NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 : KARTU TERAKHIR BERNAMA WEI QINGHAN

Luar biasa. Kompleks pemerintahan Long Men tidak terlihat seperti istana di Long Yuan.

Lebih seperti sesuatu yang dibangun oleh orang yang sangat kaya dan kemudian terus ditambah-tambahi selama beberapa generasi oleh orang-orang yang juga sangat kaya tapi memiliki selera yang berbeda-beda. Hasilnya adalah bangunan yang tidak konsisten tapi justru karena itu menarik, ada sayap bergaya kepulauan selatan di sebelah kanan, menara bergaya daratan di tengah, dan di puncaknya tambatan balon yang tidak ada di mana-mana selain Long Men.

Haifeng berjalan di halaman kompleks itu dengan kepala yang mengamati ke segala arah.

Tuan Li berjalan di sampingnya seperti orang yang tidak yakin dia diizinkan ada di tempat ini tapi tidak punya pilihan selain terus maju. "Tuan Muda, apakah kunjungan ini ada kaitannya dengan masalah hutang Saya?"

"Hmm... ada kok," kata Haifeng. "Meski tidak sepenuhnya itu tujuannya."

"Ah." Tuan Li mengeluarkan kipasnya. "Saya mengerti."

"Aku punya beberapa pertanyaan untuk Zhao Mirei. Soal ketidakjelasan budak-budak yang diserahkan ke pihak berwajib. Soal Kerajaan Tengkorak Hitam di pulau ini. Soal Long Yuan palsu yang menggunakan nama ayahku." Haifeng berhenti sebentar sembari mengusap dagu. "Dan soal upah karena kami telah membebaskan budak-budak itu."

Tuan Li lantas berhenti berjalan begitu saja. "Tuan Muda... jangan meminta itu."

"Kenapa?"

"Karena Zhao Mirei tidak akan memberikannya! Itu bukan cara kerjanya!" Tuan Li berbicara dengan terbata-bata, suaranya turun tapi ekspresinya tidak. "Kalau Tuan Muda tidak punya cukup koin untuk hutang Saya, biar Saya negosiasikan dengan penginapan sebagai jaminan tambahan. Sungguh, jangan minta upah ke—"

"Aku punya koin." Haifeng melanjutkan langkahnya. "Perak dan emas. Lebih dari cukup."

Tuan Li mengikutinya dengan ekspresi orang yang tidak mengerti mengapa informasi itu baru keluar sekarang. "Lalu kenapa Tuan Muda—"

"Karena aku tidak akan menggunakan koin milik ekspedisi untuk melunasi hutang seseorang yang belum mengenalku dengan baik." Haifeng tersenyum ke depan. "Tapi kalau ada cara lain untuk mendapatkan koin itu tanpa mengurangi kas kami, itu cerita yang berbeda. Lagipula aku tidak tahu bagaimana membicarakan masalah ini ke kakakku."

Tuan Li membisu lama sebelum berjalan lebih cepat karena kalau tidak, dia akan tertinggal.

Penjaga di gerbang utama bertanya kepentingan mereka dengan nada profesional yang tipis sekali batasnya dari kata ramah.

Tuan Li membuka mulutnya dan menjelaskan dengan cara yang menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya yakin dengan alasan yang sedang dia sampaikan. Sementara penjaga itu mendengarkan dengan ekspresi yang tidak berubah.

Kemudian dari arah taman di sisi kanan gerbang, langkah kaki yang santai terdengar.

Pria yang muncul dari sana tidak terlihat seperti seseorang yang baru turun dari perjalanan tiga bulan. Rambutnya tertata, jubahnya tanpa lipatan yang tidak perlu, dan caranya berjalan adalah cara orang yang terbiasa dengan situasi di mana semua orang menunggu kehadirannya. Sementara dua asisten wanita mengikuti di kiri kanannya, dan satu pria tinggi kurus berjalan satu langkah di belakang membawa tumpukan dokumen yang terlihat berat.

