Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Evolusi Lengan Kanan
Api unggun di dalam gua telah lama padam, menyisakan bara kemerahan yang memancarkan kehangatan tipis. Lin Chen duduk bersila dengan mata terjaga, memegang beliung karatannya erat-erat. Di belakangnya, Lin Xue tertidur dengan napas teratur, kelelahan setelah rentetan kejadian traumatis yang menimpanya.
Tiba-tiba, bayangan berkelebat di mulut gua. Lin Chen nyaris melompat dan mengayunkan senjatanya, namun terhenti saat melihat jubah abu-abu kusam yang sangat ia kenali.
"Ini aku," bisik Lin Tian, melangkah masuk ke dalam gua.
Ia melemparkan sebuah gulungan perkamen tua ke tanah di dekat Lin Chen, disusul oleh tiga buah kantong penyimpanan (storage pouch) hasil jarahannya dari para kultivator Sekte Gagak Hitam.
"Kak Tian! Kau terluka?" Lin Chen segera menghampiri, matanya terbelalak melihat lengan kanan Lin Tian yang berlumuran darah segar dan tampak patah di beberapa bagian.
"Duduklah. Ini tidak akan lama," Lin Tian mengabaikan kekhawatiran Lin Chen. Ia duduk bersila di tengah gua, memejamkan matanya.
Lin Chen menelan ludah dan mundur beberapa langkah. Ia sudah tahu bahwa kakak sepupunya ini mempraktikkan seni kultivasi yang sangat tidak lazim dan brutal.
Di dalam tubuh Lin Tian, perang skala kecil sedang terjadi. Sisa-sisa energi Qi beraura Inti Emas milik Zhao Tiangang masih bersarang di otot dan tulang lengan kanannya, mencoba menghancurkan jaringan fana tersebut. Bagi kultivator biasa, energi asing dari ranah yang lebih tinggi ini adalah racun mematikan yang akan membuat lengan mereka membusuk dan harus diamputasi.
Namun, Seni Pedang Sembilan Kematian bukanlah seni biasa.
"Makan," perintah Lin Tian dalam hatinya.
Seketika, Niat Pedang kuno yang bersemayam di sumsum tulangnya bangkit layaknya sekawanan serigala yang kelaparan. Untaian energi tajam itu melesat menuju lengan kanannya, mengepung sisa-sisa Qi Inti Emas tersebut. Terjadilah pergesekan yang mengerikan.
Kulit di lengan kanan Lin Tian melepuh dan sobek secara berkala. Darah hitam pekat—kotoran fana yang diusir paksa—merembes keluar dari pori-porinya. Lin Tian menggertakkan giginya hingga berdarah menahan rasa sakit dari tulang yang dipatahkan dan disambung kembali secara berulang-ulang dari dalam.
Proses ini adalah gerbang menuju tahap ketiga: Tulang Pedang Sejati (True Sword Bone).
Jika tahap Baja Pembelah Urat mengubah meridian menjadi saluran baja, maka tahap ketiga ini bertujuan mengubah tulang fana menjadi bilah pedang yang tidak bisa dihancurkan. Berkat tekanan dari Zhao Tiangang, Lin Tian mendapatkan katalis yang sempurna untuk memulai evolusi ini lebih cepat dari perkiraan.
Selama empat jam penuh, gua itu hanya dipenuhi suara napas Lin Tian yang berat dan suara kertakan tulang yang ngilu.
Saat fajar mulai menyingsing dan menyusup masuk melalui celah akar pohon beringin, Lin Tian akhirnya membuka mata. Sebuah kilatan cahaya keperakan melesat dari pupilnya, memotong udara hingga menciptakan suara dengungan pedang yang samar.
Ia mengangkat lengan kanannya. Luka robek yang mengerikan itu telah tertutup sempurna, tidak menyisakan satu pun bekas luka. Alih-alih kulit berwarna perunggu gelap seperti sebelumnya, lengan kanan Lin Tian kini memancarkan rona putih keabu-abuan yang sangat padat, menyerupai warna logam meteorit yang diasah tajam.
Ia mengepalkan tangannya perlahan.
