Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Maminya Geanetta
"Eungh..."
Aurin melenguh pelan di atas ranjangnya. Gadis itu mengerjapkan mata perlahan, menatap langit-langit putih yang terasa begitu asing. Aroma antiseptik yang tajam menyeruak memenuhi indra penciumannya, membuat keningnya berkerut dalam.
"Ugh!"
Kepalanya terasa sangat berat saat dia mencoba untuk bergerak. Tubuhnya seolah lumpuh total dan rasa ngilu yang luar biasa dari arah kaki seketika membuat Aurin menggigit bibir bagian dalamnya dengan kuat.
"Sayang... kamu sudah bangun?"
Deg!
Jantung Aurin berpacu lebih cepat. Dadanya berdesir hangat mendengar suara selembut itu. Gadis itu menoleh perlahan, ragu apakah panggilan itu benar-benar ditujukan untuknya. Namun, begitu matanya bertemu dengan tatapan Mama Amanda, Aurin justru semakin bingung. Wanita paruh baya itu tersenyum sangat tulus sambil melangkah mendekat.
"Ta... Tante sia—argh!"
Seketika potongan ingatan semalam berputar liar di kepalanya seperti kaset rusak. Rasa sakit yang menghantam kepalanya membuat Aurin mendesis tertahan.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?"
Aurin refleks menjauh karena ketakutan. Gerakan tiba-tiba itu membuat selang infus tertarik kencang hingga jarumnya menusuk kulit tangannya lebih dalam.
"Ah..." rintihnya lagi.
"Aurin..."
"Jangan mendekat, Tante! Saya... saya tidak berniat menjebak anak Tante, sungguh! Itu pernikahan tidak sah, Tante. Saya dan anak Tante tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu, sungguh!" ujar Aurin dengan nada bicara yang mulai panik.
Dia bahkan tidak memedulikan tangannya yang mulai berdarah. Dengan gerakan nekat, dia mencabut paksa selang infus itu dari tangannya. Tubuhnya bergerak waspada, berusaha menjauh dan hendak bangkit dari ranjang untuk melarikan diri.
"Akh! Sakit!"
Pekikan nyaring keluar dari mulutnya saat kakinya menyentuh lantai ubin yang dingin. Rasanya seperti serpihan kaca yang kemarin menancap kembali menghujam masuk lebih dalam. Rasa sakit itu menjalar dengan sangat cepat hingga ke ubun-ubun, membuat pertahanan tubuhnya runtuh seketika.
"Sayang... astaga, hati-hati! Jangan bergerak dulu, jangan ke mana-mana, baring lagi di sini!" ujar Mama Amanda dengan nada panik.
Wanita itu membantu Aurin kembali ke ranjang dan merebahkan tubuh gadis itu dengan sangat hati-hati. Wajahnya meringis menahan ngeri, membayangkan betapa sakitnya luka di kaki Aurin yang baru saja menghantam lantai.
"Sebentar ya, Mama panggilin dokter dulu!" ujarnya kemudian bergegas lari keluar ruangan, "Dokter... Dokter! Menantu saya sudah sadar!" teriak wanita itu di koridor rumah sakit. Dia benar-benar melupakan fakta bahwa di samping ranjang Aurin sebenarnya ada tombol darurat untuk memanggil petugas medis.
Menantu?
Satu kata itu terus menggema di telinga Aurin, terasa begitu asing dan berat. Gadis itu tertawa rendah, sebuah tawa getir yang menertawakan kemalangan nasibnya sendiri. Dia baru saja berhasil melarikan diri dari rumah yang dia sebut sebagai neraka, dari rencana perjodohan untuk menebus utang paman dan bibinya, namun kini justru terperosok ke dalam pernikahan yang terasa jauh lebih kacau.
Dia menikahi seorang pria matang yang bahkan tidak dia kenal. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah Aurin duga sebelumnya. Baginya, kenyataan ini sungguh lucu sekaligus tragis. Bagaimana bisa wanita seanggun itu menyebutnya menantu? Di bandingkan sebutan menantu, Aurin merasa akan jauh lebih masuk akal jika dia dianggap sebagai pembantu daripada menantu keluarga terhormat ini.
Gadis itu memejamkan mata, merenungi entah dosa apa yang telah dia perbuat sampai kesialan terus-menerus menghantuinya, bahkan setelah malam yang paling mengerikan dalam hidupnya terlewati.
......................
Beberapa dokter mulai memeriksa kondisi Aurin dengan teliti. Demamnya memang sudah mulai menurun, namun luka di kakinya serta beberapa bekas luka lama dan baru akibat siksaan bibinya membutuhkan perawatan ekstra untuk beberapa waktu ke depan.
"Untuk sementara, jangan banyak berjalan dulu ya, Dek. Beberapa bagian di kaki kamu masih bengkak," ujar seorang dokter cantik sambil tersenyum ramah kepada Aurin.
"Iya, Dok," jawab Aurin singkat.
Dokter itu mulai memberi obat cair untuk di oles pada bagian luka-luka di kaki Aurin. Gerakannya teliti, tak membiarkan satu dari luka yang sangat banyak itu terlewatkan. "Sudah, jangan bergerak dulu, biarkan obatnya meresap." ujar dokter itu.
