Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Takdir
Di kehidupan sebelumnya, Ibunya mengalami kecelakaan akibat rem blong. Waktu itu hari sudah larut malam dan sang ibu baru saja pulang dari arisan di rumah temannya. Mobilnya ringsek menabrak pembatas jalan dengan asap pekat yang keluar dari mesin mobil. Lalu keesokan harinya, ia mendapat berita bahwa Dewi melakukan percobaan bunuh diri akibat depresi karena pembullyan hingga di depak dari kampus.
"tadi ada yang bunuh diri, waktunya tepat dengan dulu Dewi melakukannya. Bedanya yang ini sampai meninggal, kalau Dewi dulu tidak sampai meninggal. Itu artinya tempat kecelakaan ibu, mungkin saja..."
Ketika sebuah pemikiran terbesit di benaknya, Ranja langsung mencari berita terkini yang terjadi di kotanya. Dan benar saja, ada sebuah berita kecelakaan yang terjadi di ruas jalan yang dulu dilewati ibunya. Di jam yang sama persis pula.
"itu artinya takdir tetap berjalan hanya beda orang yang menerimanya," gumamnya lirih.
"pengemudi meninggal dunia di tempat."
Tubuhnya langsung lemas seketika saat membaca kronologi kecelakaan hingga kondisi pengemudi. Dulu ibunya meskipun cacat, tapi masih hidup. Tapi kali ini pengemudi meninggal di tempat. Dua pengganti penerima takdir, dan keduanya meninggal di tempat.
Setitik air mata jatuh membasahi pipinya. Rasa bersalah langsung menyelimuti hatinya dan ia merasa dirinya lah yang telah membunuh mereka.
"selanjutnya, apa aku bisa menghentikan jatuhnya korban lagi?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"lagi ngapain Ran?"
Rania langsung menoleh ke arah samping dan melihat Arya yang sudah duduk di sampingnya. Kini mereka berdua tengah berada di dalam kelas menunggu dosen datang.
"bukan urusanmu."
Rania menumpuk bukunya lalu menggendong tasnya. Ia berdiri ingin pindah tempat namun Arya lebih cepat mencekal tangannya lalu menariknya agar ia duduk lagi.
"duduk, dosen sudah datang."
Ia melihat ke arah pintu dan memang benar sang dosen sudah datang dan sedang berjalan masuk menuju tempatnya. Dengan terpaksa, Rania duduk lagi di tempat semula.
Materi demi materi sudah disampaikan namun tidak ada satupun yang masuk ke dalam otak kecil Rania. Justru rasa kantuk yang tak tertahankan menguasai dirinya. Tepat ketika kepalanya hampir jatuh terbentur meja, saat itu juga bel berbunyi menandakan kelas telah usai. Salam penutup sekaligus pengingat tugas dari sang dosen membuat mata Rania kembali terbuka segar. Di dalam hati ia terus menggerutu melihat perkembangan belajarnya yang sama sekali tidak berkembang.
"kantin?"
"sana sendiri!"
Perasaannya sedang buruk ditambah mendengar suara Arya menjadikannya semakin buruk. Ia sangat berterimakasih atas bantuannya kemarin, tapi rasa sebalnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
Setelah menata buku dan menggendong tasnya, ia langsung pergi. Kali ini ia menjadi lebih cepat agar kejadian sebelumnya tidak terulang kembali. Di lorong kampus, ia mengingat kembali kejadian selanjutnya yang akan terjadi. Jika sesuai urutan dan waktu, maka seharusnya sebentar lagi ia akan bertemu dengan Salsa.
"tapi tadi dia minta maaf," monolognya mengingat kembali kejadian di toilet tadi.
Rania merasa bingung dengan keadaan yang terjadi saat ini. Apa yang dulu terjadi, kali ini pun pasti akan terjadi. Tapi kalau Salsa dan dirinya tidak akan bermusuhan, lantas bagaimana dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
BRUK!
"akh."
Rania disenggol seseorang hingga ia jatuh terduduk di lantai dan bukunya pun jatuh berhamburan. Ia mendongak melihat siapa yang sengaja mengusiknya.
"siapa sih, udah tau ada orang masih aja ditabrak," ucapnya saat ia masih terduduk di lantai dan belum melihat siapa yang menabraknya.
Namun ocehannya langsung berhenti ketika melihat wajah yang tidak asing baginya.
"Dona?"
Dona mengulurkan tangan ke arahnya dan dengan ragu ia meraih tangan tersebut. Dengan keyakinan bahwa dia tidak akan menyakitinya secara langsung, ia pun menerima uluran tangan tersebut. Tapi dia lupa, kali ini sudah ada banyak hal berubah. Meskipun apa yang akan terjadi pasti terjadi, tapi tidak dipungkiri bahwa takdir hidupnya sudah jauh berbeda dengan kehidupannya yang lalu.
