Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7. lamunan mesum Chris
Maya tidak pernah merasakan segugup ini sebelumnya. Jujur saja, hingga saat ini, atau bisa dikatakan umurnya yang telah memasuki usia matang seperti ini, Maya hanya pernah merasakan satu kali pacaran, itu pun ketika ia masih menjadi mahasiswi baru.
Andrew, sapaan kecil untuk nama kekasihnya yang dulu, yang selalu menginginkan lebih darinya. Satu-satunya laki-laki yang pernah ia beri label pacar. Namun, umur hubungannya dengan sang mantan kekasih tidak berakhir lama. Belum juga empat bulan menjalani hubungan, Maya memilih untuk putus. Hubungan itu bisa dikatakan sangat singkat, tapi cukup untuk meninggalkan luka yang dalam bagi Maya.
Maya mengingat bagaimana awalnya Andrew begitu lembut, perhatian, dan selalu tahu cara membuatnya merasa istimewa. Tapi seiring waktu, tuntutan itu datang. Permintaan yang terus-menerus menguji batas kenyamanannya.
Bukan karena Maya tak mencintainya, tapi ia tahu ada garis yang tak bisa ia langkahi. Ia menjaga sesuatu yang baginya bukan sekadar fisik, melainkan bagian dari harga dirinya.
Keinginan yang tidak akan Maya berikan kepada Andrew, juga kepada lelaki manapun. Tidak.. kecuali untuk suaminya kelak. Maya akan menjaga kesuciannya untuk suaminya kelak. Hanya suaminya.
Namun Andrew tak mengerti.
Hubungan mereka yang semula hangat berubah dingin. Kalimat-kalimat manis berganti sindiran halus. Sentuhan ringan berubah jadi desakan. Dan ketika Maya tetap pada pendiriannya, perlahan Andrew menjauh, lalu pergi. Tanpa banyak kata, tanpa perpisahan yang layak. Hanya kalimat 'kita putus' yang Maya kirimkan lewat pesan singkat, membuat keduanya berpisah.
Sejak saat itu, Maya membentengi dirinya lebih kuat. Ia belajar bahwa cinta tidak cukup hanya tentang rasa, tapi juga tentang penghargaan. Dan Maya, sejak hari itu, berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan pernah menyerahkan apa pun yang tak ingin ia relakan, bahkan kepada seseorang yang mengaku mencintainya.
Andrew sedikit berbeda dengan Chris. Walaupun ada beberapa kepribadian pemuda itu yang sama dengan mantan kekasih Maya, tetapi setidaknya Chris tahu batasan.
Sekilas, mereka memang tampak serupa. Sama-sama percaya diri, sama-sama tahu cara memperlakukan perempuan dengan manis di awal. Andrew dulu pun begitu. Penuh perhatian, penuh rayuan halus yang mudah membuat hati luluh. Dan Chris, juga seperti itu. Spontan, keras kepala, tapi ada sisi lembut yang muncul di waktu tak terduga.
Andrew selalu mendorong lebih jauh, tak pernah puas jika Maya tak memberi lebih. Baginya, cinta berarti kepemilikan, dan tubuh Maya hanyalah bagian dari komitmen yang harus ia buktikan. Sedangkan Chris, meski kadang menggoda dengan kata atau candaan nakal, ia tahu kapan harus berhenti.
Chris bisa marah, bisa keras kepala, bahkan kadang menyebalkan. Tapi ia tak pernah memaksa. Ia tidak mengintimidasi Maya dengan cinta. Ia menunggu, memberi ruang, dan tahu bahwa kepercayaan tidak bisa dipaksa hadir dalam semalam.
Dan di situlah letak perbedaannya.
Bersama Andrew, Maya merasa terancam kehilangan dirinya. Tapi bersama Chris, meski sering bertengkar, Maya tetap merasa menjadi dirinya sendiri. Dan itu, sesuatu yang jauh lebih berarti.
Maya melirik Chris yang saat ini begitu fokus dengan mobilnya. Matanya fokus menatap ke depan tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya ke tempat yang lain.
Maya mendesah pelan. Lebih memilih untuk memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela.
......................
Chris tahu saat ini emosinya tengah memuncak hingga ke batas normal yang selama ini bisa ia tahan. Saat Maya meminta ini dan itu kepadanya, Chris masih bisa menahannya. Namun kali ini berbeda.