Zhao Mirei melihat mereka, dan senyumnya terbuka seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu yang menyenangkan di penghujung hari yang panjang. "Long Yuan!" Tangannya terentang. "Tuan Li membawa tamu dari Long Yuan ke halaman saya. Ini kejutan yang sangat baik."

Ruang tamu di dalam kompleks itu lebih tenang dari bagian luarnya.

Teh sudah tersaji di meja sebelum mereka selesai duduk, dan Haifeng menyeruput cangkirnya sementara Tuan Li duduk di kursi dengan kaku. Adapun Chen Mo berdiri di dekat pintu masuk.

"Aku sudah mendengar tentang Tuan Muda sejak malam pertama kau tiba," kata Zhao Mirei dengan santai meski di dalamnya ada sesuatu yang sedang menimbang-nimbang. "Seorang pemuda dari Long Yuan yang masuk ke gang perdagangan gelap dan keluar dengan budak-budak yang dibebaskan." Dia memiringkan kepalanya sedikit. "Itu sangat menarik."

"Aku tidak berencana menjadi menarik malam itu," kata Haifeng. "Tapi ada yang perlu dilakukan."

"Benarkah begitu? Itu tetaplah sangat mulia, Tuan Muda Haifeng."

"Chen Mo jauh lebih efisien dari aku. Jadi aku tidak sendirian dalam membebaskan orang-orang itu."

Zhao Mirei pun tersenyum. "Kejujuran yang menyegarkan." Dia mengangkat cangkir tehnya. "Apa yang membawamu ke sini hari ini, Tuan Muda?"

Haifeng meletakkan cangkirnya. "Budak-budak yang diserahkan ke pos penjaga dua hari setelah malam itu. Sebagian menghilang."

Ekspresi Zhao Mirei tidak berubah, tapi sesuatu di matanya bergerak sedikit. "Aku baru kembali tadi. Belum sempat menerima laporan lengkap dari—"

"Aku tidak menyalahkan pihak berwajib di sini secara langsung." Haifeng mendahului dengan sangat halus. "Tapi aku ingin memastikan bahwa yang masih tersisa tidak menghilang lagi."

"Tindakan mulia." Zhao Mirei mengangguk. "Aku akan lihat apa yang bisa dilakukan." Kemudian, sebelum Haifeng membuka mulutnya lagi, dia melanjutkan. "Lalu soal tindakanmu malam itu, Long Men akan mencatatnya. Orang-orang sepertimu yang bertindak sukarela untuk kebaikan adalah hal yang kami—"

"Soal itu," Haifeng menyela lagi, "aku ingin membahas kemungkinan adanya operasi menggunakan nama Long Yuan di perairan ini. Spesifiknya, atas nama ayahku."

Zhao Mirei mengangkat alisnya. "Long Yuan palsu? Mana mungkin ada yang berani menggunakan nama sebesar itu. Setahuku Long Yuan hanya satu."

"Long Yuan memang hanya satu," kata Haifeng. "Tapi nama bisa dipinjam oleh pihak yang tidak berhak menggunakannya. Terutama nama yang sudah punya bobot di lautan ini."

"Isu tentang Wei Changsong yang masih hidup?" Zhao Mirei menggeleng pelan. "Itu ketakutan orang-orang yang sudah sangat terkesan dengan kehebatan ayahmu, Tuan Muda. Legenda hidup lebih lama dari orangnya."

"Begitu pula dengan orang yang memakai topeng legenda itu."

Zhao Mirei tidak menjawab. Senyumannya ada, tapi tidak berkomentar.

"Dia menyimpan banyak hal," kata Samudera di telinga Haifeng, langsung tanpa perantara. "Setiap pertanyaanmu dia jawab dengan cara yang menutup pintu berikutnya. Itu orang yang tahu terlalu banyak dan memilih dengan sangat hati-hati apa yang akan diakuinya."

