No Plagiat ❌
Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara akhirnya meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Plot Twist yang tak terduga
“Al, maafkan aku yang tidak bisa membantumu. Tapi aku yakin kamu bisa melewatinya dengan baik, dan kamu bisa menjalani tanpa beban.” Zhara menatap pacarnya penuh harap.
“Zhara…” Alvaro menatapnya, suaranya berat. “Aku gagal, aku yang seharusnya minta maaf. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik.”
Alvaro bangkit dari duduknya. Tangannya mengepal erat, seolah menahan sesuatu yang sulit dilepaskan.
Zhara yang tidak dapat memahami apa yang dimaksud, perlahan berdiri mendekatinya.
“Bukankah setiap masalah ada solusinya, mengapa ucapanmu terasa seperti...” Zhara bingung menyampaikan perasaannya.
“Sekali orang itu mengecewakan… akan selamanya mengecewakan, Zhara,” jawab Alvaro pelan, nyaris bergetar. “Aku merasa tidak pantas berdiri di sampingmu, apalagi di altar pernikahan.”
Ia menarik napas panjang, lalu menatap Zhara dengan mata yang berat.
“Zhara… aku ingin mengakhiri hubungan kita.”
“Apa maksudmu?...” Tanya Zhara menarik lengan pacarnya.
“Kita putus.”
Zhara membeku mendengar ucapan Alvaro.
“Sebenarnya aku menderita mengatakannya, aku juga tidak ingin melakukan ini. Tapi aku merasa kotor Zha…”
Alvaro memegang kedua pundak Zhara, menatapnya dengan lembut namun penuh beban.
Zhara terdiam, Ia masih bingung dan tidak menyangka Alvaro ingin memutuskan hubungan.
“Zhara, hari ini kita tidak punya hubungan apapun.” Air mata Alvaro akhirnya jatuh.
Zhara terdiam. Wajahnya memucat.
“Apa salahku?” suaranya lirih. Air matanya mulai jatuh tanpa ia sadari.
“Bukan salahmu… ini salahku.” Alvaro berusaha menjelaskan dengan suara bergetar.
Namun Zhara tiba-tiba menepis tangannya.
“Ucapkan dengan dengan jelas… jangan bertele-tele!” pekiknya, mata Zhara membelalak, suaranya pecah oleh emosi.
“Agar aku mengerti dan memahami ucapanmu. Kenapa dengan hubungan kita, Alvaro Jarene?!” teriak Zhara marah, dengan kasar menghapus air matanya.
Alvaro menghela napas panjang. Tatapannya tidak lepas dari Zhara.
“Aku sudah menghamili perempuan lain… teman kerjaku,” akhirnya ia berani berkata. “Aku dipecat dari tempat kerja, dan diusir dari rumah. Kejadian itu… tidak disengaja. Waktu itu aku minum dengan teman-teman setelah bekerja. Saat mabuk, aku tidak sadar melakukan hal bodoh dengannya.”
Zhara terdiam sesaat, dadanya terasa sesak mendengar pengakuan Alvaro.
“Jawab dengan jujur, aku tahu kamu berbohong.”
“Aku tidak berbohong!” suara Alvaro meninggi, hampir putus asa.
“Aku mabuk saat itu. Aku tidak bisa menahan diri. Aku tidur dengannya karena aku… aku tidak ingin merusakmu, sebelum kita menikah. Tapi aku salah langkah, dan sialnya, Viona hamil.”
PLAAAK!
Zhara menampar keras wajah Alvaro. Tatapannya penuh kebencian. Ia melangkah mundur, menatap pacarnya dengan jijik.
“Bajingan! Aku kira masalahmu dengan keluarga, ternyata dengan ranjang dan nafsu…” Zahra tidak dapat menahan air matanya, bahunya bergetar menahan emosi. “Apa aku pantas menerima balasan se-menjijikkan ini?!”
Zhara berjongkok. Ia menangis tersedu, tangannya menutup seluruh wajahnya.
Alvaro berusaha mendekatinya, mencoba menenangkan. Namun Zhara mendorongnya dengan kuat lalu kembali berdiri, melangkah mundur.
“Zhara… tolong dengarkan?!”
“Aku tidak perlu mendengar penjelasan apa pun lagi,” suara Zhara serak. “Hari ini aku sepakat kita putus, aku dan dirimu tidak lagi ada hubungan apapun.”
Tubuhnya bergetar, langkahnya sedikit goyah. Dadanya terasa sakit, seakan ada ribuan pisau menancap bersamaan.
“Zhara tenangkan dirimu,” Alvaro kembali mendekat, mencoba meraih Zhara.
“Aku mohon Alvaro, pergi dari sini... Aku tidak mau melihatmu lagi...” Zhara memalingkan wajahnya, air matanya jatuh membasahi pipinya.
“Tapi, aku antar kamu pulang ya?” Alvaro menawarkan diri, suaranya terdengar khawatir.
Zhara menggeleng pelan, ia tidak mau menjawab.
“Baiklah, aku akan pergi. Tapi tolong jaga dirimu.” Dengan berat hati, Alvaro melangkah mundur lalu pergi menjauh.
Zhara menatap punggung Alvaro yang semakin jauh. Dadanya terasa sesak, napasnya berat, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Entah mengapa ia merasa kepergian Alvaro merobek hatinya hingga hancur berkeping-keping, mengapa kisah cintanya sangat kejam.
Terlihat Alvaro perlahan menjauh, seakan semua yang terjadi benar-benar tidak dapat di perbaiki dan akan berakhir dengan menyakitkan.
