NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembilan

Cahaya keemasan yang memancar dari petak sawah di lereng bukit kecil itu bukan lagi sekadar pantulan sinar matahari pagi. Sejak fajar menyingsing, tunas-tunas Padi Surgawi telah menyembul dari permukaan tanah dengan kecepatan yang menantang nalar. Setiap helai daunnya yang masih muda mengeluarkan pendaran aura murni yang begitu pekat hingga membentuk kabut tipis berwarna pelangi di atas permukaan air. Di Desa Jinan, pagi ini terasa seperti berada di dalam perut sebuah relik abadi yang agung.

Zhou Ji Ran berdiri di tepian pematang, mengenakan celana rami yang digulung hingga lutut dan sebuah handuk yang melilit lehernya. Ia tidak membawa pedang pusaka atau tongkat sihir; di tangannya hanya ada sebuah ember kayu tua yang berisi campuran air sumur dan sedikit sisa teh pahit semalam. Baginya, menyiram tunas-tunas ini bukan sekadar tugas, melainkan bentuk komunikasi antara dirinya dengan kehidupan yang ia ciptakan kembali dari kepunahan.

"Tuan, apakah pendaran cahaya itu tidak akan mengundang perhatian dari orang-orang di luar batas desa? Pendaran ini bahkan bisa terlihat dari jarak seratus mil jika malam tiba," tanya Lin Xiaoqi yang berdiri di sampingnya, membawa sebuah bakul berisi pupuk alami yang sudah diolah.

Zhou Ji Ran menoleh sejenak, lalu kembali menatap padi-padinya. "Cahaya ini memang cantik, Xiaoqi. Tapi jangan khawatir, aku sudah menginstruksikan naga-naga perak itu untuk menghembuskan napas kabut mereka di sekeliling bukit. Dari luar, tempat ini hanya akan tampak seperti lembah yang tertutup mendung tebal. Lagi pula, siapa yang akan percaya bahwa ada seseorang yang menanam Padi Surgawi di pinggiran Desa Jinan yang terpencil?"

Di kejauhan, suara teriakan Pangeran Long Wei terdengar menyedihkan. Ia sedang berjuang memberikan "pijatan sayap" pada salah satu naga perak yang tampaknya terlalu menikmati perannya sebagai penarik kincir air. Naga itu sesekali mengepakkan sayapnya, mengirimkan percikan air dingin yang langsung membasahi seluruh tubuh sang pangeran.

"Long Wei! Tekan lebih kuat di bagian sendi sayapnya! Jika aliran darah naga itu tidak lancar, kincir air akan melambat, dan tekanan air ke ladang padi akan berkurang!" seru Zhou Ji Ran tanpa menoleh.

"Baik, Tuan..." jawab Long Wei dengan suara parau. Di balik rasa lelahnya, pangeran itu terkejut menyadari bahwa setiap kali ia menekan sendi naga tersebut, energi spiritual di dalam tubuhnya sendiri ikut bergetar, memperbaiki meridiannya yang sebelumnya kasar menjadi jauh lebih halus dan kokoh. Ini adalah bentuk kultivasi yang tidak pernah ia temukan di dalam kitab-kitab mewah istananya.

Sementara itu, di depan gudang yang kini berlapis emas murni, Feng Mian tampak seperti orang yang sedang berada di ambang kegilaan. Ia memegang sempoa emas dengan jari-jari yang gemetar, menghitung setiap keping emas yang digunakan untuk melapisi dinding.

"Satu juta... dua juta... sepuluh juta batu roh... oh dewa kekayaan, ini adalah pemborosan paling suci yang pernah saya saksikan!" gumam Feng Mian. "Tapi... tekstur gudang ini... setelah dilapisi emas dan diresapi aura Tuan Zhou, ia menjadi sebuah tempat penyimpanan yang bahkan waktu pun tidak bisa menembusnya. Padi di dalamnya tidak akan pernah membusuk selama seribu tahun!"

Jenderal Han, yang kini tampak jauh lebih kekar dan tegap karena terus-menerus memindahkan batu dan menggiling gandum, berjalan mendekati Feng Mian. Ia memikul dua balok kayu hitam yang sangat besar di bahunya seolah-olah itu hanya sepasang tusuk gigi.

"Berhentilah menangisi emas itu, Feng Mian. Di sini, emas hanyalah cat dinding. Fokuslah pada tugasmu. Tuan Zhou ingin laporan inventaris pupuk selesai sebelum makan siang. Jika kau telat, kau tahu sendiri siapa yang akan menggantikan Elder Mo sebagai orang sawah di baris kedua," ucap Jenderal Han dengan nada memperingatkan.

