Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Lantai pameran UMKM di gedung konvensi pusat kota itu dipenuhi dengan hiruk-pikuk pengusaha lokal, namun di satu sudut yang nampak minimalis dan elegan, stan A.R Design berdiri layaknya sebuah oase di tengah gurun.
Arumi tidak berdiri di sana dengan daster batik atau handuk kecil yang melilit di lehernya. Ia mengenakan setelan blazer berwarna gading yang ia jahit sendiri, rambutnya diikat rapi, menonjolkan garis wajahnya yang tegas.
Arumi sedang merapikan lipatan kain sutra organik pada manekin utamanya ketika suara langkah sepatu kulit yang mahal terdengar mendekat.
Bunyi ketukannya di lantai marmer itu sangat berirama angkuh, percaya diri, dan membawa memori pahit yang seketika membuat suhu di sekitar Arumi seolah turun drastis.
"Sutra organik? Benar-benar usaha yang ambisius untuk skala... apa ini? UMKM?"
Arumi tidak perlu menoleh untuk mengenali suara bariton yang penuh nada merendahkan itu. Itu adalah Reza.
Pria itu berdiri di sana, didampingi oleh dua asistennya yang membawa tas kerja kulit. Reza nampak begitu mencolok dengan jas pesanan penjahit Italia-nya, sangat kontras dengan lingkungan pameran pengusaha kecil menengah yang ia pandang dengan tatapan jijik.
Arumi menarik napas dalam, membiarkan oksigen menenangkan detak jantungnya yang sempat melonjak. Ia berbalik perlahan. Matanya langsung bertabrakan dengan mata Reza.
Ada jeda satu detik di mana mata Reza menyipit. Ia mengenali wajah itu, tentu saja. Namun, ia tidak melihat Arumi yang dulu ia buang di bawah guyuran hujan.
Ia melihat seorang wanita yang memancarkan aura otoritas, seorang wanita yang menatapnya tanpa ada satu pun getaran ketakutan di pelupuk matanya.
"Arumi?" Reza mendengus, tawa pendek keluar dari hidungnya. "Jadi ini yang kamu lakukan setelah pergi dari rumahku? Membuka stan di pameran kelas teri seperti ini?"
Reza melangkah mendekat, menyentuh ujung kain sutra di manekin Arumi dengan jari telunjuknya, seolah kain itu adalah sampah yang tidak sengaja ia sentuh.
"Aku dengar ada desainer baru yang mulai naik daun, tapi aku tidak menyangka itu kamu. Melihat tempat ini... ini lebih mirip penjual baju pasar kaget yang beruntung dapat stan di sini," Reza tertawa kecil, diikuti tawa sopan dari asistennya yang ingin mengambil hati sang bos. "Berapa harganya? Lima puluh ribu per potong? Atau kamu berikan diskon beli satu gratis satu untuk sesama rakyat kecil?"
Arumi tidak membalas dengan makian. Ia justru tersenyum, sebuah senyuman yang begitu tenang hingga membuat tawa Reza perlahan menghilang karena merasa tidak mendapatkan reaksi yang diinginkan.
"Selamat siang, Bapak Reza," suara Arumi terdengar jernih, cukup keras untuk didengar oleh para pengunjung di sekitar stan mereka yang mulai berbisik. "Terima kasih sudah meluangkan waktu dari jadwal sibuk Anda di PT. Tekstil Sejahtera hanya untuk mengunjungi penjual baju pasar kaget seperti saya."
Arumi melangkah selangkah ke arah Reza, memaksa pria itu untuk sedikit mendongak karena posisi Arumi yang berdiri di atas panggung stan yang sedikit lebih tinggi.
"Mengenai harga... kain yang sedang Anda sentuh itu bukan untuk pasar kaget, Pak Reza. Itu adalah sutra organik tanpa pewarna kimia beracun, sesuatu yang saya dengar mulai sulit diproduksi oleh pabrik Anda karena masalah audit lingkungan baru-baru ini," sindir Arumi telak.
Wajah Reza seketika berubah kaku. Masalah zat pewarna ilegal yang ditemukan di pabriknya adalah rahasia dapur yang ia tutup rapat-rapat.
"Jangan sombong, Arumi," desis Reza, suaranya kini merendah menjadi ancaman. "Kamu mungkin bisa menjahit satu atau dua baju cantik, tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang industri. Kamu hanya ikan kecil di kolam lumpur. Satu telepon dariku, dan aku bisa pastikan tidak ada satu pun suplayer benang di kota ini yang mau bicara padamu."
Arumi justru tertawa kecil. Tawa yang sangat elegan namun penuh penghinaan.
