Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28
Tiga hari berlalu tanpa kepastian. Dante tetap menghilang, hanya mengirimkan laporan singkat melalui Marcello bahwa "urusan mendesak" sedang diselesaikan. Namun, di tengah keputusasaan Alicia, sebuah kargo misterius tiba di dermaga vila.
Bukan kargo besar, melainkan sebuah amplop elegan dengan aroma parfum yang sangat dikenali Alicia, aroma mesiu dan mawar dingin. Aroma Katerina Volkov. Bau yang bagi Alicia terasa seperti deklarasi perang yang disemprotkan ke atas kertas.
Alicia merobek amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto polaroid.
Foto pertama, Dante duduk di sebuah meja makan kayu di tepi tebing yang indah, terlihat sangat lelah dengan dahi yang disandarkan pada telapak tangannya. Di sampingnya, Katerina berdiri, tangannya menyentuh bahu Dante dengan cara yang sangat akrab, Sentuhan yang tampak seperti kepemilikan di mata Alicia.
Foto kedua, Diambil dari sudut yang membuat mereka terlihat seolah sedang berpelukan di bawah temaram lampu temaram, padahal mungkin Katerina hanya sedang membisikkan laporan intelijen.
Terdapat secarik kertas kecil di sana dengan tulisan tangan yang tajam.
"Dia butuh ketenangan, bukan tuntutan. Dia butuh prajurit, bukan putri manja spertimu. Terima kasih sudah membuatnya lelah, Alicia. Aku akan menjaganya dari sini."
Alicia merasa dunianya runtuh, lalu seketika terbakar oleh amarah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa tidak percaya dirinya sebagai ibu baru yang merasa "gendut" dan "tidak berguna" kini berubah menjadi api murni.
Ia tidak menangis. Ia justru berdiri dengan tegak, memberikan Leo kepada Suster dengan gerakan yang sangat tenang.
"Marcello," suara Alicia terdengar begitu dingin hingga Marcello secara insting menegakkan punggungnya.
"Ya, Nyonya?"
"Siapkan jet. Sekarang."
"Tapi Nyonya, Bos memerintahkan Anda untuk tetap di."
"Aku tidak peduli apa yang diperintahkan suamiku!" Alicia memotong dengan tatapan yang bisa membunuh. "Kita berangkat ke Malta. Bawa pasukan lengkap. Dan Bambang... isi semua senapan kalian dengan peluru asli. Jika aku melihat wanita itu menyentuh satu helai rambut suamiku lagi, aku akan memastikan Malta tenggelam dari peta dunia hari ini juga!"
Bambang menatap Marcello, Ada kilatan kengerian di sana.
"Siap, Nyonya," ucap Bambang. "Operasi 'Menjemput Bos' dimulai sekarang."
Alicia melangkah menuju kamarnya untuk berganti pakaian, hatinya berdegup kencang antara benci, cinta, dan keinginan untuk menghancurkan apa pun yang mencoba mengambil Dante darinya.
Jet pribadi klan Vallo membelah langit Mediterania dengan kecepatan maksimum. Di dalam kabin, suasananya lebih mencekam daripada ruang interogasi militer. Alicia duduk tegak di kursi kulitnya, mengenakan setelan blazer hitam tajam dan kacamata hitam yang menutupi matanya yang sembab namun berkilat amarah. Di sampingnya, Leonardo kecil tertidur pulas di dalam stroller emas 24 karat yang kini dipasangi sabuk pengaman tambahan.
Bambang dan Marcello berdiri kaku di belakangnya. Mereka sudah mengenakan rompi anti-peluru lengkap. Di atas meja, bukan lagi botol susu yang berjejer, melainkan tablet yang menampilkan koordinat GPS hotel privat di Malta dan foto-foto "perselingkuhan" Dante yang telah dianalisis secara forensik.
"Nyonya, kami sudah mengunci lokasi Bos. Beliau berada di Valletta Cliffside Resort. Area itu memiliki pengamanan ketat dari klan Volkov," lapor Marcello dengan nada rendah.
