Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4 Mata yang Akhirnya Terbuka
Malam itu merupakan malam ketiga Hana merawat seorang pasien tanpa nama dan tanpa identitas yang terbaring lemah di atas ranjang.
Suasana Poskesdes Desa Sekar kembali dilingkupi keheningan yang sunyi. Lampu neon tua yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya putih pucat, menerangi ruangan sederhana yang hanya berisi beberapa ranjang pasien, lemari obat, dan meja kerja kayu milik Hana. Di luar, deburan ombak malam terdengar bersahut-sahutan dengan desau angin laut yang menyusup lewat celah jendela.
Hana masih bergeming di kursinya. Meski matanya terasa berat karena lelah, ia belum berniat untuk beristirahat. Sejak melihat kembali gerakan jari yang berulang pada pria misterius itu, nalurinya sebagai dokter meyakinkan bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi.
Tatapannya kembali tertambat pada tubuh pria yang terbaring kaku di atas ranjang putih. Napasnya kini lebih stabil, detak jantungnya pun terdengar kuat lewat monitor. Dan untuk pertama kalinya sejak terdampar di pantai, rona wajah pria itu terlihat jauh lebih hidup, tidak lagi sepucat mayat.
"Tinggal sedikit lagi..." gumam Hana lirih.
Ia berbicara pada kesunyian, seolah sedang menyemangati takdir. Seakan menjawab bisikan itu, jemari pria di atas ranjang tiba-tiba bergerak. Kali ini gerakannya jauh lebih bertenaga. Seprai putih di bawah tangannya sampai berkerut hebat ketika jemari kekar itu mencengkeram kain dengan kuat.
"Pak?" panggil Hana, memastikan.
Ia langsung tersentak berdiri dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Kelopak mata pria itu bergetar hebat. Sekali. Dua kali. Hingga akhirnya, perlahan-lahan... terbuka.
Hana menahan napas sejenak. Sepasang manik mata hitam pekat yang tajam akhirnya menembus cahaya setelah tiga hari tertutup rapat. Namun, tatapan itu tampak kosong dan linglung. Pandangannya bergerak tak fokus, seolah jiwanya baru saja ditarik kembali dari tempat yang sangat jauh.
"Syukurlah..." bisik Hana.
Ia mengembuskan napas lega yang sejak tadi tertahan. Pria itu mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menghalau buram yang menyelimuti penglihatannya. Pandangannya menyapu langit-langit kayu yang mulai lapuk, lampu neon yang berkedip redup, dinding Poskesdes yang mengelupas, hingga akhirnya terkunci pada sosok Hana yang berdiri tegang di samping ranjang. Kerutan dalam langsung tercetak di dahinya.
"Aku..." Suaranya terdistorsi serak, parau, dan nyaris tenggelam dalam keheningan.
"Jangan memaksakan diri untuk bicara dulu," potong Hana dengan sigap.
Ia mengambil segelas air, lalu perlahan membantu membasahi bibir pria itu yang pecah-pecah. Namun, pria itu tidak memedulikan peringatannya. Matanya kembali mengedar, menuntut jawaban dari sekelilingnya.
"Kau berada di Poskesdes Desa Sekar," lanjut Hana lagi.
Ia menjawab seolah tahu kebingungan yang sedang berkecamuk di kepala pasiennya.
"Desa... Sekar?" pria itu mengeja nama itu dengan kaku.
"Kami menemukanmu terdampar di pantai tiga hari yang lalu dalam kondisi kritis," jelas Hana sambil mengangguk lembut.
Mata pria itu mendadak menyipit. Ia mencoba menggali memorinya, memaksa otaknya bekerja. Namun, alih-alih sebuah nama, yang muncul di kepalanya justru kilasan-kilasan visual yang mengerikan dan acak: gulungan ombak raksasa, langit malam yang pekat, suara ledakan yang memekakkan telinga, lalu rasa sakit yang luar biasa seolah mengoyak tubuhnya.
"Akh...!"
Pria itu mengerang kesakitan. Ia refleks mencengkeram kedua sisi kepalanya yang mendadak berdenyut hebat seperti dihantam godam.
"Tenang! Tarik napas dalam-dalam. Jangan dipaksa," seru Hana panik.
Ia buru-buru menahan tangan pria itu agar tidak merobek kembali luka jahitan di bahunya. Pria itu terengah-engah dengan napas yang memburu berat, sementara butiran keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya.
"Aku... Aku tidak ingat apa pun," bisik pria itu kemudian.
Ia meratapi kekosongan di dalam kepalanya. Semakin keras ia mencoba menerobos dinding pembatas di otaknya, rasa sakit itu justru semakin menyiksa. Keheningan yang mencekam kembali menguasai ruangan.
