silahkan baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Drian mencoba lagi menelepon kak Ditya untuk mengatakan bahwa kekasihnya sakit namun masih belum ada jawaban.Drian membawa Nita yang masih lemah berjalan jalan di taman rumah sakit.
"Disini aja drian."Berbicara kepada drian yang mendorong kursi rodanya.
"Oke.Aku bawain kamu sesuatu.Tutup mata ya."
"Kenapa harus tutup mata?"
"Tutup mata aja.Tara..."Mengeluarkan Buku dan pulpen untuk Nita.
"Kenapa kamu kasih aku ini?"
"Aku kangen kamu buat puisi.Buatin aku puisi donk."
"Aku, aku masih belum bisa mengerakkan tanganku dengan leluasa."Tremor dan lemas.
"Gak usah dipaksa.Aku temenin kamu disini kok."Sambil menatap dengan berjongkok didepan Nita.
Dari kejauhan sepupu nita dan kekasihnya menghampiri Drian dan Nita.
"Kakak.."Berteriak sambil melambaikan tangan.
"Lia kamu tahu dari mana kalau Nita sakit."
"Oma kakak kemarin ke sekolah aku waktu istirahat.Beliau cerita semuanya."
"Kak..Cepat sembuh ya."Tukas Christian.
"Makasih.."Dengan suara lirih sambil menganggukan kepala.
Christian dan Merylia meninggalkan Drian dan Nita ditaman rumah sakit.Nita yang masih pucat terus berada disamping drian.Sesekali drian mencoba menghubungi ditya dan hasilnya Nihil.
"Ta..Kamu kenapa melamun?.."Memandang mata Nita yang menitihkan air mata.
"Gak apa apa.."Memeluk Drian.
"Kalau ada masalah apa apa bilang ta.Aku mau jadi pendengar kamu."Memandang wajah Nita sambil mengelus rambutnya.
"Heee...heee...heee..Kamu jangan tinggalin aku ya kaya bang Ditya."Memeluk erat dan menangis.
"Iya, aku disini terus Nit.Disamping, kamu.cup..cup..cup."Menenangkan Nita.
"Makasih ya."Memeluk lebih erat.
"Sama sama.."Membelai rambut nita.
Dari kejauhan Dave dan Danela melihat Drian dan Nita sedang berpelukan.Mereka memutuskan untuk bertriak memanggil Nita yang mengenakan kursi roda.
"Nitaaaaa.....Nitt...Melambaikan tangan".Danela dan dave mendekati Nita.
"Itu danela sama dave datang.."Melepaskan pelukan dan menyeka air mata Nita.
"Ta..kamu sakit kok aku gak dikasih tahu duluan..Untung drian kasih tahu aku sama dave..Kalau ada apa apa bilang sama aku ta.".Memeluk nita sambil protes.
"Iya, bilang ke kita.Bang ditya mana?.."Tanya Dave.
"Sssstttt..Sayang..diem."Mencubit dave dan Menatap dave.
"Maaf, sayang kelepasan."
"Dave ke kantin yuk temenin aku beli minum."Drian menarik tangan Dave.
"Okey deh.."Berdiri mengikuti langkah Drian.
"Dan..jagain Nita ya..aku ke kantin dulu.."
"Okey.."Senyum danela sambil melepaskan pelukanya.
Drian dan Dave meningalkan taman rumah sakit menuju kantin.Drian menceritakan kondisi kritis Nita saat dibawa.
"Jadi ian kenapa kamu gak ngomong aku kalau Nita sakit?"Dave protes.
"I'm confused.Aku bingung mau apa dia waktu itu pingsan.Ku pikir dia gak ketolong.Pikiranku cuma hubungin bang Ditya.Aku takut banget dave kehilangan Nita."Drian menitihkan air mata.
"Aku ngerti kok.Aku tau banget gimana ada diposisi kamu.Kaya dulu aku yang gak bisa bilang I love you sama danela.Padahal waktu itu dia disukain Brian.Ada saatnya Drian kamu nanti jujur sama Nita kalau kamu sayang Nita tulus."Menenagkan Drian.
"Thank you dave."
Nita yang sedih kemudian membuka buku yang diberikan Drian dia mencoba menulis puisi lagi.Walapun tangannya masih sulit digerakan.
Ketika aku kosong:
Ketika aku mulai membuka hati
Ketika itu kamu merasuki hatiku
Ketika aku tak dapat tersenyum kamu menjadi senyumanku
Aku tertawa kepada diriku
Mengapa dulu aku mencintaimu
Aku pernah berfikir kamu jodohku
Tapi ternyata itu lenyap
lenyap dengan perginya kau dariku
----Nita----
Dave meninggalkan Drian yang masih termenung di kantin rumah sakit.Drian berusaha menelepon Ditya lagi namun hanya ada kata nomor yang anda tuju sedang tidak aktif silahkan tinggalkan pesan.
Drian yang bersedih karena tunanggan kecilnya harus sakit terus termenung.Drian terbayang akan janjinya untuk menjaga Nita sepenuh hati.Drian berlari ke kamar rawat Nita.Nita yang melihat pemandangan hujan di jendela kamar rawat menengok ke arah suara.
