“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 30 - Meridian Kedelapan
Kabut sore perlahan turun di lereng-lereng Puncak Awan Pengembara ketika Bai Fengxuan akhirnya meninggalkan area kediaman Penguasa Puncak Luo. Cahaya matahari senja menyinari jalan batu pegunungan dengan warna keemasan redup, sementara angin dingin bergerak perlahan melewati pohon-pohon pinus tua di sepanjang jalur turun gunung.
Di tangannya masih terdapat kantung kecil berisi pil Qi Gathering dan manual seni pedang dasar yang diberikan Luo Tianhe sebelumnya. Sampai sekarang Bai Fengxuan masih merasa semua yang terjadi hari ini sedikit tidak nyata.
Penguasa puncak.
Manual seni pedang.
Dan kemungkinan menjadi murid dalam.
Semua itu terasa terlalu jauh dari kehidupannya beberapa bulan lalu ketika ia baru datang ke Forgotten Blade sebagai bocah kecil yang bahkan belum memahami apa itu kultivasi.
Bai Fengxuan tanpa sadar tersenyum kecil sambil berjalan menyusuri jalan setapak batu. Namun belum beberapa langkah, suara familiar tiba-tiba terdengar dari bawah lereng.
“Adik Bai!”
Xu Liang melambaikan tangannya dengan semangat dari dekat pagar kandang. Di sampingnya Han Gu sedang duduk sambil menggigit batang rumput seperti biasa.
Begitu melihat Bai Fengxuan turun dari area paviliun penguasa puncak, kedua orang itu langsung mendekat dengan wajah penuh rasa penasaran.
Xu Liang bahkan terlihat jauh lebih gelisah dibanding dirinya sendiri.
“Cepat katakan!” serunya sambil menarik lengan Bai Fengxuan. “Apa yang dibicarakan Penguasa Puncak denganmu?”
Han Gu memang tidak seterburu-buru Xu Liang, namun tatapannya juga jelas penuh rasa ingin tahu.
Bai Fengxuan terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan nada santai.
“Tidak banyak.”
Xu Liang langsung mendecakkan lidah. “Kalau tidak banyak kenapa kau dipanggil sampai ke paviliun atas?”
Bai Fengxuan mengangkat kantung kecil di tangannya “Penguasa Puncak hanya bilang aku cukup rajin bekerja akhir-akhir ini.” Ia tersenyum kecil. “Dan beliau memberiku bonus.”
Xu Liang langsung membeku beberapa detik sebelum memekik keras.
“BONUS?!”
Han Gu juga tampak sedikit terkejut sekarang. Namun Bai Fengxuan sengaja tidak menjelaskan terlalu banyak. Entah kenapa, ia merasa lebih baik menyimpan soal kemungkinan menjadi murid dalam untuk dirinya sendiri dulu.
Xu Liang langsung terlihat sangat iri.
“Aku juga rajin bekerja…” gumamnya sedih. “Kenapa Penguasa Puncak tidak pernah memberiku bonus?”
Han Gu langsung menepuk bahunya tanpa rasa iba. “Karena separuh waktumu di kandang dipakai bicara omong kosong.”
Xu Liang langsung terlihat tersinggung.
“Itu fitnah!”
Percakapan mereka tidak berlangsung terlalu lama. Matahari semakin turun dan kabut malam mulai bergerak perlahan di antara lereng pegunungan. Bai Fengxuan juga tidak ingin membuang terlalu banyak waktu malam ini. Karena pikirannya sekarang sudah dipenuhi hal lain.
Setelah berpamitan singkat, Bai Fengxuan segera berjalan kembali menuju gubuk kayunya di lereng bawah. Angin malam mulai terasa semakin dingin sementara cahaya lampu-lampu minyak kecil perlahan menyala di area asrama murid luar.
Begitu memasuki gubuk, suasana langsung berubah sunyi dan hangat. Cahaya lampu minyak kecil menerangi meja kayu sederhana di dekat jendela sementara wajan hitam tua masih terdiam tenang di atas tungku batu seperti biasanya.
