NovelToon NovelToon
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Jf

BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 — Pelan-Pelan Menyembuhkan Luka

Hujan malam itu belum juga reda. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di genangan air yang mulai memenuhi sisi trotoar. Di bawah halte kecil itu, Arga dan Alya masih berdiri berdampingan sambil mendengarkan suara rintik yang jatuh tanpa henti.

Sesekali kendaraan melintas cepat, memecah air di jalanan dan meninggalkan suara gemuruh kecil yang perlahan menghilang bersama malam.

Arga menatap lurus ke depan. Entah kenapa dadanya terasa lebih ringan dibanding biasanya. Mungkin karena untuk pertama kalinya ia tidak memendam semuanya sendirian.

Alya merapatkan jaketnya sambil meniup pelan kopi hangat yang tinggal setengah.

“Kamu dingin?” tanya Arga.

“Sedikit,” jawab Alya sambil tersenyum kecil.

Arga membuka tas lusuhnya lalu mengeluarkan hoodie tipis berwarna hitam.

“Pakai aja.”

Alya langsung menggeleng. “Kamu nanti kedinginan.”

“Nggak apa-apa. Aku udah biasa.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi Alya tahu ada banyak hal yang tersembunyi di balik ucapan tersebut. Arga memang selalu begitu. Terbiasa menahan semuanya sendiri sampai lupa bagaimana caranya meminta bantuan.

Akhirnya Alya menerima hoodie itu pelan.

“Thanks.”

Arga hanya mengangguk kecil.

Beberapa menit berlalu tanpa banyak percakapan. Namun anehnya, diam bersama Alya tidak pernah terasa canggung bagi Arga.

Justru keheningan itu terasa nyaman.

Seolah mereka tidak perlu banyak kata untuk saling memahami.

“Aku boleh tanya sesuatu nggak?” ujar Alya pelan.

“Tanya aja.”

“Kamu sebenarnya kenapa selalu maksa diri buat kuat?”

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam cukup lama.

Ia menundukkan kepala sambil memperhatikan sepatu lusuhnya yang mulai basah terkena air hujan.

“Soalnya nggak ada pilihan lain.”

Jawaban singkat itu terdengar begitu berat.

Arga menarik napas panjang sebelum kembali berbicara.

“Dulu aku pernah percaya kalau semua bakal baik-baik aja selama aku berusaha. Tapi makin ke sini hidup malah makin berat.”

Alya mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.

“Aku capek lihat ibu kerja sendirian dari dulu,” lanjut Arga lirih. “Makanya aku pengen cepat sukses. Pengen bikin hidup beliau tenang.”

Suara Arga mulai melemah.

“Tapi sampai sekarang aku belum jadi apa-apa.”

Alya menatap wajah Arga yang terlihat lelah di bawah cahaya lampu halte.

“Kamu terlalu keras sama diri sendiri, Ga.”

“Aku cuma takut ngecewain orang.”

“Dan kamu lupa kalau diri kamu sendiri juga butuh dipeduliin.”

Kalimat itu kembali membuat Arga diam.

Hujan masih turun deras. Udara malam semakin dingin, namun percakapan mereka justru terasa hangat.

Alya kemudian tersenyum kecil sambil menatap jalanan.

“Kamu tahu nggak? Aku dulu juga pernah ada di posisi kamu.”

Arga menoleh pelan. “Maksudnya?”

“Aku pernah ngerasa sendirian banget.”

Untuk pertama kalinya malam itu, nada suara Alya terdengar sedikit rapuh.

“Ayah aku pergi waktu aku masih kecil. Dari situ aku belajar kalau hidup nggak selalu sesuai harapan.”

Arga memperhatikan Alya cukup lama.

Biasanya gadis itu selalu terlihat ceria seolah tidak memiliki masalah apa pun.

Namun malam itu, Arga sadar bahwa setiap orang ternyata menyimpan lukanya masing-masing.

“Mama aku kerja terus sampai sakit,” lanjut Alya pelan. “Aku pernah marah sama hidup. Pernah iri lihat keluarga lain yang lengkap.”

“Aku nggak tahu…”

Alya tersenyum tipis.

“Karena aku nggak pernah cerita.”

Mereka kembali terdiam.

Suara hujan perlahan mulai mengecil, berganti menjadi gerimis lembut yang jatuh perlahan di jalanan malam.

Arga menatap Alya dengan tatapan berbeda.

Bukan lagi sekadar seseorang yang hadir menghiburnya.

Tapi seseorang yang ternyata sama-sama sedang berjuang melawan hidup.

“Makasih udah cerita,” kata Arga pelan.