"Teleponlah, Pak Reza. Silakan," jawab Arumi sambil melipat tangannya di dada. "Tapi sepertinya Anda terlambat. Seluruh stok kapas organik dari PT. Inti Serat untuk setahun ke depan sudah saya kontrak secara eksklusif pagi ini. Jika Anda butuh bahan baku untuk memenuhi pesanan ekspor Anda bulan depan, sepertinya Andalah yang harus mulai belajar cara bicara yang baik pada penjual baju pasar kaget ini."
Reza terbelalak. Ia menoleh ke arah asistennya yang nampak sama terkejutnya. "Apa?! Inti Serat? Bukankah kita sedang negosiasi dengan mereka?"
"Negosiasi Anda terlalu lambat karena Anda terlalu sibuk meremehkan orang lain," Arumi melangkah turun dari panggung stannya, berdiri tepat di depan Reza. "Dunia sudah berubah, Reza. Orang tidak lagi mencari kain murah yang merusak kulit. Mereka mencari kualitas. Dan kualitas itulah yang saya miliki, dan Anda tidak."
Seorang pengunjung pameran, yang ternyata adalah kurator dari sebuah butik ternama di Singapura, mendekati mereka.
"Maaf, apakah ini desainer dari A.R Design? Saya sangat tertarik dengan koleksi sutra organik Anda. Apakah kita bisa bicara kontrak untuk distribusi di Asia Tenggara?"
Arumi menatap Reza sejenak sebelum berpaling ke arah kurator tersebut dengan senyum paling menawan. "Tentu, Nyonya. Mari kita bicara di area VIP. Di sini udaranya agak... menyesakkan karena terlalu banyak polusi kesombongan."
Reza berdiri mematung di tengah pameran itu. Ia melihat Arumi berjalan menjauh dengan kepala tegak, dikelilingi oleh orang-orang penting yang ingin menjalin kerjasama dengannya. Pria yang selama ini menganggap dirinya raja tekstil itu kini merasa seperti orang asing di wilayahnya sendiri.
Ia melihat sekeliling. Orang-orang di pameran mulai berbisik-bisik, bukan lagi meremehkan Arumi, melainkan menatap Reza dengan pandangan mencemooh. "Itu pemilik PT. Tekstil yang skandal zat kimia itu, kan? Berani-beraninya dia menghina A.R Design."
Reza mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kita pergi sekarang!" bentaknya pada asistennya.
Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia melihat Kirana. Anak itu berdiri di sudut stan, mengenakan gaun mungil yang sangat indah. Kirana menatap Reza dengan tatapan yang datar, tanpa rasa takut.
Kirana hanya mengangkat jempolnya ke arah Arumi, seolah memberi tanda bahwa ibunya adalah pahlawan paling hebat di dunia.
Di dalam mobil mewahnya, Reza tidak bisa tenang. Ia menghantam setir mobil dengan keras. "Cari tahu siapa yang membiayai Arumi! Tidak mungkin janda gelandangan bisa membeli stok Inti Serat sendirian! Pasti ada laki-laki di belakangnya!"
"Tapi Pak... laporan awal menunjukkan dia melakukan semuanya sendiri dengan sistem PO yang meledak di media sosial," lapor asistennya dengan suara gemetar.
Sementara itu, di pameran, Arumi duduk di belakang stannya setelah kurator Singapura itu pergi dengan kesepakatan awal yang fantastis. Tubuhnya terasa lelah, namun jiwanya terasa begitu ringan.
Madam Ling mendekatinya, memberikan sebotol air mineral. "Kamu melakukannya dengan sangat baik, Arumi. Kamu tidak hanya mengusirnya, kamu membuatnya merasa kecil di depan kebesarannya sendiri."
Arumi meminum airnya perlahan, menatap ke arah pintu keluar di mana Reza baru saja pergi.
"Ini baru permulaan, Nyonya," ucap Arumi. "Dia menyebut saya penjual baju pasar kaget. Maka saya akan pastikan, suatu hari nanti, satu-satunya tempat di mana dia bisa menjual sisa kain pabriknya adalah benar-benar di pasar kaget, karena butik-butik besar sudah menutup pintu untuknya."
Arumi kembali berdiri, merapikan manekinnya dengan penuh kasih. Ia telah memenangkan konfrontasi pertamanya secara tatap muka. Ia bukan lagi Arumi yang bisa diinjak.
Ia adalah Arumi sang penguasa sutra, dan badai yang ia janjikan untuk Reza kini telah sampai di depan pintu gerbang perusahaan pria itu.
"Selamat berjuang dengan bahan bakumu yang habis, Reza," bisik Arumi. "Pasar kaget ini baru saja mengakhiri masa kejayaanmu."
...----------------...
To Be Continue ....