"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."
Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Pengkhianatan Bayangan
Gulungan perkamen kuno tergelar di atas meja batu giok dengan suara gesekan yang kasar. Jacob menyentuh permukaan perkamen itu sambil memusatkan seluruh atensi pandangan birunya ke arah jutaan garis rumit yang tergambar di sana.
"Bessara hanya sebesar kuku jari jika dibandingkan dengan benua raksasa di seberang lautan ini," ucap Jacob dengan nada bicara yang menuntut konfirmasi langsung.
"Itulah alasan utama leluhur kami memilih untuk menutup diri dari dunia luar, Raja Jacob. Menjadi besar di wilayah kecil jauh lebih aman daripada menjadi debu di wilayah raksasa," jawab Ratu Isolde sambil menunjuk sebuah titik terpencil di sudut peta.
"Kalian menutupi kepengecutan kalian dengan menyebutnya sebagai sumpah suci pelestarian alam. Kebodohan pasifistik yang hampir membuat kalian dimusnahkan secara permanen oleh tikus-tikus bersenjata Hamond," sindir Jacob dengan tatapan mata yang sangat tajam dan merendahkan.
"Kesombongan Anda belum teruji oleh waktu dan sejarah yang kejam, Anak Muda. Anda berani bicara seperti itu karena Anda belum pernah melihat pasukan dari Kekaisaran Zagan di benua barat," balas Ratu Isolde tanpa terpengaruh sedikit pun oleh provokasi tersebut.
"Jelaskan padaku kekuatan militer mereka secara spesifik. Aku tidak butuh dongeng pengantar tidur tentang raksasa mistis atau sihir kuno," desak Jacob sambil mengetukkan jarinya ke atas nama kekaisaran tersebut.
"Kerajaan raksasa di benua barat memiliki kavaleri terbang dan armada baja yang digerakkan oleh mesin uap raksasa, Baginda. Mereka tidak bertarung menggunakan pedang, melainkan tembakan logam beruntun," jelas Putri Diana yang berdiri tepat di samping ibunya.
{Armada mesin uap dan kavaleri udara? Meriam Api Naga milikku harus segera dimodifikasi untuk fungsi pertahanan anti-udara. Cetak biru dari sistem harus ditingkatkan ke level maksimal setibanya aku di istana nanti.}
"Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang memegang pedang paling tajam dan mematikan, Ratu Isolde. Aku akan membawa salinan peta ini dan seluruh rahasia bibit alkimia Evlenian kembali ke Helios hari ini juga," putus Jacob tanpa memberikan ruang untuk negosiasi lebih lanjut.
"Apakah Anda akan meninggalkan pasukan penjaga di lembah ini untuk menahan serangan balasan Hamond? Perjanjian Teratai mewajibkan Anda menjadi perisai kami," tuntut Diana dengan raut wajah yang menegang.
"Hamond sedang sibuk memunguti sisa potongan tubuh jenderal mereka dari tumpukan abu panas. Mereka tidak akan berani bergerak maju tanpa pusat komando yang utuh selama berbulan-bulan ke depan," jawab Jacob sambil menggulung perkamen kuno tersebut dengan gerakan tangan yang sangat cepat.
||||||||||||||
Derap kaki kuda Jacob dan Diana memecah keheningan jalur rahasia perbukitan batu di luar batas wilayah Evlenian.
"Perjalanan kembali ke wilayah kekuasaanmu terasa jauh lebih cepat daripada saat kita berangkat menembus hutan kemarin, Raja Jacob," ucap Diana sambil memacu kudanya agar tetap sejajar dengan sang penakluk.
"Kita tidak membuang waktu untuk membantai para pembunuh bayaran rendahan di sepanjang jalan setapak ini," jawab Jacob dengan tatapan mata yang terus memindai garis cakrawala di depannya.
"Apakah komandan wanita dan jenderal besarmu itu benar-benar mampu menjaga takhta Helios tanpa kehadiranmu secara fisik?" tanya Diana mengutarakan keraguannya yang masih mengganjal pikiran.
"Natali dan Veldora bukan prajurit kemarin sore yang baru belajar memegang senjata. Mereka berdua tahu persis cara menjalankan pemerintahan bayangan tanpa memancing kecurigaan lintah-lintah politik di istana," tegas Jacob dengan keyakinan penuh.
{Sistem tidak mendeteksi adanya fluktuasi ancaman massal dari arah ibu kota sejak aku meninggalkannya. Helios seharusnya berada dalam kendali mutlak mereka tanpa ada masalah sekecil apa pun.}
"Botol-botol Embrio Kehidupan itu akan mengembalikan kesadaran ribuan pasukanmu malam ini juga. Memimpin prajurit elit yang memiliki akal sehat dan emosi jauh lebih sulit daripada sekadar mengendalikan boneka bernyawa," peringat Diana dengan nada bicara seorang penasihat kerajaan.
"Prajurit yang memiliki alasan untuk bertarung dan melindungi keluarganya akan membunuh musuh seratus kali lebih efisien daripada mesin rusak yang hanya mengikuti perintah buta," bantah Jacob memberikan perspektif militernya.
"Anda mulai berbicara seperti seorang pemimpin yang peduli pada nyawa rakyatnya sendiri, bukan seperti tiran gila darah yang menaklukkan Scolar tempo hari," ucap Diana sambil memberikan senyum tipis yang penuh teka-teki.
