NovelToon NovelToon
PERFECT REVENGE

PERFECT REVENGE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: SuciptaYasha

Berlatar di Seoul, Seo Yerin adalah wanita karier sempurna yang hidupnya hancur setelah diracuni oleh suaminya sendiri dan dikhianati sahabat dekatnya. Namun setelah kematiannya, ia secara misterius kembali ke masa lalu tepat di hari saat dirinya dilamar.

Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Pertama, dia menghajar orang yang melamarnya tepat di hadapan semua orang dan merencanakan balas dendam kepada sahabat dan semua orang yang membuatnya menderita.

Namun di tengah usahanya mengubah takdir, ia tanpa sadar terlibat dengan seorang pria berbahaya dari dunia bawah tanah—seorang mafia dingin yang juga sedang menyiapkan balas dendamnya sendiri.

Apakah pembalasan dendamnya dapat membawanya menuju kebahagiaan? Atau malah membuatnya semakin terseret ke dalam jurang neraka? Saksikan perjalanan Yerin hanya di novel ini ☺️☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SuciptaYasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 Pernyataan yang mengejutkan

Tanpa memedulikan Hyeri yang masih merintih di lantai atau pandangan bingung para tamu, Yo-han segera menarik Yerin membelah kerumunan dan melangkah lebar meninggalkan aula pesta dengan cepat.

Melihat tunangannya dilarikan begitu saja di depan mata kepalanya sendiri, akal sehat Cha Minhyuk benar-benar putus.

PRANG!!!

Dengan penuh amarah, Minhyuk membanting gelas sampanye di tangannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping dan membuat para tamu terkejut.

Namun karena ini adalah pesta keluarga Cha, maka tidak ada satu pun tamu yang berani berkomentar.

Sementara itu, di lantai marmer, Hyeri yang sedang dibantu berdiri oleh pelayan menatap ke arah pintu keluar dengan napas memburu.

Rasa malu karena rencananya gagal total kini bertumpuk menjadi dendam kesumat yang semakin mendalam pada Seo Yerin.

....

Sementara itu, di luar gedung pesta.

Yo-han dan Yerin sudah memasuki sebuah mobil sport bermerek bugatti veyron yang merupakan salah satu koleksi mobil Yo-han.

Di dalam kabin yang senyap dan sejuk itu, keduanya bersandar di kursi sambil mengatur napas mereka yang masih memburu setelah aksi pelarian yang dramatis barusan.

"Sebenarnya apa yang sebenarnya kau lakukan di pesta Walikota Cha? Aku tidak percaya alasanmu datang kesana hanya karena diundang," tanya Yerin pada akhirnya, bagaimanapun ia sudah membaca daftar tamu dan tidak melihat nama Yo-han disana.

Yo-han tidak langsung menjawab. Jemarinya mengetuk kemudi perlahan sebelum ia memutar tubuhnya menghadap Yerin.

"Jika aku menjawab kalau aku datang ke sana hanya untuk menemuimu, apa kau akan percaya?"

Yerin tertegun. Keheningan sempat merayap di antara mereka selama beberapa detik. Bukannya menganggap itu lelucon, Yerin justru mengangguk pelan.

"Ya, aku percaya."

Dalam hati, Yerin menghela napas lega. Kehadiran Yo-han malam ini bukan sekadar kebetulan yang menyelamatkannya dari rasa malu, melainkan jangkar yang menariknya kembali dari jurang keputusasaan.

Jika saja pria itu tidak mengulurkan tangannya tadi, ia mungkin tidak akan pernah punya keberanian untuk bangkit dan melawan takdir masa lalunya lagi.

"Yo-han—"

"Yerin—"

Mereka memanggil nama satu sama lain secara bersamaan yang membuat atmosfer di dalam mobil mendadak canggung.

Yo-han berdehem kecil, membuang muka ke depan sembari menyalakan mesin mobil. "Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu. Kita bisa bicara di perjalanan."

"Ah... ya, baiklah," sahut Yerin canggung.

Selama perjalanan membelah jalanan kota Seoul yang ramai, keheningan yang asing menyelimuti mereka. Yo-han fokus menyetir namun beberapa kali melirik ke samping dengan sudut matanya.

Setiap kali pandangan mereka bertemu, keduanya langsung mengalihkan perhatian dengan cepat ke luar jendela sambil berpura-pura tertarik pada lampu-lampu jalanan.

Merasa suasana ini terlalu menyiksa, Yerin akhirnya memberanikan diri untuk memecah kebekuan.

"Jadi... apa yang ingin kau katakan tadi?"

