Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Tak mau membuat Zea makin marah, Naka akhirnya pulang bersama Rizal dan Vira. Sesampainya di rumah, tujuan utamanya bukan lagi kamar untuk beristirahat, melainkan ruang kerja Papanya. Tanpa mengetuk, ia langsung menarik gagang pintu, namun ternyata ruangan itu dikunci. Ruangan itu memang sangat pribadi, bahkan ia yang notabene anaknya saja, tak bisa masuk kesana sesuka hati.
Naka meninggalkan ruang kerja Tuan Very, melangkah cepat menuju kamar beliau yang ada di lantai dua. Meski sudah berumur, Papanya tak mau pindah kamar ke lantai satu, selalu menggunakan lift sebagai akses untuk naik turun.
"Sial!" Naka menendang pintu kamar Papanya yang ternyata juga dalam kondisi terkunci. Padahal banyak sekali yang ingin ia tanyakan, tapi pria itu malah tak ada di rumah. Ia mengambil ponsel di saku celana, hendak mengirim pesan pada Anam, namun sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, menarik perhatiannya.
Ternyata itu pesan dari Anggi. Wanita itu mengajaknya bertemu untuk membahas persiapan pertunangan yang tanggalnya telah ditetapkan oleh orang tua mereka. Ia mengabaikan pesan tersebut, melangkah menuju kamarnya sambil mengetik pesan pada Anam, menanyakan keberadaan Papanya.
[ Tuan Very ada di Malaysia, control rutin ]
Sepertinya ia memang butuh sedikit bersabar untuk mendengar penjelasan dari Papanya.
Naka merebahkan tubuh di atas ranjang, menatap langit-langit kamar sambil senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Zea dan Arka. Baru saja berpisah beberapa saat, ia sudah merindukan dua orang itu. Sedang apa mereka sekarang? Saat pulang tadi, ia tak sempat berpamitan pada Arka karena anak itu sedang tidur, mungkinkah sekarang sudah bangun? Ia mengambil ponsel yang tergelak di sebelahnya, mencari kontak Zea lalu melakukan panggilan video call.
[ Ze, please angkat ]
Ia mengirim pesan setelah 2 kali panggilan tak dijawab.
Satu detik, 10 detik, hingga 1 menit ia menatap ponsel, namun masih saja pesannya pada Zea centang 2 abu, Zea belum membacanya. Ia kembali menelepon, tapi masih sama, hingga panggilan ke 5, akhirnya ia menyerah, meletakkan kembali ponsel di sebelahnya. Mungkin Zea sedang tidur, ia berusaha untuk melapangkan hatinya sendiri, meski kemungkinan besarnya, bukan tidur, melainkan tak mau menjawab panggilannya.
Baru saja memejam mata, ponsel di sampingnya berdering, dengan bersemangat, Naka mengambil benda itu, berharap Zea menelepon balik, meski kecil sekali kemungkinannya. Ternyata memang bukan Zea, melainkan dari nomor tak dikenal, namun meski tak ada namanya, ia tahu siapa yang menelepon.
"Hallo," ujar Naka setelah tersambung dengan Anggi.
"Hallo Naka. Ini aku, Anggi."
"Iya, Nggi."
"Kenapa pesanku gak dibalas, di read doang?"
Naka garuk-garuk kepala, bingung harus menjawab apa.
"Kamu pasti lagi sibuk banget ya, masih di kantor?" tanya Anggi yang dari nada bicaranya terdengar bersemangat, berbanding terbalik dengan Naka.
"Em.. iya." Ia melihat jam di ponsel, sekarang sudah pukul 6 malam.
"Maaf ya aku ganggu. Aku cuma mau ketemu buat bahas pertunangan kita. Tahu sendirikan, orang tua kita sudah menentukan tanggalnya," terdengar tawa pelan Anggi. "Bulan depan, tapi kita belum nyari baju, cincin, dan lain-lain. Kalau hari minggu besok, kamu ada waktu gak?"
"Em... " Naka membuang nafas berat sambil bangun. "Nggi, kayaknya pertunangan kita diundur dulu aja."
