NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Goresan Pertama di Atas Kertas Kusam

​Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kakinya menginjakkan tanah di Desa Karangbanyu, Gani tidak langsung merebahkan diri di atas ranjang papannya yang keras.

​Pria itu duduk bersila di lantai teras belakang rumahnya, ditemani pendar cahaya kekuningan dari lampu teplok yang apinya bergoyang pelan ditiup angin malam. Ia menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang diletakkan menengadah di atas pangkuan.

​Tangan itu tampak berantakan. Terdapat beberapa luka gores baru akibat gesekan kulit kayu jati yang kasar. Di pangkal jari telunjuk dan ibu jarinya, mulai terbentuk lepuhan-lepuhan kecil berwarna kemerahan, tanda bahwa kulitnya yang selama bertahun-tahun dimanjakan oleh ruangan berpendingin dan tetikus komputer, kini harus beradaptasi dengan gagang palu dan gergaji. Ujung-ujung kukunya menghitam oleh kotoran dan debu semen yang sulit dihilangkan meski sudah disikat saat mandi.

​Namun anehnya, Gani tidak merasakan penyesalan sedikit pun saat melihat kerusakan fisik tersebut. Sebaliknya, ada sebuah gelombang kepuasan yang mengalir hangat di dalam pembuluhnya. Rasa ngilu pada otot bahu dan perih pada telapak tangannya adalah bukti yang sangat nyata bahwa ia masih hidup. Ia telah melakukan sesuatu yang berarti hari ini. Ia membangun, bukan menghancurkan.

​“Tangan yang bisa menciptakan struktur seindah itu... terlalu berharga untuk dihancurkan oleh pisau murahan atau tali nilon...”

​Ucapan Kirana sore tadi di bawah pohon mahoni kembali terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset yang rusak, namun alih-alih mengganggu, suara itu justru menjadi semacam mantra penenang.

​Gani menghela napas panjang, menghirup aroma malam pedesaan yang khas—campuran antara wangi bunga sedap malam dari pekarangan tetangga dan bau tanah lembap. Otaknya, yang biasanya terasa penuh oleh tumpukan kecemasan, rasa bersalah, dan bayang-bayang Raka, malam ini terasa sangat jernih. Begitu jernihnya, hingga insting lamanya perlahan mulai mengambil alih kesadarannya.

​Tanpa diminta, ingatan Gani melayang pada pemandangan yang ia lihat pagi tadi. Taman Bacaan Akar Pelangi.

​Saat itu, fokusnya memang lebih banyak tertuju pada Kirana dan anak-anak yang sedang mendengarkan dongeng. Namun, sub-routine di dalam otak arsitekturnya secara otomatis telah memindai dan menyimpan data struktural dari bangunan sederhana tersebut.

​Sekarang, saat suasana sunyi, data-data itu bermunculan menuntut untuk dianalisis. Gani mengingat atap seng berkarat yang menaungi pelataran taman bacaan itu. Seng adalah konduktor panas yang sangat buruk untuk iklim tropis. Di siang hari yang terik, udara di bawah atap seng itu pasti akan terasa seperti di dalam oven. Selain itu, rak-rak buku kayu yang diletakkan begitu saja di pelataran akan sangat rentan terhadap tampias air hujan jika badai datang.

​Dan yang paling mengganggunya adalah... sirkulasi udara.

​Gani teringat bagaimana Kirana harus mengambil jeda napas yang panjang saat bercerita. Ia teringat wajah pucat gadis itu dan kenyataan bahwa jantung Kirana tidak berfungsi dengan sempurna. Berada di ruang terbuka yang sirkulasi udaranya terhambat oleh pagar tanaman teh-tehan yang terlalu tinggi dan atap seng yang menahan panas, jelas bukan lingkungan yang ideal bagi seseorang yang sering mengalami sesak napas.

​Gani menegakkan punggungnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Bukan karena panik, melainkan karena sebuah dorongan impulsif yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Dorongan untuk merancang. Dorongan untuk memecahkan masalah melalui ruang dan struktur.

