Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
Zoya menggeleng santai.
“Tidak apa-apa… saya akan menunggu, Profesor.”
Setelah mengatakannya, ia kembali ke kursinya… duduk dengan tenang, membuka kembali catatannya, dan menunggu.
Sikap itu, sekali lagi, membuat Arlo diam sejenak. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya melanjutkan kegiatannya seperti biasa, sambil menunggu kelas lain datang.
Begitu Arlo selesai mengajar, mereka menuju kantor seperti biasa.
Diskusi kembali dimulai.
Suara Arlo yang rendah dan sedikit serak memenuhi ruangan, menjelaskan konsep demi konsep dengan alur yang terstruktur. Zoya mendengarkan dengan penuh perhatian… tidak memotong, tidak mengalihkan topik, hanya sesekali mengajukan pertanyaan lanjutan yang tajam.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Saat mereka menyadari, cahaya di luar jendela telah berubah. Langit perlahan dipenuhi warna keemasan sang senja yang hangat.
Zoya merapikan barang-barangnya, memasukkan catatan ke dalam tas dengan rapi.
“Terima kasih, Profesor,” ucapnya sopan.
Arlo hanya mengangguk.
Namun setelah Zoya pergi, ia tidak langsung bergerak. Ia tetap duduk di kursinya, menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Di luar kampus, Zoya berdiri di area penjemputan. Ia sendirian, menunduk sambil memainkan ponselnya. Angin sore berhembus pelan, menggerakkan rambutnya yang jatuh lembut di bahu.
Sebuah mobil melintas.
Dari balik kaca, Arlo melihat sosok itu sekilas. Ia langsung mengenalinya.
Di dalam pikirannya, muncul keinginan sederhana… menyapa. Bertanya apakah ia sedang menunggu jemputan. Bahkan… mungkin menawarkan tumpangan.
Namun keinginan itu berhenti di sana.
Kata-kata itu tidak pernah keluar.
Ia teringat penolakannya ketika Zoya ingin mentraktirnya makan membuatnya ragu. Ia tidak yakin bagaimana harus memulai percakapan tanpa terdengar aneh.
Pada akhirnya, ia hanya melanjutkan perjalanan.
Mobil itu pergi begitu saja.
Keesokan paginya, pukul enam.
Necki membuka pintu kamarnya dan langsung terdiam.
Di ruang tamu, Zoya tertidur di sofa. Naskah masih berada di tangannya, terlipat sedikit karena tertindih.
Ia tampak sangat lelah, namun tidur dengan tenang.
Necki mendekat, menatapnya beberapa saat. Namun ia tidak membangunkannya. Ia hanya menghela nafas pelan, lalu berjalan ke dapur.
Di dalam mobil, Zoya kini memegang buku matematika. Matanya fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
Necki meliriknya beberapa kali sebelum akhirnya bertanya,
“Kenapa akhir-akhir ini kamu sibuk belajar? Ada ujian?”
“Tidak ada,” jawab Zoya santai. “Aku hanya merasa harus bekerja keras.”
Necki mengangkat alis.
“Besok kamu mulai syuting. Tapi aku hanya sekali melihat kamu belajar naskah.”
Zoya menoleh, tampak bingung.
“Aku sudah menghafalnya.”
Necki menatapnya tidak percaya.
“Kapan?”
“Semalam.”
Hening sejenak.
Necki akhirnya hanya mengangguk pasrah. Ia mengingat kembali siapa Zoya sebenarnya… dan memilih tidak bertanya lagi.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama.
Zoya datang lebih awal, duduk di barisan depan, dan mengikuti kelas dengan serius. Setelah kelas selesai, ia selalu mendekati Arlo dengan catatan penuh pertanyaan.
Hubungan mereka berkembang perlahan… bukan melalui percakapan ringan, tetapi melalui diskusi yang konsisten.
Hingga suatu hari, saat merapikan barang, Zoya berkata ragu,
“Profesor… bagaimana kalau saya mentraktir Anda makan?”
