Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah berhasil membuat Arkan mati kutu di dalam kelas, suasana hati Naura benar-benar berada di puncak. Ia berjalan keluar kelas bersama Nadira saat jam istirahat kedua dimulai. Lorong sekolah yang megah itu menjadi saksi bisu tawa mereka yang bersahutan.
"Sumpah ya, Ra! Gue nggak pernah liat Arkan pasrah kayak gitu. Lo bener-bener pawang kulkas!" seru Nadira sambil merangkul pundak Naura.
"Haha! Makanya, Nad, jangan mau diintimidasi sama muka datarnya dia. Sebenernya dia itu cuma... butuh sedikit kejutan," balas Naura sambil memperagakan gerakan kaget yang konyol.
Mereka bercanda sambil berjalan menuju taman belakang sekolah. Nadira yang gemas mulai mengejar Naura, mencoba menggelitik pinggang temannya itu. Naura tertawa lepas, mencoba menghindar dengan gerakan lincah.
"Sini lo, Naura! Jangan lari!" seru Nadira sambil tertawa.
"Nggak kena! Nggak ken—Aduuh!"
Karena terlalu asyik menoleh ke belakang untuk meledek Nadira, kaki Naura tersangkut akar pohon peneduh yang sedikit menyembul di pinggir jalan setapak. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan dalam hitungan detik, Naura mendarat di atas rumput dengan posisi yang tidak elit sama sekali.
"Hahaha! Naura!" Nadira langsung berhenti dan memegang perutnya, tertawa sampai matanya berair. " Rasain lo, jail banget sih "
Naura meringis, merasa lututnya sedikit berdenyut. Ia baru saja akan mengomeli Nadira sambil berusaha bangkit, ketika sebuah bayangan menutupi sinar matahari di atasnya.
Sebuah tangan yang bersih, dengan jemari yang rapi, terulur di hadapannya.
"Lain kali hati-hati, jalannya licin kalau habis disiram."
Suara itu terdengar sangat lembut dan menenangkan, jauh berbeda dengan suara berat Arkan yang selalu terdengar seperti perintah. Naura mendongak dan mengerjapkan matanya.
Di hadapannya berdiri seorang pemuda dengan seragam yang sangat rapi dan lencana Ketua OSIS yang tersemat di dadanya. Wajahnya rupawan dengan senyum ramah yang tampak sangat tulus, tipe wajah "anak baik-baik" kesayangan guru dan idola semua siswi.
"Kak Gibran?" gumam Nadira, seketika menghentikan tawa ejekannya dan mendadak bersikap sangat sopan.
Gibran Al-Fahri. Sang Ketua OSIS yang dikenal sebagai matahari SMA Pelita Bangsa.
Gibran tetap mengulurkan tangannya, menunggu Naura menyambutnya. "Kamu naura kan?"
Naura terdiam sejenak, otaknya yang secepat superkomputer itu langsung memindai data yang pernah ia baca. Gibran Al-Fahri. Putra tunggal pemilik yayasan. Reputasi bersih tanpa celah. Terlalu sempurna.
Sambil memasang kembali wajah "gadis ceria" yang sedikit malu-malu, Naura akhirnya menyambut uluran tangan Gibran. "I-iya, Kak. Maaf ya, aku malu-maluin banget di depan Kakak."
Gibran menarik tangan Naura dengan lembut untuk membantunya berdiri. Setelah Naura tegak kembali, Gibran tidak langsung pergi, melainkan sedikit membungkuk untuk membersihkan helai daun yang menempel di rambut Naura.
"Nggak apa-apa. Jatuh itu manusiawi," ucap Gibran sambil tersenyum hangat, membuat beberapa siswi yang lewat di koridor menahan napas iri. "Ada yang luka? Mau saya antar ke UKS?"
Dari kejauhan, di lantai dua gedung sekolah, Arkan yang sedang bersandar di balkon memperhatikan interaksi itu dengan mata menyipit. Ia tidak suka dengan apa yang ia lihat.
"Terima kasih, Kak Gibran. Benar-benar penyelamat deh," ujar Naura sambil menepuk-nepuk roknya yang sedikit kotor, kembali ke mode gadis polosnya.
Gibran mengangguk kecil. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Sebagai perwakilan OSIS, aku ingin menyampaikan langsung kepadamu, Naura. soal acara yang akan di adakan anggota osis lusa."
Nadira yang berdiri di samping Naura langsung menyahut antusias, "Soal acara itu ya, Kak?"
"Benar," Gibran menatap Naura dengan tatapan intens namun sopan. " sekolah akan mengadakan Kemah Keakraban di area perkemahan kaki Gunung Salak. Ini acara wajib tahunan untuk kelas XI dan XII. Karena kamu baru bergabung, aku harap kamu bisa ikut."
Naura memiringkan kepalanya, berpura-pura berpikir. "Wah, kemah? Seru banget kayaknya! Tapi aku belum tahu persiapannya apa saja, Kak."
"Jangan khawatir," potong Gibran cepat.
"Nanti sore akan ada pembagian modul dan daftar perlengkapan. Kalau kamu merasa kesulitan atau butuh bantuan untuk membawa barang-barang berat, kamu bisa langsung hubungi aku. Sebagai Ketua OSIS, aku bertanggung jawab merasa nyaman."