"Oh, itu... Aku sudah memikirkannya baik-baik tentang lamaranmu sebelumnya... aku rasa aku akan menerimanya."

"Uh, apa?!" Yerin tersentak dan langsung duduk tegak.

"Apanya yang apa?" Yo-han meliriknya heran.

"Sepertinya aku salah dengar. Kau tadi bilang kalau kau menerima lamaranku?"

"Kau tidak salah dengar. Aku memang berkata begitu."

Pikiran Yerin yang masih lelah akibat tekanan di pesta tadi benar-benar tidak sanggup untuk memproses pernyataan tiba-tiba ini.

Di sisi lain, Yo-han sendiri ikut bingung; kenapa wanita ini kaget setengah mati padahal dia sendiri yang tempo hari datang tiba-tiba dan mengajaknya menikah?

Yerin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu menepuk-nepuk pipinya agar kembali fokus.

"Fiuh... Oke, aku sudah fokus sekarang. Bisa kau ulangi sekali lagi dengan lebih jelas?"

Yo-han menghela napas, menghentikan mobilnya di lampu merah lalu menatap Yerin lekat-lekat.

"Aku sudah berpikir banyak setelah perdebatan kita malam itu. Kata-katamu menyadarkanku kalau selama ini aku hanya fokus pada pekerjaan dan bisnis hingga tidak pernah memikirkan tentang berkencan. Sekarang usiaku sudah 28 tahun, dan aku rasa sudah waktunya aku fokus untuk membangun keluarga."

Yo-han mengatakannya dengan ekspresi yang sangat santai, seolah-olah sedang membicarakan cuaca.

Tentunya Yerin tidak mudah percaya begitu saja pada pria penuh taktik ini. "Lalu, apa alasan utamamu untuk akhirnya memilih menerimaku?"

Yo-han mendecakkan lidahnya, sedikit berpikir sebelum akhirnya menjawab, "Soalnya... tidak ada pilihan lain."

"Tidak ada pilihan lain?!" Yerin mengulang kalimat itu dengan ekspresi wajah tak percaya sekaligus tersinggung. "Kau menerima lamaran pernikahan seseorang dengan alasan tidak ada pilihan lain? Kau benar-benar—"

"Selain itu," potong Yo-han cepat, suaranya sedikit canggung, "Tidak ada pria normal yang bisa tetap biasa saja setelah terus-terusan melihat wajahmu yang cantik...."

Kata-kata Yerin tersangkut di tenggorokannya. Ia langsung terdiam, kembali bersandar di kursinya dengan gerakan yang jauh lebih tenang.

Ia memalingkan wajah ke jendela luar, menyembunyikan senyum tipis yang mendadak muncul. "Yah... kalau soal itu, aku memang tidak bisa membantahnya."

Yo-han melirik sekilas ke samping. Di bawah temaram lampu jalan yang menerobos masuk kaca mobil, ia bisa melihat rona merah muda yang menggemaskan menghiasi pipi gadis itu.

Ia tersenyum kecil sebelum akhirnya kembali mengemudi ketika lampu menunjukkan warna hijau.

Di dalam hatinya, Yerin sebenarnya sudah bersiap untuk menjalin hubungan tanpa perasaan. Tujuan awalnya mendekati Yo-han murni untuk memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan pria itu sebagai tameng untuk membatalkan pertunangannya dengan Cha Minhyuk.

Trauma mendalam dari pengkhianatan dan kematian di kehidupan sebelumnya telah membuat hatinya lumpuh dan mati rasa akan arti cinta.

Namun, entah mengapa, malam ini... melihat bagaimana pria di sampingnya ini bertindak, Yerin merasakan getaran asing di dadanya.

Yerin membenci fakta bahwa dirinya mulai merasa nyaman berada di dekat pria itu.

.....

Bonus.

Di salah satu ruang istirahat gedung pesta itu, terlihat Hyeri yang berjalan mondar-mandir dengan pikiran yang kacau balau.

"Ada yang tidak beres... Ini aneh sekali!Kenapa Yerin bisa sangat berbeda? Sejak kapan dia punya keberanian untuk bersikap sekasar itu? Dan siapa pria tadi? Cara mereka berdansa, cara pria itu menatapnya... mereka terlihat begitu akrab! Sial, dari mana pria itu datang?!"

Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari bibir Hyeri tanpa satu pun jawaban. Di sudut ruangan, Cha Minhyuk hanya duduk diam diatas sofa.

Matanya yang sedingin es memperhatikan setiap gerakan Hyeri sementara tangannya masih mengepal menahan sisa amarah dari lantai dansa tadi.

