Apa yang kau lihat darinya?" tanya Ken lirih. "Seorang bocah yang bahkan belum tahu cara mencukur dengan benar? Apa yang kau cari darinya?"
"Dia baik!" balas Audrey lantang. "Dia setia. Dia tidak sepertimu yang hanya tahu cara merusak orang lain. Dia mencintaiku dengan tulus!"
"Tulus?" Kensington tertawa, suara tawa yang kering dan hampa. "Anak itu belum melihat dunia. Dia 'setia' karena dia belum punya pilihan. Dia 'baik' karena dia belum punya kuasa. Tunggu sampai dia melihat apa yang bisa diberikan dunia padanya, dan kau akan melihat betapa cepatnya 'ketulusan' itu menguap."
"Kau hanya iri karena kau tidak bisa merasakan apa yang kami rasakan!" ucap Audrey pedas.
Kensington tiba-tiba mencengkeram dagu Audrey, tidak keras, namun cukup untuk mengunci pandangannya. "Oh ya?" tanya Ken dengan suara yang sangat rendah. "Mungkin aku memang tidak percaya pada dongeng yang kau jalani dengan bocah SMA itu. Tapi setidaknya aku tidak munafik, Audrey."
"Maksudmu?"
"Aku tidak berpura-pura menjadi pahlawan. Aku tidak menjanjikan kebahagiaan selamanya. Aku menyentuhmu semalam karena aku menginginkannya, dan kau mendesah karena kau juga menginginkannya. Kau bisa menyebutnya pelecehan untuk menenangkan nuranimu yang suci, tapi kita berdua tahu kebenarannya," bisik Kensington.
"Dan soal gadis seni itu?" tanya Audrey, suaranya tercekat.
Kensington melepaskan dagu Audrey. Ia menatap ke arah taman kampus dengan pandangan kosong. "Terserah apa kata Marco. Jika kau lebih percaya pada rumor daripada apa yang kau rasakan sendiri saat aku berbaring di sampingmu Hingga Fajar, itu urusanmu."
Audrey terpaku. Hingga Fajar? Berarti rumor itu...
"Kau tidak pergi ke Asrama seni?" tanya Audrey pelan.
Kensington tidak menjawab. Ia justru mengambil batang rokok baru dan kali ini berhasil menyalakannya.
Asap putih mengepul di antara mereka. "Kau terlalu sibuk menghakimiku, Audrey. Kau terlalu takut untuk mengakui bahwa kau mulai tertarik tentang ku, Kau takut karena jika kau melangkah lebih jauh, kau akan mengecewakan ibumu dan meninggalkan duniamu yang sempurna."
"Aku tidak akan pernah tertarik padamu," ucap Audrey, meski suaranya tidak seyakin tadi.
"Kita lihat saja nanti," sahut Kensington. "Kembalilah ke kelasmu. Belajarlah tentang hukum dan kebenaran. Tapi ingat satu hal, Audrey... kebenaran yang paling jujur sering kali adalah kebenaran yang paling menyakitkan untuk diakui."
Kensington berjalan pergi, meninggalkan Audrey sendirian di balkon.
Angin bertiup kencang, menerbangkan rambutnya yang berantakan. Audrey memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia bingung. Ia benci pada Kensington, namun ia juga mulai menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulut pria itu—betapapun kasarnya—selalu berhasil mengguncang fondasi keyakinannya.
Dunia yang selama ini ia anggap hitam dan putih, kini mulai berubah menjadi abu-abu yang pekat. Dan di tengah kabut itu, sosok Kensington Valerio berdiri sebagai satu-satunya hal yang terasa nyata, betapapun menjijikannya pria itu di mata dunia.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