NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENDAPATI DUNIA NAYA

Kembali, takdir merenggut nyawanya, sama seperti saat ia harus kehilangan ibunya dulu. Rasanya seperti sebuah kutukan. Siapa pun yang ia sayangi, akan pergi meninggalkannya sendirian.

​"Ini gak adil..." rintih Naya di sela-sela isaknya. Ia berjalan menelusuri trotoar di tengah hiruk pikuk gelapnya malam. "Kenapa selalu seperti ini? Kenapa harus mereka?"

​Duka itu bukan lagi rasa sakit, itu adalah kehampaan total, sebuah lubang hitam yang perlahan menelan setiap serpihan akal sehat Naya. Kehidupannya kini terasa seperti potongan film tragis yang diputar berulang kali dengan pemeran yang berbeda, namun selalu berakhir dengan naskah yang sama. kehilangan.

Tian, pria yang dulu ia puja dengan seluruh kepolosannya, telah memilih jalan hidup bersama wanita lain. Randi, cinta yang sempat ia pertaruhkan dengan penuh keyakinan, justru pergi dan membangun keluarga di atas puing-puing luka hatinya di atas nama pengkhianatan. Dan kini, Hana dan Reno, dua manusia yang menjadi jangkar satu-satunya yang menahan usai kedua orangtuanya tiada demi tidak hanyut dalam samudra kesepian, justru telah pergi dalam sekejap mata, selamanya!

​Naya berjalan tertatih meninggalkan hiruk-pikuk rumah sakit. Ia tidak tahu ke mana kakinya melangkah. Baginya, dunia di luar sana sudah kehilangan warnanya, berubah menjadi abu-abu yang mencekik. Langkahnya membawanya ke sebuah jembatan layang yang sepi di tengah riuhnya lalu lintas kota malam itu. Suara klakson dan deru mesin kendaraan di bawahnya terdengar begitu jauh, seolah ia berada di dimensi yang berbeda.

​Lalu, Naya berdiri di tepian beton, menatap riak air sungai yang mengalir jauh di bawah sana. Permukaan air itu tampak tenang, memantulkan pendar lampu-lampu jalan dengan cahaya yang berpijar magis, seolah tengah merayunya untuk menjemput kedamaian di kedalamannya yang pekat.

​"Untuk apa aku hidup?" gumam Naya, suaranya nyaris tersapu angin malam. "Ayah... Ibu... Hana... Reno... semuanya telah pergi. Tidak ada lagi yang tersisa. Tidak ada lagi yang bisa menjadi tumpuan. Semuanya hancur, dan aku... aku cuma sisa-sisa dari mereka yang sudah tidak punya alasan untuk bertahan."

​Tangannya memegang pagar pembatas besi yang terasa dingin dan kasar di kulitnya. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya condong ke depan, merasakan gravitasi yang perlahan menariknya menuju keheningan abadi. Namun, sebelum ia bisa melepaskan cengkeramannya, sebuah tangan yang kuat mencengkeram lengan atasnya dengan paksa.

​"Bu Naya!"

​Sebuah seruan yang familiar dan penuh kepanikan membuat Naya terlonjak. Tubuhnya ditarik paksa menjauh dari tepi jembatan oleh sosok remaja yang napasnya memburu dan keringat membasahi keningnya.

​"Zaki?" Naya menatap remaja itu dengan tatapan kosong dan linglung. Ia tersadar, ada Zaki di depannya. Namun, harapan itu terasa getir. Naya tahu pola itu. Hadir, memberikan kehangatan, lalu pergi meninggalkan luka yang lebih dalam.

​"Lepaskan!" teriak Naya, meronta dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia mencoba menarik lengannya, namun Zaki justru mempererat cengkeramannya.

​"Apa yang ingin Ibu lakukan?" Zaki berseru, napasnya memburu. "Ibu mau mencoba mengakhiri hidup? Ibu sudah gila?!"

​"Apa urusan kamu?!" Naya berteriak di depan wajah Zaki, air matanya tumpah lebih deras. "Lepasin aku! Di dunia ini udah gak ada lagi tempat untuk aku. Gak ada yang peduli, Zaki! Semuanya udah pergi!"

​"Enggak! Aku nggak akan biarkan Ibu melakukannya!" Zaki menahan tubuh Naya dengan seluruh kekuatannya, menyandarkannya pada pagar pembatas agar Naya tidak lagi bisa melangkah ke tepi.

