NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Malam itu, Dian sibuk menyiapkan cilok dan cireng. Kali ini, ia membuat stok lebih banyak karena ada pesanan dari pelanggan setianya: cilok sebanyak dua kilogram, dibagi dalam kemasan 250 gram.

Alhamdulillah, pesanan mulai berdatangan satu per satu. Meskipun hatinya masih terasa kecewa dengan suami dan mertuanya, Dian bertekad untuk tidak berlarut dalam kesedihan. Ia memastikan semuanya berjalan lancar demi Naya, menjaga agar rumah tetap tertata rapi dan kebutuhan anaknya terpenuhi.

Dian mulai menguleni bahan-bahan satu per satu, lalu membulatkannya dengan telaten. Dua jam berlalu, ia pun melanjutkan membuat cireng.

Sambil bekerja, ia menenangkan diri, “Gak apa-apa, bikin agak banyak saja… InsyaAllah habis ini,” bisiknya pelan. Meski lelah, Dian tetap fokus, memastikan setiap adonan dibuat rapi dan sesuai dengan pesanan pelanggan.

Dian mulai mengemas semua pesanan. Baru pukul 2 dini hari semuanya selesai. Saat itu, ia melihat Bu Minah keluar dari kamar sambil membawa botol.

“Haduh, untungnya gak seberapa, sanggup banget bikin sampai pagi gini,” keluh Bu Minah dengan nada ketus.

Dian hanya diam, tetap fokus memasukkan cireng dan cilok ke dalam kemasan. Meski lelah dan mendengar omelan, ia menahan diri, berusaha menyelesaikan pekerjaannya tanpa terganggu.

Setelah semua pesanan selesai dikemas, Dian memasukkannya ke dalam box freezer. Ia lalu mulai membereskan dapur—mencuci semua peralatan, menyapu, dan mengepel lantai dengan telaten.

Meski tubuhnya lelah, Dian tetap menjaga kerapian rumah. Rutinitas malam itu menjadi bukti ketekunan dan tanggung jawabnya, demi memastikan semuanya siap untuk hari esok.

Keesokan paginya, pintu kamar diketuk dengan keras hingga membuat Naya terbangun.

“Mau jam berapa sih kamu bangun, Dian? Ini sudah pukul 8! Sarapan belum disiapkan, rumah belum dibersihkan. Kamu ini bukan ratu, semua harus tersedia begitu bangun!” teriak Bu Minah dari luar kamar.

Dian menahan kesal, suaranya terdengar tegas tapi tetap sopan.

“Ibu, baru kali ini saya bangun telat. Kok satu kesalahan langsung semua salah di mata ibu?”

“Halah, melawan saja kamu ini! Kamu nggak diajarin sopan santun sama orang tuamu?” bentak Bu Minah, nada ketusnya meninggi.

Dian menahan emosinya sekuat tenaga, tapi akhirnya menjawab dengan tegas dan marah,

“Ibu, cukup! Jangan bawa-bawa orang tua Dian!”

Bu Minah mulai melontarkan kata-kata hinaan kepada menantunya dengan sebutan yang tak pantas.

Naya yang melihat kejadian itu terlihat bingung dan cemas. Dian, yang mendengar dari kamar, segera menarik napas dalam-dalam dan kembali masuk ke kamar untuk menenangkan diri serta menjaga Naya dari situasi yang menyakitkan hati.

Di kamar, Dian menenangkan Naya yang tampak cemas.

“Ibu… Aya takut,” gumam Naya sambil memeluk ibunya.

Dian mengelus lembut rambut putrinya dan tersenyum hangat.

“Iya sayang, tadi ibu sama Oma cuma lagi bercanda, nggak apa-apa, sayang,” ucap Dian menenangkan, berusaha membuat Naya merasa aman dan nyaman.

Ketika Dian keluar dari kamar, ia mendapati rumah terasa sepi. Dengan tenang, ia melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan. Hari itu, menu sederhana yang ia pilih adalah telur dadar, untuknya sendiri dan Naya.

Sambil mengaduk-aduk telur, Dian sesekali melirik putrinya yang duduk di kursi, memastikan Naya merasa nyaman meski suasana pagi sedikit sunyi.

Ponsel Dian bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Ia bergegas ke kamar dan melihat di layar ponsel bahwa yang menelpon adalah suaminya. Hatinya campur aduk—bingung tapi juga senang karena akhirnya ada kabar darinya.

Dengan hati-hati, Dian menggeser layar dan berkata, “Halo, assalamualaikum, Ayah.”

Namun sebelum ia sempat berbicara lebih jauh, Andi langsung memarahi dengan suara keras:

“Kamu ini, Ian, kenapa pagi-pagi sudah berantem sama ibu sampai bikin ibu menangis? Kamu juga nggak buat sarapan, keterlaluan sekali!”

Dian tersentak, mencoba membela diri, “Ta-tapi, Yah…”

Andi langsung memotongnya, tegas:

“Sudahlah! Aku nggak mau dengar alasan apapun. Kamu harus minta maaf sama ibu aku!”

Lalu, tanpa menunggu jawaban, Andi memutuskan panggilan sepihak.

