Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Tidak Fokus
Hari pertama Naomi bekerja terasa seperti mimpi yang terlalu lama tertunda. Begitu memasuki ruang praktik kecil yang kini menjadi tempatnya bekerja, Naomi berdiri diam beberapa detik di depan meja dokter. Tangannya perlahan menyentuh permukaan meja putih bersih itu.
Ada stetoskop, tensimeter, komputer rekam medis, dan ada papan nama kecil di atas meja. dr. Naomi Nurhaliza Dadanya langsung terasa penuh. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia duduk di balik meja sebagai seorang dokter. Bertahun-tahun hidupnya hanya diisi rasa takut, rasa malu, dan usaha bertahan hidup. Sampai kadang dia lupa bahwa dulu dirinya pernah punya mimpi besar.
Naomi menarik napas panjang perlahan. “Kamu bisa,” bisiknya pada diri sendiri.
Tok tok.
Pintu terbuka sedikit lalu kepala Sofia muncul.
“Dokter Naomi udah siap menyelamatkan dunia?”
Naomi langsung tertawa gugup. “Belum yakin.”
Sofia masuk sambil membawa segelas kopi. “Santai aja. Pasien pertama cuma alergi ringan kok.”
“Jangan bilang ‘cuma’…” Naomi langsung panik kecil. “Aku malah makin gugup.”
Sofia ngakak. “Lucu banget sih.”
Di luar ruang praktik, Davin sedang duduk di area bermain kecil bersama salah satu perawat. Anak itu tampak sibuk menyusun balok warna-warni sambil ngoceh sendiri.
Junie yang baru lewat sempat berhenti sebentar melihat Naomi dari balik kaca ruangan. Dia bisa melihat ketegangan di wajah perempuan itu. Namun di saat yang sama, ada cahaya yang dulu sempat hilang, dan itu membuat hati Junie terasa hangat.
“Dokter, pasien pertama sudah masuk ya.”
Naomi langsung refleks berdiri terlalu cepat sampai hampir menjatuhkan pulpennya sendiri.
“Ah— iya.”
Pintu terbuka perlahan. Seorang perempuan muda masuk sambil menggaruk lengannya yang kemerahan. Wajahnya tampak sedikit tidak nyaman.
“Pagi, Dok…”
Naomi tersenyum profesional meski jantungnya masih berdegup cepat. “Pagi. Silakan duduk.”
Begitu pasien duduk, sesuatu dalam diri Naomi perlahan bergerak otomatis. Seperti otot yang lama tidak dipakai tapi ternyata masih mengingat caranya bekerja.
“Ada keluhan apa?”
“Ini Dok…” perempuan itu menunjukkan ruam merah di tangan dan lehernya. “Dari tadi malam gatal banget.”
Naomi mulai bertanya lebih detail. Kapan munculnya. Makanan terakhir yang dikonsumsi. Riwayat alergi. Obat yang diminum.
Awalnya masih sedikit kaku. Namun semakin lama, Naomi mulai tenggelam dalam ritme yang dulu sangat familiar. Dia memeriksa kulit pasien hati-hati.
Ruam kemerahan. Tidak ada tanda sesak napas. Tekanan darah normal. Kemungkinan besar reaksi alergi ringan.
“Baru makan seafood atau sesuatu yang berbeda?” tanya Naomi.
Pasien itu langsung mengangguk cepat. “Iya dok! Semalam makan udang banyak banget.”
Naomi tersenyum kecil. “Nah kemungkinan itu penyebabnya.”
Tangannya mulai menulis resep dengan lebih mantap sekarang. Antihistamin dan salep untuk meredakan gatal.
“Untuk sementara hindari dulu seafood sampai reaksinya benar-benar hilang ya.”
Pasien itu mengangguk.
“Kalau muncul sesak, bibir bengkak, atau gatal makin parah langsung ke IGD.”
“Iya Dok.”
Begitu konsultasi selesai dan pasien keluar ruangan, Naomi langsung terduduk pelan di kursinya.
Dadanya naik turun. Tangannya sedikit gemetar. Namun kali ini bukan karena takut. Melainkan karena bahagia. Dia berhasil.
Naomi spontan menutup wajah dengan kedua tangan sambil tertawa kecil sendiri. Dia benar-benar kembali jadi dokter.
Tok tok.
Junie masuk perlahan sambil menyelipkan tangan ke saku jas putihnya.
“Gimana?”