Feng Mian seketika menegakkan punggungnya. Ia melirik ke arah ladang melon pahit di mana Elder Mo masih berdiri kaku, tertanam di tanah dengan melon-melon yang kini mulai tumbuh di sekitar telinganya. "Saya mengerti! Laporan akan siap dalam tiga puluh menit!"

Di teras rumah, Gu Lao duduk dengan tenang bersama Xin Yan yang sedang membersihkan busur besarnya. Namun, busur itu kini tidak digunakan untuk menembakkan panah cahaya, melainkan digunakan sebagai kerangka untuk menjemur kain sutra yang baru saja dicuci oleh Ye Hua.

"Ji Ran, tekanan di atmosfer mulai berubah," ucap Gu Lao tiba-tiba, suaranya rendah namun mengandung peringatan yang tajam. "Bukan dari kerajaan fana, dan bukan juga dari kelompok pedagang. Sesuatu yang 'dingin' sedang mendekat. Mereka tidak memiliki detak jantung, tidak memiliki aroma jiwa. Ini adalah musuh yang kau sebut sebagai kegagalan masa lalu."

Zhou Ji Ran menghentikan gerakannya menyiram padi. Ia berdiri tegak, menatap ke arah utara di mana awan-awan tampak mulai membeku secara tidak wajar. Langit yang tadinya biru jernih perlahan berubah menjadi abu-abu pucat, seperti warna logam yang berkarat.

"Mereka datang lebih cepat dari yang kukira," gumam Zhou Ji Ran. Ia menoleh ke arah Ye Hua yang sedang mengasah pedangnya di bawah pohon dedalu. "Ye Hua, siapkan pedangmu. Tapi ingat, jangan gunakan kekuatan penuh. Aku tidak ingin tanah ladang ini tercemar oleh debu logam jahat mereka."

Ye Hua berdiri, auranya seketika berubah menjadi tajam seperti silet. "Siap, Tuan. Siapa sebenarnya mereka?"

"Mereka adalah 'Program Kegagalan'. Makhluk-makhluk mekanis yang tercipta dari sisa-sisa perintah sistem yang korup. Mereka tidak memiliki emosi, hanya satu logika: menghapus segala sesuatu yang dianggap sebagai 'anomali'. Dan di multisemesta ini, aku adalah anomali terbesar bagi mereka," jelas Zhou Ji Ran.

Tiba-tiba, suara dentingan logam yang nyaring terdengar dari kejauhan. Dari balik kabut buatan naga perak, muncul selusin sosok yang berjalan dengan kaku. Mereka mengenakan jubah abu-abu yang menutupi seluruh tubuh, namun di balik jubah itu, terlihat kilatan logam hitam dan mata yang bersinar merah konstan. Mereka tidak berjalan di atas tanah, melainkan melayang beberapa inci di atas permukaan, meninggalkan jejak es di mana pun mereka lewat.

Ini adalah Faksi Bayangan—pasukan pembersihan yang pernah menjadi tangan kanan dari sistem sebelum dihancurkan. Mereka tidak mengenal rasa takut, tidak mengenal negosiasi.

Pemimpin kelompok itu, sebuah entitas yang dikenal sebagai 'Unit 01', mengangkat tangannya yang berbentuk cakar logam. Suara mekanis yang datar keluar dari balik topengnya. "Target terdeteksi: Zhou Ji Ran. Status: Mantan Pemilik Sistem. Perintah: Penghapusan total. Keberadaan anomali tidak diizinkan dalam struktur realitas yang stabil."

Long Wei dan Xin Yan segera melompat ke garis depan, menghalangi jalan menuju gubuk. Naga-naga perak di sungai mulai menggeram rendah, memancarkan suhu panas yang mencoba melawan hawa dingin dari para pendatang tersebut.

"Hapus? Kau ingin menghapus tuanku?" Xin Yan menarik busurnya, memasang panah yang kini memancarkan cahaya matahari yang membara. "Coba saja tembus panahku ini!"

Unit 01 tidak bereaksi secara emosional. Ia hanya memindai Xin Yan dengan mata merahnya. "Ancaman terdeteksi. Kekuatan: Tahap Soul Transformation. Kesimpulan: Tidak relevan. Lanjutkan proses penghapusan."