​Ia berdiri dengan tergesa-gesa, menyambar lampu teplok dari lantai teras, lalu setengah berlari masuk ke dalam rumah.

​Gani menuju ke ruang tengah, tempat lemari bufet kayu peninggalan orang tuanya berada. Ia membuka laci-laci bufet itu dengan kasar, membongkar isinya hingga tumpukan koran tua dan kuitansi berserakan di lantai. Ia mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menuangkan ide yang kini meledak-ledak di kepalanya.

​Ayolah, Pak. Pasti Bapak menyimpan sesuatu di sini, batin Gani. Ayahnya adalah seorang guru, pasti ada sisa perlengkapan alat tulis di rumah ini.

​Di laci paling bawah, di bawah tumpukan album foto keluarga yang sudah berdebu, tangan Gani menyentuh sebuah gulungan keras. Ia menariknya keluar dengan penuh semangat. Itu adalah gulungan kalender dinding bekas dari sebuah toko material yang bertahun-tahun lalu. Bagian depannya berisi angka-angka penanggalan yang sudah kedaluwarsa, namun bagian belakangnya adalah kertas putih kosong berukuran A3 yang cukup tebal. Kertasnya memang sudah sedikit menguning di bagian tepi, tapi itu sudah lebih dari cukup.

​Di laci yang sama, ia juga menemukan sebuah pensil kayu 2B yang ujungnya sudah tumpul dan nyaris rata dengan kayunya, serta sebuah penghapus karet yang sudah mengeras.

​Gani membawa harta karun kecilnya itu ke meja makan. Ia bergegas ke dapur, mengambil pisau dapur yang karatan, lalu kembali ke meja untuk meraut pensil tersebut. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, memutar kayu pensil melawan mata pisau, menajamkan grafit hitam di tengahnya hingga meruncing sempurna.

​Gani membentangkan kertas kalender bekas itu di atas meja kayu. Ia meletakkan lampu teplok di sudut kiri atas agar bayangan tangannya tidak menutupi area kerjanya.

​Ia menarik kursi, lalu duduk.

​Namun, tepat saat ujung grafit pensilnya menyentuh permukaan kertas yang kasar, gerakan Gani terhenti.

​Tiba-tiba saja, seolah ada aliran listrik tegangan tinggi yang menyengat sarafnya, tangan kanan Gani mulai bergetar. Getaran itu sangat halus pada awalnya, namun dengan cepat berubah menjadi guncangan yang tidak bisa ia kendalikan. Pensil di tangannya berderak pelan menghantam permukaan kertas.

​Napas Gani mendadak menjadi dangkal. Keringat dingin seketika merembes di tengkuknya.

​Ini adalah respons traumatis murni. Alam bawah sadarnya mengasosiasikan tindakan 'menggambar desain' dengan kejatuhan hidupnya. Terakhir kali ia memegang pensil dan menggambar sebuah maket di atas kertas kerja, desain itu digunakan oleh Raka untuk menipu para investor. Garis-garis yang ia tarik saat itu berujung pada gugatan hukum, caci maki wartawan, dan kebangkrutan yang memalukan.

​Tangan yang menciptakan bencana itu kini menolak untuk berfungsi. Otaknya menjeritkan tanda bahaya: Jangan menggambar lagi. Jika kau menggambar, kau akan dihancurkan lagi.

​Gani mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan tangan kirinya yang dibalut plester, mencoba menghentikan getaran itu dengan paksa. Ia menggigit rahangnya kuat-kuat, matanya terpejam rapat. Ia sedang berperang melawan iblis di dalam kepalanya sendiri.

​"Tidak..." desis Gani tertahan di sela-sela giginya. "Tidak kali ini. Ini berbeda."

​Ia membuka matanya. Ia memaksa pikirannya untuk menjauh dari ruang sidang, menjauh dari wajah Raka yang menyeringai, dan menjauh dari cincin Sania yang berdenting di lantai marmer.