Chris sangat terkejut saat membaca pesan singkat dari Maya. Keterkejutan itu berlanjut ketika ia tahu bahwa Maya kembali memblokir nomornya.
"Apa gue melakukan kesalahan lagi?"
Itulah yang ada dipikiran Chris saat ini. Saat lampu merah dan kemacetan kembali melanda, ia mengalihkan pandangan matanya ke tempat Maya yang saat ini duduk di sampingnya.
Chris merasakan gejolak pada hormon nya sebagai seorang pria hanya dengan melihat tubuh Maya. Rambut Maya yang panjang, menjadi favorit Chris sejak pertama kali ia bertemu dengan gadis itu.
Tak ada yang istimewa dalam penampilannya, hanya kaus putih longgar yang menampilkan bahunya dan celana jeans, tanpa riasan mencolok, tanpa gaya berlebihan. Tapi entah mengapa buat Chris, pemandangan itu terasa luar biasa mengganggu. Dalam arti yang sepenuhnya menggoda.
Leher jenjang dan bahu Maya yang terekspos, membuat otak mesumnya kembali aktif. Chris menarik napas dalam, lalu membuangnya dengan berat. Tangan kanannya terangkat, mengusap tengkuk yang mulai terasa panas.
“Gila! ini cewek kenapa bisa segini ngaruhnya ke gue, sih?” gumamnya pelan, nyaris tak percaya.
Setiap kali melihat Maya, tubuh Chris bereaksi sebelum pikirannya sempat memproses apa pun. Detak jantungnya langsung tak beraturan. Pandangannya seolah otomatis terpaku pada gerak-gerik gadis itu. Cara Maya membetulkan kerah bajunya, cara dia menggigit bibir saat berpikir, bahkan saat tertawa lepas atau memutar bola mata karena kesal padanya. Kadang Maya bahkan tidak sadar jika dia sedang menarik perhatiannya.
Yang jelas, buat Chris, hanya dengan melihat Maya berdiri, berjalan, atau sekadar menatap ke luar jendela dengan ekspresi kosong seperti sekarang, otaknya bisa langsung dipenuhi pikiran-pikiran yang... bukan untuk dibahas di siang bolong.
“Lo bikin hormon gue naik turun kayak roller coaster, May,” gumamnya lirih nyaris tak terdengar.
Chris memang terlahir mesum, dan ia mengakui hal itu. Selama menjalin hubungan dengan beberapa mantan pacarnya, Chris memang suka memberikan jejak berupa kiss mark ke setiap leher dan bahu mantan kekasihnya. Chris menyukai sensasi serta aroma tubuh mereka. Dan kali ini, Maya telah mengujinya.
Chris bukan cowok suci. Ia tahu apa yang ia rasakan bukan sekadar suka. Tapi di balik gejolak laki-laki yang begitu kuat setiap kali ada Maya di dekatnya, Chris juga merasa takut. Takut jika perasaannya itu hanya jadi obsesi. Takut jika Maya salah menilai. Tapi yang paling dia takutkan… kalau Maya tiba-tiba menjauh karena tahu betapa gilanya hasrat Chris setiap kali ia menatap mata itu.
Namun di balik semua itu, Chris tahu satu hal yang pasti. Bukan hanya tubuhnya yang bereaksi, tapi hatinya pun sudah terseret terlalu dalam. Dan setiap kali Maya muncul di hadapannya, ia sadar… menahan diri itu bukan perkara mudah, tapi melindungi Maya dari niat buruk siapa pun termasuk dirinya sendiri adalah cara menunjukkan kalau perasaannya benar-benar tulus.
"Kok mobilnya nggak jalan-jalan, sih!"
Suara desahan Maya, membangunkan lamunan mesum Chris. Ia menatap Maya lembut. "Kayaknya di depan lagi ada banyak polisi."
Wajah Maya berubah cemberut dan kesal. Chris diam sambil terus melihat Maya yang sepertinya sudah mulai bosan untuk menunggu. Berkali-kali di lihatnya kaki jenjang gadis itu bergerak gelisah dan kedua tangannya memainkan seatbelt sebagai tanda jika ia tidak suka dengan situasi sekarang.
"Tunggu aku disini, dan jangan coba-coba keluar dari mobil."
Chris melepaskan seatbelt nya dan keluar dari dalam mobil setelah Maya mengangguk sebagai bentuk persetujuan.