Tanpa peringatan, Unit 01 melesat maju dengan kecepatan yang mengabaikan hukum inersia. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Xin Yan. Namun, sebelum cakarnya menyentuh sang panglima, sebuah cangkul tua menghalangi jalannya.

Zhou Ji Ran berdiri di sana, menahan cakar logam yang bisa membelah gunung itu hanya dengan bagian kayu dari cangkulnya. Tidak ada ledakan energi, tidak ada kawah yang terbentuk di bawah kaki mereka. Semuanya tampak seperti interaksi fisik biasa, namun Unit 01 tidak bisa bergerak satu milimeter pun ke depan.

"Dengar, Mesin Gagal," ucap Zhou Ji Ran dengan nada dingin. "Aku sudah pensiun. Aku sudah menghancurkan sistem kalian dan aku sudah memberikan kebebasan pada setiap bit data di multisemesta. Jika kalian masih ingin menjalankan perintah dari tuan yang sudah mati, itu urusan kalian. Tapi kalian datang di saat aku sedang menanam padi. Dan itu... adalah kesalahan logika terbesar kalian."

Unit 01 mencoba meningkatkan tekanan energinya. "Kesalahan logika terdeteksi. Tingkatkan output energi hingga maksimal. Protokol Kehancuran Dimensi diaktifkan."

Tubuh logam Unit 01 mulai membara dengan cahaya ungu tua, memancarkan gelombang destruktif yang mulai meretakkan ruang di sekitarnya. Lin Xiaoqi dan yang lainnya merasakan sesak di dada mereka, seolah-olah keberadaan mereka sedang ditarik keluar dari realitas.

Namun, Zhou Ji Ran hanya menghela napas bosan. "Kalian selalu saja suka melakukan 'overclocking' pada tubuh kalian. Tidakkah kalian tahu itu merusak komponen internal?"

Zhou Ji Ran melakukan gerakan sederhana. Ia melepaskan satu tangan dari cangkulnya dan menjentikkan jarinya tepat di dahi logam Unit 01.

*Ting!*

Suara itu terdengar seperti suara sendok yang mengetuk panci. Namun bagi Unit 01, jentikan itu adalah sebuah perintah otoritas tertinggi yang tidak bisa dibantah. Seluruh cahaya ungu di tubuhnya seketika padam. Mata merahnya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya meredup menjadi hitam pekat. Seluruh sistem internalnya baru saja di-reset secara paksa oleh kehendak Zhou Ji Ran.

Unit 01 jatuh berlutut, suaranya kini terdengar pecah dan tidak stabil. "Otoritas... terdeteksi... Pemilik Utama... masih aktif...? Logika... runtuh..."

Sosok-sosok berjubah abu-abu lainnya berhenti bergerak seketika. Mereka berdiri diam seperti patung logam yang kehilangan daya.

"Aku bukan lagi pemilik kalian. Tapi aku masih tahu di mana letak tombol 'off' kalian," ucap Zhou Ji Ran. Ia menoleh ke arah Feng Mian yang masih memegang sempoanya. "Feng Mian! Kemari!"

Feng Mian berlari dengan perut yang bergoyang. "Ya, Tuan! Apa perintah Anda?"

"Mesin-mesin ini... mereka terbuat dari Logam Hitam Abadi dan memiliki inti energi yang sangat stabil. Aku butuh sistem pemanas untuk gudang emas kita agar suhu di dalamnya tetap konstan untuk Padi Surgawi. Bongkar jubah mereka, pasang mereka di setiap sudut gudang, dan gunakan inti energi mereka sebagai pemanas ruangan. Mereka akan menjadi baterai abadi untuk pertanian kita," perintah Zhou Ji Ran santai.

Pangeran Long Wei dan Jenderal Han saling berpandangan. Mereka melihat selusin mesin pembunuh yang ditakuti oleh dunia atas kini akan dijadikan sebagai penghangat ruangan gudang padi.

"Tuan Zhou benar-benar tidak menyia-nyiakan apa pun," bisik Jenderal Han.

"Setidaknya mereka tidak perlu makan. Itu menghemat anggaran logistik kita," sahut Feng Mian yang kini sudah mulai berpikir sebagai seorang manajer pertanian yang licik.

Ye Hua mendekati Zhou Ji Ran, menyimpan kembali pedangnya. "Tuan, apakah akan ada lebih banyak dari mereka? Unit 01 tadi menyebutkan tentang 'Struktur Realitas'. Sepertinya mereka tidak bekerja sendirian."

