"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Radeva Sena Atmaja
"kalian habis dari mana?" tanya Bisma yang berdiri di belakang mereka, Yulia dan Lusi yang baru akan buka pintu itu terkejut karena suara Bisma
"eh.. kakak udah pulang? Lusi.. belum sempat masak hehe.." Lusi menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil cengengesan
"kakak udah beli soto tadi, ayo masuk" ucap Dimas berjalan melalui mereka
"kak.. Yuli pindah kos boleh ya? Yuli pengen satu kos sama Lusi.." ucap Yuli, alibinya saja yang ingin satu kos dengan Lusi niat yang sebenarnya adalah ingin selalu dekat dengan Bisma, cowok itu sudah di incarnya sejak SMP sayangnya Lusi selalu menghalanginya dan Bisma juga jarang di rumah, karena kuliah di kota jadi jarang pulang ke desa
"mau tukar kos?" tanya Bisma yang tak tau maksud Yulia
"bukan tukaran kak, tapi tinggal bareng kalian?" jawab Yulia berharap Bisma setuju
"gak!! enak aja.. kalo mau tinggal bareng aku ya udah aku aja yang pindah!" tolak Lusi cepat, mereka menggelar tikar untuk makan bertiga. selama satu tahun ini sebelum Lusi pindah Yulia sering mencari perhatian pada Bisma yang tak pernah menganggapnya orang lain, Bisma sudah menganggap Yulia seperti adik kandungnya. itu mengapa dia tak pernah berfikir hal-hal aneh saat Yulia datang mengantar makanan untuknya, meski saat malam hari sekalipun
"gak boleh!! kalo tinggal berdua takutnya ada orang jahat, harus sama kak Bisma juga!" elak Yulia masih berusaha, sebelumnya tak berani minta tinggal bersama karena takut di Cap buruk orang lain, biarpun mereka dekat tetap saja mereka tak sedarah, kali ini ada Lusi tentu Yulia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan
"boleh aj.."
"Gak gak gak!! pokoknya enggak!!!! Yuli gak usah gatel deh! sok bilang takut ada orang jahat.. bukannya setahun ini kamu selalu tinggal sendiri di kos kamu?!" tolak Lusi tegas yang sudah tau akal-akalan sahabatnya itu, Yulia mendengus kesal karena Lusi selalu menghalanginya
"kalian kenapa sih?" Bisma diam-diam merasa senang dengan keributan mereka, selama empat tahun dirinya merantau baru kali ini kos begitu ramai dengan kehadiran dua gadis itu. Bisma sudah berusia 22 tahun sekarang dirinya juga hampir menyelesaikan status mahasiswa nya di tahun ini, kuliah sambil bekerja memang melelahkan tapi cukup menyenangkan juga bagi dirinya.
.
Deva masuk dengan langkah yang malas kerumah besar itu, tempat yang sudah 7 tahun ini ditinggalinya bersama sang Papa dan satu wanita lagi yang tak pernah di anggap nya ada
hubungannya dengan pak Lian, Papanya memburuk, semenjak pria yang sudah berkepala empat itu menikah lagi. selama itu juga Deva tak pernah mau bicara dengan Papanya meski pak Lian selalu mencuri kesempatan untuk bisa sekedar menyapa putra nya itu, Deva tak pernah sama sekali membuka mulut di hadapan Papanya
"sudah pulang?" sapa Pak Lian dengan senyum tulusnya, seperti biasa dan seperti biasa juga Deva mengabaikan pria itu
"Khm.. Papa bulan depan berniat pulang ke Desa, mau ikut? mungkin.. kamu bisa ketemu Aru lagi disana?" ucap pak Lian lagi, dari begitu banyaknya usaha yang di lakukan tak pernah sama sekali putranya itu menggubris dirinya dan kali ini ada yang berbeda, langkah Deva berhenti ketika mendengar nama itu mata Lian membulat
"kamu sudah besar, sudah tau mana yang baik dan benar sudah saat nya kamu mendengarkan kebenaran yang tak pernah kamu pedulikan" pak Lian tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, melihat putranya berhenti tiba-tiba dia merasa memiliki sedikit harapan
Deeva berjalan masuk ke kamarnya, tak lagi ingin mendengar apapun dari Papanya. Radeva Sena Atmaja, nama itu banyak yang sudah mendengarnya terlebih keluarga Atmaja cukup terkenal di kota itu, namun banyak yang tak tau wajah dari pemilik nama itu, di sekolah pun hanya di kenal sebagai Deva hanya beberapa yang tau nama panjang dan marganya
meski sebagai donatur tetap di sekolah, namun tak pernah di sebutkan jika Donatur itu adalah seorang kepala keluarga Atmaja. bahkan Yulia yang sudah tinggal satu tahun di kota itu hanya tau Deva adalah anak dari seorang konglomerat, tidak tau jika dia dari keluarga Atmaja.
