SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 KAPRODI TIDAK LANGSUNG PERCAYA
Arkan berjalan menuju ruang kaprodi dengan surat rekomendasi dari Pak Surya di tangan.
Koridor lantai dua kampus masih sama seperti yang ia ingat. Cat dinding sedikit pudar, papan informasi penuh kertas pengumuman, dan beberapa mahasiswa duduk menunggu giliran bimbingan sambil membuka laptop. Tidak ada yang mewah. Tidak ada yang berubah banyak.
Namun cara Arkan melihat tempat itu sudah berbeda.
Dulu, koridor ini terasa panjang karena setiap pintu seperti menyimpan kemungkinan buruk. Tagihan semester. Surat cuti. Penolakan administrasi. Tatapan orang yang bertanya kenapa ia tiba-tiba menghilang.
Hari ini, ia datang bukan untuk meminta keringanan.
Ia datang untuk mengambil kembali statusnya.
Dimas berjalan di sampingnya, sesekali melirik surat yang Arkan pegang. Rasa penasaran masih jelas di wajahnya, tetapi ia mulai belajar menahan pertanyaan.
“Ruang kaprodi masih di ujung, Kan,” ujar Dimas sambil menunjuk pintu berwarna cokelat di ujung koridor. Nada suaranya dibuat santai, meski matanya beberapa kali turun ke sepatu baru Arkan dan kembali ke wajahnya. “Biasanya Bu Ratna ada sampai jam dua.”
Arkan mengangguk kecil. “Bagus. Aku selesaikan sebelum siang.”
Dimas menahan senyum. Arkan yang dulu selalu menghitung waktu karena harus mengejar kerja sambilan. Arkan yang sekarang menghitung waktu seperti orang yang tidak mau urusan kecil memakan harinya terlalu banyak.
Mereka berhenti di depan ruang kaprodi.
Di pintu, tertulis:
KETUA PROGRAM STUDI MANAJEMEN BISNIS
Dr. Ratna Wijayanti, M.M.
Arkan mengetuk pintu.
Dari dalam, suara perempuan dewasa terdengar. “Masuk.”
Arkan membuka pintu, lalu masuk dengan langkah tenang. Dimas tidak ikut masuk; ia memilih menunggu di luar. Di dalam ruangan, seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan duduk di balik meja kerja. Rambutnya tersanggul rapi, kacamatanya bertengger di hidung, dan wajahnya menunjukkan jenis ketegasan yang biasa dimiliki orang yang terlalu sering menghadapi mahasiswa datang dengan alasan setengah matang.
Bu Ratna mengangkat wajah dari dokumen.
Tatapannya berhenti pada Arkan.
“Kamu siapa?” tanyanya sambil meletakkan pena di atas meja, bukan dengan kasar, tetapi cukup tegas.
Arkan maju dua langkah, lalu menyerahkan surat dari Pak Surya dengan kedua tangan. “Saya Arkan Pradipta, Bu. Mahasiswa Manajemen Bisnis yang sedang cuti. Saya ingin mengaktifkan kembali status kuliah.”
Bu Ratna menerima surat itu, membaca cepat, lalu membuka sistem akademik di laptopnya. Jari-jarinya bergerak di keyboard. Beberapa detik kemudian, wajahnya menunjukkan bahwa ia menemukan data Arkan.
“Arkan Pradipta,” gumamnya pelan. Ia membaca layar lebih lama, lalu menatap Arkan lagi. “Kamu cuti lebih lama dari yang seharusnya. Ada tunggakan administrasi, beberapa mata kuliah tertunda, dan status akademikmu perlu penyesuaian.”
Arkan berdiri tegak di depan meja. “Administrasi sudah saya selesaikan, Bu. Saya siap mengikuti penyesuaian.”
Bu Ratna mengecek ulang sistem. Dahinya sedikit bergerak ketika melihat pembayaran sudah masuk. “Baru dibayar hari ini?”
“Betul, Bu.”
“Langsung lunas?”
Arkan tidak menunjukkan ekspresi berlebihan ketika menjawab. “Iya, Bu. Saya tidak ingin menunda lagi.”
Bu Ratna bersandar perlahan. Tatapannya tidak lagi hanya membaca data, tetapi mulai membaca orang di depannya.
“Arkan, saya harus bicara terus terang,” ucap Bu Ratna sambil merapikan surat rekomendasi Pak Surya. “Mahasiswa yang kembali setelah cuti panjang biasanya punya semangat tinggi di awal, lalu hilang lagi saat jadwal mulai berat. Saya tidak mau memproses aktif kembali kalau kamu hanya datang karena dorongan sesaat.”
Kalimat itu tidak membuat Arkan tersinggung.
Justru itu terdengar wajar.
Kampus bukan warung yang bisa ia datangi, bayar, lalu semua selesai. Ada aturan, ada ritme, ada tanggung jawab akademik yang harus ia kejar.
Arkan menarik napas pelan. “Saya paham, Bu. Tapi saya datang hari ini bukan karena sesaat. Saya datang karena saya memang ingin menyelesaikan S1 saya.”
