Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pijat
Selina gelisah di kamar.
Tak ada suara langkah Adipati kembali.
Akhirnya ia bangkit pelan-pelan dari ranjang.
“Dia tidur di sofa atau kemana sih…” gumamnya lirih.
Ia membuka pintu dan menyusuri lorong.
Lampu-lampu rumah masih menyala temaram.
Sampai ia berhenti di depan sebuah pintu kayu besar.
Ruang kerja.
“Kerja apa sih dia sebenarnya?”
Hatinya berdebar. “Kenapa dia rahasiakan semuanya?”
Selina memutar gagang pintu perlahan—pelan sekali, agar tidak menimbulkan bunyi.
Pintu terbuka sedikit.
Ia mengintip.
Adipati tertidur di kursi kerja, kepala miring, satu tangan masih menggenggam mouse.
Di sekelilingnya:
— Empat layar monitor menyala.
— Dua laptop terbuka dengan deretan kode berjalan.
— Diagram dan data yang tidak ia mengerti.
Selina melangkah masuk.
Ruangan itu luas dan dingin.
Ia berbisik pada diri sendiri:
“Ini… ruangan apa? Kenapa komputernya banyak begini? Dia hacker? Atau…”
Ia mendekat ke salah satu monitor.
Ada grafik, angka, data transaksi asing.
“Jangan-jangan dia penipu online? Atau mafia?”
Ia panik sendiri.
Tiba-tiba Adipati menggerakkan mata, tubuhnya bergeser seakan hendak bangun.
Selina terkejut dan buru-buru mundur.
Ia cepat-cepat keluar ruangan, menutup pintu perlahan sambil menahan napas.
Begitu pintu tertutup, suara kursi berderit terdengar dari dalam.
Adipati membuka mata.
Menatap layar.
Tanpa emosi.
Ia mengklik sesuatu dan bekerja lagi, seolah tak pernah tertidur.
Sementara Selina kembali ke kamar dengan wajah pucat.
Ia menjatuhkan diri ke ranjang, menarik selimut sampai menutupi dada.
“Aku harus cari tahu apa pekerjaan dia…”
“Rumah besar, mobil mewah, uang mahar miliaran… tapi kerjanya gak jelas.”
Ia memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian, ia tertidur pulas—meski hatinya masih penuh tanda tanya.
Tengah malam, Adipati akhirnya masuk kamar.
Ia melihat Selina sudah tidur pulas, wajahnya tenang dalam remang cahaya.
Perlahan ia naik ke ranjang, menyibak selimut dan memeluk Selina dari belakang.
Lengan kekarnya melingkar di pinggang istrinya.
“Semoga kamu segera membuka hati untuk mas… Selina,” bisiknya lembut.
Ia mencium kening istrinya, lalu tertidur pulas.
Pagi Hari
Selina terbangun dengan rasa hangat.
Ada sesuatu—atau seseorang—yang memeluknya ketat.
Begitu ia sadar itu lengan Adipati, ia terkejut dan spontan—
“Hyaaah!”
BRUKKK!
“Aduh!”
Adipati terjatuh ke lantai dengan ekspresi kaget dan kesakitan.
Selina bangkit, rambut acak-acakan.
“Mas… ngapain kamu di lantai?”
Adipati mendongak sambil mengusap punggungnya.
“Kamu yang nendang aku. Gak inget, ya?”
Selina memegangi mulutnya.
“Astaghfirullah… maaf mas! Aku gak sengaja, refleks…”
Ia buru-buru turun dari ranjang.
Adipati duduk pelan di tepi kasur, meringis.
“Lumayan juga tendanganmu… kayak tendangan kuda.”
Selina melotot.
“Mas! Aku kan lagi minta maaf!”
Adipati tertawa tipis.
“Bercanda, sayang.”
Selina memutar bola mata, lalu berkata pelan:
“Aku pijitin mau gak? Kamu pasti sakit.”
Adipati terkejut.
“Kamu serius bisa pijit?”
“Bisa kalau cuma pijit ringan.”
Walau sebenarnya dia ragu.
“Atau mau obat aja?”
Adipati menggeleng.
“Pijit aja… biar sekalian dapet perhatian istri.”
Ia merebahkan diri tengkurap di ranjang.
Selina duduk di pinggir kasur dan mulai memijat punggungnya.
“Aduh… iya disitu… agak keras dikit,” Adipati mengerang pelan.
Selina cemberut.
“Ngeyel amat… yang kesakitan siapa yang ngatur siapa.”
Adipati hanya tertawa, suaranya rendah dan hangat.
Lalu ia membalik tubuhnya telentang.
“Lengan mas juga sakit,” ujarnya sambil mengangkat tangan kekarnya.
Selina menelan ludah melihat otot pria itu.
“O-oke.”
Ia memijat lengannya.
Tangan kecilnya kontras dengan lengan kekar Adipati.
Adipati menatap Selina.
Tatapannya lembut, panas, dan dalam.
Selina menunduk, berusaha fokus…
Tapi jantungnya berdetak kacau.
Lalu—tanpa sadar—ia mendekat.
Pandangan Selina turun ke bibir Adipati.
Bibir yang sejak semalam ia lihat diam-diam.
Bibir yang tipis, menggoda, membuatnya kehilangan logika.
Adipati mengangkat alis sedikit.
“Sel… kamu kenapa liat mas begitu?”
Selina menggigit bibirnya sendiri.
Tanpa sadar tubuhnya miring ke depan.
Hidung mereka hampir bersentuhan.
Napas Adipati mulai tak stabil.
Selina menatap bibir itu lagi.
Ia hampir… hampir… menciumnya.