“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 7 - Musim Panen
Kabut pagi perlahan bergerak di antara lereng-lereng Puncak Awan Pengembara ketika suara kokok ayam mulai memenuhi seluruh area kandang spiritual. Cahaya matahari baru saja muncul dari balik pegunungan dan menyinari lautan awan putih yang menggantung di bawah tebing sekte Forgotten Blade seperti negeri para immortals dalam legenda kuno.
Udara pagi terasa dingin dan segar.
Embun masih menempel di dedaunan bambu sementara angin gunung membawa aroma rumput basah, kayu bakar, dan asap tipis dari dapur umum sekte. Dari kejauhan terdengar suara lonceng pagi yang bergema samar di antara lautan pegunungan. Beberapa burung spiritual terbang rendah melintasi langit sementara murid-murid luar mulai berjalan menuruni jalan setapak berbatu dengan keranjang dan ember di tangan mereka.
Kehidupan di Puncak Awan Pengembara selalu dimulai lebih awal dibanding puncak lain.
Karena di tempat ini ribuan orang harus makan setiap hari.
Sudah hampir seminggu sejak rumor mengenai “hantu ayam” perlahan menghilang dari pembicaraan para murid luar. Kehidupan di puncak gunung kembali normal seperti sebelumnya dan kandang-kandang spiritual yang sempat dijaga ketat kini kembali dipenuhi suara tawa, teriakan, dan pertengkaran kecil para murid.
Bai Fengxuan sendiri mulai perlahan terbiasa dengan kehidupan seperti itu.
Pagi hari ia membersihkan kandang ayam spiritual bersama murid luar lain sebelum matahari benar-benar terbit. Setelah itu ia akan memanggul karung pakan dari gudang penyimpanan di lereng timur gunung, lalu menghadiri kelas umum kultivasi pada siang hari sebelum kembali membantu pekerjaan kandang sampai malam.
Hari-harinya terasa melelahkan.
Puncak Awan Pengembara tidak terasa seperti tempat kultivasi para immortal yang jauh dari dunia fana. Tempat itu justru terasa hidup.
Kadang para murid luar saling melempar lumpur ketika membersihkan kandang. Kadang mereka duduk bersama di bawah pohon pinus sambil membagi ubi panggang curian dari dapur umum. Dan kadang mereka hanya tidur berjajar di atas rumput setelah bekerja seharian penuh sambil memandangi awan bergerak di langit gunung.
Bahkan suara omelan para kakak senior perlahan mulai terasa akrab di telinga Bai Fengxuan.
“Fengxuan! Jangan biarkan ayam itu kabur lagi!”
Teriakan Han Gu menggema di seluruh kandang timur ketika seekor ayam spiritual merah melompat keluar pagar dan mulai berlari liar ke arah ladang herbal.
Tubuh ayam itu hampir sebesar anjing kecil dengan bulu merah menyala yang dipenuhi qi spiritual. Kedua cakarnya bahkan mampu meninggalkan retakan kecil di tanah ketika berlari.
Bai Fengxuan langsung mengejarnya sambil membawa jaring tali rami. Namun ayam spiritual itu justru melompat semakin tinggi dan menyeruduk perutnya tepat di depan semua orang.
*BUGHH!!
Tubuh Bai Fengxuan langsung terpental ke tumpukan jerami. Xu Liang yang melihat kejadian itu tertawa sampai hampir jatuh dari pagar kandang.
“Adik Bai kalah lawan ayam lagi!”
“Diam atau aku lempar kau ke kandang sana!”
Han Gu akhirnya datang dan menangkap ayam tersebut hanya dengan satu tangan sebelum menghela napas panjang.
“Kalau kau terus seperti ini,” ucapnya sambil menyerahkan ayam itu pada Bai Fengxuan, “nanti para murid Puncak Pedang bisa mati tertawa kalau tahu murid Puncak Awan Pengembara dikalahkan ayam spiritual.”
