Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GRAND MARIAGE: SATU AKAD, EMPAT SUAMI
Pagi ini, langit Paris berwarna biru pucat, seolah-olah semesta pun sedang menahan napas menyaksikan kegilaan yang akan terjadi. Alya berdiri di depan cermin raksasa di ruang utama apartemen rahasia mereka yang baru. Jika kemarin dia terlihat seperti gembel habis tawuran, hari ini dia terlihat seperti dewi yang turun dari khayangan—versi yang dipaksa menikah dengan empat iblis sekaligus.
Dia mengenakan gaun pengantin custom-made hasil kerja keras tim penjahit yang lembur semalaman. Gaun itu berwarna putih gading dengan detail renda Prancis yang sangat halus, menutupi punggungnya dengan siluet yang elegan namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang proporsional. Namun, bagi Alya, gaun ini terasa seperti baju zirah yang sangat berat.
"Mbak... ini beneran nggak bisa dikendorin dikit? Napas saya tertahan di tenggorokan nih. Kalau saya pingsan pas bilang 'I do', jangan salahin saya ya," keluh Alya kepada asisten rumah tangga yang sedang mengancingkan bagian belakang gaunnya.
" Vous êtes magnifique, Madame, " (Anda sangat cantik, Nyonya) sahut asisten itu tanpa mengerti keluhan Alya.
Alya mendesah. "Iya, cantik sih cantik. Tapi suaminya empat, Mbak! Di Jakarta, punya satu aja udah pusing cicilan motor, ini empat! Mana mukanya sama semua lagi. Gue takut ketuker pas mau minta jatah uang jajan."
Pintu kamar terbuka. Lucien masuk dengan tuksedo hitam yang sangat formal. Dia tampak luar biasa tampan, jenis ketampanan yang biasanya hanya ada di sampul majalah Vogue edisi khusus pria berbahaya. Dia berhenti sejenak, menatap Alya dari pantulan cermin. Untuk pertama kalinya, mata biru yang biasanya sedingin es itu tampak sedikit melunak.
"Kau sudah siap?" tanya Lucien singkat.
"Siap nggak siap, Bang. Masalahnya, ini ilegal nggak sih di sini? Saya nggak mau ya habis kawin malah masuk penjara karena kasus poliandri massal," ujar Alya sambil mencoba memutar tubuhnya yang kaku.
Lucien mendekat, berdiri tepat di belakang Alya. Dia meletakkan tangannya di bahu gadis itu. "Di dunia bawah, hukum kami adalah hukum yang berlaku. Pernikahan ini akan disahkan oleh pendeta pribadi keluarga De Calvi. Secara administratif di luar sana, kau akan terdaftar sebagai istriku. Namun secara sumpah darah di dalam organisasi, kau adalah milik kami berempat."
"Ribet ya, Bang. Kayak beli paket bundling internet, beli satu dapet bonus tiga kuota malam," gumam Alya.
Upacara pernikahan tersebut tidak dilakukan di gereja megah seperti Katedral Notre Dame, melainkan di sebuah kapel pribadi tua yang terletak jauh di dalam hutan Fontainebleau. Tempat itu sunyi, mistis, dan dikelilingi oleh ratusan penjaga bersenjata lengkap yang bersembunyi di balik pohon-pohon ek tua.
Alya berjalan menyusuri lorong kapel yang diterangi oleh ribuan lilin putih. Di ujung altar, empat pria sudah berdiri menunggunya. Lucien di tengah, Marc di sebelah kanannya, Julien di sebelah kirinya, dan Etienne di samping Marc. Mereka berempat berdiri tegak, membentuk barisan ketampanan yang bisa membuat wanita mana pun terkena serangan jantung mendadak.
Julien menatap Alya dengan tatapan tajam namun protektif. Marc tersenyum tenang, seolah semua ini adalah bagian dari rencana besar yang berjalan sempurna. Sementara Etienne mengedipkan mata dengan nakal, membuat Alya hampir saja tersandung gaunnya sendiri.