Aurin mengangguk paham, membiarkan kakinya berselonjor di samping ranjang. "Makasih, Dok."
Setelah memberikan beberapa obat untuk diminum pagi itu, sang dokter pun melangkah keluar dari ruangan.
"Sayang... dengar kan apa kata dokter tadi? Jangan banyak gerak dulu ya," ujar Mama Amanda yang kini duduk di kursi samping ranjang. Aurin hanya menatapnya sekilas, tapi sekarang tidak lagi menjauh saat wanita itu duduk di sebelahnya.
Wanita itu berusaha bicara lebih akrab. Setiap tutur katanya terdengar begitu lembut dan penyayang, namun justru hal itulah yang membuat Aurin merasa sangat tidak nyaman. Gadis itu beberapa kali melemparkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindar, yang hanya ditanggapi dengan senyuman maklum oleh Mama Amanda.
"Maaf ya, Sayang, kalau Mama membuat kamu kurang nyaman..."
"Saya hanya mau pulang, Tante..." jawab Aurin dengan suara yang sangat pelan dan lirih.
"Tapi bukan ke rumah mereka... saya mau pergi jauh. Sangat jauh dari mereka..." lanjutnya lagi, nyaris seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan.
"Iya, nanti kita pulang, Sayang. Tapi sebelum itu, Aurin harus sembuh dulu ya. Ayo, Mama Amanda suapi," ujar wanita itu lembut.
Mama Amanda mulai memindahkan nampan makanan ke meja samping ranjang dan bersiap untuk menyuapi menantu kecilnya itu. Aurin hanya bisa menggeleng pelan karena merasa sangat tidak enak hati. Dia merasa heran, bagaimana bisa wanita itu bisa secepat ini merasa akrab? Aurin justru merasa semakin kecil dan rendah saat diperlakukan seistimewa itu. Mereka bahkan belum berkenalan secara resmi, namun wanita di hadapannya ini sudah bertindak seolah mereka telah saling mengenal sangat lama.
********
Ayuna sudah terbangun jauh lebih awal pagi ini. Sebelum keponakannya terjaga, gadis itu sudah menyiapkan sarapan di dapur untuk sang kakak jika nanti sudah terbangun.
Setelah urusan dapur selesai, dia segera kembali ke kamar keponakannya. Ayuna membangunkan Geanetta lebih cepat dari biasanya. Dia berencana pergi dari rumah itu sebelum Gallelio menampakkan diri karena rasa marah terhadap kakaknya masih membekas jelas di hati.
"Sudah siap, Sayang? Nanti ganti pakaiannya di rumah Oma saja ya," ajaknya lembut.
"Oke, Uty!" jawab Geanetta patuh.
Bocah itu keluar dari kamar sambil menggendong tas kecilnya. Sebelum benar-benar menuruni anak tangga, Geanetta sempat melirik sekilas ke arah pintu kamar ayahnya yang masih tertutup rapat. Dia terdiam sejenak menatap pintu itu sebelum akhirnya melanjutkan langkah mengikuti sang bibi.
Mobil Ayuna melaju dengan cepat membelah jalanan saat matahari bahkan belum sepenuhnya menampakkan diri. Udara pagi yang segar menyapa mereka berdua sepanjang perjalanan. Beberapa saat kemudian, mobil itu sampai di depan sebuah hunian yang ukurannya dua kali lebih besar dari rumah kakaknya. Inilah rumah utama keluarga Alastar.
Sebuah rumah mewah dengan interior modern berlantai tiga yang berdiri sangat megah dengan pilar-pilar raksasa yang menjulang.
Mereka berdua turun dari mobil. Ayuna segera menggendong Anet dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Mah... Mama!" panggil Ayuna dengan suara lantang yang seketika menggema di dalam ruangan besar itu.
"Mama... Ayuna pulang!"
"Oma!"
Suara mereka menjadi satu-satunya yang memecah ketenangan rumah megah tersebut.
"Masih pagi, kenapa teriak-teriak, Yuna!" Suara berat Papa Jordan terdengar dari arah meja makan.
Pria itu sudah duduk di sana dengan pakaian kerja yang rapi sembari menyantap sarapan paginya. Namun Ayuna mengerutkan kening saat menyadari sesuatu yang aneh. Papa Jordan hanya duduk sendirian di meja makan yang besar itu. Hal tersebut tidak seperti biasanya karena seharusnya sang mama selalu ada di samping papanya.
"Pa, Mama di mana? Kok Papa makan sendirian?" tanyanya penasaran.
Sementara itu, Geanetta sudah minta diturunkan dari gendongan dan segera berpindah duduk di pangkuan opanya.
"Mama di rumah sakit," jawab Papa Jordan singkat.
"Apa? Di rumah sakit? Mama sakit, Pa? Kok tidak mengabari Ayuna? Mama sakit apa? dan kenapa Papa masih di sini, tidak takut memangnya kalau istrinya kenapa-kenapa? Kalau Mama menin—"
"Ayuna! Jaga kalimatmu itu!" tegur Papa Jordan tegas.
"Hehe, kan hanya seandainya, Pa," kekeh Ayuna tanpa rasa bersalah.
"Pertanyaanmu terlalu banyak. Bukan Mama yang sakit, tapi maminya Geanetta!" jawab pria itu dengan nada santai.
"APA?!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...