maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Memang hukum alamnya kalau sudah panik, semuanya pasti ikut amburadul.
Meskipun sudah pasang alarm, Maizy tetap saja ketinggalan kereta bawah tanah (U-Bahn) jadwal biasanya gara-gara sempat melamunkan sepasang cincin tadi. Begitu kereta berikutnya datang, Maizy langsung melesat masuk ke dalam gerbong yang sudah padat, napasnya agak terengah-engah.
Dia melirik jam tangan. *Sial.* Dia resmi bakal telat masuk sekolah. Jam pertamanya adalah guru yang paling disiplin, dan membayangkan harus mengetuk pintu kelas sambil membungkuk-bungkuk minta maaf membuat Maizy yang biasanya ceria jadi agak stres.
Kereta melaju cepat, bergoyang ritmis di atas rel bawah tanah Berlin. Maizy berdiri di dekat pintu, satu tangannya berpegangan pada tiang, sementara tangan satunya sibuk membetulkan letak kacamatanya yang terus melorot karena keringat dingin.
*Ciiiiiiitttt!*
Tiba-tiba, masinis mengerem kereta sedikit mendadak saat hendak memasuki stasiun berikutnya. Tubuh para penumpang otomatis terdorong ke depan, termasuk Maizy.
Namun, belum sempat Maizy menyeimbangkan badannya—
*BRUAAAKK!*
Seseorang dari arah belakang menubruk punggungnya dengan sangat keras. Tubuh Maizy terdorong ke depan, kacamatanya langsung terlepas terbang ke lantai kereta, dan tas sekolahnya merosot dari pundak, menumpahkan beberapa isi dokumennya.
"Aduh!" Maizy meringis, lututnya sempat membentur lantai kereta saat dia mencoba menahan badannya agar tidak tersungkur sepenuhnya. Pandangannya langsung buram berekor-ekor karena kehilangan kacamata.
"Hoi, kalau berdiri di tengah jalan pakai mata dong. Ngrepotin aja," sebuah suara cowok terdengar dari atas kepalanya. Ketus, dingin, dan sama sekali tidak merasa bersalah.
Maizy meraba-raba lantai, menemukan kacamatanya, lalu memakainya dengan cepat. Begitu pandangannya kembali jernih, dia mendongak dan langsung mengenali seragam yang dipakai cowok itu.
*Seragam yang sama dengan sekolahnya.*
Cowok itu tinggi, wajahnya ganteng tapi ekspresinya luar biasa menyebalkan. Dia sedang berdiri tegak sambil membersihkan debu tak kasat mata di jaket seragamnya, seolah-olah Maizy-lah yang baru saja menularkan kuman kepadanya, padahal dialah yang menabrak Maizy dari belakang.
"Maaf?" Maizy melongo, rasa kesal langsung naik ke ubun-ubunnya. Sebagai seorang ENFJ yang biasanya ramah dan selalu berusaha menjaga kedamaian, sifat aslinya yang tegas kalau melihat ketidakadilan langsung terpicu. "Kau yang menabrakku dari belakang karena tidak berpegangan, dan sekarang kau malah menyalahkanku?!"
Cowok itu cuma melirik Maizy dari atas ke bawah lewat tatapan meremehkan, lalu mendengus pelan. "Siapa suruh berdiri kayak patung di dekat pintu saat kereta mau berhenti? Lagipula, jalannya lambat amat. Minggir."
Tanpa membantu memungut buku Maizy yang berserakan, cowok itu dengan santainya melangkah melewati Maizy begitu pintu kereta terbuka di stasiun tujuan mereka, sengaja menyenggol bahu Maizy sekali lagi.
"Sumpah... ngeselin banget!" Maizy mengepalkan tangannya, menahan geram sampai wajahnya agak memerah.