"Aw...!"

Hyeri tiba-tiba meringis sambil memegangi lututnya. Minhyuk mengalihkan pandangannya ke bawah dan melihat noda lecet samar akibat terjatuh sebelumnya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Minhyuk bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati Hyeri, mencengkeram pundak wanita itu dan menuntunnya untuk duduk di sofa.

"Apa yang—"

"Duduk di sini. Jangan bergerak dan tunggu aku," perintah Minhyuk dengan suara rendah.

Hyeri yang masih syok hanya bisa menuruti instruksi tersebut. Ia duduk diam, menatap pintu yang tertutup setelah Minhyuk melangkah keluar.

Jantungnya berdegup tak karuan, bercampur antara rasa bersalah karena rencananya gagal dan rasa takut akan kemarahan Minhyuk.

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Minhyuk masuk sambil membawa sebuah kotak P3K kecil. Pria itu berjalan mendekat, lalu tanpa ragu, ia menekuk satu lututnya tepat di depan Hyeri.

Mata Hyeri membelalak kaget "M-Minhyuk... Apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu—"

"Diamlah," potong Minhyuk dingin namun tidak sekasar biasanya.

Ia mengambil kapas dan cairan antiseptik, lalu dengan perlahan mulai membersihkan luka gores di lutut wanita itu.

Gerakannya tak terduga begitu lembut, sangat berbeda dengan genggaman kasarnya pada Yerin di lantai dansa tadi.

Sambil fokus mengobati, Minhyuk membuka suara, nadanya terdengar datar namun sarat akan emosi yang tertahan.

"Aku tahu kau juga kesal melihat tingkah Yerin malam ini. Tapi seharusnya kau lebih berhati-hati agar tidak melukai dirimu sendiri."

Minhyuk menghentikan gerakannya sejenak, menempelkan perban kasa di atas luka Hyeri lalu menekannya pelan.

"Bagaimanapun... kondisimu jauh lebih utama daripada mengurus wanita sialan itu."

Dug!

Hyeri merasakan jantungnya berdetak begitu kencang hingga. Hyeri menunduk cepat, berusaha menyembunyikan sudut bibirnya yang nyaris terangkat.

Di mata Minhyuk, dirinya ternyata lebih utama daripada Yerin.

Minhyuk menyelesaikan pekerjaannya, merapikan kembali sisa perban, lalu mendongak untuk menatap Hyeri.

"Sekarang sudah baik-baik saja," ucap Minhyuk, matanya mengunci pandangan Hyeri. "Kau bisa memeriksakannya ke dokter besok jika masih sakit."

Hyeri menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia menatap wajah tampan Minhyuk yang selama ini selalu berjarak darinya.

"Terima kasih, Minhyuk..." bisik Hyeri dengan suara yang melunak.

Untuk beberapa saat, pandangan mereka berdua terpaku satu sama lain.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang memalingkan pandangan. Hyeri dan Minhyuk tidak sadar sejak kapan jarak di antara mereka terasa begitu dekat.

1
Kustri
qu diundang gk nih, pengen jd pagar betis, eh pagar ayu☺
Kustri
nyogok pkai vote biar crazy up😊😍
Caveine: makasihhh😍
total 1 replies
Kustri
klu ayah kandung yohan kakek nara, berarti nara ponakan yohan dong
Caveine: iya kak 😍👍👍
total 1 replies
Kustri
setelah yerin yo han tamat, bisa x thor kisah nara diangkat, unik soal'a☺🥺
Kustri
apa situasi ini ada dikehidupan yerin sblm'a
biasa'a akan mengulangkan kejadian" sblm'a
Kustri
lanjuuut
Kustri
qu terkejut, ternyata nara...waow!
keren crita'a
Kustri
nyogok ☕ biar crazy UP
Kustri
yo han anak terbuang... kebetula sekali yg nemu ayah'a

bagus alur'a... jgn smp gk lanjut ya thor
Kustri
lagi" perebutan warisan
oowh... ternyata anak pungut yg menguasai dunia bawah calon'a yerin, gpp yg penting kuat smua
😂🤭
Kustri
mgkin pas yerin dilamar, blm ada tanda" klu sahabat & pacar'a saling suka
betul g yaa🤔
lanjuuut thor💪
Kustri
siapa dia?
aah inilah org yg akan menolong yerin, seorang dr dunia bawah
Kustri
☕u yerin, semangat cpt sadar kembali u balas dendam
Kustri
thor, kembalinya jendral perang koq blm dilanjut... pdhal qu sukaa lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!