​Sebagai gantinya, ia memanggil memori lain. Ia memanggil suara tawa anak-anak di taman bacaan. Ia memanggil aroma melati dari handuk kecil Kirana. Dan yang paling penting, ia memanggil wajah gadis itu saat menatapnya dengan penuh harap, berbicara tentang bagaimana ia ingin 'meninggalkan jejak sebelum tubuhnya rusak'.

​"Sebagian dari diriku akan terus hidup bersama mereka. Bukankah itu bentuk keabadian yang paling indah?" Kata-kata Kirana bergema, meredam suara hiruk-pikuk pengadilan di kepalanya.

​Gani menarik napas panjang, menahannya selama lima detik, lalu menghembuskannya perlahan dari mulut. Perlahan, ajaibnya, getaran di tangannya mulai mereda. Ia melepaskan cengkeraman tangan kirinya.

​Dengan sangat perlahan, Gani kembali menurunkan ujung pensil ke atas kertas. Kali ini, tidak ada keraguan.

​Goresan pertama ditarik. Sebuah garis horizontal yang tegas.

​Sekali garis itu tercipta, bendungan di dalam kepala Gani jebol. Aliran ide, teknik, dan inspirasi membanjiri kesadarannya dengan deras. Ia masuk ke dalam sebuah fase yang diidam-idamkan oleh setiap kreator: Flow State (Kondisi Mengalir). Dunia di sekitarnya menghilang. Suara jangkrik, rasa lapar, hawa dingin malam, semuanya pudar. Yang tersisa di semesta ini hanyalah dirinya, selembar kertas kalender kusam, dan ujung pensil 2B.

​Gani tidak mendesain sebuah bangunan megah bergaya futuristik. Ia tahu konteksnya. Ia mendesain sebuah arsitektur vernakular—desain yang merespons iklim lokal dan menggunakan material yang tersedia di lingkungan sekitar.

​Ia membuang konsep atap seng. Sebagai gantinya, tangannya menari-nari menggambar struktur atap yang tinggi dengan sudut kemiringan curam, terinspirasi dari rumah adat Joglo dan atap lumbung padi. Bentuk ini dirancang secara aerodinamis untuk menangkap angin dari luar dan memutar sirkulasi udara panas agar naik ke atas dan keluar melalui celah ventilasi di puncak atap (efek Stack Ventilation). Dengan cara ini, udara di bagian bawah tempat Kirana dan anak-anak duduk akan selalu sejuk dan segar tanpa perlu pendingin ruangan buatan.

​Untuk materialnya, Gani memilih bambu. Karangbanyu dikelilingi oleh hutan bambu yang melimpah. Ia menggambar pilar-pilar penyangga dari bambu petung besar yang disusun berjejer, memberikan kesan kokoh sekaligus menyatu dengan alam.

​Tidak berhenti sampai di situ, Gani menggambar detail rak buku yang tidak lagi diletakkan sembarangan. Ia mengintegrasikan rak-rak buku itu langsung ke dalam dinding-dinding bambu pembatas, menciptakan efisiensi ruang. Ia juga mendesain teritisan (overstek) atap yang panjang dan lebar, memastikan tampias air hujan terburuk sekalipun tidak akan menyentuh buku-buku peninggalan nenek Kirana.

​Di sudut kanan bawah kertas, ia bahkan menambahkan sebuah sketsa taman kecil dengan elemen air—mungkin sebuah kolam ikan kecil bertingkat dari batu kali—untuk memberikan suara gemercik air yang memberikan efek relaksasi tambahan bagi jantung Kirana.

​Jam demi jam berlalu. Minyak di dalam lampu teplok perlahan menyusut, membuat cahayanya sedikit meredup. Kemeja flanel Gani basah oleh keringat dingin, jarinya kotor oleh serbuk grafit, namun matanya memancarkan cahaya kehidupan yang paling terang.

​Ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur, ditandai dengan warna langit yang berubah menjadi biru keunguan, Gani akhirnya mengangkat pensilnya dari kertas.

​Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu, mendesah panjang. Tubuhnya luar biasa lelah, otot lehernya kaku, tetapi jiwanya terasa seringan bulu.

​Gani menatap hasil karyanya. Di atas kertas kalender bekas yang menguning itu, terpampang sebuah mahakarya. Itu adalah sketsa bangunan semi-terbuka berbahan bambu yang sangat indah, elegan, fungsional, dan sarat akan kepedulian. Sebuah sanctuary, sebuah tempat perlindungan bagi anak-anak desa dan seorang gadis yang sedang berpacu dengan waktu.

​Di sudut kanan bawah sketsa itu, di tempat yang biasanya ia bubuhkan tanda tangannya yang bernilai mahal, Gani justru menuliskan sebuah kalimat kecil dengan huruf kapital arsitektural yang rapi:

​UNTUK AKAR PELANGI. AGAR JEJAKNYA ABADI.

​Senyum tulus mengembang di bibir Gani. Ia telah menemukan kembali bakatnya. Ia telah menaklukkan hantu dari masa lalunya. Dan ia tahu, suatu saat nanti, sebelum ia meninggalkan desa ini, ia akan membangun sketsa ini menjadi kenyataan dengan kedua tangannya sendiri.

​Namun, untuk saat ini, bangunan ini harus menjadi rahasia. Gani belum siap menunjukkan bagian dari jiwanya ini kepada dunia, bahkan kepada Kirana sekalipun. Ia ingin ini menjadi kejutannya nanti.

​Gani dengan hati-hati menggulung kertas tersebut, mengikatnya dengan karet gelang bekas bungkusan nasi liwet Bibi Ratna, lalu menyembunyikannya di bagian paling dasar laci bufet, di bawah album foto keluarga. Ia merapikan sisa-sisa rautan pensil, menepuk-nepuk tangannya, lalu mematikan lampu teplok yang minyaknya sudah nyaris habis.

​Tepat saat ia bersiap untuk merebahkan diri sejenak di kamarnya, suara salam yang sangat nyaring dan riang menggelegar dari halaman depan.

​"Assalamualaikum, Komandan Gani! Matahari sudah terbit! Waktunya bangun dari peti matimu!"

​Gani terkesiap. Ia melirik jam di layar ponselnya yang kemarin sore sempat ia isi dayanya sedikit saat memperbaiki Balai Desa. Pukul enam pagi.

​Gadis ini benar-benar tidak mengenal konsep istirahat.

​Sambil menggelengkan kepala, namun tak bisa menahan senyum di bibirnya, Gani berjalan menuju pintu depan. Begitu ia membukanya, ia langsung disambut oleh sinar matahari pagi dan wajah cerah Kirana.

​Pagi ini, Kirana mengenakan overall jin berbahan ringan dengan kaus putih di bagian dalam. Sebuah topi jerami bundar bertengger manis di kepalanya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gulungan kertas minyak berwarna merah mencolok, sementara di tangan kirinya, ia menenteng seikat batang bambu raut yang diikat tali rafia.

​"Waalaikumsalam," balas Gani, menyandarkan bahunya di kusen pintu, bersilang dada. Ia menatap bawaan Kirana dengan dahi berkerut. "Kau mau buka toko kerajinan tangan subuh-subuh begini? Atau kau mau menyuruhku membangun Balai Desa kedua dari bambu sekecil itu?"

​Kirana tertawa, melangkah masuk ke teras dan meletakkan barang bawaannya di atas lincak (bangku bambu) di depan rumah Gani.

​"Jangan sombong dulu mentang-mentang kemarin kau dipuji sebagai pahlawan Balai Desa," goda Kirana, berkacak pinggang. "Hari ini, kemampuan arsitekturnya yang dipuja-puja itu akan menghadapi ujian sesungguhnya. Ujian yang menggabungkan struktur, aerodinamika, dan... keajaiban."

