NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nyonya mendadak rajin

Pagi hari di rumah Wijaya.

Matahari kali ini kayaknya terbit dari barat.

Biasanya jam segini dapur cuma diisi suara panci sama gosip para pelayan. Tapi hari ini beda. Ada yang salah. Sangat salah.

Vivian yang tak pernah sama sekali masuk dapur, yang bahkan bedain garam sama gula aja harus nyicip dulu, kini jadi penguasanya.

Di tengah dapur marmer yang luas, Vivian berdiri dengan celemek warna krem melilit di pinggang rampingnya. Rambut panjangnya dicepol asal, beberapa anak rambut lepas nempel di pelipis yang berkeringat. Tangannya lincah banget. Sebelah numis ayam marinasi sampai wangi bawang putihnya nyebar ke penjuru rumah, sebelah lagi ngaduk salad sayur dengan dressing lemon.

Para pelayan berdiri di pojokan. Berjejer rapi kayak pasukan penguin. Wajahnya campur aduk: kaget, panik, bingung.

“Nyonya... Nyonya mereka kenapa?” bisik Bi Ijah ke Yuni, si pelayan paling muda.

“Apa efek guna-guna juga?” Yuni balas bisik, matanya melotot ngeliat Vivian mecahin telur satu tangan kayak chef profesional. “Kemarin ngamuk minta cerai, sekarang masak? Ya Allah, takut.”

Vivian denger, tapi pura-pura budek. Fokus dia cuma satu: Taklukkan perut mereka dulu, baru hatinya. Itu strategi perang paling tua di dunia.

Dia inget semua dari novel. Cika suka telur mata sapi setengah mateng. Cindy diet ketat, cuma makan telur rebus sama susu skim. Bu Ratna punya darah tinggi, harus banyak sayur. Dan Eric... Eric suka semua yang berbau daging, apalagi ayam lada hitam buatan ibunya dulu.

Huh, untung Vivian di dunia asli hobi nonton MasterChef sambil rebahan. Ilmunya kepake juga akhirnya.

...

Satu-satu anggota keluarga turun, berkumpul di meja makan mahoni panjang.

Bu Ratna turun pertama, dituntun Cika. Wajahnya masih keliatan lelah abis drama semalam. Dia ngelirik kursi Vivian yang kosong, terus nengok ke Eric yang baru datang dari tangga, kemeja rapi, kancing lengan baru setengah dipasang.

"Vivian, apa dia masih tidur?" Tanya Bu Ratna, suaranya pelan tapi nyelip khawatir. Habis semalam anaknya ngamuk, takut pagi ini nemu Vivian gantung diri di kamar.

Eric nggeleng. Dia duduk di kursi kepala meja, mulai membereskan kancing di lengannya dengan gerakan tenang. "Dia sudah tidak ada di kamar," sahutnya datar. Tapi matanya nyari-nyari. Kosong. Kemana lagi istrinya yang aneh itu.

"Awas saja Vivian ini, kalau buat masalah hari ini," timpal Cindy ketus. Dia nyeruput teh tawar tanpa gula, bibirnya manyun. Di antara keluarga yang lain, nampaknya Cindy yang paling benci Vivian. Entah dendam kesumat apa. Mungkin karena Vivian pernah ngelempar tas LV ke mukanya gara-gara rebutan remote TV.

Cika cuma diem, mainin ujung rambutnya. Dia bingung. Kemarin Kak Vivian kayak kesurupan, sekarang ilang.

Tak berselang lama, langkah kaki anggun terdengar menapaki lantai marmer ruang makan.

Tek... tek... tek...

Suara sandal. Tapi anehnya, setiap langkahnya seolah terdengar irama merdu. Pelan, teratur, percaya diri.

Semua orang nengok. Dan nampak terkejut.

Itu Vivian.

Dia dorong troli stainless berisi banyak makanan. Uap panas masih ngepul. Wanginya... ya Tuhan. Wangi mentega, wangi ayam panggang, wangi roti bakar. Bikin perut yang belum diisi langsung keroncongan.

Yang bikin syok bukan cuma makanannya. Tapi Vivian-nya.

Gayanya anggun. Rambut dicepol, tapi gak berantakan. Justru keliatan elegan. Ada keringat tipis di pelipis sama lehernya, tapi malah bikin dia keliatan seger, kayak abis olahraga. Dan bajunya...

Bukan baju sexy ketat buka dada seperti biasa. Dia pakai dress merah marun selutut. Bahannya jatuh, adem, ngikutin lekuk tubuh tanpa norak. Lengan 3/4, sopan. Itu baju yang dia pake tadi malam. Lengkap dengan celemek krem yang masih nempel.

Cantik. Kelewat cantik. Auranya beda. Bukan Vivian hedon yang mereka kenal.

"Selamat pagi semuanya," ucapnya santun. Senyumnya manis, matanya ngebentuk bulan sabit. Nada suaranya lembut, gak melengking kayak biasanya.

Semua orang tak bersuara. Sendok Bu Ratna berhenti di udara. Eric lupa ngancingin lengannya. Cindy sampe lupa ngunyah. Cika? Mulutnya mangap.

Vivian jalan ke meja kayak gak ada yang aneh. Dia berhenti di samping Cika dulu.