Zhou Ji Ran kembali menatap langit yang perlahan mulai cerah kembali. "Dunia ini luas, Ye Hua. Ada banyak sisa-sisa masa lalu yang menolak untuk mati. Tapi selama mereka berguna untuk ladangku, biarkan mereka datang. Aku butuh banyak komponen untuk membangun sistem pertanian otomatis yang benar-benar mandiri."

Ia kemudian menepuk pundak Ye Hua. "Sekarang, kembali bekerja. Pakaian-pakaian itu sudah hampir kering di sayap rajawali Xin Yan. Bantu dia melipatnya. Aku ingin semuanya rapi sebelum makan siang."

"Baik, Tuan," jawab Ye Hua.

Pagi itu berlanjut dengan rutinitas yang aneh di Desa Jinan. Pangeran Long Wei kembali menyikat naga, Jenderal Han memindahkan balok kayu untuk konstruksi tambahan gudang, dan Feng Mian mulai menginstruksikan para pengawal emas untuk mengangkut tubuh-tubuh mesin 'Program Kegagalan' ke dalam gudang emas.

Gu Lao tetap duduk di teras, memandangi Zhou Ji Ran yang kini kembali ke pematang sawahnya. "Ji Ran, kau tahu bahwa dengan menggunakan mereka sebagai pemanas, kau secara tidak langsung mengirimkan sinyal ke seluruh multisemesta bahwa kau masih di sini. Mereka akan tahu lokasi Desa Jinan."

"Baguslah," jawab Zhou Ji Ran tanpa menoleh. "Aku sedang merencanakan untuk menanam jagung perak di lereng bukit sebelah barat. Aku butuh lebih banyak orang untuk mencangkul tanah yang keras di sana. Jika 'dewa-dewa kuno' itu ingin datang dan menantangku, pastikan mereka membawa alat pertanian masing-masing. Aku tidak ingin meminjamkan cangkulku lagi."

Gu Lao tertawa hingga terbatuk-batuk. "Kau benar-benar keterlaluan. Menjadikan dewa sebagai petani..."

"Dewa yang tidak bisa menanam makanannya sendiri tidak layak disebut dewa, Gu Lao. Mereka hanya parasit di atas keringat makhluk fana. Di sini, mereka akan belajar arti sesungguhnya dari penciptaan," ucap Zhou Ji Ran tegas.

Siang hari tiba, dan aroma sup melon pahit yang dimasak Lin Xiaoqi mulai menyebar. Di ladang melon, Elder Mo tampak sudah pasrah. Seekor kupu-kupu hinggap di hidungnya, dan ia bahkan tidak mencoba untuk mengusirnya. Ia telah mencapai tingkat ketenangan yang tidak pernah ia dapatkan selama ratusan tahun meditasi di dalam gua sekte. Ternyata, menjadi penyangga melon pahit memiliki kedamaian tersendiri.

Makan siang dilakukan di bawah pohon dedalu yang rindang. Meja kayu panjang dipenuhi dengan hasil bumi Desa Jinan. Meskipun mereka semua adalah orang-orang hebat di dunia luar, di meja ini, mereka hanya berbagi tawa dan keluhan tentang punggung yang pegal atau tangan yang lecet.

"Tuan Zhou, rasa sayuran ini... kenapa bisa begitu berbeda?" tanya Xin Yan sambil menyantap tumis kangkung. "Saya merasa energi spiritual di dalam tubuh saya menjadi sangat murni setelah memakannya."

"Itu karena mereka ditanam dengan kasih sayang dan disiram dengan air yang dialiri oleh napas naga," jawab Zhou Ji Ran. "Sayuran di luar sana ditanam dengan ambisi dan keserakahahan, itulah sebabnya rasanya sering kali pahit atau hambar. Di sini, setiap sel tanaman ini tahu bahwa mereka dihargai."

Ye Hua mengangguk setuju. "Saya merasa pemahaman pedang saya menjadi lebih tajam bukan karena berlatih teknik, tapi karena melihat bagaimana tanaman-tanaman ini tumbuh. Mereka tidak terburu-buru, namun mereka tidak pernah berhenti. Itu adalah Dao yang sesungguhnya."

Zhou Ji Ran tersenyum tipis. "Mungkin kau akan menjadi orang pertama di dunia ini yang mencapai tahap 'Pedang Petani'. Teknik yang bisa menumbuhkan sekaligus memotong dalam satu ayunan."

