Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Benih Konflik di Toko Baru dan Rahasia yang Bocor
Pagi harinya, suasana di kamar Melan kembali sibuk. Setelah malam yang penuh dengan ketegangan mencairnya sang raja, Melan bangun lebih awal.
Ia sengaja memakai pakaian yang lebih tertutup dan praktis gaun satin tipis berwarna pastel mint dengan potongan yang tidak terlalu melebar, agar lebih mudah bergerak di lokasi ruko barunya.
"Lin, tolong siapkan dokumen kontrak yang kemarin saya bawa dari Negeri Binatang," ujar Melan sambil merapikan rambutnya sendiri.
Lin yang sedang menyiapkan kotak perhiasan menoleh dengan raut bingung. "Kontrak yang ditandatangani para saudagar berbulu itu, Yang Mulia? Untuk apa dibawa ke ruko?"
"Saya mau mencocokkan daftar barang baku yang akan dikirim minggu depan dengan denah rak yang dibuat Jaka. Kita tidak boleh salah meletakkan barang dagangan," jawab Melan dengan nada profesional.
“Gue harus bener-bener teliti. Kalau barang dari Negeri Binatang ini sukses laku keras di minimarket, Fek Fe sama antek-anteknya bakal gigit jari,” batin Melan penuh kemenangan.
Saat mereka melangkah keluar paviliun, Kibo sudah berdiri siaga bersama Baron di dekat kereta kuda.
Kibo tampak rapi dengan seragam rompi kulit kecilnya, sementara Baron seperti biasa, berdiri tegak lurus bagai tiang besi.
"Selamat pagi, Yang Mulia Permaisuri," sapa Baron dengan anggukan formal.
"Kereta sudah siap. Tapi... saya harus menyampaikan bahwa Yang Mulia Raja memberikan perintah tambahan pagi ini."
Melan menghentikan langkahnya. "Perintah apa lagi, Baron? Jangan bilang saya dilarang keluar?"
"Bukan, Yang Mulia. Raja memerintahkan saya untuk memeriksa setiap gerobak logistik yang datang dari Negeri Binatang secara personal. Beliau tidak ingin ada 'barang selundupan' yang bisa membahayakan keamanan istana masuk ke toko Anda," jelas Baron dengan tatapan mata yang melirik ke arah Kibo.
Kibo yang merasa tersindir langsung mengerucutkan bibirnya. "Tuan Baron, sudah saya katakan, kaum kami hanya mengirim rempah-rempah dan kain sutra! Tidak ada senjata atau racun!"
Melan mengangkat tangannya, menenangkan situasi. "Sudahlah, Kibo. Baron hanya menjalankan tugas dari Nolan. Baron, silakan periksa sesuka Anda. Saya jamin, bisnis saya ini bersih dan legal. Mari kita berangkat."
_________
Sesampainya di ruko persimpangan jalan utama, Melan disambut oleh Jaka dan beberapa pekerja manusia yang sedang memasang papan kayu untuk rak bagian dalam.
Tempat itu sudah mulai terlihat bersih dan luas berkat dinding yang dicat ulang dengan warna krem pastel kesukaan Melan.
"Bagaimana progresnya, Jaka?" tanya Melan sambil melangkah masuk, memeriksa kerapian sudut ruangan.
"Sangat bagus, Yang Mulia. Pemasangan rak utama selesai siang ini. Tapi..." Jaka menepuk dahinya pelan, merendahkan suaranya.
"Ada desas-desus di pasar, Yang Mulia. Beberapa pemilik toko kelontong besar milik para bangsawan di pasar pusat mulai merasa tidak senang dengan rencana pembukaan toko Anda."
Melan menaikkan sebelah alisnya. "Tidak senang kenapa? Toko saya bahkan belum buka."
"Mereka mendengar bocoran bahwa Anda akan menjual barang-barang dengan harga pas yang jauh lebih murah karena memotong jalur distribusi lewat Negeri Binatang.
Mereka merasa Anda menggunakan kekuasaan istana untuk memonopoli pasar dan menghancurkan mata pencaharian mereka," jelas Jaka cemas.
Melan mendengus pelan, lalu duduk di salah satu kursi kayu yang baru selesai dibuat.
