Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas yang Tergeser & Racun Cinta
Suasana di kamar Zea mencekam namun penuh dengan kehangatan yang salah tempat.
Pelukan Kevin begitu erat, ciumannya penuh gairah dan kepemilikan, membuat Zea merasa dunia berputar. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut, malu, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa ia namakan.
Tapi akal sehatnya masih berfungsi.
"Tidak... Kak Kevin... jangan..." bisik Zea dengan suara bergetar. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong dada bidang Kevin sekuat tenaga hingga pria itu mundur sedikit.
Zea menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air mata kembali menggenang. "Ini salah... kita sudah terlalu jauh. Kita ini kakak beradik... dilarang... ini dosa..."
Kevin menatapnya tajam, napasnya masih memburu. Ia tidak terima dengan alasan itu.
"Dosa?" tanya Kevin pelan namun tegas. Ia kembali mendekat, menatap manik mata gadis itu dalam-dalam. "Zea, dengarkan aku baik-baik. Selama ini... aku tidak pernah menganggapmu sebagai adik kandungku."
Kalimat itu membuat tubuh Zea membeku.
"Bagiku, kau adalah wanita yang paling kusayang... pujaan hatiku sejak lama," lanjut Kevin dengan suara berat yang menusuk jiwa. "Dan kita... kita tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Kau anak angkat, ingatlah itu. Jadi tidak ada yang melarang, tidak ada yang salah, dan sah-sah saja jika perasaan ini berlanjut menjadi lebih dari sekadar kakak beradik."
Zea ternganga. Dunianya seakan runtuh dan terbentuk kembali dalam sekejap. Pengakuan itu... terlalu besar untuk diterima otaknya yang masih kacau.
Keesokan Harinya...
Matahari sore bersinar terik, namun tidak sepanas detak jantung Ziva saat ini.
Ziva duduk di sebuah meja makan mewah di restoran fine dining yang terletak di lantai tertinggi sebuah hotel bintang lima paling bergengsi di kota. Suasana elegan, musik klasik, dan pelayan yang sigap.
Di hadapannya duduk Arsen yang tampil sangat rapi dan mempesona dengan setelan jas yang pas di badan.
Ziva menyipitkan matanya, menatap Arsen dengan tatapan menyelidik. Alisnya terangkat sinis.
"Restoran ini... cukup terkenal dan harganya selangit kan, Tuan Karyawan?" tanya Ziva memulai interogasi dengan nada dingin. "Menurutmu masuk akal kah seorang staf administrasi biasa bisa makan di tempat semewah ini setiap hari? Atau gajimu dihitung dengan berlian?"
Arsen terkekeh pelan, tidak terlihat gugup sedikitpun. Ia sudah mempersiapkan strategi ini.
"Ah, soal ini..." Arsen tersenyum manis, menumpukan dagunya di atas jari-jarinya. "Sebelumnya kan aku sudah bilang, aku bekerja di perusahaan besar. Dan kebetulan sekali, perusahaan tempatku bekerja yang memiliki hotel ini. Jadi aku dapat diskon besar dan fasilitas khusus, Ziva. Jadi jangan khawatir, aku tidak memakai uang haram kok."
Alasan yang sangat mulus dan masuk akal. Ziva mendengus pelan. Ia tahu pria ini licik, tapi setidaknya untuk saat ini ia belum menemukan bukti kebohongannya.
"Yasudah, aku percaya kali ini. Tapi ingat, jangan coba-coba membohongiku," gertak Ziva akhirnya mengalah dan mulai menyantap makanannya.
Mereka berbincang cukup akrab. Arsen sangat pandai membuat Ziva nyaman dan tertawa. Namun, bahaya selalu datang tanpa diduga.
Saat pelayan menuangkan minuman wine berwarna merah ke dalam gelas Ziva, indra penciuman Ziva yang sangat tajam menangkap sesuatu yang tidak beres.
'Hmm? Bau aneh...'
Sebagai pemimpin organisasi yang sering diracuni atau diserang, Ziva hafal betul bau obat perangsang atau obat bius yang biasanya dicampur ke dalam minuman.