"Ta..."Membuka pintu
"Iya.."Menjawab sambil membalikan kepalanya melihat Drian.
Drian berlari ke arah kursi roda Nita dan berlutut menangis di paha Nita.Muka Nita terlihat sangat pucat dengan pikiran yang kosong.
"Kamu kenapa?Kok nangis?"Membelai rambut Drian.
"Aku takut banget kamu pergi."
"Hay,Lihat mata aku.Aku masih ada disini kan.Gak usah nangis deh."Menyeka air mata Drian.
"Tapi aku takut kamu pergi dari aku kaya tunangan kecilku."Menatap mata Nita dalam dalam.
"Gak dri, aku usahain selalu ada disamping kamu."Berbicara berlahan.
"Janji ya.."Memeluk Nita.
"Drian, sesak banget nafas aku."Berbisik ke telinga Drian.
Nita kembali pingsan Drian yang panik mengendong Nita ke ranjang rawatnya.Dia berlari memanggil suster yang berjaga di lobby sambil terengah engah.
"Sus,tolong pasien bernama Nita pingsan."
"Saya pangilkan dokter micky untuk ke ruangan ya ko."Suster gorgie memanggil Dokter Micky dengan telepon yang tersambung ke ruangannya.
"Please, cepat sus.Saya gak mau kehilangan calon istri saya."Menitihkan air mata sambil terengah engah.
"Hallo sus,Ada apa?"Jawab dokter micky ahli paru paru.
"Dok, tolong calon istri saya pingsan."Panik dan mengambil telepon dari suster yang menelepon dokter micky.
"Mari, kita ke ruangan ko."Dokter micky keluar dan mengikuti drian.
Dokter,Perawat dan drian berlari ke ruangan Nita.Dengan trolly penuh obat yang dibawa untuk pertolongan pertama pasien.
"Sus ambilkan masker CPR."
"Baik dok."
"1,2,3 pompa terus sus masker CPR nya."Dokter membuka kancing baju Nita dan menekan dadanya.
"Baik dok."
"Ta, jangan tinggalin aku."Mengenggam tangan Nita.
"Ian..ian.."Bersuara lirih, mengerakan tangan dan membuka matanya.
"Iya ta.."
"Syukurlah pasien sadar."Nafas lega dokter Micky.
"Sus, Siapkan Nabulacer dan obatnya 1amp ventolin,0.5mg nacl,0.5mg Glucosa dan siapkan suntikan adrenalin untuk memacu jantungnya."Tegas dokter micky.
"Baik dok."Jawab suster gorgie.
Drian masih terus mencoba menghubungi Ditya.Hasilnya masih nihil.Sudah seminggu Nita dirawat di RS.Advent.Kondisinya masih belum stabil papa marco yang berada diluar negri masih sibuk dengan kerjaan dia.
Dia meminta Drian untuk selalu berada disamping Nita.Oma bolak balik ke rumah sakit untuk melihat kondisi Nita.
"Ian..oma bawain makanan."membuka pintu ruangan dan memberikan nasi goreng.
"Makasih oma."
"Sayangku, Nita kamu harus sembuh ya nak.Kasihan Drian kehilangan kamu kalau kamu tidak sembuh sembuh."Membelai lembut rambut Nita.
"Maksud oma apa?"
"Gak, gak ada apa apa sayang.Makanan rumah sakit dimakan ya sayang.Kamu harus cepat sembuh."
"Iya oma."
"Kamu satu satunya cucu cewek yang oma sayang."Memeluk Nita.
"Iya oma."Menangis terharu belum pernah merasakan dipeluk seorang ibu.
"Sayang Nita.."
"Iya oma ta juga sayang oma".
"Udah pelukannya.Ayo makan Nita.Aku suapin ya."
"Iya."
Nita memakan sedikit demi sedikit makanan yang disuapkan Drian.Dia mulai merasakan adanya getaran lain.
"Ayo abisin..Aakkkhhh..."Menyodorkan sendok yang penuh bubur.
"Udah aku kenyag."
"Gak bolh gitu harus dihabiskan."
"Gak mau.."
"Satu suapan akhir ya."
"Tapi udah ya.Aku mau muntah sama rasanya."
"Iya..aaakhhh.."Menyodorkan suapan terakhir.
"Udah ya."
"Ya udah sekarang kamu istirahat ya."Menyelimutkan selimut untuk Nita dan membalikan badan seakan akan mau pergi.
"Kamu mau kemana ian?.."
"Kenapa?.."
"Jangan pergi."Mengengam tangan Drian.
"Gak pergi kok..aku disini jangan takut ya."Duduk disamping ranjang Nita.
Drian menenangkan Nita sampai akhirnya dia tertidur pulas.Semalaman Drian terjaga disamping Nita.Menunggu disampingnya dengan sabar.Sampai akhirnya dia tertidur sambil mengenggam tangan Nita.
Yuk dukung terus author carany like❣
vote dan selalu fav karyanya
maksih kakak*