Bai Fengxuan hanya mendengus sambil membersihkan jerami dari rambutnya. Namun diam-diam ia mulai memahami sesuatu.
Ayam-ayam spiritual ini jauh lebih kuat dibanding hewan biasa. Mereka menyerap energi spiritual setiap hari dan sebagian bahkan memiliki insting bertarung alami. Karena itulah pekerjaan di Puncak Awan Pengembara tidak sesederhana yang terlihat.
Saat siang tiba, Bai Fengxuan biasanya pergi ke aula kelas umum bersama murid luar lainnya. Aula batu itu berdiri di lereng tengah gunung dan dipenuhi ratusan meja kayu sederhana yang tersusun rapi. Sebagian besar murid luar terlihat sangat serius selama kelas berlangsung.
Bagaimanapun, tidak semua orang memiliki kesempatan masuk sekte besar seperti Forgotten Blade. Bagi banyak murid luar kultivasi adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib mereka.
Hari itu seorang tetua tua berjubah abu berdiri di depan aula sambil memegang tongkat kayu hitam. Rambut dan janggutnya telah memutih seluruhnya, namun aura spiritual di tubuhnya tetap terasa berat seperti gunung.
“Kalian semua harus memahami satu hal.” Suaranya tenang namun bergema jelas di seluruh aula. “Kultivasi bukan hanya tentang menjadi kuat.”
Seluruh murid langsung terdiam.
“Kultivasi adalah proses memahami dao langit dan memahami diri kalian sendiri. Semakin tinggi seseorang melangkah… semakin berat pula dunia yang harus ia tanggung.”
Tatapan Bai Fengxuan sedikit berubah mendengar itu. Ia tidak sepenuhnya memahami maksud kata-kata tersebut, namun entah kenapa kalimat itu terasa sangat dalam di telinganya.
Tetua tua itu mulai menjelaskan berbagai tahap kultivasi dengan perlahan.
Qi Gathering.
Foundation Establishment.
Gold Core.
Nascent Soul.
Semakin tinggi tahap yang dijelaskan, semakin kagum pula ekspresi para murid luar di aula. Bagi mereka, kultivator Gold Core saja sudah seperti sosok legenda.
Sedangkan Nascent Soul adalah keberadaan yang mampu menghancurkan kota dengan satu serangan.
“Tetua Ji…” Xu Liang tiba-tiba mengangkat tangan dengan wajah penasaran. “Apa benar ada orang yang bisa terbang di langit?”
Beberapa murid langsung ikut menoleh.
Tetua tua itu tersenyum samar sebelum berjalan menuju jendela aula yang menghadap lautan awan.
“Ketika seseorang mencapai tahap Gold Core…” suaranya perlahan terdengar kembali, “langit dan bumi akan mulai mengakui keberadaannya.”
Tatapan para murid langsung dipenuhi rasa kagum.
“Pada tahap itu,” lanjut sang tetua, “seorang kultivator dapat melintasi gunung dan lautan hanya dengan pedang terbangnya.”
Bai Fengxuan diam-diam ikut memandang keluar jendela aula. Langit biru terbentang luas di atas pegunungan Forgotten Blade sementara awan putih bergerak perlahan di bawah tebing.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa dunia kultivasi sangat luas.
Pada malam hari suasana Puncak Awan Pengembara berubah jauh lebih santai. Setelah pekerjaan selesai, para murid luar sering berkumpul di dekat dapur umum sambil duduk melingkar di sekitar api unggun. Sebagian memanggang ubi spiritual, sebagian memasak sup sederhana, sedangkan yang lain sibuk bercerita mengenai dunia luar.
Luo Ming biasanya menjadi orang paling berisik ketika mulai membahas masakan.
“Kalau suatu hari aku menjadi koki spiritual tingkat tinggi,” ucapnya sambil mengaduk sup di dalam panci besar, “aku akan membuka restoran terbesar di Kota Canglan!”