"Waspada! Ini ada campurannya!" batin Ziva sigap.
Ia hendak memperingatkan Arsen agar jangan meminumnya. "Arsen, jangan minum itu—"
Terlalu lambat.
Gluk... gluk... gluk...
Arsen justru menenggak habis isi gelasnya dengan santai karena merasa haus dan bahagia berada di dekat Ziva.
Wajah Ziva berubah pucat. "Sialan!"
Tanpa pikir panjang, Ziva langsung berdiri menarik tangan Arsen. "Ayo kita pergi dari sini sekarang! Cepat!"
"Eh? Kenapa? Makanan belum habis lho..." Arsen masih bingung, tapi ia menurut saja karena melihat wajah Ziva yang sangat serius.
Mereka berjalan cepat menuju lift dan masuk ke dalam koridor hotel. Namun baru beberapa meter berjalan, perubahan besar mulai terjadi pada tubuh Arsen.
Wajah tampan Arsen memerah padam. Napasnya menjadi berat dan memburu. Tubuhnya terasa kepanasan luar biasa, darah seakan mendidih di dalam pembuluh darahnya. Obat itu bekerja sangat cepat dan sangat kuat.
"Ziva... aku... aneh..." Arsen menggumam, matanya yang biasanya tajam kini tampak kabur dan penuh hasrat yang tak terkendali.
Ziva panik. Ia segera menyambar ponselnya dan menelepon Gabriel, tangan kanannya.
"Gabriel! Kirim penawar obat jenis 'Scorpion' sekarang! Cepat! Di Hotel Grand ******!" perintah Ziva singkat dan mematikan sambungan.
Namun, obat itu terlalu kuat dan Arsen sudah tidak bisa berpikir jernih.
Dengan gerakan refleks yang kuat, Arsen merengkuh tubuh Ziva dan mendekapnya erat ke dalam pelukannya. Kepalanya bersandar di leher putih mulus gadis itu, menghirup aroma tubuh Ziva dalam-dalam seolah itu adalah satu-satunya udara yang bisa menyelamatkannya.
"Ziva... panas... tolong aku... jadilah penawarnya..." bisik Arsen serak dan berat.
Ia tidak berhenti mengecup leher, bahu, dan pipi Ziva dengan penuh kerinduan dan hasrat yang meledak-ledak. "Hanya kau yang bisa menenangkanku... hanya kau..."
Ziva terpaku! Tubuhnya kaku.
Ini adalah pertama kalinya ia disentuh sedekat ini oleh pria lain. Selama hidupnya, Ziva hidup di dunia keras dan dingin, tidak pernah ada ruang untuk sentuhan lembut atau romansa. Namun sentuhan Arsen... anehnya tidak membuatnya jijik atau marah. Justru ada rasa aneh yang menjalar hangat di seluruh tubuhnya, membuat jantungnya berdegup kencang bukan main.
Dengan sisa kesadaran dan tenaga yang ada, Arsen menyeret tubuh mereka berdua menuju salah satu pintu kamar di lantai itu. Ia menekan tombol kartu kunci.
Ceklek.
Pintu terbuka dan mereka masuk.
Ini adalah kamar yang sudah dipesan Arsen sejak lama karena ia memang sedang tinggal sementara di hotel ini.
Di dalam kamar yang gelap dan mewah itu, Ziva masih mencoba menepuk pelan pipi Arsen untuk menyadarkannya. "Arsen! Sadar! Itu cuma obat! Tahan dirimu!"
Tapi Arsen sudah tidak tahan. Obat itu memecahkan semua tembok pertahanannya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ziva, berbisik menggoda namun tulus.
"Aku tidak tahan... Ziva..."
"Kau tahu kenapa aku selalu mengikutimu? Kenapa aku selalu mencari tahu tentangmu?"
"Karena aku mencintaimu... Sejak pertama kali melihatmu bertarung di arena itu, hatiku sudah jatuh. Kau bukan wanita biasa, Ziva. Dan aku... aku ingin memilikimu seutuhnya."
Arsen menatap wajah Ziva dalam kegelapan, matanya bersinar penuh cinta dan hasrat yang membara.