KRETAK! WUSHHH!
Hanya dengan kepalan tangan kosong, tekanan udara di sekitarnya terkompresi hingga meledak pelan. Lengan kanan ini sekarang bukan lagi daging, melainkan senjata pembunuh yang kekuatannya dua kali lipat lebih mematikan dari lengan kirinya. Fondasi awal Tulang Pedang Sejati telah berhasil ditempa!
"Luar biasa..." gumam Lin Tian puas. "Jika aku bertemu ahli Pembangunan Pondasi Akhir sekarang, aku bisa menembus pedang spiritual mereka hanya dengan dua jari."
Lin Chen yang sedari tadi menonton tanpa berkedip hanya bisa membuang napas panjang. Kakaknya ini semakin lama semakin menjauh dari batas manusia normal.
"Chen, kemari," Lin Tian menunjuk kantong-kantong penyimpanan di tanah. "Aku sudah membuka segel spiritual dari kantong-kantong ini. Periksa isinya."
Lin Chen mengangguk. Ia membuka kantong tersebut dan mengeluarkan isinya. Matanya seketika berbinar.
Terdapat lebih dari tiga ratus Batu Spiritual tingkat rendah, belasan botol pil Pengumpul Qi, beberapa pil penyembuh, dan sebuah pedang panjang bersarung kulit hitam yang memancarkan aura dingin tingkat menengah. Bagi murid sekte luar, ini adalah harta karun yang luar biasa kaya.
"Meridianmu sudah bersih dari miasma," kata Lin Tian. "Ambil pedang itu dan semua Batu Spiritual serta pil Pengumpul Qi. Gunakan tiga hari ke depan untuk menyerap energi sebanyak mungkin. Kau harus bisa menembus Pengumpulan Qi Tingkat 3 sebelum kita mencapai lembah."
"T-Tiga hari? Tingkat 3?" Lin Chen terkejut. "Kak, bakatku sangat biasa. Bahkan murid jenius butuh waktu berbulan-bulan untuk mencapai Tingkat 3."
"Kau punya sumber daya yang berlimpah sekarang. Makan pil itu seperti kau makan kacang. Jika meridianmu terasa sakit, paksa terus," ucap Lin Tian tanpa kompromi. "Alam Rahasia Lembah Musim Gugur akan terbuka dalam tiga hari. Aku harus masuk ke dalam untuk mencari Biji Teratai Pedang. Di dalam sana batas kultivasi dibatasi hingga Pembangunan Pondasi Puncak, tapi tetap saja tempat itu adalah penggilingan daging. Aku tidak bisa membawa kalian masuk."
Lin Tian menatap lurus ke arah Lin Chen. "Selama aku di dalam, kau dan Xue-er harus bersembunyi di luar. Nyawa Xue-er ada di tanganmu. Apakah kau mengerti?"
Mendengar tanggung jawab itu, raut wajah Lin Chen berubah serius. Remaja kurus itu menatap pedang spiritual di tangannya, lalu menatap Lin Xue yang masih tertidur pulas. Ia mengangguk dengan tekad bulat, matanya tak lagi memancarkan ketakutan seorang budak tambang.
"Bahkan jika ahli Inti Emas datang... mereka harus melangkahi mayatku sebelum bisa menyentuh sehelai rambut Xue-er, Kak Tian," sumpah Lin Chen.
"Bagus," Lin Tian tersenyum tipis. "Mulai kultivasimu sekarang. Tiga hari lagi, kita berangkat ke pinggiran lembah."
Tiga hari berlalu dengan cepat di Hutan Belantara Selatan.
Di batas terdalam hutan belantara, terdapat sebuah cekungan raksasa yang diapit oleh dua gunung batu hitam yang menjulang tinggi menyerupai pedang yang menancap ke bumi. Inilah pintu masuk Alam Rahasia Lembah Musim Gugur.
Konon, tempat ini adalah bekas medan pertempuran kuno di mana ribuan pendekar pedang dari era Kekaisaran Kuno gugur. Tanah di lembah ini berwarna merah bata, direndam oleh darah dari masa lalu. Selama ribuan tahun, kabut miasma beracun menyelimuti tempat ini, dan segel alam hanya melemah setiap seratus tahun sekali.