Tak langsung terdengar sahutan dari Anggi, sepertinya wanita itu kaget.
"Aku belum siap," lanjut Naka, memecah keheningan diantara mereka.
"Kenapa, bukannya hari itu kamu udah setuju?" Nada suara Anggi telah jauh berbeda dari yang sebelumnya.
"Kayaknya kita perlu lebih mengenal lagi deh."
"Kamu gak suka ya sama aku?"
"Bukan gitu, Nggi. Hanya saja aku masih belum siap."
"Oh... " Meski hanya kata oh, namun Naka bisa merasakan kekecewaan di nada suara Anggi. Sepertinya alasannya memang terlalu klise, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Maaf ya, Nggi. Soal orang tua, nanti biar aku yang ngomong sama mereka."
"Hem. Ya udah kalau gitu," Anggi mengakhiri panggilan setelah itu.
...----------------...
Zea lega akhirnya Naka berhenti menelepon. Bukannya tak mendengar, ia memang sengaja tak menjawab. Tekadnya sudah sangat kuat untuk tidak lagi berhubungan dengan Naka. Ia berbohong soal lusa sudah beli tiket bus malam, sebenarnya ia sudah beli tiket untuk besok siang. Dan besok pagi-pagi sekali, ia akan meninggalkan apartemen Naka. Menurutnya, kondisi Arka sudah cukup stabil, sudah bisa dibawa untuk perjalanan jauh.
Baru saja lega beberapa saat, ponselnya kembali berdering.
"Bu, siapa yang telepon dari tadi, kenapa gak diangkat?" tanya Arka yang terbangun karena suara ponsel ibunya.
"Arka," Zea menoleh, baru tahu jika Arka sudah bangun.
"Bu, kok teleponnya dibiarin?" tanya Arka sambil menguap dan mengucek mata. "Siapa yang telepon, Budhe Nisa?"
"Bukan."
"Lalu siapa, Om Andi?"
Zea menggeleng, "Orang gak dikenal, mungkin mau pesen teh, biarin aja." Ia yang duduk sambil menyandarkan punggung di kepala ranjang, merangkul bahu Arka yang duduk di sebelahnya.
"Oh... " Arka manggut-manggut. "Bu," ia sedikit mendongak, menatap ibunya. "Maaf ya, gara-gara Arka sakit, Ibu jadi gak bisa jualan."
"Kenapa minta maaf, bukan salah Arka kok," Zea mengusap kepala Arka, lalu mengecupnya. "Bagi Ibu, gak ada yang lebih penting dari kesehatan Arka. Rezeki sudah ada yang ngatur, kalau pun sekarang gak bisa jualan, pasti nanti pas jualan, bakalan rame banget, diganti rezekinya sama Allah."
"Aamiin," Arka mengusap wajah dengan telapak tangan. "Allah Maha Baik ya, Bu. Ibu gak bisa jualan, tapi Allah mendatangkan malaikat untuk kita. Malaikat yang baikkkk banget."
"Malaikat?" Zea mengernyit.
"Hem, Om Bos," Arka mengangguk. "Om Bos baikkkk banget." Sorot matanya tak bisa bohong bohong, ia kagum pada sosok Naka. "Dia udah jemput Ibu dari luar negeri, biayain rumah sakit Arka, mana kamarnya bagus banget. Ngajak kita makan enak, beliin Arka jajan yang banyak, baju, mainan. Terus, sekarang nyuruh kita menginap di rumahnya yang bagus ini. Eh, bukan rumah, kata Om Rizal, ini namanya a, a, apa ya Bu, Arka lupa."
"Apartemen, namanya apartemen."
"Ah iya, namanya apartemen," Arka tertawa cekikikan. "Om Bos baik banget ya Bu. Dia benar-benar malaikat."
Zea menoleh ke arah lain, matanya memanas, dadanya berdenyut nyeri mendengar semua pujian Arka untuk Naka.
"Bu, apa benar Om Bos pacarnya Ibu?"
"Pacar?" Zea yang kaget, kembali menolah pada Arka.
"Iya, pacar. Tante Vira kemarin nanya ke aku gini, Arka, Om Naka itu pacarnya Ibu kamu ya?" Arka menirukan gaya bicara Vira.