​"Siapa yang peduli padaku? Lepasin! Biarin aku pergi!" Naya meronta, memukul dada Zaki dengan putus asa. "Gak ada yang peduli! Gak ada! Aku sendirian!"

"Enggak, Bu! Cukup!"

"Lepasin!" Jerit Naya. "Gak ada yang bisa aku harapkan lagi di dunia ini. Gak ada yang peduli! Jadi, untuk apa aku hidup. Mencoba waras? Aku udah lelah! LEPAAAAAS!"

​Zaki tidak bergeming. Ia membiarkan pukulan itu mendarat di dada bidangnya, menatap Naya dengan sorot mata yang bukan lagi sorot seorang murid kepada gurunya. Di puncak emosi Naya yang tak terkendali, Zaki menyentak pundak wanita itu hingga ia terdiam, terkunci oleh tatapan mata Zaki yang intens, penuh kepastian, dan tak tergoyahkan.

​"AKUUU!" suara Zaki menggelegar, memotong isak tangis Naya. "Aku yang peduli sama kamu! Aku peduli!"

​Hening menyelimuti mereka. Angin malam terasa dingin, namun di antara mereka, ada ketegangan yang mendebarkan. Zaki menatap Naya dalam-dalam, mengunci pandangannya agar wanita itu bisa melihat ketulusan yang membara di sana.

Di mata remaja itu, Naya tidak melihat rasa kasihan, melainkan sebuah tekad yang mengerikan sekaligus menenangkan

​"Kalau semua orang melukai kamu, biar aku yang menyembuhkannya," bisik Zaki, suaranya kini melunak namun penuh dengan janji yang berat. "Aku tidak akan pergi. Aku akan ada di sini, meski dunia seolah meruntuhkan segalanya. Kamu tidak sendirian, aku di sini."

​"Za-Zaki..." Naya menggumam, lidahnya kelu. Ketahanan emosional yang selama ini ia bangun hancur seketika mendengar pengakuan itu.

​Dalam sekejap, segala pertahanan Naya runtuh. Ia tidak lagi mampu berdiri tegak. Tubuhnya merosot lemas, dan ia pun jatuh ke dalam dekapan Zaki. Ia menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan segala sesak, duka, dan keputusasaan yang tertimbun di dadanya selama bertahun-tahun.

Sementara, ​di atas jembatan itu, di bawah kerlip lampu jalan yang temaram dan berkedip seirama dengan detak jantung yang beradu, Zaki memeluk Naya dengan erat. Ia merasakan tubuh gurunya itu gemetar hebat, sebuah getaran yang menyalurkan rasa sakit yang tak terperi. Di balik tindakan penyelamatan ini, ia menyadari bahwa kata-katanya tadi bukan sekadar rangkaian kalimat spontan untuk menghentikan niat bunuh diri Naya. Itu adalah sebuah pernyataan perang terhadap takdir yang selama ini menyakiti wanita di pelukannya.

​Zaki memejamkan mata sejenak, membiarkan dinginnya angin malam menyapu wajahnya, namun panas di dadanya tetap berpijar. Ia sadar, sebagai seorang murid, tindakannya ini telah melampaui segala norma yang tertulis di buku panduan sekolah. Namun, saat ia merasakan air mata Naya membasahi bahu seragamnya, logikanya seolah lenyap tertelan urgensi untuk melindungi.

​Aku bukan hanya menyelamatkannya dari maut malam ini, batin Zaki, aku sedang menariknya ke dalam hidupku, dan itu berarti aku harus siap menghadapi badai apa pun yang akan menerjang kami.

​Zaki membelai rambut Naya dengan canggung namun penuh kelembutan yang dewasa, berusaha menyalurkan ketenangan yang bahkan ia sendiri pun tidak tahu dari mana asalnya. Ia bukan lagi remaja yang hanya tahu tentang tugas sekolah dan tuntutan magang, kini ia telah menjadi saksi bisu dari hancurnya dunia Naya. Ia mengerti bahwa janji "menyembuhkan" yang ia ucapkan adalah sebuah janji seumur hidup. Ia tidak sedang mencoba menjadi pahlawan di satu momen malam ini saja, tetapi ia sedang berkomitmen untuk menjadi sandaran di saat wanita itu kini tidak lagi memiliki alasan untuk berdiri.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!