NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diplomasi di Atas Lantai Berembun

"Pangeran Mutan?"

Pangeran Suryo mengulangi julukan itu dengan nada dingin. Matanya menatap Pak Menteri—yang belakangan ia kenali sebagai Menteri Riset dan Teknologi, Pak Wijaya—dengan tatapan yang membuat pria berjas itu mundur selangkah. Lantai marmer di sekitar kaki Pangeran mulai membeku, membentuk lapisan es tipis yang menjalar cepat.

"Saya Suryo," koreksi Pangeran. "Putra Sri Sultan. Dan saya bukan bahan eksperimen Bapak."

Pak Wijaya tertawa canggung, mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat. "Tentu, tentu. Maafkan candaan saya, Gusti Pangeran. Situasi tegang membuat selera humor saya agak meleset."

Ia melirik ke arah Sekar yang berdiri siaga di samping Pangeran, tangannya masih menyembunyikan cambuk.

"Dan ini pasti Nona Sekar. Abdi dalem yang... sangat berbakat," kata Pak Wijaya, matanya berkilat penuh perhitungan. "Satelit kami menangkap anomali energi yang luar biasa dari posisi Anda semalam. Seperti ledakan nuklir kecil, tapi tanpa radiasi."

"Kami hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Pak," jawab Sekar tajam. "Menyelamatkan rumah kami."

Sri Sultan berdeham pelan. Meski masih lemah dan duduk di kursi roda kayu, wibawa Raja masih terpancar kuat. "Pak Menteri, seperti yang saya katakan tadi. Kejadian semalam adalah bencana alam. Gempa tektonik yang memicu... fenomena alam yang tidak biasa."

"Fenomena alam?" Pak Wijaya menaikkan alisnya. Ia berjalan ke pinggir teras, menunjuk ke arah Alun-Alun Utara yang kini tertutup terpal raksasa (hasil kerja keras Bambang dan kawan-kawan).

"Sultan, dengan segala hormat. Satelit kami merekam ada objek biologis raksasa yang turun dari langit. Kami juga punya rekaman... tentakel? Dan sekarang ada monumen emas raksasa yang memancarkan gelombang gravitasi aneh di depan halaman rumah Anda."

Pak Wijaya berbalik, wajahnya serius.

"Dunia sedang panik, Sultan. PBB sudah menelpon Presiden. Mereka bertanya apakah Indonesia sedang mengembangkan senjata biologi atau diserang alien. Kami butuh jawaban riil. Bukan dongeng klenik."

Pangeran Suryo melangkah maju. Suhu ruangan turun lagi.

"Jawaban riilnya adalah: ini urusan internal Keraton. Urusan tanah Jawa. Kami sudah menyelesaikannya. Bantuan Bapak kami terima, tapi campur tangan Bapak... tidak kami butuhkan."

"Oh, benarkah?" Pak Wijaya tersenyum miring. Ia mengeluarkan sebuah tablet tipis dari tas kerjanya. "Coba lihat ini."

Ia menyodorkan tablet itu ke arah Suryo.

Di layar tablet, terlihat rekaman video amatir yang buram namun jelas. Video itu merekam momen saat Pangeran Suryo melompat dari lokomotif dan menembus dinding air. Lalu video lain menunjukkan Sekar yang memanjat tubuh Poseidon. Dan video terakhir... video Pangeran Suryo yang bangkit dari kematian dengan mata menyala emas.

"Drone pengintai," desis Pangeran Suryo.

"Teknologi nano," koreksi Pak Wijaya bangga. "Kami menyebarkannya sesaat setelah ubur-ubur itu muncul. Kami melihat semuanya."

Pak Wijaya mengambil kembali tabletnya.

"Negara dalam keadaan darurat, Pangeran. Dan menurut Undang-Undang Keamanan Nasional, segala bentuk ancaman—atau aset—yang berpotensi membahayakan kedaulatan negara, harus berada di bawah kendali pemerintah pusat."

Ia menunjuk dada Pangeran Suryo.

"Termasuk Anda. Darah yang mengalir di tubuh Anda itu... itu bukan lagi milik Anda pribadi. Itu aset strategis nasional. Bayangkan apa yang bisa kita lakukan dengan bioteknologi itu? Tentara super? Obat segala penyakit?"

Sekar merasa mual. Orang ini benar-benar melihat Pangeran sebagai kelinci percobaan.

"Gusti Pangeran bukan barang!" bentak Sekar, melangkah maju menutupi Suryo. "Beliau manusia!"

"Manusia tidak makan garam panas dan punya suhu tubuh nol derajat, Nona," balas Pak Wijaya dingin.

Suasana menegang. Pangeran Suryo mengepalkan tangannya. Uap dingin mengepul dari kulitnya. Jika ia mau, ia bisa membekukan menteri ini dalam sedetik. Tapi itu akan memicu perang baru. Perang melawan negara sendiri.

Sri Sultan mengangkat tangannya.

"Cukup."

Suara Raja pelan, tapi mematikan perdebatan itu seketika.