Namun kali ini perhatian Bai Fengxuan langsung tertuju pada manual seni pedang yang diberikan Penguasa Puncak Luo. Ia segera duduk di dekat meja lalu membuka buku itu dengan hati-hati.
Halaman pertama langsung memperlihatkan gambar seorang kultivator memegang pedang dengan posisi tubuh yang sangat sederhana. Di bawahnya terdapat penjelasan rinci mengenai cara berdiri, posisi bahu, pernapasan, hingga bagaimana qi spiritual seharusnya mengalir mengikuti gerakan pedang.
Tatapan Bai Fengxuan perlahan berubah serius. Buku ini jauh lebih mendalam dibanding pelajaran dasar yang diajarkan Tetua Mu Qing sebelumnya.
Ia terus membalik halaman demi halaman.
Setiap gambar di dalam manual itu terasa sangat jelas dan mudah dipahami. Bahkan beberapa penjelasan mengenai aliran qi membuat Bai Fengxuan langsung teringat pada sensasi yang ia rasakan ketika membuka meridian di hutan bambu.
Semakin lama membaca, semakin antusias pula dirinya. Ia mulai memahami bagaimana qi spiritual bukan hanya digunakan untuk memperkuat tubuh, tetapi juga untuk menyatu dengan gerakan pedang itu sendiri.
Pedang bukan sekadar senjata. Pedang adalah perpanjangan aliran qi dan pikiran seseorang. Dan entah kenapa, Bai Fengxuan merasa dirinya memahami isi buku itu jauh lebih cepat dibanding yang ia bayangkan. Bahkan beberapa gerakan sederhana di dalam manual terasa begitu alami ketika ia membayangkannya di kepala.
Mungkin karena tiga meridian yang sudah terbuka membuat persepsinya terhadap qi spiritual menjadi jauh lebih tajam dibanding sebelumnya.
Atau mungkin ia memang cukup berbakat dalam hal ini.
Tanpa sadar waktu terus berlalu. Cahaya matahari senja perlahan menghilang dari luar jendela dan digantikan oleh gelap malam pegunungan. Suara jangkrik mulai terdengar samar dari luar gubuk sementara api kecil di tungku batu bergerak tenang menerangi ruangan.
Dan ketika Bai Fengxuan akhirnya menutup halaman terakhir manual itu, malam ternyata sudah benar-benar tiba. Ia menghela napas panjang sambil menatap buku di tangannya dengan mata berbinar.
“Hebat sekali…”
Untuk sesaat ia benar-benar ingin langsung mengambil pedang kayunya dan mencoba seluruh gerakan yang baru saja dipelajarinya. Namun pikiran lain segera muncul di benaknya.
Meridian.
Saat ini membuka meridian jauh lebih penting dibanding berlatih pedang. Semakin banyak meridian terbuka, semakin cepat pula kultivasinya berkembang. Dan hutan bambu adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk disia-siakan. Karena itu Bai Fengxuan segera berdiri dan mulai bersiap.
Sebelum pergi, ia terlebih dahulu menghampiri ember kayu di sudut ruangan. Ikan kecil bersisik emas di dalamnya langsung bergerak cepat begitu melihat dirinya mendekat. Bai Fengxuan hanya tertawa kecil sebelum menjatuhkan beberapa tangkai tanaman air spiritual yang ia ambil dari danau tadi sore ke dalam ember. Ikan kecil itu langsung memakannya dengan lahap sementara Bai Fengxuan segera meninggalkan gubuk.
Malam di pegunungan Forgotten Blade terasa sangat sunyi seperti biasanya.
Kabut putih bergerak perlahan di antara pepohonan pinus sementara cahaya bulan samar menembus sela-sela awan di atas langit gunung. Bai Fengxuan berjalan cepat menyusuri jalan setapak menuju hutan bambu yang sekarang terasa semakin familiar baginya.
Dan begitu ia melangkah masuk ke area hutan itu reaksi di tubuhnya langsung muncul lagi. Qi spiritual di dalam meridiannya bergerak lebih aktif. Akar spiritual elemen kayunya seolah langsung mengenali tempat ini.