Sudah tahu bakal telat masuk sekolah, sekarang dia malah harus berurusan dengan cowok paling tidak sopan satu almamater yang merusak pagi indahnya. Sambil memunguti bukunya dengan terburu-buru, Maizy bersumpah dalam hati kalau dia sampai bertemu lagi dengan cowok itu di area sekolah, dia tidak akan tinggal diam.
Begitu pintu kereta U-Bahn terbuka lebar, cowok itu melenggang pergi tanpa dosa. Maizy buru-buru memasukkan kembali buku-bukunya ke dalam tas dengan sisa-sisa kekesalan yang masih mendidih di dadanya. Begitu selesai, dia langsung berlari keluar dari stasiun, menembus trotoar kota Berlin demi mengejar waktu yang sudah di ambang batas.
Benar saja, gerbang sekolah sudah tertutup rapat saat Maizy sampai. Sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan, dia terpaksa melapor ke pos piket. Namun, saat dia baru saja melangkah ke koridor menuju ruang piket, matanya menangkap sosok yang tidak asing lagi.
Cowok ngeselin dari kereta tadi. Dia sedang berdiri di depan meja guru piket dengan santai, melipat kedua tangannya di depan dada. Di papan namanya tertulis jelas: **Paul Graxiel Laxsman**.
"Ah, Maizy. Kau telat juga?" tanya guru piket yang mengenal sifat Maizy yang biasanya rajin. "Dan kau, Paul. Ini sudah ketiga kalinya minggu ini."
"Keretanya yang terlambat, Bu. Bukan saya," sahut Paul dengan nada yang sangat tenang, lugas, dan penuh keyakinan. Tidak ada kamus 'merasa bersalah' di wajah gantengnya itu.
Maizy yang baru datang langsung menyela karena masih dongkol, "Dia telat karena tidak bisa jalan cepat, Bu! Di kereta tadi dia malah menabrak orang dan merusak fasilitas umum—maksudku, menjatuhkan barang-barangku!"
Paul menoleh, menatap Maizy dari balik bahunya dengan tatapan meremehkan yang sama seperti di kereta. "Menjatuhkan barangmu? Kau sendiri yang tidak punya keseimbangan tubuh yang baik sampai barang-barangmu berserakan. Aku hanya berjalan lurus. Kalau kau tidak bisa mengatasi guncangan kereta, mungkin besok-besok kau harus berangkat pakai sepeda roda tiga."
"Apa?!" Maizy melotot, mukanya memerah menahan geram. Sifatnya yang selalu ingin meluruskan masalah malah makin memanas karena cowok di depannya ini tipe orang yang mutlak *nggak mau kalah*.
"Sudah, sudah! Cukup!" lerai guru piket sambil mengetuk meja. "Karena kalian berdua terlambat dan malah ribut di sini, kalian berdua dihukum membersihkan perpustakaan setelah jam pelajaran selesai nanti. Paham?"
"Tapi, Bu—" Maizy mau memprotes, namun Paul sudah memotongnya duluan dengan senyum miring yang memprovokasi.
"Baik, Bu. Saya tidak keberatan. Setidaknya saya bisa membersihkan ruangan dengan cepat, tidak seperti seseorang yang lambat dan penuh drama," sindir Paul telak, matanya melirik kacamata Maizy.
Maizy mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi rok seragamnya. *Paul Graxiel Laxsman.* Nama itu benar-benar langsung masuk ke dalam daftar hitamnya hari ini. Paul jelas-jelas tipe orang yang egois, keras kepala, dan akan melakukan segala cara lewat argumennya agar posisinya selalu berada di atas angin.
"Lihat saja nanti di perpustakaan," bisik Maizy tajam saat mereka berjalan beriringan menuju kelas masing-masing.
Paul tidak menoleh sama sekali, hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil menyahut santai, "Aku tidak suka kalah, bahkan dalam urusan membersihkan debu. Jadi, bersiaplah untuk terlihat tidak berguna di sana nanti, Nona Kacamata."