"Duh, Kak Gibran perhatian banget sih! Naura pasti ikut kok, Kak," timpal Nadira sambil menyenggol lengan Naura, memberikan kode seolah-olah Naura baru saja mendapat durian runtuh karena diperhatikan oleh sang pangeran sekolah.
"Bagus kalau begitu. Sampai jumpa di sana, Naura. Nadira," pamit Gibran. Ia sempat melirik ke arah balkon lantai dua tempat Arkan berdiri sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegap yang berwibawa.
Begitu Gibran menghilang di balik koridor, Naura menarik napas panjang. Senyum lebarnya sedikit mengendur.
"Nad, Kak Gibran emang selalu... seramah itu ya?" tanya Naura pelan.
"Iya! Dia itu perfect banget, Ra. Ganteng, pinter, anak pemilik yayasan, tapi nggak sombong sama sekali. Beda jauh kan sama 'si kulkas' Arkan?" seru Nadira bersemangat.
Naura hanya mengangguk kecil, namun batinnya berteriak keras. Kemah di area terbuka? Dua hari lagi? Ini adalah waktu yang sangat singkat. Matanya kembali melirik ke arah balkon. Arkan sudah tidak ada di sana, namun Naura tahu, pria itu pasti juga sedang memikirkan hal yang sama.
......................
Kantin SMA Pelita Bangsa saat jam makan siang lebih terasa seperti lobi hotel bintang lima daripada fasilitas sekolah. Aroma truffle oil dan steak wagyu menyeruak di udara, bersaing dengan dentingan sendok perak pada piring porselen.
Naura duduk di meja tengah yang strategis bersama Nadira dan gengnya. Seperti biasa, ia menjadi pusat perhatian dengan tawa cerianya yang menular. Namun, fokus utamanya sebenarnya tertuju pada pengumuman acara kemah yang baru saja disebarkan melalui grup WhatsApp angkatan.
"Duh, gue nggak kebayang deh harus tidur di tenda," keluh Nadira sambil mengaduk saladnya. "Tapi karena ini wajib dan Kak Gibran yang jadi ketua pelaksananya, ya sudahlah. Pasti fasilitasnya nggak sembarangan."
"Tenang aja, Nad. Kan ada Kak Gibran yang bakal jagain kita semua," sahut Naura manis, matanya melirik ke arah meja di pojok terjauh kantin.
Di sana, Arkan duduk sendirian. Ia tampak acuh tak acuh, hanya menghadapi segelas kopi hitam dan sebuah roti lapis sederhana. Namun, Naura menyadari sesuatu yang janggal posisi duduk Arkan membelakangi dinding, memberinya sudut pandang penuh ke seluruh pintu keluar dan jendela kantin, posisi taktis klasik bagi seseorang yang selalu waspada.
Tiba-tiba, suasana kantin sedikit berubah saat Gibran masuk bersama jajaran pengurus OSIS lainnya. Mereka bergerak dari meja ke meja, memastikan semua murid sudah mendapatkan informasi tentang kemah dua hari lagi.
Saat Gibran sampai di meja Arkan, langkahnya melambat.
"Arkan," sapa Gibran dengan nada ramah yang tetap berwibawa. "Gue liat lo belum daftar di sistem untuk bus keberangkatan. Mau bareng bus kelas XI-A atau ada rencana lain?"
Arkan mengangkat kepalanya perlahan. Tatapan dinginnya bertemu dengan senyum hangat Gibran. "Gue bakal urus sendiri," jawabnya singkat.
"Acara ini untuk keakraban, Kan. Akan lebih baik kalau lo bergabung dengan yang lain," lanjut Gibran, tangannya menepuk bahu Arkan, sebuah gerakan yang membuat otot bahu Arkan tampak menegang sedetik sebelum ia kembali rileks.
Naura yang mengamati dari jauh menahan napas. Ia bisa merasakan ketegangan yang tidak kasat mata di antara keduanya. Bagi murid lain, itu mungkin hanya interaksi antara Ketua OSIS yang perhatian dan murid yang antisosial. Namun di mata Naura, itu seperti dua predator yang sedang menandai wilayah.
"Gue bakal di sana, Gibran. Itu kan yang penting?" balas Arkan datar.
Gibran terkekeh pelan, seolah tidak tersinggung. "Tentu. Sampai jumpa di lokasi kalau begitu."
Gibran kemudian berbalik dan berjalan menuju meja Naura. Begitu sampai, ia tersenyum jauh lebih lebar. "Gimana, Naura? Sudah siap untuk petualangan pertama kamu di Pelita Bangsa?"
"Siap banget, Kak! Aku udah nggak sabar pengen liat bintang di gunung," jawab Naura dengan binar mata yang sangat meyakinkan.
"Bagus "
Naura tertawa, namun batinnya bergejolak.
Begitu Gibran pergi, Naura kembali melirik ke arah Arkan. Kali ini, Arkan sedang menatapnya balik. Tanpa kata, Arkan memberikan isyarat mata yang sangat tipis ke arah ponsel di atas meja.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Naura. Bukan dari WhatsApp, tapi dari aplikasi terenkripsi yang ia sembunyikan di balik folder game.
[arkan]: Jangan lengah di kemah nanti.
Naura tersenyum kecil sambil menyuap pastanya. Permainan di sekolah ini baru saja naik ke level yang jauh lebih berbahaya.