Haifeng mengambil napas pendek dan menyeruput tehnya lagi. "Kakak perempuanku ada di kapal." Dia memilih untuk mengubah arah pembicaraan. "Kau menyinggungnya tadi?"

Zhao Mirei menegakkan tubuhnya sedikit. "Panglima Perang Wei Qinghan. Ya, aku mendengar namanya juga." Cara bicaranya berubah lebih hidup. “Panglima termuda di Long Yuan. Seorang jenius kultivasi yang sudah mencapai tingkat delapan di usianya yang masih sangat muda. Konon, dia juga belum pernah kalah dalam pertempuran apa pun. Belum lagi—"

"Ya. Dialah kakakku," kata Haifeng.

Zhao Mirei tertawa pendek, lalu melanjutkan dengan nada yang sama bersemangatnya. "Seorang panglima wanita tingkat delapan yang berumur panjang. Kemampuannya sudah melampaui banyak pendekar kuat yang aku kenal. Apalagi kecerdasan taktisnya dari laporan yang sampai ke tanganku—"

Sudut bibir Haifeng terangkat. "Maaf kalau aku bertanya langsung," katanya sembari menautkan jari-jarinya, "tapi apakah kau terpikat oleh kakakku?"

Zhao Mirei berhenti di tengah kalimatnya. Menatap Haifeng selama dua hitungan sebelum tertawa. "Kau bertanya blak-blakan sekali."

"Aku sedang duduk di depanmu dan kau sudah memujinya lebih panjang dari semua topik lain yang kita bicarakan hari ini."

Zhao Mirei menata dirinya kembali dengan cara yang tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan bahwa pertanyaan itu tepat sasaran. "Aku hanya mengakui kemampuan seseorang yang layak diakui."

"Tentu saja." Haifeng meletakkan cangkirnya. "Kalau kau tertarik, kau boleh mencoba. Kebetulan kakakku memang menyukai pria yang cerdas dan tahu cara mengurus sesuatu dengan kepala dingin." Dia berhenti sebentar. "Dan dia sangat sayang padaku."

Kalimat terakhir itu jatuh di meja itu dengan berat yang sangat diperhitungkan sampai-sampai Zhao Mirei mencondongkan tubuhnya ke depan. "Berapa umurnya?"

"Tiga ratus tahun."

"Hmm." Zhao Mirei mengangguk perlahan dengan ekspresi seseorang yang sedang membayangkan sesuatu. "Luar biasa, pasti pengalamannya sudah—"

"Kakakku belum pernah berhubungan dengan laki-laki siapa pun seumur hidupnya," kata Haifeng dengan nada yang sangat santai untuk informasi yang sangat tidak biasa.

Ada pula Zhao Mirei menatapnya.

"Dia terlalu sibuk dengan kekaisaran," lanjut Haifeng. "Dan sangat selektif. Tentu saja."

Zhao Mirei menarik napas panjang yang terdengar seperti seseorang yang baru memutuskan sesuatu yang besar. "Kau ini betul-betul..." Dia menggeleng meski senyumannya lebar. "Panglima Wei Qinghan adalah wanita yang luar biasa. Seorang dewi di medan perang dan mungkin juga di tempat lain. Tuan Muda Haifeng... Anda butuh berapa koin agar membantuku untuk mendekati kakakmu?"

Senyuman langsung Haifeng melebar sampai ke sudut matanya.

Sementara di sudut kursinya, Tuan Li menatap pemandangan itu dengan rahang yang hampir tidak berhasil dia pertahankan di posisi normalnya.

"Kau memang licik juga ternyata. Kau sudah tahu jika Wei Qinghan tidak akan menerima laki-laki manapun," bisik Samudera di telinga pemuda itu. "Tapi aku harus mengakui, itu sangat efektif."

"Terima kasih pujiannya, Nona Samudera," kata Haifeng dalam bisikan yang tidak terdengar oleh siapa pun selain Samudera.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!