Tiba-tiba, dari arah gerbang desa yang tidak terlihat, terdengar suara gemerincing lonceng yang sangat merdu. Seorang wanita cantik mengenakan jubah putih bersih dengan bordiran bunga teratai perak berjalan masuk. Ia membawa sebuah kecapi di tangannya dan memiliki aura yang begitu suci hingga setiap langkahnya menumbuhkan bunga-bunga kecil di atas tanah.

Ia berhenti di depan gubuk Zhou Ji Ran, menatap ke arah orang-orang yang sedang makan siang dengan tatapan penuh selidik. Namanya adalah Su Ruo, Sang Perawan Suci dari Kuil Cahaya Abadi, faksi yang dianggap sebagai penjaga moralitas di seluruh benua.

"Saya mencium adanya aura jahat dari Faksi Bayangan di tempat ini. Dan saya juga merasakan adanya penahanan paksa terhadap para ahli dari berbagai sekte," ucap Su Ruo dengan suara yang terdengar seperti melodi surgawi. "Siapa pemilik tempat ini? Saya menuntut penjelasan atas tindakan sesat ini."

Zhou Ji Ran meletakkan sumpitnya, menyeka mulutnya dengan handuk. "Lagi? Apakah kalian tidak punya jadwal rapat koordinasi? Kenapa kalian datang satu per satu dan selalu menuntut penjelasan?"

Su Ruo menatap Zhou Ji Ran dengan dingin. "Anda? Anda adalah orang yang dituduh melakukan penculikan terhadap Pangeran Long Wei dan Jenderal Han? Dan apa itu... Padi Surgawi? Bagaimana mungkin tanaman suci itu berada di tangan seorang petani jelata?"

Zhou Ji Ran berdiri dan berjalan mendekati Su Ruo. "Nona dengan kecapi, jika kau ingin penjelasan, duduklah dan makan siang dulu. Sup melon pahitnya masih hangat. Jika kau lebih suka berbicara tentang moralitas dan kesesatan dengan perut kosong, aku khawatir kau hanya akan bicara omong kosong."

Su Ruo mengangkat kecapinya, bersiap memetik senar yang bisa menghancurkan pikiran manusia. "Jangan mencoba menggoda saya dengan makanan fana! Kuil Cahaya Abadi akan membawa keadilan ke tempat ini!"

"Keadilan?" Zhou Ji Ran terkekeh. "Keadilan adalah ketika semua orang memiliki cukup makanan di meja mereka dan tidak ada yang mengganggu tidur siang orang lain. Kau baru saja melanggar kedua prinsip keadilan itu. Jadi, kau punya dua pilihan. Pertama, makan sup ini dan bantu Xiaoqi mencuci piring. Kedua, kau bisa bergabung dengan Elder Mo sebagai penyangga tanaman bunga teratai di kolam belakang. Aku butuh aura sucimu untuk membuat teratai itu mekar sempurna."

Su Ruo tertegun. Tidak ada seorang pun yang pernah berani berbicara padanya seperti itu. Ia menatap ke sekeliling dan melihat Ye Hua, Sang Dewi Pedang, yang kini sedang asyik mengunyah jagung bakar.

"Kakak Senior Ye... Anda... Anda juga ada di sini? Dan Anda tidak membantu saya menegakkan keadilan?" tanya Su Ruo tidak percaya.

Ye Hua menelan jagungnya dan menatap Su Ruo dengan kasihan. "Ruo, makanlah supnya. Rasanya enak sekali. Dan percayalah, mencuci piring jauh lebih menyenangkan daripada mencoba melawan Tuan Zhou. Setidaknya di sini kau akan belajar apa itu arti kerja keras yang sesungguhnya."

Su Ruo merasa dunianya runtuh. Para pahlawan benua, pangeran, jenderal, dan panglima perang semuanya berkumpul di sini untuk... bertani?

"Aku... aku tidak akan menyerah!" teriak Su Ruo. Ia memetik senar kecapinya, mengeluarkan gelombang sonik putih yang bisa meruntuhkan benteng terkuat.

Zhou Ji Ran tidak bergerak. Ia hanya mengibaskan tangannya seolah-olah sedang mengusir lalat yang mengganggu. Gelombang sonik itu seketika berbalik arah, membungkus tubuh Su Ruo seperti kepompong cahaya, dan menjatuhkannya tepat di kursi kosong di sebelah Gu Lao.

