Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 - MHB
Malam pertama di apartemen baru seharusnya menjadi awal dari sebuah romansa, namun bagi Maya, ini adalah malam pertama di penjara bawah tanah yang sangat mewah. Setelah perdebatan mengenai sebelas aturan di meja makan, Maya segera melesat ke kamarnya, memutar kunci dua kali, dan mendorong gerendel tambahan seolah-olah ada monster yang sedang mengejarnya.
Ia bersandar di balik pintu, napasnya tersengal. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena kelelahan, melainkan karena bayangan tatapan Arka yang intens tadi. Pemuda itu memiliki cara menatap yang seolah-olah bisa menelanjangi semua pertahanan yang Maya bangun selama bertahun-tahun.
"Cuma sarapan, Maya. Cuma duduk sepuluh menit, lalu berangkat kerja. Kamu bisa melakukannya," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan badai di dadanya.
Maya mengganti kebaya pengantinnya yang menyesakkan dengan piyama satin panjang berwarna biru gelap. Ia duduk di tepi ranjang king size yang terasa terlalu luas untuknya sendiri. Kamar ini kedap suara, namun ia masih bisa membayangkan Arka berada di balik tembok sana, mungkin sedang menertawakan kekakuannya. Rasa canggung itu merayap seperti semut di bawah kulitnya. Ia merasa asing di rumahnya sendiri, merasa terancam oleh status barunya sebagai seorang istri dari pria yang seharusnya ia bimbing, bukan ia layani.
Keheningan malam itu terasa menekan. Maya mencoba memejamkan mata, memaksakan diri untuk tidur agar besok pagi ia bisa tampil sempurna di kantor. Namun, kegelapan di dalam kamar itu mulai bermain dengan imajinasinya. Sejak kecil, Maya memiliki ketakutan yang tidak rasional terhadap kegelapan total—sebuah trauma masa kecil saat ia pernah terkunci di gudang sekolah. Itulah sebabnya, ia selalu membiarkan lampu meja di sudut kamar tetap menyala remang-remang.
Tengah malam tiba. Suasana apartemen begitu sunyi hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu.
Tiba-tiba, DEB!
Suara dengung AC yang tadinya konstan mendadak mati. Lampu meja yang remang-remang padam seketika. Seluruh ruangan tersedot ke dalam kegelapan yang pekat dan absolut.
Maya tersentak bangun dari tidur ayamnya. Matanya membelalak, namun ia tidak bisa melihat apa-apa. Hanya hitam. Hitam yang pekat, berat, dan seolah mencekik lehernya.
"Lampu... lampunya mati?" suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar.
Ia meraba-raba nakas di samping tempat tidur, mencari ponselnya. Namun, dalam kepanikannya, tangannya justru menyenggol gelas air putih hingga jatuh ke lantai. Prang! Suara kaca pecah itu terdengar seperti ledakan di telinganya.
Ketakutan purba itu menyerang. Napas Maya menjadi pendek dan cepat. Ia merasa dinding-dinding kamar seolah bergerak mendekat, hendak menghimpitnya. Ia tidak bisa tinggal di dalam kamar ini sendirian. Pikirannya buntu. Logikanya sebagai wanita karier yang tangguh menguap entah ke mana, digantikan oleh gadis kecil yang ketakutan.
Tanpa pikir panjang, Maya meraba-raba pintu kamar, memutar kunci dengan tangan gemetar, dan menyeruak keluar. Ia butuh cahaya. Ia butuh ruang yang lebih luas.
"Arka..." panggilnya lirih, namun tenggorokannya terasa kering.
Ia melangkah di lorong ruang tengah yang gelap gulita. Apartemen ini masih asing baginya, dan dalam kegelapan, setiap perabot tampak seperti bayangan raksasa yang mengancam. Maya berjalan dengan tangan terentang ke depan, meraba udara.
Tepat saat ia melewati ruang tengah, kakinya tersangkut ujung karpet. Tubuhnya terhuyung ke depan.
"Aah!"
Maya bersiap menghantam lantai yang dingin, namun ia justru menabrak sesuatu yang hangat dan padat. Sebuah benda besar yang terasa seperti dinding berdaging menangkapnya. Sepasang lengan yang kuat refleks melingkar di pinggangnya, menahan bobot tubuhnya dengan kokoh.
"Ouch! Hei, hei... pelan-pelan, Kak."
Suara bariton itu. Suara yang tadinya ia anggap menyebalkan, kini terdengar seperti melodi penyelamat.
"Ar-Arka?" Maya mencengkeram erat apa pun yang bisa ia pegang, yang ternyata adalah kaus oblong tipis yang dikenakan Arka.
"Iya, ini aku. Kamu kenapa?" Arka bertanya, suaranya terdengar serak khas orang bangun tidur.
Maya tidak menjawab. Ia justru menyembunyikan wajahnya di dada Arka, tubuhnya gemetar hebat. Ia bisa mendengar detak jantung Arka yang tenang dan teratur, sangat kontras dengan jantungnya yang seperti sedang lari maraton.
"Listriknya mati, Arka... lampunya mati..." bisik Maya dengan suara parau yang hampir menangis.
Arka terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa wanita tangguh yang baru saja menikahinya ini sedang mengalami serangan panik. Ia tidak tertawa, tidak juga menggoda. Dengan satu tangan masih memeluk pinggang Maya, Arka meraba saku celana pendeknya dan mengeluarkan ponsel.
Klik.
Cahaya senter ponsel menyala, membelah kegelapan ruang tengah. Maya sedikit melonggarkan cengkeramannya, namun tetap berdiri sangat dekat dengan Arka. Cahaya itu memantul di wajah Arka yang tampak acak-acakan—rambutnya berantakan dan matanya menyipit karena silau.