Alya mengangguk kecil.

“Aku cuma nggak mau kamu ngerasa sendirian terus.”

Kalimat sederhana itu terasa begitu tulus hingga membuat dada Arga menghangat.

Sudah lama sekali tidak ada orang yang benar-benar peduli pada perasaannya.

Selama ini ia terbiasa mendengar tuntutan, omelan, dan pertanyaan tentang kapan ia sukses.

Tapi Alya berbeda.

Gadis itu tidak pernah menuntut apa pun.

Ia hanya hadir.

Dan terkadang, kehadiran sederhana seseorang bisa menyelamatkan hati yang hampir menyerah.

Hujan akhirnya mulai reda.

Orang-orang perlahan keluar dari tempat teduh dan kembali melanjutkan perjalanan mereka masing-masing.

Alya melihat jam di ponselnya lalu menghela napas pelan.

“Udah malam.”

Arga mengangguk.

“Iya.”

Namun entah kenapa, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin pulang lebih dulu.

Malam itu terasa terlalu nyaman untuk segera diakhiri.

Alya kemudian berdiri sambil tersenyum kecil.

“Jalan yuk.”

“Hujannya masih gerimis.”

“Justru itu enak.”

Arga terkekeh pelan lalu ikut berdiri.

Mereka berjalan menyusuri trotoar kota yang masih basah setelah hujan. Lampu-lampu jalan membuat suasana malam terlihat hangat meski udara terasa dingin.

Sesekali Alya menghindari genangan air kecil sambil tertawa sendiri.

Arga hanya memperhatikan tingkah gadis itu sambil tersenyum tipis.

Sudah lama ia tidak menikmati malam sesederhana ini.

Tidak ada tekanan.

Tidak ada tuntutan.

Hanya langkah pelan dan seseorang yang berjalan di sampingnya.

“Kamu kalau senyum sebenarnya lumayan juga,” goda Alya tiba-tiba.

Arga langsung mengernyit. “Apaan sih.”

“Serius.”

“Kamu aneh.”

Alya tertawa kecil.

“Tapi berhasil bikin kamu senyum kan?”

Arga menggeleng pelan sambil tertawa lirih.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar tulus.

Mereka berhenti di jembatan kecil dekat taman kota. Dari sana terlihat pantulan lampu di permukaan sungai yang bergerak pelan terbawa arus.

Alya bersandar di pagar jembatan sambil menatap langit malam.

“Ga.”

“Hm?”

“Janji satu hal sama aku.”

“Apa?”

“Kalau capek, jangan dipendem sendiri lagi.”

Arga terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Aku coba.”

“Bukan coba. Tapi harus.”

Arga tersenyum kecil.

“Iya, bawel.”

Alya tersenyum puas mendengarnya.

Angin malam kembali bertiup lembut menerbangkan aroma tanah basah setelah hujan.

Arga memandang langit yang perlahan mulai cerah.

Aneh.

Padahal hidupnya belum berubah.

Masalahnya masih sama.

Besok ia tetap harus bekerja keras seperti biasa.

Tetap harus menghadapi lelah dan tekanan yang tidak sedikit.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya ia merasa tidak benar-benar sendirian.

Dan perasaan itu cukup untuk membuatnya kembali kuat menjalani hari esok.

Alya kemudian menoleh ke arah Arga.

“Kamu tahu nggak?”

“Apa lagi?”

“Kadang hidup emang berat. Tapi Tuhan biasanya ngirim seseorang di waktu yang tepat supaya kita nggak nyerah.”

Arga memandang Alya cukup lama.

Tatapan gadis itu hangat. Hangat sampai mampu menenangkan hati yang selama ini dipenuhi rasa takut dan kecewa.

Tanpa sadar, Arga tersenyum kecil.

“Mungkin kamu bener.”

Alya mengangkat alisnya sambil tersenyum bangga.

“Ya iyalah.”

Mereka kembali tertawa kecil bersama.

Malam semakin larut. Jalanan mulai sepi, hanya tersisa suara kendaraan sesekali yang melintas di kejauhan.

Namun di tengah dinginnya malam dan sisa hujan yang belum sepenuhnya hilang, hati Arga perlahan menemukan sesuatu yang sudah lama ia cari.

Bukan tentang uang.

Bukan tentang kesuksesan.

Melainkan rasa tenang karena akhirnya ada seseorang yang mau tinggal ketika hidupnya sedang berantakan.

Dan sejak malam itu, Arga mulai percaya bahwa harapan masih ada.

Sekecil apa pun itu.

Karena terkadang, satu orang yang datang dengan tulus mampu mengubah cara kita memandang hidup sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!