Bu Ratna memperhatikan wajah Arkan beberapa detik. “Kenapa?”
Pertanyaan itu pendek, tetapi beratnya tidak kecil.
Arkan bisa saja menjawab karena ingin ijazah. Karena ingin membanggakan keluarga. Karena ingin memperbaiki masa depan. Semua benar. Namun tidak cukup.
Ia memilih jawaban yang paling jujur.
“Karena saya tidak mau hidup saya punya bagian yang berhenti hanya karena dulu saya tidak punya uang,” ucap Arkan dengan suara rendah, tetapi jelas. “Saya pernah tertunda, Bu. Tapi saya tidak mau terus menyebut itu sebagai akhir.”
Ruangan itu hening sesaat.
Bu Ratna tidak langsung bereaksi. Ia menatap Arkan seperti sedang menimbang apakah kalimat itu hanya terdengar bagus atau memang keluar dari seseorang yang pernah dipaksa menelan kenyataan.
Di kepala Arkan, sistem muncul dengan nada datar.
[Jawaban emosional terdeteksi.]
[Status: tidak norak.]
[Catatan: Tuan Rumah berhasil berbicara seperti manusia dewasa, bukan slogan motivasi murahan.]
Arkan menahan napas agar wajahnya tidak berubah.
Bu Ratna akhirnya menurunkan pandangan ke laptop. “Baik. Kalau kamu serius, kita bicara teknis.”
Arkan langsung fokus.
Bu Ratna membuka data akademiknya, lalu memutar layar sedikit agar Arkan bisa melihat. “Kamu harus menyesuaikan KRS. Ada beberapa mata kuliah yang tidak bisa langsung kamu ambil karena prasyarat dan jadwal bentrok. Kalau kamu ingin mengejar cepat, kamu harus ambil beban maksimal yang masih aman.”
Arkan menatap daftar itu. Beberapa mata kuliah tampak familiar. Beberapa lainnya sudah berganti kode kurikulum.
“Berapa lama paling cepat saya bisa menyelesaikan S1?” tanya Arkan.
Bu Ratna mengangkat alis kecil. “Kalau kamu stabil, disiplin, dan tidak gagal mata kuliah lagi, kamu bisa mengejar dalam tiga semester. Tapi itu cukup padat.”
“Tiga semester,” ulang Arkan pelan.
Sistem langsung memberi catatan.
[Target akademik teridentifikasi.]
[Estimasi penyelesaian S1: tiga semester.]
[Rekomendasi: ambil.]
[Catatan: jadwal padat masih lebih ringan daripada hidup miskin sambil pura-pura kuat.]
Arkan menatap Bu Ratna. “Saya ambil jalur itu.”
Bu Ratna tidak langsung menyetujui. Ia membuka daftar jadwal lebih rinci. “Jangan terlalu cepat menjawab. Tiga semester berarti kamu harus siap mengejar materi, hadir penuh, mengerjakan tugas, dan mulai memikirkan skripsi lebih awal.”
“Saya siap,” jawab Arkan setelah melihat layar beberapa detik. Nada suaranya tidak terburu-buru, tetapi tidak ragu.
Bu Ratna menatapnya lagi. “Kamu sekarang bekerja?”
Arkan sempat diam.
Pertanyaan itu dulu mudah dijawab dengan malu. Kerja apa saja. Bantu ini itu. Ambil proyek kecil. Tidak tetap. Tidak cukup.
Sekarang jawabannya justru lebih rumit.
“Saya sedang mulai mengelola beberapa urusan bisnis, Bu,” kata Arkan dengan hati-hati. “Tapi saya akan atur agar kuliah tetap berjalan.”
Bu Ratna menangkap kalimat itu. Matanya sedikit menyipit, bukan curiga berlebihan, lebih seperti dosen yang mendengar mahasiswa mengatakan sesuatu yang terlalu besar untuk ukuran biasa.
“Urusan bisnis seperti apa?”
Sebelum Arkan menjawab, ponselnya bergetar di saku. Ia tidak mengambilnya, tetapi sistem langsung menampilkan teks di sudut pandangannya.
[Rekomendasi jawaban: aktivitas investasi dan pengelolaan aset keluarga.]
[Jangan menyebut sistem.]
[Protokol Rahasia Abadi aktif.]
Arkan tetap menatap Bu Ratna. “Pengelolaan aset dan investasi, Bu. Masih tahap awal. Untuk urusan legal dan administrasi, ada pihak profesional yang membantu.”
Bu Ratna terdiam sebentar. “Kamu tahu saya tidak akan menilai kamu dari besar kecilnya bisnis, kan?”
“Saya tahu, Bu.”
“Yang saya nilai di sini adalah komitmen akademik.”
Arkan mengangguk. “Itu yang ingin saya buktikan.”
Bu Ratna memutar layar laptop kembali ke arahnya. “Baik. Saya akan izinkan proses aktif kembali. Tapi ada syarat.”
Arkan menunggu.