"Jangan jatuh lagi, Ma Chérie. Tidak ada lumpur di sini untuk menahanmu," bisik Etienne saat Alya sampai di depan mereka.
Alya menjulurkan lidahnya sedikit. "Diem lu, Bang Imut. Fokus tuh sama pendetanya."
Pendeta tua dengan jubah hitam mulai membacakan sumpah dalam bahasa Latin yang terdengar sangat sakral dan berat. Alya tidak mengerti sepatah kata pun, tapi dia bisa merasakan aura di ruangan itu berubah menjadi sangat serius.
" Lucien, Marc, Julien, Etienne de Calvi... apakah kalian bersumpah untuk menjaga, melindungi, dan menghargai wanita ini sebagai permaisuri kalian, membagi takhta dan nyawa kalian dengannya sampai maut menjemput? " tanya sang pendeta.
" Nous le jurons, " (Kami bersumpah) jawab mereka berempat serentak. Suara mereka bergema di langit-langit kapel, menciptakan harmoni yang mengerikan sekaligus indah.
Lalu giliran Alya. Pendeta itu menatapnya. " Alya Putri... apakah kau bersumpah untuk setia kepada klan De Calvi, menjadi jantung dari kembar empat ini, dan menjaga rahasia darah mereka selamanya? "
Marc membisikkan terjemahannya di telinga Alya. Alya menarik napas panjang. Dia menatap mata mereka satu per satu. Ada ketulusan yang aneh di sana, sebuah permohonan terselubung untuk diselamatkan dari kesepian mereka sendiri.
"Iya, saya bersumpah. Tapi dengan syarat mereka nggak boleh pelit sama saya," jawab Alya dengan suara lantang.
Pendeta itu tertegun sejenak, menatap Lucien seolah bertanya 'apakah ini sah?'. Lucien hanya mengangguk pelan.
" Maka dengan ini, kalian sah menjadi satu dalam sumpah darah. Un pour tous, tous pour un... dan satu untuk dia. "
Acara dilanjutkan dengan prosesi penyematan cincin. Bukan satu cincin, melainkan empat cincin berbeda yang harus dipakai Alya. Satu di jari manis kiri (dari Lucien), satu di jari manis kanan (dari Marc), dan dua lainnya di jari tengah karena jari Alya sudah tidak muat lagi.
"Bang, ini kalau saya pake semua, tangan saya berat sebelah. Kayak pake batu akik di pasar loak," bisik Alya saat Julien memasangkan cincin bertahta zamrud hijau ke jarinya.
Julien hanya menekan jemari Alya dengan lembut. "Simbol perlindungan kami. Jangan dilepas."
Setelah upacara selesai, "resepsi" dilakukan di sebuah vila tersembunyi yang menghadap ke lembah. Tidak ada pesta dansa yang meriah dengan ratusan tamu. Hanya ada mereka berlima dan beberapa petinggi organisasi yang paling terpercaya.
Meja makan dipenuhi dengan makanan mewah khas Prancis. Ada foie gras, escargot, dan berbagai macam wine tua. Alya menatap makanan-makanan itu dengan tatapan kosong.
"Bang Marc... jujur ya, ini siput beneran dimakan? Di kampung saya, ginian mah cuma buat mainan anak-anak di sawah," ujar Alya sambil menunjuk escargot di piringnya.
"Rasanya sangat enak, Alya. Cobalah," ajak Marc.
Alya mencoba satu, lalu langsung meminum air putih sebanyak-banyaknya. "Enggak, Bang. Teksturnya kayak karet ban dalem. Saya mending makan kerupuk kaleng."
Etienne tertawa. "Besok aku akan menyuruh anak buahku mencari 'kerupuk' itu di seluruh penjuru Paris. Aku tidak mau istriku mogok makan di hari pernikahan."
Suasana mulai mencair seiring berjalannya malam. Namun, di tengah obrolan, Lucien berdiri dan mengangkat gelas wine-nya.
