NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6.Kebenaran terbuka.

Malam semakin dalam. Bulan tersembunyi di balik awan tebal, membuat suasana di sekitar villa tua itu terasa semakin suram dan dingin. Angin malam berhembus kencang, menerpa dedaunan kering yang berserakan di halaman, menimbulkan suara gesekan yang menyeramkan.

Salsa duduk santai di atas tembok pembatas halaman villa, sementara Rian berdiri tidak jauh darinya dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Wajahnya masih terlihat tegang dan waspada. Panggilan 'Paman' tadi masih terngiang di telinganya, membuatnya merasa tua mendadak, tapi ia tak bisa membantah karena memang usianya terpaut cukup jauh dengan gadis itu.

"Sal..." panggil Rian pelan, memecah keheningan.

"Hmm?" Salsa menoleh, wajahnya tenang tak bersalah.

"Kita ngapain sebenarnya di sini? Dan tadi... di telepon itu..." Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Terus terang aku bingung. Kamu ngomong apa sih? Tentang didorong ke sungai segala? Siapa yang kamu maksud?"

Salsa menatap lurus ke depan, ke arah pintu kayu besar villa yang sudah usang.

"Aku bilang ya, paman. Aku membantu seseorang, " jawabnya pelan.

"Membantu siapa? Pemilik villa namanya Budi kan? Dia belum datang."

"Bukan. Aku membantu Noni," kata Salsa santai.

"Noni? Siapa itu? Temannya?"

"Iya. Adik kandungnya Pak Budi itu. Dan dia... sudah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu," ucap Salsa datar.

Rian terbelalak. Ia menatap wajah Salsa serius, mencari tanda-tanda kalau gadis ini sedang bercanda. Namun melihat ekspresi Salsa yang tenang, jantung Rian mulai berdegup kencang lagi.

"Meninggal? Maksudmu... hantu? Arwah?" tanya Rian terbata-bata.

Salsa mengangguk pelan. "Iya. Sejak kecil aku memang punya kemampuan khusus. Aku bisa melihat, mendengar, dan berbicara dengan mereka. Mata spiritual, begitu orang menyebutnya. Noni meminta tolong padaku supaya bisa bicara sama kakaknya sekali lagi sebelum dia pergi, "

Suasana hening sejenak.

Tiba-tiba...

WHAHAHAHAHA!!

Rian tertawa terbahak-bahak, meski suaranya terdengar sedikit dipaksakan dan gugup.

"Wah hebat! Sal, kamu ini kalau bikin cerita imajinatif banget sih! Hantu segala lagi! Kamu nonton film horor kebanyakan ya? Atau habis baca komik mistis?" Rian menepuk bahu Salsa. "Aku ini polisi, Sal. Aku percaya sama bukti fisik, logika, dan ilmu pengetahuan. Bukan hal-hal mistis gitu."

Salsa hanya mendengus pelan, tak peduli. "Terserah kau mau percaya atau tidak. Nanti juga kau tahu sendiri."

"Yaelah, ngaco aja. Palingan kamu cuma mau cari perhatian atau—"

Belum selesai Rian berkomentar, sorot lampu kendaraan yang sangat terang menyilaukan mata muncul dari ujung jalan. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam melaju kencang dan berhenti tepat di depan gerbang villa dengan suara rem yang melengking.

"Diam! Dia datang!" desis Salsa cepat. Ia langsung melompat turun dari tembok.

"Eh? Eh iya!" Rian langsung sigap meski masih ketakutan.

"Sini!" Salsa menarik lengan Rian dan menyeretnya bersembunyi di balik semak belukar yang cukup rindang di pinggir jalan.

"Denger ya, Rian," bisik Salsa tajam menatap mata pria itu. "Kau tunggu di sini. Jangan keluar dulu. Kalau aku kasih tanda atau kalau ada apa-apa, kau langsung keluar bantu aku. Mengerti?"

Rian mengangguk kaku, jantungnya berdegup kencang entah karena apa. "O-oke. Hati-hati."

Salsa berjalan tenang meninggalkan tempat persembunyian, berjalan menghampiri pria paruh baya yang baru saja turun dari mobil. Itu adalah Pak Budi. Wajahnya terlihat tegang di bawah sorot lampu mobil.

Di samping kiri Salsa, sosok putih pucat Noni ikut berjalan menyertai langkah kaki gadis itu. Wajah arwah itu kini tidak lagi sedih, melainkan penuh amarah yang tertahan.

"Malam, Pak Budi," sapa Salsa santai.

Pak Budi menatap Salsa dari ujung kaki ke ujung kepala. "Kamu... anak siapa? Berani-beraninya kamu mengganggu ketenangan saya dan membawa-bawa nama masa lalu. Apa maksudmu datang ke sini malam-malam begini?"

"Saya cuma mau menyampaikan pesan, Pak. Dari seseorang yang sangat rindu dan ingin bertanya," jawab Salsa tenang.

"Pesan apa? Saya bilang saya tidak punya adik bernama Noni! Itu nama yang sudah lama saya hapus!" bentak Pak Budi.

"Ngapus? Bagaimana bisa menghapus kalau dia selalu ada di sini?" Salsa menunjuk ke samping kirinya. "Dia berdiri tepat di sebelah saya sekarang, Pak. Dia menunggu jawaban Bapak."

Pak Budi menoleh ke arah yang ditunjuk Salsa, hanya melihat angin menerpa daun. "Gila! Kamu ini anak gila! Itu kosong!"

"Kosong buat Bapak, tapi nyata buat saya," balas Salsa dingin. "Dia bertanya... Kenapa Kakak mendorongku jatuh ke sungai saat itu?"

Wajah Pak Budi berubah pucat pasi seketika. Kakinya gemetar hebat.