Bai Fengxuan tidak membuang waktu. Ia segera berjalan menuju rumpun bambu besar yang sama seperti malam sebelumnya lalu duduk bersila di bawahnya.
Angin malam bergerak perlahan melewati daun-daun bambu di atas kepala, menghasilkan suara gemerisik lembut yang membuat seluruh tempat terasa sangat tenang.
Kali ini Bai Fengxuan tidak langsung mulai berkultivasi. Ia terlebih dahulu mengeluarkan salah satu pil Qi Gathering dari kantung kecil pemberian Penguasa Puncak Luo.
Pil itu berwarna hijau pucat dengan aroma herbal samar yang langsung membuat qi spiritual di sekitarnya terasa sedikit lebih aktif.
Bai Fengxuan menatap pil itu beberapa detik sebelum akhirnya menelannya. Begitu pil tersebut masuk ke dalam tubuhnya, sensasi hangat langsung menyebar ke seluruh meridian seperti aliran air panas yang bergerak cepat di bawah kulitnya.
Matanya langsung sedikit membesar. Ternyata efeknya jauh lebih kuat dibanding yang ia bayangkan. Ia segera memejamkan mata lalu mulai menjalankan metode pernapasan dari buku Tata Cara Duduk dan Bernapas.
Tarik napas perlahan.
Tenangkan pikiran.
Biarkan qi mengalir.
Malam perlahan menjadi semakin sunyi. Dan kali ini, penyerapan qi spiritual di sekitar dirinya terasa jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.
Energi elemen kayu dari hutan bambu mengalir deras memasuki tubuhnya sementara efek pil Qi Gathering membantu menstabilkan serta mempercepat aliran tersebut. Qi spiritual di dalam tubuh Bai Fengxuan bergerak jauh lebih halus dan terkendali sekarang.
Ia segera mulai mencari meridian keempat.
Dan begitu menemukannya, Bai Fengxuan langsung mengalirkan qi spiritual ke sana tanpa ragu. Berbeda dibanding malam sebelumnya, proses kali ini terasa jauh lebih mudah.
Qi spiritual elemen kayu dan efek pil Qi Gathering bekerja hampir sempurna bersama tubuhnya. Meridian keempat yang sebelumnya tertutup rapat mulai retak sedikit demi sedikit.
Waktu berlalu cepat. Dan hanya dalam waktu sekitar satu batang dupa untuk terbakar—
BRAKKK!
Meridian keempat terbuka sempurna.
Energi spiritual langsung mengalir lebih deras di dalam tubuhnya.
Namun Bai Fengxuan tidak berhenti.
Meridian kelima.
Lalu keenam.
Ketujuh.
Semakin banyak meridian terbuka, semakin kuat pula penyerapan qi spiritual tubuhnya. Bahkan qi elemen kayu di sekitar mulai bergerak seperti pusaran samar di sekeliling tubuhnya dan keringat muncul di dahinya. Namun ekspresi Bai Fengxuan justru semakin bersemangat.
Ia bisa merasakan dirinya berkembang dengan sangat jelas. Dan akhirnya meridian kedelapan terbuka.
Begitu meridian terakhir malam itu terbuka—
WUUUNGGG!
Energi spiritual yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya tiba-tiba meledak di dalam tubuh Bai Fengxuan seperti banjir besar.
Matanya langsung terbuka.
Angin di sekitar rumpun bambu bergerak lebih kuat selama beberapa detik sementara qi spiritual di udara berputar liar mengelilinginya.
Tubuh Bai Fengxuan dipenuhi sensasi hangat yang sangat intens. Qi spiritual di meridiannya sekarang jauh lebih padat dan kuat dibanding sebelumnya. Ia segera menyadari apa yang baru saja terjadi.
Qi Gathering level 2.
Untuk beberapa saat Bai Fengxuan hanya bisa duduk diam dengan napas sedikit kacau. Lalu senyum lebar muncul di wajahnya. Ia berhasil menembus tahap berikutnya jauh lebih cepat dibanding yang ia bayangkan.
…
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....