"Aku tidak peduli jika tempat itu dijaga oleh naga sekalipun," sahut Alicia dingin. Ia menyesap teh kamomilnya yang sudah dingin. "Bambang, pastikan begitu kita mendarat, tidak ada satu pun frekuensi radio di pulau itu yang bisa mengirimkan sinyal keluar. Aku ingin Katerina merasa terisolasi sebelum aku mengulitinya secara sosial."
"Siap, Nyonya. Protokol pemutus sinyal sudah disiapkan," jawab Bambang, diam-diam berdoa agar ia tidak perlu memungut potongan tubuh siapa pun hari ini.
Jet pribadi klan Vallo mendarat di dek privat resort tersebut hanya dua jam kemudian. Alicia melangkah keluar dengan gaya seorang Ratu yang sedang menuju medan perang. Di belakangnya, barisan pengawal berpakaian hitam mengikuti, sementara Bambang dengan gagah (namun absurd) mendorong kereta bayi emas 24 karat itu di atas jalanan setapak berbatu. Langkah Alicia berdentum di atas batu, setiap detaknya mengirimkan pesan kematian.
Di bar terbuka yang menghadap tebing, Dante sedang duduk sendirian. Katerina Volkov ada di sana, sedang menuangkan segelas wiski untuk Dante dengan gerakan yang sangat provokatif, tangannya sengaja berlama-lama menyentuh jemari Dante.
BRAK!
Pintu kaca bar itu terbuka dengan sentakan keras. Katerina menoleh, senyum kemenangannya sedikit memudar saat melihat Alicia berdiri di sana, bukan dengan wajah hancur karena menangis, melainkan dengan aura otoritas yang mematikan.
"Dante," suara Alicia memotong kesunyian, tenang namun tajam seperti silet. "Aku datang untuk menjemput suamiku. Dan aku juga datang untuk membuang sampah."
Kata 'sampah' terucap dengan penekanan yang membuat Katerina tersentak.
Dante berdiri, matanya membelalak kaget. Ia melihat Alicia, lalu melihat bahu kirinya yang masih diperban, perban yang baru saja akan disentuh Katerina. "Alicia? Apa yang kau lakukan di sini? Leo harusnya di Amalfi!"
"Leo ada di sini, bersamaku. Di tempat ayahnya yang sedang sibuk 'menenangkan diri'," Alicia melirik Katerina dari atas ke bawah dengan tatapan menghina. "Jadi, ini wanita yang menurutmu lebih 'mengerti' bebanmu, Dante? Wanita yang bahkan tidak bisa membedakan antara parfum berkelas dan aroma minyak pelumas senjata?"
Katerina tertawa, sebuah tawa yang dipaksakan. Ia berdiri di samping Dante, mencoba terlihat lebih tinggi. "Kau terlalu emosional, Alicia. Dante butuh pasangan yang bisa mengangkat senjata bersamanya, bukan beban yang menangis karena warna kereta bayi."
Alicia berjalan mendekat, setiap langkahnya penuh penekanan. Ia berhenti tepat di depan Katerina. Jarak mereka hanya beberapa senti, udara di antara mereka seolah mendidih. "Dengar, Katerina. Siapa pun bisa menarik pelatuk senjata. Itu pekerjaan kasar yang bisa dilakukan oleh pengawalku. Tapi tidak semua orang bisa mengelola emosi seorang pria yang memegang kendali atas separuh ekonomi dunia."
Alicia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto-foto mesra palsu itu di depan wajah Katerina. "Foto-foto ini? Sudut pengambilan gambar yang bagus. Tapi kau lupa satu hal, Sayang. Dante benci wiski yang kau tuangkan itu. Dia lebih suka teh melati yang aku seduh dengan suhu yang pas. Dan satu lagi..."
Alicia menoleh ke arah Dante, matanya melembut namun tetap tegas. "Dante, kau boleh lelah denganku. Kau boleh benci permintaanku. Tapi jika kau lebih memilih wanita yang hanya memujamu saat kau kuat, daripada wanita yang tahu setiap inci lukamu saat kau lemah... maka kau bukan Dante Vallo yang aku nikahi." Kalimat terakhir itu menghantam udara dengan berat, meninggalkan keheningan yang menyakitkan di bawah langit Malta.
ayooo dante kasih alicia pelajaran biar jangan banyak mau nya mulu😔
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