Naomi langsung menoleh cepat. “Aku nggak salah resep kan?”
Junie tertawa kecil. “Itu hal pertama yang kamu pikirin?”
“Aku serius!”
Junie mendekat lalu melirik komputer rekam medisnya sebentar.
“Sudah bagus.”
Naomi langsung mengembuskan napas lega panjang.
Junie memperhatikan wajah perempuan itu beberapa detik. Jujur saja, dia belum pernah melihat Naomi terlihat sehidup ini sebelumnya.
Mata perempuan itu berbinar. Pipinya sedikit merah karena gugup. Senyum kecilnya terlihat tulus sekali.
“Welcome back, Dokter Naomi,” ucap Junie pelan.
Naomi terdiam. Kalimat sederhana itu sukses membuat matanya langsung memanas lagi.
Hari-hari berikutnya mulai berjalan lebih sibuk. Naomi perlahan kembali terbiasa dengan ritme dunia medis. Pasien flu, demam, lambung, tekanan darah, bahkan luka ringan.
Dan semakin hari, rasa percaya dirinya ikut tumbuh lagi. Bahkan beberapa pasien mulai menyukai caranya menangani mereka. Karena Naomi mendengarkan dengan sabar. Karena dia bicara lembut.
Dan karena setelah semua penderitaan yang pernah dia alami, Naomi jadi lebih peka pada rasa takut orang lain.
Sementara Davin, anak itu kini resmi menjadi maskot kecil klinik. Semua orang menyayanginya. Kadang Davin duduk di ruang dokter anak sambil bermain bersama Sofia. Kadang ikut perawat keliling sambil tertawa-tawa. Dia juga makin lengket dengan Junie.
“Juniii!”
Kalau Junie datang, Davin langsung heboh sendiri. Bahkan suatu kali anak itu sampai menolak turun dari gendongan Junie selama hampir satu jam.
Sofia sampai ngakak melihatnya. “Wah bahaya nih,” godanya pada Naomi. “Anakmu udah adopsi bapak sendiri.”
Naomi langsung tersedak minum. “Sofia!”
Sementara Junie diam-diam salah tingkah sendiri.
...***...
Kehidupan Zayn justru semakin berantakan. Pertengkarannya dengan Anggun ternyata meninggalkan bekas yang jauh lebih besar dari yang dia kira. Pikirannya mulai kacau. Dia jadi sulit fokus. Itu sangat berbahaya untuk seorang dokter.
Pagi itu Zayn sedang melakukan visite pasien di rumah sakit Hartanto. Namun sejak tadi pikirannya terus melayang pada pertengkaran malam sebelumnya.
Ucapan Anggun.
“Kamu membosankan.”
“Kamu nggak pernah benar-benar hadir.”
“Pantas mantan istrimu nggak tahan.”
Semua kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
“Dok?" Suara perawat membuat Zayn tersadar.
“Hm?”
“Obat pasien kamar 304…”
Zayn langsung menoleh cepat lalu mengernyit. Dia baru sadar hampir menuliskan dosis yang salah. Tangannya langsung berhenti. Jantungnya mendadak berdegup keras.
Kalau tadi dia tidak sadar, kesalahan itu bisa berbahaya. Zayn langsung menutup mata sebentar sambil menarik napas panjang.
“Dokter?”
“Ganti dosisnya,” ucap Zayn cepat sambil mencoret resep tadi.
Perawat itu tampak bingung tapi mengangguk. Sementara Zayn berdiri diam beberapa detik setelah perawat pergi. Tangannya terasa dingin.
Ini pertama kalinya kehidupan pribadinya mulai memengaruhi pekerjaannya. Dan itu membuatnya takut. Karena selama ini pekerjaan adalah satu-satunya hal yang selalu bisa dia kendalikan. Namun sekarang, bahkan pikirannya sendiri mulai berantakan.
Di sisi lain, Anggun justru sedang tertawa pelan di dalam sebuah apartemen mewah yang tersembunyi. Dia tentu tak sendirian, ada Marvel yang bersamanya.
Apartemen itu tidak terlalu besar, tapi sangat elegan. Lampu kuning hangat menyala redup. Aroma parfum mahal bercampur wine memenuhi udara.
Suara ranjang berderit terdengar mengiringi desahan Anggun. Dia dan Marvel bercinta dengan penuh gairah. Melupakan segala hal tentang kenyataan. Kenyataan bahwa mereka sudah punya pasangan sah dan juga anak.