black hole yang menjadi legenda pembunuhan di masanya kini sedang berbaring lemah menahan rasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
" dalam hidup ini aku sudah banyak melakukan dosa, dan sudah tidak terhitung berapa nyawa yang aku hilangkan."
" jika sakit ini menjadi menjadi penebus atas dosaku, maka aku bersumpah di kehidupan keduaku aku akan menjadi seorang yang lebih baik dan tidak akan menghilangkan nya orang lagi kecuali itu terpaksa. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqbal Pertha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cerita firman
" apa kamu bertengkar dengan Diana untuk datang ke sini....." ucap Wira.
" haha itu biasa Diana seperti anak kecil saja kak kak Wira tak perlu pikirkan." ujar firman canggung.
" firman dia calon istrimu, kamu tidak bisa mengabaikannya hanya karena aku, sekarang kembali lah dan bawa kembali uangmu, pernikahanmu sudah Minggu depan kamu tidak bisa seperti ini...." ujar Wira.
" hehehe.... Kak itu sepertinya aku tidak akan menikah, Diana dia memutuskan hubungan sebelum aku datang ke sini." ucap firman kaku tapi tidak nampak penyesalan di matanya.
" kamu... Hah...... ayo mampir kamu ceritakan semuanya padaku." ucap Wira.
" baik Kak....." ujar firman Wira seperti seperti seorang kakak dia merangkul firman berjalan beriringan.
Setelah hampir sampai di pintu rumah kemudian Wira berhenti sejenak dan melihat firman.
" firman... Aku butuh bantuan mu." ujar Wira
" katakan saja Kak...." ucap firman.
" pesankan makanan untuk kakak iparku dan keponakan mu itu mereka sepertinya belum makan." ucap Wira.
" masalah kecil baik akan aku lakukan....." ujar firman cepat dengan ponsel di tangannya hanya mengetuk beberapa kali dan sudah selesai.
" sudah......" ucap firman.
" terimakasih. Besok aku akan mengganti dan membayar semua hutangku padamu..." ucap Wira.
" apa yang kak Wira katakan kakak tidak berhutang apapun padaku." ujar firman.
Wira tersenyum kemudian membawa masuk firman ke dalam rumah yang kukuh dan kecil itu walau sudah di rapikan oleh Wira.
" duduk lah aku akan memberitahu kakak iparmu jika kamu datang ...." ucap Wira.
" haha baik baik kak ..." ucap firman, dia sudah sering datang tapi tidak pernah sampai duduk dia datang hanya untuk mengantar uang di pukul lalu pergi.
Wira kedepan kamar ayu kemudian Wira mengetuk pelan pintu lalu berucap lembut agar tidak membuat terkejut dan takut ayu dan Sasa.
" ay.... Ada firman datang....." ucap Wira.
ayu di dalam yang baru saja berhasil menidurkan Sasa yang sedari tadi ketakutan dan mengeluhkan lapar, tapi kemudian ayu mendengar suara lembut Wira, tapi dia masih takut untuk bersuara.
" firman sepertinya kakak iparmu sudah tidur, aku akan mengambilkan air untuk mu." ucap Wira.
Firman hanya bisa mengangguk dia mulai sadar jika Wira di depannya saat ini sangat berbeda, biasanya Wira akan bersikap abai dan tidak masuk akal, tapi kali ini Wira seperti seorang dewasa yang sudah lama menghabiskan banyak perjalanan hidup.
" ayo minum setelah itu ceritakan padaku." ucap Wira membawa air putih jernih.
" terimakasih kak." ucap firman tidak menunggu segera menenggak air yang di suguhkan hingga menyisakan setengahnya.
...****************...
Di ruangan sebuah kantor firman sedang makan siang bersama Diana yang merupakan anak dari atasannya. tapi firman berhasil masuk ke perusahaan besar ini bukan karena Diana tapi karena kemampuan nya, dan setelah menduduki satu tingkat di bawah pimpinan utama firman berhasil menarik hati Diana yang juga merupakan anak dari atasannya, orang tua Diana pun setuju jika hubungan mereka berlanjut ke jenjang yang lebih serius.
tiiiingrriiiiiing..... Tiitiringi........ Dering ponsel panggilan masuk dari ponsel firman.
" ya halo....." jawab firman santai.
" apa sesuatu terjadi pada kak Wira... Baik aku akan segera kesana......" ucap firman.