"Emang kamu tahu apa itu pacar?"
"Tahu."
"Hah! Tahu dari mana?"
"Dari Om Rizal. Om Rizal bilang, Tante Vira itu pacarnya. Pas aku tanya pacar itu apa, katanya orang yang disayang, calon istri. Kalau Om Bos pacarnya Ibu, berarti Ibu calon istrinya Om Bos dong. Dan artinya, Om Bos calon ayahnya Arka," menatap Zea dengan mata penuh binar kebahagiaan sekaligus harapan. "Benar ya Bu, Om Bos calon ayahnya Arka?"
Zea kembali menoleh ke arah lain, menyeka air mata yang dengan lancang turun tanpa diminta.
"Bu," Arka yang tak sabar mendengar jawaban, menarik-narik lengan ibunya.
Zea kembali menatap Arka sambil menggeleng dan menyunggingkan senyum palsu. "Bukan Nak."
"Yah, kok bukan sih," Arka tertunduk lesu. "Padahal aku udah seneng banget mau punya ayah seperti Om Bos," jemari kecil Arka mencubit-cubit bantal yang ada dalam pangkuannya.
Air mata Zea kembali mengalir melihat kekecewaan Arka. Bukan niatnya untuk mematahkan hati Arka, tapi ini semua demi kebaikan semua orang. Ia tak mau lagi bermasalah dengan Tuan Very. "Nak, besok pagi kita pulang ke Jombang ya."
"Hah, besok pagi Bu, bukannya lusa ya?" Ia mendengar sendiri obrolan ibunya dan Naka soal kepulangan mereka lusa.
"Besok."
"Diantar Om Bos?"
Zea menggeleng, "Kita naik bus. Ibu gak mau ngerepotin Om Bos terus, gak enak."
"Bu, Ibu gak suka ya sama Om Bos, padahal Om Bos kan baik? Arka sering lihat Ibu melototin Om Bos, terus Ibu juga beberapa kali marah-marah sama Om Bos. Bukannya kita harus baik sama semua orang ya Bu, apalagi sama orang yang udah baik sama kita."
"Mana ada Ibu marah-marah sama Om Bos, Ibu cuma suka becanda aja kalau sama dia." Zea tertawa untuk meyakinkan Arka, meski ia yakin kalau tawanya terlihat sangat terpaksa.
"Om Bos ada di kamar sebelah ya, Bu, aku mau ke sana ah, mau ajak Om Bos main, besok kan harus pulang ke Jombang." Arka bergeser ke sisi ranjang.
"Arka," Zea menahan lengan Arka. "Om Bos gak ada disini, udah pulang."
"Pulang?" Arka mengernyit. "Pulang kemana, ini kan rumahnya?"
"Om Bos rumahnya banyak."
"Yah.. " Arka tertunduk lesu. "Tapi besok pagi kita ketemu Om Bos dulu kan sebelum pulang?" Melihat Ibunya menggeleng, ia makin sedih. "Kenapa enggak, Bu, apa kita gak pamitan?"
"Tadi Ibu udah pamitan."
"Tapi kan Arka belum, Bu," mata Arka tiba-tiba berkaca-kaca. "Kita ketemu Om Bos dulu ya, Bu," menarik tangan ibunya. "Arka pengen ketemu Om Bos. Arka mau bilang makasih dan bilang kalau Arka sayang sama Om Bos."
Melihat air mata Arka meleleh, Zea ikut menitikkan air mata. Mungkin inilah yang dikatakan kalau darah lebih kental dari pada air. Ada ikatan batin antara Arka dan Naka meski anak itu tidak tahu kalau Naka adalah ayah kandungnya.
"Kita ketemu Om Bos dulu ya, Bu," rengek Arka sambil menangis.
Naka, buat cara jitu ya buat naklukkan hati papamu, manfaatkan Arka 🤭
keputusan yg bener zee...
jangan mau terus di rendahkn oleh bpknya naka itu.
pastikn naka mau berusaha memperjuangkn kalian....
Ayo Naka berusaha semangat💪💪💪