"masih gak mau dengar ya? ya sudahlah.. pelan-pelan saja kalau begitu" gumam Liando Atmaja melihat putranya yang masih begitu dingin
"Aru.. gadis itu gimana kabarnya ya? hais... sudah lama sekali.." lanjutnya menyerahkan pundaknya pada bagian belakang sofa
'gadis yang begitu manis itu.. pasti sekarang jauh lebih manis lagi.. kira-kira dia masih ingat Sena gak ya?' ucapnya membatin menatap langit-langit ruangan itu
teringat kenangannya di masa lalu, saat di mana senyum tulus putranya masih begitu indah, begitu polos dan menggemaskan, tak pernah ingin jauh dari gadis kecil yang sudah putranya anggap seperti miliknya bahkan pernah berencana ingin menikahinya meski hanya pembicaraan anak-anak yang tak perlu di anggap serius, namun Maja yang sekarang di kenal sebagai Lian itu tetap berharap putranya masih mengingat janji kecil dan kenangan itu, setidaknya putranya tidak lagi menyalahkan gadis itu dengan keluarganya tanpa benar-benar tau kebenarannya
"aku ikut" ucap Deva yang tiba-tiba muncul setengah badan di balik tembok, tentu Lian sangat terkejut karena untuk pertama kalinya mendengar suara putra nya setelah pubertas senyumnya mengembang sempurna kesempatan untuknya memulai kembali hubungan mereka terlihat jelas di depan mata
"ternyata.. pintunya perlahan di buka ya.." gumamnya senang, pintu menuju keharmonisan yang sudah lama melebur bersama waktu itu mulai sedikit terbuka untuk mereka
.
keesokan harinya, Lusi dan Yulia berangkat menggunakan sepeda milik Yulia, dengan Lusi yang didepan sebagai supirnya
"wuhuuu!!! asik banget woii!!" teriak Yulia di belakang, akhirnya kakinya tak lagi pegal mengayun pedal sepeda di pagi-pagi buta
"eh iya.. Loe gak boleh lemah ya, di sekolah Pelita Ilmu orang-orangnya banyak yang toxic. loe jangan cengeng juga bisa-bisa loe jadi bahan bullyan nanti!" ucap Yulia mengingatkan sahabatnya itu
"loe gak lupa kan gue siapa?" tanya Lusi yang sejak semalam mulai belajar bicara menggunakan gue loe, agar lebih cepat terbiasa
"gue sih gak lupa, tapi gue juga ingetin ya.. jangan sembarangan pukul orang juga! galak boleh tapi jangan kasar-kasar nanti susah dapet temen!" jawab Yulia
"gue kan udah punya loe" jawab Lusi tak peduli
"dih!! di kota ini loe harus nyari temen yang banyak biar kalo loe di ganggu banyak yang belain" sahut Yulia
"gue cukup punya loe aja" jawab Lusi lagi, Yulia tersenyum salting di belakang
"khm!! tapi tetep aja.. udah deh nanti gue kenalin loe sama temen-temen gue, biar loe gak kesepian!" ucap Yulia dengan gaya khasnya yang selalu bangga pada diri sendiri
mereka melangkah menuju kelas sambil mengobrol santai, hari ini Lusi tak mengikat rambutnya dan itu ide Yulia untuk membiarkan rambut hitam Lusi tergerai dengan indah.
saat jam pelajaran kedua kelas mereka kosong karena guru di mapel itu tidak hadir jadi mereka bebas keluar asal tidak membuat keributan di dalam kelas dan mengganggu kelas lainnya, dua gadis itu, Yulia dan Lusi duduk di tepi lapangan di bawah pohon mangga milik sekolah. mata keduanya berbinar melihat buah mangga yang sudah banyak tua bahkan ada yang terlihat matang dan mulai menguning, keduanya saling menatap mengirim sinya melalui jentikan alis lalu mengangguk bersama sambil tertawa jahat
"siapa nama murid baru di kelas 11 itu?" tanya Deva pada dua temannya yang menatap dari jendela kelas mereka
"oh.. yang itu, Lusi namanya" jawab Samudra
"nama panjangnya" jelas Deva, kemarin dirinya sudah tanya langsung dia tau namanya Lusi yang Deva tanyakan adalah nama panjangnya Lusi
"kalo soal itu gue gak tau, ngapain si ngurusin anak orang gak jelas banget!" dengus Samudra kembali menatap ke arah dua gadis itu
"menurut loe berdua, tu cewek yang satunya lagi cantik gak?" tanya Samudra gantian
"kenapa? loe naksir?" tanya Alvin tersenyum menggoda
"kayaknya sih iya.. cuma dia doang yang pernah menang ngelawan si Marsha, loe berdua tau kan gimana gak masuk akalnya si Marsha? tu cewek malah dengan anggunnya nampar si Marsha depan umum bahkan gak dapet hukuman cok! dia menang debat lawan papanya Marsha woi!!" jawab Samudra semangat, dia masih kagum dengan kejadian setengah tahun lalu saat Yulia masih kelas 1, keributan itu menjadi gosip panas selama satu minggu