"Telur mata sapi dengan ayam marinasi untuk Cika," ucapnya sambil nyodorin piring keramik hangat. Kuning telurnya goyang-goyang, persis kayak yang Cika suka. "Aku ingat kamu gak suka kalau kuningnya pecah."

Cika bengong. Dia nerima piring itu kayak nerima bom waktu. "Ka... Kak Vivian?"

Vivian cuma kedip, terus beralih.

Dia taruh piring di depan Cindy. Isinya simpel: dua butir telur rebus yang udah dikupas rapi, sama segelas susu putih di gelas tinggi.

"Telur rebus dan susu tanpa kalori untukmu," katanya pelan. "Aku tahu kamu sedang diet. Semangat ya." Dia bahkan ngacungin jempol kecil.

Cindy malah ngejauh. "Kamu... kamu ngasih racun?"

Vivian ketawa kecil. "Kalau racun, buat apa aku masak capek-capek? Mending aku pesan online, sekalian kasih rating bintang satu."

Giliran Bu Ratna. Vivian nyodorin mangkuk besar isi salad warna-warni. Ada selada, tomat cherry, timun, alpukat, sama potongan dada ayam panggang. Di atasnya dia siram dressing lemon olive oil.

"Untuk Ibu aku buat salad sayuran," ucap Vivian, nadanya tulus. "Akhir-akhir ini Ibu sering pusing, kan? Coba cek gula darah ya, Bu. Nanti aku temani ke rumah sakit. Gak baik dibiarin."

Bu Ratna kaget. Tangannya gemeter mau nerima mangkuk. Selama dua tahun nikah, baru kali ini Vivian manggil dia "Ibu" tanpa ketus. Baru kali ini Vivian merhatiin kesehatannya.

Terakhir, Vivian beralih pada tokoh utama. Eric Wijaya.

Wajah pria itu masih campuran antara bingung, curiga, dan... heran. Dia natap Vivian kayak Vivian itu alien yang nyasar ke bumi.

"Untuk suamiku, aku buatkan lebih banyak," ucap Vivian. Suaranya dia lembutin sejadi-jadinya.

Dia ngambil nampan paling besar dari troli. Isinya? Surga dunia buat Eric. Nasi hainan, ayam lada hitam yang masih berasap, tumis kangkung bawang putih, sama sup bakso ikan kesukaannya. Porsinya porsi kuli, tapi ditata cantik kayak makanan hotel bintang lima.

Brak. Nampan itu dia taruh pelan di depan Eric.

Huh, untung aku ingat kebiasaan makan mereka dari novel, batin Vivian sambil terkikik dalam hati. Senangkan dulu perut, baru hati. Kalau perut kenyang, otaknya jadi lemot, gampang kasihan. Rencana tiga hari harus sukses.

Semuanya hanya terdiam. Suasana ruang makan yang biasanya dingin kayak kulkas, sekarang jadi aneh. Anget, tapi tegang.

Cindy yang pertama mecah keheningan. Dia gebrak meja. Prang.

"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanyanya sengit. Matanya nyalang. "Gak mungkin kamu tiba-tiba baik. Pasti ada maunya!"

Vivian angkat bahu santai. Dia buka celemeknya, dilipet rapi, taruh di sandaran kursi kosong sebelah Eric. Terus dia duduk manis.

"Aku sedang berperan jadi istri, menantu, dan kakak ipar yang baik," sahut Vivian enteng. Dia ambil gelas, nuangin air putih buat dirinya sendiri. "Apa salah?"

Kata "berperan" itu nyantol di kuping Cindy.

"Peran?" Cindy nyengir sinis. "Itu artinya kamu sedang pura-pura? Tuh kan! Aku tahu! Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Harta? Saham? Atau kamu mau racunin kita semua biar warisan jatuh ke kamu?!"

"Cindy!" Bu Ratna akhirnya nyela. Suaranya tegas. "Jangan bertengkar lagi. Makan dulu. Makanan mubazir dosa."

Cindy mendengus, tapi nurut. Dia nyubit telur rebusnya dengan kasar.

Cika udah mulai makan. Suapan pertama, matanya langsung melek. "Enak, Kak..." bisiknya gak sadar.

Eric belum nyentuh makanannya. Dia natap Vivian terus. Dari ujung rambut sampe ujung kaki. Mencari celah. Mencari kebohongan.

Vivian ngerasa ditatap, dia nengok. Senyum. "Kenapa, Mas? Gak suka? Apa kurang asin? Mau aku ambilin sambel?"

Pertanyaan simpel. Tapi bagi Eric, itu kayak rudal. Dua tahun nikah, Vivian gak pernah nanya dia mau makan apa. Gak pernah manggil "Mas" selembut itu. Gak pernah masak.

Siapa wanita di depannya ini?

Sementara itu, di balik senyum manisnya, perut Vivian mual. Bau ayam lada hitam yang kuat bikin asam lambungnya naik. Efek hamil muda.

Tapi dia tahan. Dia senyum. Dia harus kuat. Tiga hari. Dia cuma butuh tiga hari buat bikin semua orang di meja ini percaya, kalau Vivian yang sekarang udah beda.

Dia ngelus perutnya pelan di bawah meja. "Bertahan ya, Nak. Demi masa depan kita berdua," bisiknya dalam hati.

Perang di meja makan baru aja dimulai. Dan senjata Vivian hari ini adalah telur mata sapi yang kuningnya goyang.

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!