"Wah, baru malam pertama sudah mau main peluk-pelukan di kegelapan ya?" ucap Arka tiba-tiba. Nadanya kembali santai dan sedikit nakal.
Maya tersentak. Ia baru sadar betapa intimnya posisi mereka. Ia segera melepaskan pegangannya dan mundur satu langkah, meski matanya tetap terpaku pada cahaya senter di tangan Arka.
"Aku... aku cuma mau cari saklar cadangan," kilas Maya, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah jatuh ke lantai.
Arka terkekeh, suara tawanya rendah dan hangat. Ia duduk kembali di sofa tempat ia tadi tidur. "Saksi mata bilang kalau Kak Maya tadi lari keluar kamar seperti melihat hantu. Ternyata Senior-ku yang paling galak ini takut gelap, ya?"
"Aku tidak takut!" bantah Maya, meski suaranya masih sedikit gemetar. "Aku cuma... kaget."
"Oke, kaget," Arka mengangguk-angguk maklum dengan senyum yang menyebalkan. Ia menepuk sisi sofa di sebelahnya. "Duduk sini. Di lorong itu gelap, nanti kamu menabrak meja lagi."
Maya bimbang. Namun, melihat kegelapan di belakangnya, ia akhirnya menyerah dan duduk di ujung sofa, memberikan jarak sejauh mungkin dari Arka.
"Ini cuma pemadaman bergilir sepertinya. Apartemen semewah ini harusnya punya genset, mungkin butuh waktu lima menit untuk menyala," Arka menjelaskan sambil meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi senter menghadap ke langit-langit, menciptakan pendaran cahaya yang cukup untuk menerangi ruang tengah.
Hening sejenak. Maya duduk kaku dengan tangan terlipat, sementara Arka bersandar santai dengan kedua tangan di belakang kepala.
"Tadi Kak Maya bilang di aturan nomor enam: 'Jangan menyentuhku tanpa izin'. Kalau tadi aku tidak tangkap, dan Kak Maya jatuh ke pelukanku, itu termasuk melanggar aturan tidak?" goda Arka, melirik Maya dari sudut matanya.
Maya memutar bola matanya. "Itu pengecualian karena keadaan darurat."
"Oh, jadi kalau gelap begini, status 'Orang Asing' di aturan nomor empat ditangguhkan dulu?"
"Arka, diamlah."
"Habisnya, lucu saja. Di kantor kamu seperti singa, di kampus seperti elang, eh... di rumah ternyata cuma kucing kecil yang takut lampu mati," Arka tertawa lagi. "Tenang saja, Kak. Aku tidak akan memanfaatkan keadaan. Meskipun tawaran untuk jadi 'senter pribadi' sampai pagi itu sangat menarik, aku masih menghormati poin nomor satu: Kamar terpisah."
Mendengar candaan Arka, ketegangan di bahu Maya perlahan mengendur. Meskipun menyebalkan, ocehan Arka justru mengalihkan fokusnya dari kegelapan yang tadinya mencekam. Arka tidak mencoba merayu atau mengambil kesempatan, ia justru memperlakukan situasi ini dengan ringan, seolah ketakutan Maya adalah hal yang biasa.
"Arka..." panggil Maya setelah beberapa saat.
"Ya?"
"Kenapa kamu tidak protes saat dijodohkan? Kamu masih muda, kamu bisa punya hidup yang lebih bebas."
Arka terdiam, menatap pendar cahaya di langit-langit. "Siapa bilang aku tidak bebas? Menikah denganmu itu pilihanku, Kak. Papa cuma memberikan jalannya, aku yang mengambil langkahnya."
"Tapi kenapa aku?"
Arka menoleh, menatap Maya dengan tatapan yang kini tidak lagi bercanda. "Mungkin karena aku suka tantangan. Atau mungkin karena aku ingin melihat berapa lama kamu bisa bertahan dengan topeng kaku itu sebelum akhirnya kamu sadar kalau aku ini suami yang cukup keren."
Maya mendengus, namun kali ini ada sedikit senyum tipis yang ia sembunyikan. "PD-mu itu memang tidak pernah berubah sejak ospek."
"Itu namanya kepercayaan diri, Kak Istri."
Tiba-tiba, hummm... suara mesin genset mulai menderu. Lampu-lampu kecil di lorong mulai menyala redup, diikuti oleh lampu ruang tengah yang kembali berpendar terang.
Maya refleks berdiri. Keberaniannya kembali seiring dengan kembalinya cahaya. "Lampu sudah nyala. Aku kembali ke kamar."
Arka mematikan senter ponselnya dan merebahkan diri kembali di sofa. "Ya, silakan. Jangan lari lagi ya, nanti kalau nabrak aku lagi, aku tidak jamin aturan nomor enam bisa tetap berlaku."
Maya melangkah menuju kamarnya, namun di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Arka?"
"Hmm?"
"Terima kasih. Untuk senternya."
Arka hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, namun sebuah senyum lebar mengembang di wajahnya saat ia mendengar suara pintu kamar Maya tertutup—kali ini tanpa suara kunci yang diputar dua kali.
Di dalam kamarnya, Maya merebahkan diri. Jantungnya masih berdegup, tapi kali ini bukan karena takut gelap. Ia menyadari satu hal malam itu: Arka mungkin masih muda, tapi ia memiliki ketenangan yang bisa meruntuhkan badai di dalam diri Maya. Dan entah kenapa, pemikiran itu membuat malam pertamanya terasa sedikit lebih... hangat.
Bersambung.....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