Xu Liang langsung tertawa.
“Dan semua pelangganmu mati keracunan setelah tiga hari!”
Suara gelak tawa langsung memenuhi lereng gunung.
Bai Fengxuan yang duduk di samping api unggun perlahan ikut tersenyum kecil sambil memegang mangkuk sup hangat di tangannya.
Api unggun memantulkan cahaya jingga di wajah-wajah para murid luar sementara langit malam dipenuhi bintang yang terlihat sangat dekat dari atas pegunungan.
Kadang-kadang Bai Fengxuan hampir lupa bahwa tempat ini hanyalah sekte kultivasi. Karena suasananya terasa seperti rumah, mereka semua adalah keluarga di sini.
Hari-hari berlalu dengan cepat di tengah kehidupan seperti itu. Tak terasa musim panen ayam spiritual akhirnya tiba. Seluruh Puncak Awan Pengembara langsung berubah sangat sibuk.
Ribuan ayam spiritual yang telah dibesarkan selama berbulan-bulan mulai dipisahkan dan dikirim menuju dapur umum maupun aula perdagangan sekte. Jalan-jalan pegunungan dipenuhi kereta kayu dan kandang besi sementara suara kokok ayam terdengar dari pagi hingga tengah malam.
Udara di sekitar kandang dipenuhi aroma bulu ayam, rumput spiritual, dan darah segar. Bahkan para murid luar hampir tidak memiliki waktu istirahat.
Xu Liang sampai tertidur sambil berdiri ketika mengangkut karung pakan pada siang hari dan jatuh langsung ke tumpukan lumpur kandang.
Namun anehnya di tengah kesibukan kacau seperti itu, suasana Puncak Awan Pengembara justru terasa paling hidup.
Semua orang bekerja bersama.
Semua orang tertawa bersama.
Dan semua orang kelelahan bersama.
Malam itu bulan menggantung redup di atas pegunungan ketika sebagian besar murid luar akhirnya kembali ke tempat tinggal masing-masing setelah bekerja seharian penuh.
Kabut malam bergerak perlahan di antara kandang yang mulai sunyi. Di kejauhan suara jangkrik malam terdengar samar sementara lentera-lentera merah bergoyang pelan tertiup angin gunung.
Dan di tengah suasana tenang itu sesosok kecil diam-diam membuka pagar kandang belakang sambil membawa karung besar di pundaknya.
Bai Fengxuan melihat ke kanan dan kiri dengan ekspresi serius seperti pencuri profesional. Tatapannya perlahan menyapu seluruh area kandang yang gelap sebelum akhirnya berhenti pada dua ayam spiritual merah paling gemuk di sudut kandang.
Ayam-ayam itu bahkan masih terlihat mengantuk dan belum menyadari nasib tragis mereka malam ini.
Bai Fengxuan perlahan mendekat lalu dengan gerakan cepat menangkap keduanya sekaligus.
“Kalian berdua…” bisiknya pelan sambil memasukkan mereka ke dalam karung, “akan menjadi kontribusi besar bagi kultivasiku malam ini.”
Ayam-ayam spiritual itu langsung memberontak dan mengepakkan sayap dengan panik hingga bulu merah beterbangan ke mana-mana.
Bai Fengxuan buru-buru menekan kepala mereka sambil menjilat bibirnya seperti orang jahat yang menakutkan. Entah sekarang ia terlihat kelaparan atau sedang balas dendam pada ayam-ayam itu.
“Diam sedikit! Kalau ketahuan Kakak Han aku benar-benar mati…”
Angin malam bertiup dingin di lereng gunung ketika Bai Fengxuan berjalan cepat menuju gubuk kayunya sambil membawa karung ayam curian di punggungnya.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak datang ke Sekte Forgotten Blade ia merasa jauh lebih gugup dibanding saat mengejar “hantu ayam” beberapa waktu lalu.
…
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....