"Malam ini, pernikahan ini bukan hanya soal persatuan keluarga. Ini adalah pesan bagi klan Valois dan siapa pun yang mencoba mengganggu stabilitas Paris. Alya adalah nyawa kami. Siapa pun yang menyentuhnya, akan berhadapan dengan murka De Calvi."
Para petinggi mafia di ruangan itu berdiri dan mengangkat gelas mereka. " Pour la Reine! " (Untuk Sang Ratu!)
Alya merasa sedikit merinding. Dia yang biasanya hanya menjadi rakyat jelata yang antre bantuan sosial di kantor lurah, sekarang dipuja-puji oleh sekumpulan pria paling berbahaya di Eropa. Perasaan itu aneh—antara bangga, takut, dan merasa ingin buang air kecil karena gugup.
Malam semakin larut. Saatnya kembali ke apartemen. Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Alya duduk di tengah, diapit oleh Lucien dan Julien. Dia merasa sangat lelah. Kepalanya perlahan jatuh ke bahu Julien. Sang sniper itu sempat menegang, tapi kemudian dia membiarkan Alya bersandar, bahkan lengannya perlahan melingkar di bahu Alya agar gadis itu tidak terguncang saat mobil melewati jalanan berbatu.
"Dia tertidur," bisik Marc dari kursi depan.
"Dia adalah kekacauan paling indah yang pernah masuk ke rumah ini," gumam Etienne sambil menatap ke luar jendela.
Lucien menatap wajah tidur Alya. "Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya besok. Valois tidak akan tinggal diam setelah pengumuman ini."
"Kita akan menjaganya, Lucien. Seperti biasa," sahut Julien pendek.
Alya mengigau sedikit dalam tidurnya. "Bang... nasinya... jangan lupa pake sambal..."
Keempat pria itu terdiam, lalu secara hampir bersamaan, mereka tersenyum tipis. Mereka telah resmi mengikatkan takdir mereka pada seorang gadis Indonesia yang lebih peduli pada sambal daripada perang mafia. Dan entah kenapa, bagi mereka berempat, sumpah darah tadi terasa jauh lebih berarti daripada semua kekayaan yang mereka miliki.
Sampai di apartemen, Lucien menggendong Alya menuju kamar utama. Dia meletakkan gadis itu dengan sangat hati-hati di atas kasur berseprai sutra merah. Dia melepas sepatu hak tinggi Alya yang menyiksa itu.
"Selamat tidur, Nyonya De Calvi," bisik Lucien.
Dia keluar dari kamar, bergabung dengan ketiga saudaranya di ruang tengah. Mereka duduk melingkar, membuka botol whisky terbaik mereka.
"Jadi, siapa yang akan menjaganya malam ini?" tanya Etienne dengan seringai nakal.
"Kita semua," jawab Lucien tegas. "Marc, kau awasi sistem keamanan kota. Julien, posisikan anak buahmu di setiap sudut bangunan. Etienne, kau siapkan tim penjemput jika terjadi sesuatu."
"Dan kau sendiri, Kakak Besar?" tanya Marc.
"Aku akan duduk di sini, memastikan tidak ada satu pun lalat yang berani masuk ke kamarnya tanpa izinku."
Malam itu, di bawah langit Paris yang dingin, empat macan menjaga satu bunga yang sedang bermimpi tentang bakso. Satu akad telah diucapkan, empat nyawa telah dipertaruhkan. Dan bagi Alya, petualangan "poliandri paksa" ini baru saja dimulai—dan dia sama sekali belum tahu betapa berisiknya malam-malam selanjutnya saat memiliki empat suami yang semuanya ingin mendapatkan perhatiannya.
"Sialan," gumam Lucien sambil menatap pintu kamar Alya. "Gadis ini benar-benar telah mengubah kita."
" Oui, " (Ya) sahut ketiga adiknya serentak.
Pernikahan besar itu telah usai, tapi perang yang sesungguhnya—baik di medan tempur maupun di dalam hati mereka masing-masing—baru saja dimulai.