​Gani mengangkat sebelah alisnya, merasa tertantang sekaligus penasaran. Gadis ini selalu punya cara untuk membuat hal-hal konyol terdengar seperti misi penyelamatan dunia. "Menarik. Jelaskan pada stafmu ini, Bos Besar. Apa permintaan ketigamu?"

​Kirana menunjuk ke arah gulungan kertas merah dan batang bambu di atas lincak dengan gerakan dramatis.

​"Permintaan ketigaku: Besok lusa ada Festival Layang-Layang Karangbanyu di lapangan kecamatan. Dan kau, Gani Raditya, harus membuatkan layang-layang raksasa untuk Udin. Layang-layang yang bukan hanya bisa terbang paling tinggi, tapi juga harus menang."

​Mulut Gani sedikit terbuka. Ia menatap material sederhana itu, lalu menatap Kirana secara bergantian. Otaknya memproses kata-kata gadis itu dengan kecepatan rendah.

​"Layang-layang?" ulang Gani, memastikan ia tidak salah dengar.

​"Tepat sekali," angguk Kirana mantap.

​"Kau membangunkanku jam enam pagi... menyuruh seorang pria berusia tiga puluh tahun... membuat mainan anak kecil dari kertas dan bambu?" Gani menghela napas, mengusap wajahnya yang kelelahan setelah begadang semalaman mendesain taman bacaan. "Kirana, aku ini arsitek bangunan. Aku mendesain sesuatu yang dipaku ke bumi, bukan sesuatu yang diterbangkan ke udara."

​"Ah, alasan! Bukankah prinsipnya sama saja? Keseimbangan, struktur, dan memecah angin?" Kirana memutar bola matanya. Gadis itu melangkah maju, menunjuk tepat ke dada Gani. "Lagipula, Udin sudah sesumbar pada anak-anak desa sebelah bahwa Paman Gani-nya yang jenius akan membuatkan layang-layang naga untuknya. Kalau layang-layangnya gagal terbang, kau bukan cuma menghancurkan hatinya, tapi juga reputasimu yang baru saja membaik."

​Gani mengerang pelan. Senjata andalan Kirana selalu sama: menjebaknya menggunakan harga diri dan tanggung jawab sosial yang sialnya baru saja ia pelajari kembali. Mematahkan hati anak yatim kecil yang menganggapnya pahlawan? Gani jelas tidak akan sanggup melakukannya.

​"Udin bilang kau bisa merancang pencakar langit, jadi merancang benda yang menyentuh awan harusnya pekerjaan mudah bagimu," tambah Kirana, tersenyum nakal seolah ia tahu ia sudah memenangkan perdebatan ini sejak awal.

​Gani menatap batang bambu dan kertas minyak itu lekat-lekat. Insting kompetitif yang baru beberapa jam lalu bangkit, kembali tersulut. Mendesain bangunan agar diam itu mudah. Mendesain struktur agar bisa terbang melawan gravitasi bumi dan menari di udara? Itu adalah masalah teknik engineering yang menantang.

​Perlahan, senyum simpul yang tajam—senyum khas seorang jenius yang siap membantai lawan bisnisnya—muncul di wajah Gani. Ia menegakkan tubuhnya, melipat lengan kemejanya.

​"Baiklah," ucap Gani mantap, matanya memancarkan kilatan antusiasme yang membuat Kirana sedikit terkejut. "Kau mau layang-layang yang menang? Aku tidak akan membuat naga murahan, Kirana. Aku akan merancang sebuah pesawat glider tradisional yang akan membuat semua layang-layang di kecamatan ini terlihat seperti sampah kertas."

​Kirana tertegun sejenak melihat reaksi kompetitif Gani yang sangat berlebihan untuk ukuran festival kampung, sebelum akhirnya tawa renyahnya pecah menggelegar ke udara pagi.

​"Selamat datang kembali, Gani yang sombong," ucap Kirana di sela tawanya, wajahnya merona bahagia melihat kehidupan benar-benar telah kembali ke dalam mata pria di hadapannya. "Ayo kita lihat, sehebat apa tangan arsitekmu itu bermain dengan angin!"

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!