"Jangan pernah mencoba membaca isi kepalaku, Tuan Putri. Simpan saja analisamu yang dangkal itu untuk mempercepat produksi gandum setibanya kita di pusat pertanian nanti," bentak Jacob memotong pembicaraan tersebut dengan sangat kasar.
||||||||||||||
Kuda hitam itu berhenti mendadak hingga kedua kaki depannya terangkat tinggi ke udara. Jacob menarik tali kekangnya dengan tenaga penuh saat sistem memberikan peringatan bahaya di dalam kepalanya.
{Ada yang sangat tidak beres dengan pola getaran ini. Hentakan kaki dari arah perbatasan sangat kacau dan memancarkan pola kepanikan ekstrem.}
"Mengapa Anda menghentikan laju kuda ini secara tiba-tiba di tengah medan terbuka seperti ini?" tanya Diana dengan wajah yang langsung memucat karena kebingungan.
"Turun dari pelana dan bersembunyi di balik tebing batu itu sekarang juga. Jangan mengeluarkan suara sekecil apa pun," perintah Jacob sambil mencabut pedang pendeknya dari balik jubah cokelat yang ia kenakan.
"Apakah Anda mendeteksi pergerakan pasukan musuh yang menyergap di depan sana?" tanya Diana sambil segera melompat turun dan merapat ke dinding tebing.
"Seseorang sedang berlari ke arah kita dengan kecepatan yang sangat tidak wajar untuk ukuran manusia normal yang terluka parah," jawab Jacob memfokuskan pandangannya pada ujung jurang di hadapannya.
Sosok berzirah hitam pekat muncul dari balik tikungan jurang dengan langkah yang sempoyongan. Cairan merah pekat terus menetes dari sela-sela pelat besi pelindung dadanya, membasahi tanah kering yang ia pijak.
Prajurit Nightmare itu jatuh tersungkur tepat di depan kaki Jacob, napasnya memburu dengan suara berdeguk yang sangat mengerikan akibat pendarahan dalam.
"Bangun dan berikan laporanmu dengan jelas kepadaku, Prajurit!" perintah Jacob sambil berjongkok dan mencengkeram kerah zirah pria itu dengan kuat.
"Ampuni kelalaian kami dalam menjaga rumah Anda, Baginda Raja! Ibu kota diserang secara besar-besaran dari dalam tembok pertahanan!" teriak prajurit itu dengan sisa tenaga yang memicu semburan darah segar dari mulutnya.
"Jelaskan kepadaku siapa musuh yang berani menyerang Helios saat Veldora dan Natali berjaga di dalam istana!" geram Jacob dengan kepalan tangan yang mulai bergetar menahan amarah yang meledak.
"Ribuan pembunuh bayaran dari kerajaan Airis menyusup melalui jalur bawah tanah limbah pabrik peleburan senjata utama kita, Tuanku!" lapor prajurit tersebut dengan napas yang semakin putus-putus.
"Berapa banyak jumlah tikus tanah yang berhasil menembus pertahanan istana tanpa terdeteksi oleh patroli Nightmare?" tanya Jacob dengan rahang yang mengeras sempurna.
"Lebih dari tiga ribu orang, Baginda! Mereka menyandera seluruh pandai besi dan meledakkan cadangan mesiu Meriam Api Naga kita secara bersamaan di tengah malam!" jawab prajurit itu memberikan fakta kehancuran yang sangat fatal.
{Airis? Bagaimana mungkin kerajaan pembunuh bayaran rendahan itu memiliki informasi akurat tentang letak pabrik rahasia dan gudang mesiuku? Pasti ada pengkhianat tingkat tinggi di jajaran menteriku yang membocorkan peta istana.}
"Di mana posisi komandan dan jenderalmu saat serangan pengecut itu terjadi?" tuntut Jacob menginterogasi prajuritnya tanpa memberikan belas kasihan pada luka pria tersebut.
"Jenderal Veldora tertimbun reruntuhan pilar pabrik saat mencoba menyelamatkan cetakan meriam dari ledakan beruntun, Baginda! Komandan Natali sedang berjuang mati-matian menahan gelombang ribuan pembunuh itu di aula utama istana sendirian demi memberikan waktu evakuasi!" rintih prajurit itu sambil memegangi perutnya yang robek.
"Jika komandanmu benar-benar bertarung sendirian melawan tiga ribu pembunuh elit di ruang tertutup, nyawanya tidak akan bisa bertahan lebih dari hitungan jam," sela Diana yang baru saja melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.
"Diam dan naik kembali ke atas kuda ini, Diana. Kita akan memacu perjalanan ini dengan kecepatan maksimal tanpa henti," perintah Jacob sambil berdiri tegak dengan mata biru yang menyala penuh murka.
"Baginda Raja, para pembunuh itu tidak hanya meledakkan pabrik kita! Mereka juga membawa tawanan penting ke atas menara istana timur!" teriak prajurit itu mencoba menahan kepergian sang raja.
"Siapa lagi yang berani mereka jadikan tawanan di dalam wilayah kekuasaan mutlakku sendiri?" desis Jacob dengan suara yang sedingin es di puncak pegunungan.
"Mereka menyandera mantan Raja Ferdinand, ayah kandung Anda, Tuanku!" jawab prajurit itu menumpahkan sisa informasi terakhir sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
"Kerajaan Airis baru saja menandatangani surat pemusnahan mereka sendiri hari ini. Aku akan menghapus seluruh garis keturunan mereka tanpa menyisakan satu pun nama di buku sejarah," sumpah Jacob sambil melompat ke atas punggung kudanya.