Siang itu, pinggiran lembah yang biasanya sunyi dan mematikan kini dipenuhi oleh kemah-kemah mewah, panji-panji raksasa yang berkibar ditiup angin, dan ratusan kultivator dari berbagai faksi. Ini adalah perhelatan besar bagi sekte-sekte di wilayah selatan Benua Tengah dan wilayah pinggiran.
Di angkasa, beberapa kapal terbang megah terbuat dari kayu spiritual berlabuh, memancarkan aura arogansi. Murid-murid jenius berjubah mewah berdiri di geladak, memandang rendah para kultivator pengembara yang mendirikan tenda kumuh di bawah.
Di sebuah tebing kecil yang tersembunyi oleh rimbunnya pohon pinus raksasa—sekitar satu mil dari pusat keramaian—tiga sosok bersembunyi mengamati situasi.
"Ramai sekali," bisik Lin Chen. Aura di sekeliling pemuda itu sedikit lebih tajam dari sebelumnya. Tiga hari menelan pil spiritual seperti orang gila memang menyiksa meridiannya, namun ia berhasil menerobos ke Pengumpulan Qi Tingkat 3, tepat seperti instruksi Lin Tian.
Lin Xue mengintip dari balik bahu Lin Chen, matanya berbinar takjub melihat pedang terbang warna-warni yang berseliweran di langit. "Mereka semua kultivator kuat..."
Lin Tian berdiri bersandar pada batang pinus, menatap lembah dengan ekspresi datar. Ia memegang gulungan peta tua di tangan kirinya.
"Yang datang kebanyakan adalah elit Pembangunan Pondasi dari berbagai faksi. Ada Paviliun Angin Musim Gugur, Sekte Gagak Hitam, dan..." Pandangan Lin Tian menyipit saat melihat sebuah panji bergambar awan dan pedang hijau berkibar di salah satu sudut perkemahan bawah. "...Sisa-sisa Sekte Awan Hijau."
Meski sekte itu baru saja menderita kerugian besar malam itu, Zhao Tiangang tampaknya masih bertekad mengirimkan sisa murid dalam dan beberapa Tetua lapis kedua ke Alam Rahasia demi mencari harta untuk menutupi kerugian sekte.
"Kak Tian, Formasi pintunya sudah mulai beriak," tunjuk Lin Chen ke arah dua gunung pedang.
Benar saja, kabut merah di antara dua gunung itu mulai bergolak. Suara gemuruh pelan terdengar seolah sebuah pintu gerbang purba sedang digeser terbuka. Energi spiritual purba yang tajam dan berbau darah menyapu keluar, membuat banyak kultivator berpangkat rendah di luar lembah memucat dan terpaksa meminum pil penawar racun.
Namun bagi Lin Tian, embusan angin berbau darah dan Niat Pedang yang terpendam itu terasa seperti panggilan pulang ke rumah. Tulang-tulangnya berdesir penuh antisipasi.
"Waktunya tiba," Lin Tian menyimpan peta itu ke balik jubahnya. Ia menoleh menatap Lin Chen dan Lin Xue.
"Tetap di tebing ini. Jangan membuat api, jangan menyerap Qi secara berlebihan agar aura kalian tidak terdeteksi. Aku akan keluar paling lama tujuh hari," instruksi Lin Tian.
"Hati-hati, Kak," ucap Lin Xue, memegang ujung jubah Lin Tian.
Lin Tian mengangguk kecil. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia melompat dari tebing pinus tersebut. Ia tidak menggunakan pedang terbang. Ia tidak memancarkan cahaya Qi. Ia jatuh bak batu hitam ke dalam hutan yang rimbun, menyusup menuju pintu masuk lembah layaknya hantu tanpa bayangan.
Di depan gerbang kabut merah Lembah Musim Gugur, ratusan jenius muda yang angkuh dan pembunuh bayaran bermata dingin bersiap untuk saling membantai demi harta peninggalan kuno.