"Tidak apa-apa. Untuk sekarang, fakta bahwa kau berhasil bertahan hidup sudah lebih dari cukup," hibur Hana setelah menghela napas pelan.
Pria Itu menatap Hana lekat-lekat. Entah mengapa, ketulusan di mata dokter muda itu perlahan meredakan badai kepanikan di kepalanya. Ada binar ketenangan yang mulai terbit di sorot matanya yang tajam.
"Terima kasih," ucap pria itu tulus.
"Sudah kewajiban saya sebagai dokter," sahut Hana sambil tersenyum tipis, memberikan ketenangan yang tulus.
Pria asing itu kembali terdiam, mencoba mengingat sesuatu namun tetap tidak ada hal apa pun yang terlintas di benaknya. Hana yang melihat hal itu menghela napas panjang lalu melangkah mendekat ke arahnya.
"Tidurlah, kamu harus banyak istirahat agar kau bisa mengingat apa yang terjadi padamu," ucap Hana lembut.
Malam itu menjadi malam yang penuh kelegaan bagi Hana. Setelah tiga hari penuh perjuangan menjaga pria itu dengan baik, akhirnya semua usaha tersebut membuahkan hasil yang manis.
✨✨✨✨✨
Keesokan paginya.
Kabar mengenai pulihnya "pria kiriman laut" itu menyebar secepat angin di seluruh penjuru Desa Sekar. Warga yang didera rasa penasaran mulai berbondong-bondong mendatangi Poskesdes. Ada yang nekat mengintip dari balik kaca jendela, berdesakan di depan pintu, bahkan ada yang berpura-pura sakit hanya demi bisa melihat sekilas rupa pria asing tersebut.
"Tolong kembali nanti, pasien masih butuh ketenangan untuk pulih," tegur Hana kepada warga.
Ia harus menguras energinya sejak pagi untuk menghalau mereka dengan halus. Di dalam ruangan, pria itu hanya diam membisu. Alih-alih terganggu dengan keriuhan di luar, ia justru sibuk mengobservasi lingkungan barunya. Ia mendengarkan ritme debur ombak, mengamati anak-anak desa yang berlarian telanjang kaki di pesisir, dan sesekali menjawab pertanyaan medis Hana dengan gumaman singkat.
Namun tetap saja, labirin ingatannya buntu. Ia benar-benar kehilangan identitasnya—bahkan sebaris nama pun tak tersisa.
Saat Hana sudah berhasil menghalau warga lainnya, Pak Kades bersama Pak Jalil dan Pak Deden datang terburu-buru. Sejak kemarin, mereka memang sedang menunggu kabar baik tersebut.
"Permisi, Dokter Hana," sapa Pak Kades ramah, yang langsung diikuti oleh anggukan dari Pak Jalil dan Pak Deden.
"Pak Kades, mari masuk," sahut Hana, mempersilakan Pak Kades dan rombongan untuk melihat langsung keadaan pria asing itu.
"Bagaimana kondisinya, Dokter Hana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Pak Deden, sambil menatap pria yang saat ini sedang duduk terbangun di tepi ranjang.
Pria itu memiliki garis wajah yang tegas, hidung yang mancung, dan paras yang terlampau tampan, membuat ketiga pria paruh baya itu sempat terpaku dan tidak berhenti menatapnya.
"Sudah lebih baik. Hanya saja, mungkin karena luka dalam serta trauma tubuh yang diterimanya, pria itu sepertinya melupakan identitas dirinya untuk sesaat. Tapi ingatan itu mungkin akan kembali setelah keadaannya pulih total," terang Hana.
"Syukurlah kalau begitu," ujar Pak Jalil merasa lega.
"Kalau begitu kami permisi dulu, takut mengganggu waktu istirahatnya. Mari, Dokter Hana," pamit Pak Kades yang kemudian diikuti oleh kedua warganya.
Hana melihat kepergian ketiga orang itu sambil menghela napas panjang. Ia lalu membalikkan badan, kembali menatap sang pria asing yang masih terdiam membisu, tampaknya sedang berjuang keras mencoba mengingat-ingat sesuatu.
Menjelang siang.
Sosok mungil yang sudah sangat Hana kenali muncul di ambang pintu Poskesdes. Rani. Gadis kecil itu melangkah riang sambil mendekap beberapa tangkai bunga liar yang baru dipetiknya dari pinggir jalan desa. Namun, begitu melintasi pintu, langkah kakinya mendadak terkunci. Matanya membulat sempurna.
Pria yang selama tiga hari ini hanya bisa ia lihat terbujur kaku tak berdaya, kini sedang duduk bersandar di ranjang dan sepasang mata tajam itu tengah menatap lurus ke arahnya. Rani berkedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak menipu, lalu menoleh cepat ke arah Hana dengan raut wajah meminta kejelasan.