"K-kamu... bagaimana kamu bisa tahu kejadian itu?!" suaranya bergetar. "Itu kejadian dua puluh tahun lalu! Saat itu kamu bahkan belum lahir! Atau mungkin baru bayi! Bagaimana bisa kamu tahu detailnya?!"

"Karena dia yang cerita ke saya," jawab Salsa tegas.

"Itu bohong! Noni jatuh karena dia sendiri yang ceroboh! Dia terpeleset di bebatuan! Bukan aku yang mendorong!" bantah Pak Budi keras, mencoba menutupi kebenaran. Ia melangkah maju, wajahnya berubah mengancam. "Dengar ya nona muda! Jangan sembarangan bicara! Nama baik saya dan keluarga saya sangat terjaga! Kalau kamu terus mengata-ngatai saya, saya laporkan ke polisi!"

"BOOOOHHHHOOOOONG!!!!!!"

Teriakan mengerikan meledak begitu keras hingga seakan mengguncang tanah.

WUSSSSHHH!!!

Tiba-tiba angin kencang bertiup secara tak wajar, bagai badai kecil yang datang entah dari mana. Kekuatan itu begitu hebat hingga menerpa tubuh Pak Budi hingga ia kehilangan keseimbangan dan terpelanting jatuh terduduk di tanah berbatu.

"AAAAAAHHHH!! TELINGAKU!! BERISIK NONI!! JANGAN TERIAK KENCENG-KENCENG!! SAKIT NIH!"

Salsa langsung menutup kedua telinganya erat-erat, wajahnya meringis kesakitan sambil memarahi sosok di sampingnya.

"Udah ah! Suaramu itu bukan buat teriak-teriak kayak gitu! Bisa pecah gendang telingaku!" omel Salsa kesal.

Di sisi lain, Rian yang bersembunyi di balik semak melongo tak percaya. Matanya membelalak lebar. Ia melihat Salsa berbicara sendiri, marah-marah sendiri, seolah-olah ada orang lain di sana padahal di depannya hanya ada Pak Budi yang tergeletak ketakutan.

Dan Pak Budi... ia melihat Salsa memarahi ruang kosong dengan sangat nyata. Ia melihat bagaimana angin itu menyerangnya secara pribadi. Rasa takut yang luar biasa kini menguasai dirinya. Ini bukan tipuan muslihat. Ini... nyata.

"D-dia... dia marah besar, Pak," kata Salsa kembali tenang setelah Noni diam. "Dia ingat semuanya. Dia ingat Bapak mendorongnya dengan kuat sampai kepalanya terbentur batu besar sebelum hanyut terbawa arus."

Air mata Pak Budi mulai mengalir. Bahunya bergetar hebat. Penyangkalan itu runtuh seketika.

"Dia... dia benar-benar di sini?" bisik Pak Budi pelan, suaranya pecah.

"Iya. Dia dengar semuanya."

Pak Budi menunduk dalam, lalu perlahan ia berlutut di atas tanah yang basah. Tangannya mencengkeram tanah dengan kuat. Tangisnya pecah.

"Ya... ya aku yang melakukannya! Aku yang mendorongnya!" isaknya keras. "Aku jahat! Aku iri! Aku benci dia!"

Salsa diam mendengarkan. Noni di sampingnya juga ikut menangis lagi, tapi kali ini tangisnya pilu.

"Kenapa?" tanya Salsa.

"Ibu kami adalah pewaris tunggal keluarga kaya raya, Sal. Sedangkan Ayahku hanya manajer restoran biasa yang bekerja keras. Saat orang tua kami berpisah karena sering bertengkar, Ibu memilih membawa Noni bersamanya. Aku ditinggal bersama Ayah!" cerocos Pak Budi di antara isak tangisnya.

"Aku iri! Aku benci! Noni hidup mewah, dapat kasih sayang Ibu, punya masa depan cerah! Sedangkan aku? Aku harus hidup susah! Bagiku Noni adalah penghalang! Kalau Noni tidak ada, mungkin Ibu akan membawaku juga! Aku pikir kalau dia hilang, aku akan bahagia!"

Pak Budi memukul-mukul dadanya sendiri.

"Tapi aku salah! Sangat salah! Setelah Noni meninggal, Ibu berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam! Tidak ada lagi tawa, tidak ada kasih sayang! Dia menyalahkan dirinya sendiri dan menjauhiku! Dan Ayah... Ayah sakit parah karena menyalahkan dirinya tak bisa menjaga anak-anak sampai akhirnya meninggal juga! Semuanya hancur! Harta yang aku dapat tidak ada artinya!"

Ia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap ke arah kosong di samping Salsa.

"Maafkan Kakak, Non... Maafkan Kakak! Kakak serakah! Kakak bodoh! Kakak menyesal... menyesal sekali selama dua puluh tahun ini! Tolong ampuni Kakak..."

Salsa menoleh ke samping, melihat Noni yang kini menangis tersedu-sedu, amarahnya perlahan luntur berganti dengan kesedihan yang mendalam.

"Non... dia sudah menyesal. Sudah ya..." bisik Salsa lembut.lanjut Salsa, "bukannya itu yang ingin kamu dengar, permintaan maaf dan alasan dibalik sikap keji kakak mu. "

Noni mengangguk pelan, lalu perlahan sosoknya mulai bersinar terang, siap untuk pergi meninggalkan dunia ini dengan tenang.

Di balik semak, Rian masih terpaku. Mulutnya terbuka sedikit, jantungnya berdegup kencang bukan main.

'Jadi... apa yang dikatakan Salsa itu benar? Dia benar-benar bisa melihat hantu? Dan aku... akan menikah dengan wanita macam ini?' batin Rian penuh pertanyaan, campur aduk antara takut, takjub, dan kagum.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!