Arlo sempat terdiam. Ia memang sedang memikirkan cara untuk memulai percakapan. Tawaran itu membuatnya ragu sejenak… lalu ia mengangguk.
Namun yang tidak ia duga… Zoya tidak membawanya ke restoran.
Melainkan ke apartemennya.
Lokasinya tidak jauh dari kampus. Hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki.
Begitu Zoya membuka pintu, Beben, anjing peliharaannya, segera berlari menghampiri sambil menggoyangkan ekor dengan riang menyambut kepulangannya. Namun, saat melihat Arlo berjalan mengikuti di belakang Zoya, gerakan ekor Beben seketika terhenti.
Zoya tertawa kecil.
“Silakan masuk. Profesor.”
Zoya mempersilakan Arlo masuk, lalu menuangkan segelas jus untuknya. Setelah itu, ia berkata,
“Profesor selalu membantu saya menyelesaikan masalah. Jadi, saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Saya juga tidak bisa mengajak Anda ke restoran… mungkin nanti saja saya ceritakan setelah makan. Lagipula, makanan di luar terlalu banyak mengandung bahan tambahan, dan saya kurang menyukainya. Jadi, menurut saya memasak sendiri lebih terjamin kualitasnya. Saya harap Anda tidak keberatan.”
Arlo mengangguk cepat, sedikit canggung.
Arlo yang canggung sama sekali tidak menyadari kilatan licik di mata Zoya. Namun tetap bersikap tenang, meski dalam hati ingin tertawa melihat Arlo yang begitu kikuk.
Zoya tersenyum, lalu segera menyibukkan diri di dapur.
Tak lama kemudian, suara air mengalir dan pisau yang memotong sayuran terdengar dari dalam. Disusul desisan minyak panas di wajan serta dentingan sudip yang beradu dengan penggorengan. Perlahan, aroma harum yang menggugah selera mulai menyebar dari dapur.
Begitu mencium aroma itu, Beben berlari kecil menuju dapur, seolah meminta jatah makan. Zoya memang sudah menyiapkan porsinya. Ia pun meletakkan makanan ke wadah anjingnya, lalu kembali melanjutkan memasak.
Tak lama, meja terisi.
Empat hidangan tumis, satu sup, dan nasi hangat tersaji di meja.
Sederhana… namun terasa istimewa.
Arlo mulai makan.
Dan tanpa sadar… ia menikmati setiap suapannya. Mereka makan dalam diam. Namun anehnya… tidak terasa canggung.
Setelah selesai, Zoya menyajikan buah dan camilan. Arlo menyesap teh buah dengan ekspresi puas yang jarang terlihat.
Meskipun Arlo dikenal kaku dan teliti, ia memiliki satu kelemahan kecil yang jarang diketahui orang lain: ia sangat menyukai makanan dan sangat pemilih soal rasa. Namun, karena penampilannya yang selalu datar dan sikapnya yang jarang berkomunikasi, bahkan keluarganya sendiri tidak menyadari kebiasaan ini.
Kini, setelah mencicipi masakan Zoya, tatapan Arlo kepadanya perlahan melunak… Tanpa ia sadari, ia sudah “terkena”.
Zoya tidak menyadari bahwa ia secara tidak sengaja telah mengenai “titik lemah” Arlo. Ia justru sedang memikirkan cara meminta nomor ponsel pria itu agar bisa terus menjalin hubungan. Namun, Arlo-lah yang lebih dulu membuka suara.
“Jika kamu memiliki pertanyaan lagi di masa depan, jangan ragu untuk mencariku.”
Dalam benak Arlo, jika Zoya datang mencarinya dan ia membantu menyelesaikan masalahnya, gadis itu pasti akan mentraktirnya makan lagi. Membayangkan bisa menikmati makanan selezat ini, ia diam-diam berharap Zoya akan mencarinya setiap hari.
Zoya mengerjapkan mata, lalu berkata pelan, “Anu, Profesor… sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa belakangan ini saya ada urusan. Jadi, mungkin untuk sementara waktu saya tidak bisa menemui Anda.”