"Makanlah, Nona Suci. Dan setelah ini, kau akan bertanggung jawab untuk memainkan musik kecapimu di ladang padi setiap sore. Aku dengar musik yang indah bisa mempercepat pertumbuhan bulir padi surgawi. Itulah tugas sucimu yang baru," ucap Zhou Ji Ran sambil kembali ke kursinya.

Su Ruo menatap mangkuk sup di depannya dengan pandangan kosong. Ia mencoba menggerakkan energinya, namun ia menyadari bahwa seluruh kekuatannya kini telah disegel oleh 'Hukum Kedamaian' yang ada di gubuk ini. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sendok dan mencicipi sup melon pahit itu.

Matanya seketika membelalak. Rasa pahit yang diikuti oleh rasa manis yang mendalam meledak di lidahnya, membawa sensasi ketenangan yang belum pernah ia rasakan bahkan setelah bermeditasi di Kuil Cahaya selama puluhan tahun.

"Ini... ini bukan sup biasa..." bisik Su Ruo.

"Tentu saja bukan. Itu dibuat dengan air yang membawa doa-doa dari tanah yang subur," sahut Zhou Ji Ran. "Selamat datang di tim pertanian Desa Jinan, Su Ruo. Aku harap kau pandai menggubah lagu tentang pertumbuhan jagung."

Malam itu, di Desa Jinan, suara kecapi yang sangat indah mulai terdengar dari arah lereng bukit. Melodi itu membawa ketenangan bagi siapa saja yang mendengarnya, membuat padi-padi surgawi bergoyang pelan mengikuti irama. Sembilan naga perak mendengkur di tepi sungai, dan rajawali emas beristirahat dengan tenang di samping gudang emas yang kini memancarkan kehangatan konstan dari mesin-mesin Program Kegagalan yang sudah dijinakkan.

Zhou Ji Ran berdiri di terasnya, memandang ke arah ladangnya yang kini dipenuhi oleh orang-orang paling berpengaruh di dunia, semuanya bekerja sama untuk satu tujuan sederhana: menghasilkan panen terbaik.

"Mungkin ini adalah misi terakhir yang sesungguhnya," gumam Zhou Ji Ran pada dirinya sendiri. "Misi tanpa sistem, tanpa hadiah poin, hanya kepuasan melihat dunia tumbuh dengan caranya sendiri."

Ia menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang, menyadari bahwa perjalanan ini masih sangat panjang. Ada banyak musuh yang akan datang, banyak tantangan yang akan menguji kesabarannya. Namun selama ia memiliki cangkulnya, asisten-asistennya yang unik, dan semangkuk sup melon pahit, ia yakin bahwa tidak ada satu pun kekuatan di multisemesta ini yang bisa menghentikannya menikmati masa pensiunnya yang luar biasa.

"Besok kita harus mulai menanam jagung perak," ucapnya pelan. "Aku rasa Su Ruo akan sangat cantik jika mengenakan topi caping sambil memanen jagung."

Dan di kegelapan malam, sebuah tawa kecil terdengar dari arah gubuk, sebuah tawa yang menandakan bahwa Sang Mantan Pemilik Sistem telah benar-benar menemukan rumahnya. Kehidupan di Desa Jinan tidak pernah sepi, dan bagi Zhou Ji Ran, itulah tepatnya keindahan dari hidup yang sesungguhnya. Tanpa skenario yang kaku, tanpa batas yang ditentukan oleh kode program, hanya dia dan takdir yang ia tulis sendiri dengan setiap ayunan cangkul di atas tanah yang ia cintai.

Dunia luar mungkin akan terus gempar, kerajaan-kerajaan mungkin akan runtuh, namun di pinggiran desa ini, waktu seolah berhenti untuk memberi penghormatan kepada pria yang hanya ingin bertani dalam damai. Perjalanan ini masih jauh dari kata berakhir, dan setiap harinya adalah sebuah keajaiban baru yang menanti untuk dipetik.

"Tuan Zhou, piringnya sudah dicuci semua!" teriak Su Ruo dengan wajah yang kini lebih cerah.

"Bagus! Sekarang pergi ke ladang padi dan mainkan satu lagu sebelum tidur! Pastikan temponya tidak terlalu cepat, padi-padi itu butuh tidur nyenyak!"

"Baik, Tuan!"

Ya, kehidupan ini memang benar-benar indah. Tanpa sistem pun, segalanya berjalan dengan sempurna di bawah bimbingan seorang petani yang pernah menguasai segalanya. Dan perjalanan ini akan terus berlanjut, satu benih pada satu waktu, menciptakan legenda baru yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh sejarah mana pun.

1
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!