" kak Wira kak Wira lagi, sepertinya hampir setiap hari orang ini membuat masalah sehingga harus merepotkan orang lain." kesal Diana.
" Diana ini mendesak benar benar mendesak kak Wira sedang di kepung orang jika sampai kak Wira mati aku tidak bisa memaafkan diriku " ucap firman.
" apa sih jasa Wira dalam hidup kamu selain membuat kamu sudah, selama ini hubungan kita selalu saja terhalang orang bernama Wira." ujar Dinda sudah di ubun-ubun amarahnya.
" Dinda perhatikan ucapanmu dia itu kakak ku dia juga yang sudah menyelamatkan hidupku dulu, jika tidak ada dia, mungkin aku tidak akan duduk di tempatku saat ini dan aku kita tidak akan pernah bertemu mungkin. Jadi stop, ok kita tidak perlu bertengkar." ucap firman masih berkepala dingin.
" aku tidak peduli sekarang kamu tidak boleh pergi atau jika tidak...." ucap Dinda mengancam firman.
" Dinda jangan memberatkan ku, ok, kali ini aku memang harus pergi aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada kak Wira dan keluarganya." ucap firman.
" tidak bisa ......" ucap Dinda.
" maaf tapi aku harus pergi....." ucap firman.
" berhenti..... Firman jika kamu keluar maka kita selesai sampai di sini, semua yang aku dan papa beri kamu tidak bisa menikmati lagi." ucap Dinda.
Firman terdiam mematung di pintu kemudian dia menoleh sedih ke arah Dinda dan berjalan perlahan. kemudian mereka berdiri berhadapan.
" ini kunci mobil, dan ini semua kunci, dari rumah, apartemen, vila dan yang lainnya, aku kembalikan, dan ini semua kartu bank yang sudah kamu dan papa mu berikan, silahkan periksa semuanya jika ada yang kurang aku akan segera menggantinya, dan untuk kamu maaf karena aku mengecewakan mu." ucap firman.
" Dinda yang harus kamu tau asal usulku itu dari jalanan, hidup di sana lebih keras, hidup dan mati tidak bisa di prediksi, dengan kamu yang seperti ini itu tidak akan mengubah niatku, aku pergi." ujar firman tidak lagi menoleh.
Diana kaku dia tidak menyangka, jika firman seberani itu, dia hanya sekedar ingin menahan firman dia tidak benar benar ingin meninggalkan firman hatinya sudah benar benar dimiliki firman.
Di luar ruangan firman yang terburu-buru tak sengaja menabrak Budi Sanjaya yang merupakan pimpinan dari perusahaan itu sekaligus ayah dari Diana.
" firman mau kemana buru buru, apa Dinda di dalam dan mengganggu pekerjaanmu." ujar Budi.
" pimpinan, maaf hari ini aku harus pergi ada urusan mendesak Dinda ada di dalam, besok aku akan menjelaskan semuanya dan juga sekaligus mengantarkan surat pengunduran diri ku. Permisi." ucap firman.
" e.... Tung.......gu......" Budi tidak lagi bisa menahan firman yang sudah menjauh.
Budi segera pergi keruangan firman tapi baru saja akan membuka pintu, pintunya sudah terbuka dengan kasar itu Dinda dengan berlinang air mata keluar dari dalam.
" papa.... Firman pa firman pergi....." ucap Dinda menangis sedih.
" ada apa.... Kalian bertengkar, kalian seminggu lagi akan menikah." ucap Budi.
" aku aku hanya........." ucap Dinda tak sampai.
" sekarang jelasin sama papa....." ucap Budi.
Dinda pun menjelaskan semuanya pada Budi dan Budi hanya bisa menghirup sesak nafasnya.
" pa... Di dalam hanya marah sesaat Dinda menyesal, pa..... Tolong papa bilang sama firman, Dinda gak mau kehilangan firman." ucap Dinda.
" hah... baik lah besok papa akan mencoba bicara dengan nya." ucap Budi.
Budi juga tidak bisa kehilangan firman orang seperti firman banyak perusahaan besar lain menunggunya bahkan bukan tidak mungkin untuk firman mendirikan perusahaannya sendiri, tapi Budi juga tidak bisa menahan orang seperti firman, orang yang hidup di jalanan jika terancam akan melakukan berbagai cara, bahkan mengorbankan hidupnya itu bisa menjadi mungkin.