Setelah berdiri dengan sempurna, Dona tersenyum licik lalu menarik tangan Rania seolah-olah mendorongnya hingga terjatuh. Tepat di belakangnya adalah tangga. Karena terkejut, Rania tidak bisa merespon hal tersebut dan hanya diam melihat gadis itu terguling ke bawah. Saat itu ia sadar bahwa dirinya telah dijebak. Beberapa siswa yang berada di sana langsung menoleh dan berlari mendekat. Membentuk sebuah kerumunan yang ramai dan berisik. Dan semua orang di sana menunjuk serta menyalahkannya.
"mungkin kali ini aku yang menanggung fitnah dari Dona karena Dewi sudah lolos kemarin?" gumamnya bertanya-tanya.
Rania menoleh dan melihat ke setiap sudut yang ada di sana namun tidak menemukan CCTV. Kali ini riwayatnya mungkin akan tamat kalau tidak ada saksi maupun bukti.
Ambulan datang mengangkut Dona ke rumah sakit. Lalu dirinya dibawa oleh pihak keamanan untuk memberikan saksi atas kejadian tersebut. Saksi yang sangat mungkin akan menjadi terduga pelaku.
Sementara itu di rumah sakit, Arya berdiri di koridor menuju IGD. Ia melihat dari jauh bagaimana dokter menangani Dona. Arya mendekatinya setelah dokter dan perawat pergi. Berdiri di ujung ranjang, melihat setiap luka yang terlihat. Ada perban di kepalanya, lalu beberapa lebam di wajah, tangan dan kaki.
"kamu keluarga pasien?" tanya seorang suster kepadanya.
"bukan, saya temannya."
"kalau begitu tolong tunggu di sini sebentar sampai keluarganya datang. Sebentar lagi akan dilakukan rontgen."
Arya hanya mengangguk saja lalu sang suster pun pergi. Ia masih berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun. Tidak lama kemudian, Dona siuman dan terlihat sedikit kebingungan melihat sekitarnya. Hingga matanya bertemu pandang dengan tatapan tajam Arya.
"a-arya, kamu di sini."
"hm."
"aku.. aku tidak akan menyalahkan Rania, dia hanya emosi karena mengira aku yang menyuruh orang untuk mencelakai Dewi."
Ucapannya terdengar begitu kasihan dan wajahnya juga terlihat menyedihkan. Air matanya terlihat seperti akan jatuh kapan saja. Namun bukan rasa iba yang Arya rasakan melainkan emosi yang semakin memuncak. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya.
"berhenti bicara, fokus dengan perawatanmu saja."
Dona sedikit terkejut dengan nada bicara Arya yang terdengar menyentaknya. Tapi ia juga menurut dengan membungkam mulutnya dan berbaring dengan tenang. Setelah semua prosedur perawatan selesai, Dona resmi mulai rawat inap di sebuah kamar VIP. Kaki kirinya di gips setelah melihat hasil rontgen, terdapat retakan di sana. Selain itu, tidak ada masalah serius baik luka luar maupun dalam.
Orang tua Dona datang dengan raut khawatir melihat kondisi putri mereka yang babak belur. Cerita yang sama selalu diucapkan Dona kepada siapapun yang datang untuk menjenguknya. Hancur sudah nama baik Rania di mata publik. Tidak ada satu pun yang bisa membantunya menjelaskan situasi ini. Polisi datang untuk mendengar cerita dari Dona dan status tersangka pun akan segera ditetapkan.
Sedangkan Rania di dalam ruang interogasi hanya diam. Bukan diam pasrah, tapi diam memikirkan alur takdir yang berubah sejauh ini.
"apa kejadian ini dulu pernah ada?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil mengingat kejadian lalu.
Kriett
Suara pintu terbuka tidak mampu mengalihkan Rania dari pikirannya sendiri.
"dulu aku yang begini."
Ucapan itu langsung membuat Rania menoleh. Ia melihat Salsa di sana, berjalan masuk lalu duduk di depannya.
"bagaimana kamu bisa masuk?"
"tinggal masuk dari pintu."
"tapi, bagaimana mungkin? hanya petugas saja yang bisa datang."
Salsa tersenyum menanggapi kebingungan Rania. Ia tidak berniat menjelaskan kepadanya, membiarkannya kebingungan sendiri.
"aku bisa membebaskan kamu dari tuduhan ini," ucap Salsa dengan begitu serius.
Rania yang mendengar itu pun langsung melongo menatap gadis yang bahkan tidak memiliki pendukung di belakangnya.
"dengan cara apa?" tanya Rania dengan nada penuh keraguan. Ia meragukan niat Salsa, meragukan apa yang mungkin bisa dia lakukan.