"Kekuasaan istana? Justru saya menggunakan modal sendiri dan memberikan kesempatan kerja sama yang adil. Katakan pada mereka, Jaka, kalau mereka mau bersaing, bersainglah secara sehat dengan meningkatkan kualitas toko mereka, bukan dengan bergosip di belakang," tegas Melan.
“Halah, bilang aja takot kalah saing. Toko mereka gelap, pelayanannya ketus, harganya suka dimainin tergantung muka pembeli. Pas gue bikin sistem modern yang jujur, malah dituduh monopoli. Klasik banget!” cibir Melan dalam hati.
"Masalahnya bukan cuma itu, Yang Mulia," sela Baron yang sejak tadi berdiri di dekat pintu masuk sambil memperhatikan jalanan di luar.
"Para bangsawan yang memiliki toko-toko itu adalah penyokong dana bagi sebagian tetua dewan kerajaan. Jika mereka merasa terancam, mereka bisa menekan Yang Mulia Raja untuk menutup paksa usaha Anda melalui jalur hukum adat."
Melan tertegun sejenak. Ia menyadari bahwa dunia ini bukan sekadar tentang untung dan rugi, melainkan ada intrik politik yang sangat kental.
Sesuatu yang mulai terasa seperti bumbu konflik yang berbahaya bagi posisinya.
"Terima kasih atas peringatannya, Baron. Tapi saya tidak akan mundur hanya karena gertakan para tetua yang ketakutan kehilangan koin emas mereka," jawab Melan dengan sorot mata mantap.
____________
Sore harinya, saat Melan dan Lin sedang sibuk mencatat inventaris barang di meja belakang ruko, Kibo tiba-tiba berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Telinga serigalanya bergerak-gerak gelisah.
"Yang Mulia! Bahaya!" seru Kibo dengan napas terengah-engah.
Melan langsung berdiri. "Ada apa, Kibo? Tenang dulu, bicara yang jelas."
"Di gudang penyimpanan sementara di dekat pasar... ada beberapa pria mencurigakan. Saya mencium aroma yang aneh, seperti minyak tanah. Mereka mencoba merusak segel pengiriman gerobak pertama dari Negeri Binatang!" ujar Kibo panik.
"Apa?!" Melan membelalakkan matanya. "Baron! Cepat bawa pasukan ke sana!"
Baron tidak membuang waktu. Dengan lambaian tangan, ia dan lima ksatria pengawal langsung menghunus pedang dan berlari menuju gudang yang dimaksud.
Melan, Lin, dan Kibo mengikuti dari belakang dengan langkah tergesa-gesa.
Sesampainya di gudang, ketegangan sudah pecah. Dua orang pria bertubuh kekar dengan pakaian pelayan bangsawan berhasil diringkus oleh Baron sebelum mereka sempat menyulut api.
Di lantai gudang, beberapa karung rempah-rempah dari Negeri Binatang sudah robek, isinya berceceran di tanah.
"Siapa yang menyuruh kalian?!" bentak Baron sambil menekan salah satu pria itu ke dinding kayu gudang dengan ujung pedangnya.
Pria itu meludah ke tanah, menolak bicara. Namun, mata tajam Melan menangkap sesuatu yang terjatuh dari balik sabuk kain pria tersebut.
Sebuah sapu tangan sutra berwarna merah muda dengan sulaman benang emas berbentuk inisial nama.
Melan berjalan mendekat, memungut sapu tangan itu dengan tangan gemetar karena amarah.
“Gila ya... sulaman ini... gue kenal banget warna norak kayak gini,” batin Melan, giginya bergeletuk.
"Fek Fe..." bisik Melan pelan namun terdengar sangat tajam.
Lin yang berada di sampingnya langsung menutup mulutnya karena terkejut.
"Nona Fek Fe? Bagaimana mungkin beliau berani melakukan sabotase terhadap barang milik Permaisuri?"
Melan meremas sapu tangan itu di dalam genggamannya. "Dia tidak bergerak sendiri, Lin. Dia pasti bekerja sama dengan para pemilik toko bangsawan yang diceritakan Jaka tadi. Dia memanfaatkan ketakutan para pedagang itu untuk menyingkirkan saya dari istana."
Baron menatap sapu tangan itu dengan ekspresi sangat serius. "Yang Mulia Permaisuri, ini adalah bukti yang berat. Kita harus melaporkan hal ini langsung kepada Yang Mulia Raja malam ini juga."
"Jangan, Baron," tahan Melan cepat, membuat Baron dan Lin terkejut.