“Aaarrgh…”
Ia mencengkeram dadanya erat, berusaha menahan rasa yang tiba-tiba menghimpit. Ia mencoba memanggil Alvaro, tetapi suaranya tidak keluar. Mulutnya terasa kaku. Langkahnya goyah. Ia berjalan tertatih, hingga tiba-tiba lututnya melemas. Pandangannya mulai kabur.
BRUK!
Tubuh Zhara roboh ke tanah. Pandangannya gelap total, hanya suara angin yang perlahan memudar hingga senyap.
Alvaro berjalan dengan hati kacau. Pikirannya dipenuhi rasa bersalah pada Zhara. Langkahnya tiba-tiba terhenti, ia merasa perlu memastikan keadaan Zhara sekali lagi. Di bangku taman ia tidak melihat keberadaan Zhara, namun ia melihat Zhara tergeletak.
Matanya membelalak. Jantungnya seolah berhenti sesaat.
“Zhara?!”
Alvaro berlari panik menuju tubuh Zhara yang tak bergerak. Wajahnya pucat, napasnya lemah. Ia segera berlutut di sampingnya, tangannya gemetar saat mengangkat tubuh Zhara yang lemas.
“Zhara…”
“Zhara… bangun!”
Alvaro menepuk pelan pipi Zhara, namun tidak ada respons.
Kepanikan mulai merayapi dadanya. Ia menatap sekeliling, taman itu sepi, tidak ada siapa pun. Ia memaksa dirinya tetap tenang, meski napasnya sendiri mulai tidak teratur.
“Zhara bertahanlah?!”
“Aku mohon!”
Alvaro segera mengangkat tubuh Zhara, dengan susah payah menyandarkannya di bahunya. Ia berjalan berlari kecil menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh. Dengan napas tersengal, ia membuka pintu belakang mobil, lalu dengan hati-hati membaringkan Zhara di kursi. Alvaro menutup pintu, lalu bergegas masuk ke kursi pengemudi. Tangannya sedikit gemetar saat menyalakan mesin.
Mobil melaju cepat keluar dari area parkir, menembus jalanan yang mulai ramai. Sesekali Alvaro melirik ke kaca spion, memastikan Zhara masih bernapas.
“Zhara kamu harus kuat, aku akan membawamu kerumah sakit,” ucapnya dengan suara bergetar.
Dalam perjalanan ia berkali kali menyalahkan dirinya, mengapa ia meninggalkan Zhara sendirian ditaman. Jika terlambat sedikit saja, apa yang akan terjadi pada Zhara.
Alvaro memarkir mobil dengan cepat di depan pintu darurat, lalu keluar dan membuka pintu belakang.
“Tolong! Ada yang pingsan!” teriaknya panik.
Beberapa petugas medis segera datang membawa brankar. Mereka dengan sigap mengangkat Zhara dan membawanya masuk ke dalam.
Napasnya berat, ia mengikuti setiap langkah petugas yang membawa Zhara ke dalam. Ia mengepalkan tangan, mencoba menahan rasa panik.
“Zhara! kamu harus selamat…” bisiknya lirih.
Alvaro duduk menunggu, di bawah cahaya lampu rumah sakit, Alvaro hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja.
◦•●◉●•◦
Cahaya lampu rumah sakit yang redup menyinari ruangan dengan tenang. Suara alat medis berdetak pelan, menciptakan irama yang menenangkan di tengah kesunyian malam.
Di atas ranjang, Zhara mulai bergerak.
Kelopak matanya bergetar pelan, lalu perlahan terbuka. Pandangannya masih buram, kepalanya terasa berat.
“Aku dimana?” bisiknya lirih.
Zhara mencoba mengingat sesuatu, tetapi pikirannya masih kacau. Perlahan, penglihatannya mulai jelas, dinding putih, bau obat, suara alat medis, dan infus di tangannya.
“Rumah sakit…” gumamnya kebingungan.
Zhara menggerakkan tangannya sedikit. Ia merasakan sesuatu di sampingnya, lalu menoleh pelan.
Di sebelahnya, Alvaro tertidur dalam posisi duduk di kursi, kepalanya bersandar di sisi ranjang. Tangannya masih menggenggam tangan Zhara dengan erat, seolah takut melepaskannya.
Wajah Alvaro tampak lelah, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya, tanda bahwa ia belum beristirahat sejak kejadian itu.
Zhara terdiam. Ingatannya perlahan kembali. Dadanya terasa sesak, campuran antara sakit dan haru. Ia mencintai Alvaro, dan tidak pernah membayangkan perpisahan mereka akan berakhir dengan cara seperti ini.
“Alvaro?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Ia mencoba menarik tangannya, namun genggaman Alvaro terlalu kuat. Bahkan dalam tidur pun, tangannya tidak mau melepas.
Sentuhan itu membuat Alvaro bergerak sedikit. Alisnya mengernyit, lalu matanya perlahan terbuka. Ia sempat tampak bingung beberapa detik sebelum akhirnya sadar.
“Zhara… sudah bangun?!” suaranya lembut, masih serak karena kantuk.
“Iya…” jawab Zhara pelan.
Wajah Alvaro langsung berubah lega. Ia segera duduk tegak.
“Sebenarnya, tadi aku berniat menghubungi orang tuamu, mengingat hubunganmu dengan keluargamu, aku sedikit ragu”
“Tidak apa-apa... terima kasih.” Zhara tersenyum.