Dian hanya terpaku, tak mampu berkata-kata. Untuk pertama kalinya, suaminya menolak mendengar penjelasannya. Rasa sakit hati, kecewa, dan bingung bercampur menjadi satu, menekan hatinya begitu berat.

Dian merasa seolah ingin berlari jauh dari rumah, melepaskan semua beban yang menekannya. Namun, ia masih istri sah Andi dan ibu dari Naya.

Jujur saja, hatinya tak sanggup lagi tinggal satu atap dengan mertua yang setiap saat seolah mencari-cari kesalahannya. Rasa lelah, kecewa, dan tertekan bercampur menjadi satu, membuatnya ingin menangis dalam diam.

Meski begitu, Dian menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri demi Naya, sambil merencanakan bagaimana ia bisa tetap kuat menghadapi hari-hari berikutnya.

Dian kembali ke dapur untuk melanjutkan menggoreng telur yang sempat tertunda.

Tak lama, ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Ia membuka pesan itu dan melihat foto bukti transfer dari salah satu pelanggannya.

“Mbak, aku sudah transfer ya. Nanti kurirku yang akan jemput,” bunyi pesan tersebut.

Dian tersenyum kecil dan membalas, “Baik, terima kasih.”

Meski hatinya masih terasa berat karena masalah dengan suami dan mertua, pekerjaan dan tanggung jawabnya terhadap pelanggan memberinya sedikit hiburan dan rasa pencapaian.

Dian mulai menyiapkan seluruh pesanan yang akan dijemput oleh kurir. Ia memastikan setiap kemasan tertata rapi dan sesuai pesanan, meski pikirannya masih dipenuhi rasa lelah dan sesak. Namun, tanggung jawab membuatnya tetap fokus menyelesaikan semuanya dengan teliti.

Terdengar suara pintu terbuka. Dian tahu, pasti Bu Minah yang baru pulang. Mertuanya itu melangkah masuk ke rumah, berjalan tergesa-gesa hingga sampai ke dapur.

“Kukira kamu nggak keluar kamar lagi,” ucap Bu Minah ketus sambil mengambil piring di meja.

Dian hanya terdiam. Ia memilih tidak menanggapi, enggan memulai perdebatan yang pada akhirnya selalu berujung pada dirinya yang disalahkan.

Suara klakson terdengar dari luar rumah—tanda kurir yang datang menjemput pesanan. Dian segera bergegas keluar untuk menyerahkan pesanan pelanggan yang telah ia siapkan.

Seminggu berlalu, pesanan Dian semakin banyak. Jujur saja, ia mulai kewalahan mengurus semuanya sendirian. Untungnya, mertuanya sering bolak-balik ke Batam karena sibuk mengurus persiapan pernikahan adik bungsu suaminya.

Dian pun bersyukur karena tidak dilibatkan dalam urusan iparnya. Lagi pula, sang mertua memang tak pernah menginginkan Dian ikut campur dalam hal-hal tersebut.

Di tengah kelelahan, Dian berusaha tetap fokus dan kuat, sebab baginya, ketenangan rumah—meski sementara—adalah hal yang sangat berharga.

Dian sangat ingin pergi ke Batam untuk menemui suaminya. Namun apa daya, keinginan itu harus ia pendam karena mertuanya tidak mengizinkan. Alasannya, di sana Andi tinggal di mess, tempat yang tidak memperbolehkan siapa pun bertamu ataupun menginap.

Keinginan yang tertahan itu kembali menyesakkan dada Dian. Ia hanya bisa menatap jauh, menyimpan rindu yang tak tahu kapan akan terobati.

POV Andi

Akhirnya aku resmi berpacaran dengan Tasya. Hubungan kami berjalan begitu menyenangkan. Hampir setiap waktu luang kami habiskan bersama—makan di luar, berjalan-jalan, tertawa tanpa beban.

Tak jarang kami pergi ke luar negeri hanya untuk sehari. Malaysia, Singapura, pulang-pergi dalam satu hari terasa begitu mudah dan menyenangkan. Hidupku di Batam terasa bebas, jauh dari rutinitas dan masalah yang selama ini mengekang.

Bersama Tasya, aku merasa kembali menjadi diriku sendiri—tanpa tuntutan, tanpa keluhan, tanpa beban.

Aku juga tak lagi memikirkan bagaimana keadaan istriku dan anakku. Menurut ibu, mereka berdua baik-baik saja. Lagipula, ibu selalu meyakinkanku bahwa semua urusan di rumah sudah terkendali.

Ibu bahkan berencana mengenalkan Tasya secara resmi pada keluarga besar saat pernikahan Arif nanti. Mendengar itu, aku tak menolak. Bagiku, semuanya terasa berjalan sesuai keinginan ibu—dan aku memilih mengikutinya tanpa banyak pertanyaan.

Hari ini Andi mendapat waktu libur. Alih-alih pulang ke rumah, ia memilih tetap berada di Batam—berjalan-jalan atau sekadar makan bersama Tasya.

Dulu, saat masih bekerja di Bintan, Andi selalu pulang setiap dua minggu sekali. Namun kini, kebiasaan itu perlahan berubah. Waktu liburnya lebih banyak ia habiskan bersama Tasya, sementara rumah dan keluarganya semakin jarang ia datangi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!