"Pak Menteri," kata Sultan. "Anda punya bukti video. Tapi Anda tidak punya konteks. Jika Anda membawa video itu ke PBB, mereka akan menertawakan Anda. 'Indonesia mengklaim diserang Dewa Yunani?'. Anda akan dianggap gila."

Pak Wijaya terdiam. Itu poin yang valid.

"Dan soal anak saya," lanjut Sultan, menatap putranya dengan bangga. "Dia adalah penerus tahta sah. Jika pemerintah pusat mencoba menyentuhnya, atau menjadikannya objek penelitian... maka Keraton Yogyakarta akan menganggap itu sebagai pernyataan perang budaya. Dan Anda tahu, Pak Menteri... rakyat Jogja sangat setia."

Ancaman halus itu mengenai sasaran. Pak Wijaya tahu sejarah. Ia tahu betapa sulitnya mengatur daerah istimewa ini jika rakyatnya sudah bergerak.

"Baiklah," Pak Wijaya merapikan jasnya, berusaha menjaga wibawa. "Kami tidak akan memaksa. Untuk saat ini."

Ia menatap Pangeran Suryo dan Sekar bergantian.

"Tapi kami akan mendirikan pos pemantauan di sekitar Alun-Alun. Monumen emas itu... harus diteliti. Dan Anda, Pangeran... kami akan mengawasi kesehatan Anda. Rutin."

"Selama tidak mengganggu pemulihan kota, silakan," jawab Pangeran Suryo datar.

Pak Wijaya mengangguk kaku, lalu berbalik pergi dikawal dua ajudan militernya. Sebelum keluar dari gerbang, ia menoleh sekali lagi.

"Satu lagi. Presiden ingin bertemu kalian berdua di Jakarta minggu depan. Jangan menolak. Ini undangan resmi, bukan panggilan interogasi."

Setelah mobil dinas menteri itu pergi, Pangeran Suryo menghela napas panjang. Lapisan es di lantai mencair, menjadi genangan air.

"Mereka tidak akan berhenti, kan?" tanya Pangeran.

"Tidak akan," jawab Sultan. "Kekuasaan selalu lapar akan hal-hal yang tidak bisa dikendalikannya."

Sultan memandang Sekar. "Nduk, tolong bantu Suryo. Dia butuh penyesuaian. Dan kamu... sepertinya kamu sekarang jadi asisten pribadinya. Resmi."

Sekar terkejut. "Saya, Gusti? Tapi saya cuma..."

"Kamu satu-satunya yang berani memarahi dia saat dia makan garam," potong Sultan sambil tersenyum geli. "Dan kamu satu-satunya yang tahu cara menggunakan cambuk itu untuk... 'mengingatkan' orang."

Pangeran Suryo menatap Sekar. "Bapak benar. Aku butuh pawang. Kalau aku mulai aneh-aneh... tolong cambuk aku. Eh, maksudnya, ingatkan aku."

Sekar tertawa kecil, meski hatinya masih was-was. "Siap, Gusti. Tapi tolong jangan makan aneh-aneh lagi."

Saat mereka sedang berbincang, Bambang berlari masuk dengan napas ngos-ngosan.

"Gusti! Gusti Pangeran! Gawat!"

"Ada apa lagi, Bambang? Menteri itu balik lagi?"

"Bukan, Gusti! Ini soal... soal laut!" Bambang menunjuk ke arah selatan. "Saya baru dapat kabar dari teman di stasiun radio amatir. Air laut di Parangtritis..."

"Kenapa? Pasang lagi?"

"Bukan pasang," wajah Bambang pucat. "Airnya... manis."

"Hah?"

"Seluruh pantai selatan, dari Parangtritis sampai Baron... air lautnya berubah jadi air tawar, Gusti! Ikan-ikan laut mati semua. Nelayan panik!"

Pangeran Suryo dan Sekar saling pandang.

Perubahan ekosistem.

Ratu Kidul bilang keseimbangan alam harus dijaga. Tapi dengan tertangkapnya Poseidon di bawah tanah Jogja, dan Pangeran Suryo yang menyerap sebagian kekuatan laut... keseimbangan itu rusak.

Laut Selatan kehilangan kadar garamnya.

"Darahku," gumam Pangeran Suryo, melihat tangannya sendiri. "Aku menyerap esensi garamnya. Laut jadi tawar karena 'garam'-nya pindah ke tubuhku."

"Kalau begitu..." Sekar menyadari implikasi mengerikannya. "Gusti harus mengembalikannya. Atau ekosistem laut selatan akan hancur total dalam hitungan hari."

Pangeran Suryo mengangguk. "Tampaknya istirahat kita ditunda lagi. Sekar, siapkan mobil. Kita ke pantai sekarang."

"Mobil apa, Gusti? Semua mobil hancur."

"Truk tentara," Pangeran menunjuk truk TNI yang baru saja parkir menurunkan bantuan logistik. "Kita pinjam sebentar. Atas nama darurat lingkungan."

Babak baru telah dimulai. Bukan lagi melawan monster, tapi melawan kerusakan alam yang mereka sebabkan sendiri demi kemenangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!