"Iya, Rani. Paman sudah bangun," kata Hana.
Ia tidak bisa menahan tawa kecilnya melihat kepolosan bocah itu. Wajah Rani seketika berbinar. Dengan langkah antusias, ia menghampiri sisi ranjang dan langsung menyodorkan buket bunga liar kecil di tangannya yang mungil tepat ke dada sang pria.
Pria itu menurunkan pandangannya pada bunga-bunga liar berwarna-warni tersebut, lalu beralih menatap wajah Rani. Gadis kecil itu tidak mengucapkan sepatah kata pun karena dunia sunyi yang ia huni sejak lahir. Namun, binar matanya yang jernih selalu memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan sejuta makna. Gerakan perlahan tangannya mengisyaratkan bahwa hadiah sederhana itu memang dipetik khusus untuknya.
"Terima kasih, gadis kecil," ucap pria itu perlahan.
Ia terpaku menatap bunga di tangannya, lalu menerimanya dengan hati-hati. Rani langsung mengulas senyum lebar yang sangat manis—sebuah senyuman tulus yang seketika menghangatkan atmosfer ruangan yang semula terasa dingin dan kaku.
Hana mengamati interaksi itu dari sudut ruangan dengan perasaan hangat. Entah bagaimana, ia menyadari sesuatu. Untuk pertama kalinya sejak membuka mata, sorot mata pria misterius itu melunak. Sisi dingin dan tegang yang membentengi dirinya perlahan mencair, menampilkan sosok yang jauh lebih manusiawi.
Mentari senja perlahan meredup di ufuk barat, memayungi pesisir pantai dengan semburat warna jingga keemasan yang hangat. Angin sore berembus pelan, membawa aroma asin garam yang khas, sementara gulungan ombak kecil berkejaran menyentuh pasir pantai dengan irama yang menenangkan. Kehidupan di sekitar pesisir seolah melambat, menciptakan kedamaian yang sunyi di bawah langit senja yang kian temaram.
Saat Hana sedang mengganti perban dan memeriksa jahitan di bahu kokoh pria itu, sebuah pertanyaan yang sejak lama menggantung akhirnya terlontar.
"Jika aku tidak memiliki nama... bagaimana cara orang-orang di sini memanggilku?" tanya pria itu.
Hana menghentikan gerakan tangannya, lalu mengangkat wajah. Pria itu sendiri sedang melempar pandangannya jauh ke luar jendela, menembus cakrawala senja yang mulai memerah.
Hana tertegun sejenak. Pertanyaan itu menampar realitas. Memang benar, sejak kemarin warga desa hanya menjulukinya "pria misterius" atau "pasien pantai". Ia butuh identitas, setidaknya untuk sementara waktu.
Tiba-tiba, Rani yang sejak tadi duduk tenang di pojok ruangan langsung berdiri tegak. Ia meraih buku gambar kecil bersampul kusam miliknya, lalu memegang pensil dengan erat. Tangannya bergerak lincah menorehkan garis-garis tegas di atas kertas. Setelah selesai, ia melangkah cepat dan menyodorkan lembaran kertas itu tepat di depan wajah Hana dan sang pria.
"Kael?" ucap Hana lantang.
Ia membaca deretan huruf yang tertulis di sana, lalu senyumnya langsung merekah. Rani mengangguk dengan semangat berapi-api, matanya berbinar penuh harap. Pria itu ikut menatap lekat-lekat tulisan tebal di kertas putih tersebut.
"K-A-E-L."
Di pelataran otaknya, nama itu terasa sangat asing. Namun, entah mengapa, gaungnya tidak terdengar buruk di telinganya. Ada rasa familier yang samar yang gagal ia jelaskan.
"Bagaimana? Kau menyukainya?" tanya Hana meliriknya sambil tersenyum menggoda.
Pria itu menatap Rani yang sedang menahan napas, menunggu responsnya dengan cemas. Untuk pertama kalinya sejak ia tersadar dari koma, sebuah lengkungan senyum tipis hampir tak kentara terukir di wajah tegas pria itu.
"Kurasa... nama itu tidak buruk," jawab pria itu akhirnya.
Rani seketika melonjak kegirangan sambil bertepuk tangan tanpa suara, sementara Hana tertawa lepas melihat tingkah menggemaskan bocah itu.
Sejak sore yang hangat itu, seluruh warga Desa Sekar mulai memanggil sang pria misterius dengan satu nama baru, Kael.
Mereka semua mengira itu hanyalah sebuah nama panggilan sementara untuk mengisi kekosongan. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa jauh di belahan tempat lain, roda masa lalu Kael yang kelam dan berbahaya telah mulai berputar, bergerak perlahan namun pasti untuk menyeretnya kembali.
Bersambung...