"Kenapa, Yang Mulia? Ini adalah tindakan kriminal yang bisa menghukum Nona Fek Fe!" protes Lin.
Melan menarik napas panjang, mencoba menenangkan logikanya yang sempat terbakar emosi.
"Kalau kita lapor sekarang tanpa interogasi yang mendalam, Fek Fe bisa dengan mudah membuat alasan bahwa sapu tangannya dicuri orang. Dia licik, dia punya pengaruh di antara para selir dan tetua dewan. Kita butuh umpan yang lebih besar untuk menjatuhkannya sekaligus dengan para tikus tanah yang mendukungnya."
“Kalau gue gegabah, Nolan bakal dilema antara belain gue atau dengerin protes dewan kerajaan yang dukung Fek Fe. Gue nggak mau posisi bisnis gue hancur sebelum toko pertama buka,” pikir Melan taktis.
Malam harinya, istana mengadakan perjamuan kecil untuk menyambut kembalinya para utusan dari wilayah selatan.
Melan hadir dengan penampilan yang luar biasa anggun. Ia sengaja memakai gaun brokat krem dengan aksen emas, menunjukkan bahwa kejadian sore tadi sama sekali tidak menggoyahkan mentalnya.
Nolan duduk di singgasana tengah, sesekali matanya melirik ke arah Melan yang tampak tenang menikmati hidangannya.
Sementara itu, Fek Fe duduk di barisan selir dengan senyum puas yang tampak dipaksakan, mengira bahwa rencana sabotasenya berhasil membuat Melan menangis di kamarnya.
Setelah perjamuan selesai dan para tamu mulai membubarkan diri, Melan sengaja berjalan melewati Fek Fe di koridor istana yang agak sepi. Lin dan Kibo setia mengawal di belakangnya.
"Malam yang indah ya, Fek Fe?" sapa Melan dengan nada bicara yang sangat ramah namun sarat akan sindiran.
Fek Fe menghentikan langkahnya, memutar kipasnya dengan gerakan anggun. "Tentu saja, Kakak Permaisuri. Tapi saya dengar... ada kabar buruk dari gudang pasar sore tadi? Sungguh disayangkan, baru mau mulai usaha sudah tertimpa musibah. Mungkin itu pertanda kalau Anda memang tidak cocok menjadi pedagang."
Melan tersenyum sangat manis, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal.
Ia mengeluarkan sapu tangan merah muda yang ditemukannya sore tadi dari balik lipatan gaunnya, lalu menyelipkannya ke jemari Fek Fe yang lentik.
"Oh, musibah kecil itu tidak ada apa-apanya, Fek Fe. Untungnya pelayan saya sangat sigap. Tapi saya menemukan barang berharga ini tertinggal di gudang saya. Kasihan sekali pemiliknya, ceroboh sekali sampai meninggalkan barang pribadinya di tempat kejadian kriminal," bisik Melan dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
Wajah Fek Fe yang tadinya penuh senyum kemenangan langsung memucat seketika. Tubuhnya membeku, matanya menatap sapu tangan miliknya dengan tatapan horor.
"Anda... Anda jangan sembarangan menuduh!" desis Fek Fe dengan suara bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikannya.
"Saya tidak menuduh, saya hanya mengembalikan barang yang hilang," sahut Melan santai, menepuk pundak Fek Fe dengan pelan.
"Tapi ingat ya, Fek Fe... permainan Anda baru saja dimulai. Dan saya bukan tipe orang yang suka kalah dalam permainan bisnis... maupun permainan istana. Selamat malam."
Melan berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegas, meninggalkan Fek Fe yang meremas sapu tangannya dengan tubuh bergetar karena amarah dan ketakutan.
“Lo udah salah pilih lawan, Fe. Gue bukan Melan yang dulu yang bisa lo tindas pake status calon selir kesayangan. Liat aja, minimarket gue bakal tetep buka, dan gue bakal bikin lo berlutut di depan rak jualan gue!” batin Melan penuh tekad.
Dari kejauhan, di atas balkon koridor lantai dua, Nolan berdiri dalam kegelapan, memperhatikan seluruh interaksi antara kedua wanita itu.
Matanya menyipit tajam, menyadari bahwa ketenangan di istananya perlahan-lahan mulai terkikis oleh konflik baru yang jauh lebih personal.