Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlatih Bersama, di Tempat yang Berbeda.
Aliran sungai Lirien mengalir deras. Musim hujan telah datang sepenuhnya, membawa arus yang lebih dingin, lebih berat, dan lebih menantang. Putri Lily telah tiba di sana, bahkan sebelum matahari sempat mengintip dari balik punggung hutan.
Ia melangkah masuk ke sungai tanpa ragu. Air menghantam betisnya, lalu pahanya, dingin dan kuat. Lily berdiri tegak di tengah arus, kedua kakinya menapak di dasar sungai berbatu. Ia tidak melawan dengan gemuruh, melainkan dengan ketenangan. Setiap dorongan air ia imbangi dengan napas yang teratur, setiap gelombang ia terima sebagai pelajaran. Bertahan, menyesuaikan, bertahan tanpa melawan.
Hari-hari sunyi ia lalui dengan cara itu. Ketika rindu pada keluarganya datang, Lily tidak membiarkannya melemahkan hatinya. Ia mengisinya dengan latihan, lagi dan lagi, hingga tubuhnya lelah dan pikirannya menjadi tenang.
Waktu menempa dirinya dengan cara yang lembut namun pasti.
Meski kulitnya diterpa matahari setiap hari, kulit Lily tidak mengering ataupun menggelap. Meski kakinya berlari menembus tanah hutan dan batu sungai, telapak kakinya tak kapalan. Saat hujan turun dingin dan angin berhembus tajam, tubuhnya tidak menggigil. Kekebalan raganya dibangun perlahan, oleh alam yang mengasuhnya. Luka-luka kecil yang didapatnya dari latihan dan perburuan sembuh tanpa bekas, seolah tubuhnya mengingat cara untuk pulih.
Moonveil menyediakan segalanya. Lily merawat dirinya dengan apa yang hutan berikan, bukan dengan kemewahan melainkan dengan pengetahuan yang diwariskan alam. Getah lidah buaya ia oleskan pada kulit yang terpapar matahari, menenangkan dan menjaga kelembapan. Air beras yang direndam semalaman ia gunakan untuk membilas wajah dan rambutnya, membuat kulit tetap cerah dan rambut yang kuat. Madu hutan ia campur dengan tumbukan halus kunyit, membersihkan luka kecil dan menjaga kulit tetap bersih. Saat kulit terasa kering di musim kemarau, ia mengoleskan minyak kelapa murni yang diperas sendiri, melindungi tanpa menyumbat napas kulitnya.
Ia banyak makan buah-buahan segar, ikan sungai yang ditangkapnya sendiri, daging hasil buruan yang dimasak sederhana, dan sayur-mayur hutan yang kaya gizi. Bahkan air yang ia minum, berasal dari pegunungan murni. Tanpa disadari, tubuh Lily berubah. Bukan menjadi lembut dan rapuh, melainkan kuat tanpa kehilangan keindahan.
Lily tetap berdiri di tengah derasnya sungai, seakan menantang takdirnya sendiri. Sunyi, ditempa, dan diam-diam bersiap. Hutan Moonveil tidak hanya menjaganya, ia juga sedang membentuk sang putri.
___
“Aku merindukan adik,” kata Pangeran Leo, melayangkan pedangnya dengan gerakan cepat dan tajam.
Besi beradu di udara. Pangeran Lian tidak mengalah. Ia memutar pergelangan tangan, menahan serangan itu, lalu membalas dengan tebasan yang lebih berat.
“Aku juga,” balasnya singkat.
Gerakan mereka mengalir alami, napas yang berhembus berirama menunjukkan keduanya terbiasa bertarung bersama sejak kecil. Namun di balik ketajaman pedang, ada ruang kosong yang tak bisa ditutup oleh latihan mana pun. Kehadiran adik perempuan mereka, tanpanya semuanya terasa timpang.
“Tapi bukankah itu lebih baik?” kata Lian sambil melangkah menyamping, mencoba mencari celah.
Leo mengangguk, mengubah posisi menyerang. Namun Lian membaca niat itu lebih dulu. Ia bertahan, lalu berputar dan menekan balik dengan cepat.
“Kau benar,” kata Leo, suaranya rendah namun mantap. Ia berbisik pelan di sela benturan pedang, “Di sini… terlalu banyak iblis.”
“Jaga lidahmu, Leo.” peringat Lian tanpa menurunkan kewaspadaan.
Leo mendengus, tak sengaja pandangannya melenceng ke arah taman istana. “Nenek lampir muda,” gumamnya sinis saat melihat Aster melintas di kejauhan.
Brugh…!
Belum sempat Leo menarik napas, Lian memanfaatkan kelengahannya. Sebuah serangan mendadak menghantam sisi pertahanannya. Leo terlempar, punggungnya menghantam tanah arena dengan suara berat.
“Kakak… kau licik!” keluh Leo sambil meringis.
Lian mendekat, menurunkan pedangnya. “Bukan licik, Leo,” katanya tenang. “Hanya menganalisis celah.” Ia mengulurkan tangan. “Tingkatkan fokusmu.”
Leo menatap tangan itu sejenak, lalu menyambarnya. Ia bangkit dan menyerang tiba-tiba.
Lian tersenyum tipis, menahan serangan itu dengan mudah. Pertarungan saudara kembar itu berlanjut, cepat dan memukau. Setiap langkah, setiap tebasan, menunjukkan latihan bertahun-tahun dan insting yang tajam. Para prajurit di arena latihan berhenti beraktivitas, terpaku menyaksikan duel yang seolah menari di atas baja.
Benar-benar luar biasa. Darah Pangeran Agung Lexus dan Lady Anastasia mengalir deras di tubuh mereka.
“Kau lihat itu?” Erivana membuka tirai jendela dengan gerakan kasar.
Di arena latihan, dua pangeran kembar berlatih tanpa lelah.
“Jangan lengah, Pangeran.” katanya menekan, suaranya dingin. “Mereka bisa menggeser posisimu.”
Pangeran Evan menatap arena. Matanya mengikuti gerakan Pangeran Aurelian dan Pangeran Leonardo. Kekaguman yang jujur muncul di hatinya tanpa bisa ia cegah.
“Pangeran!” teriak Erivana, mencengkeram lengan Evan dengan keras.
Evan tersentak, lalu menunduk. “Aku mengerti, Ibunda.” katanya pelan.
Erivana mendengus keras.
“Jangan mengecewakanku.”
Wajahnya memerah, api kecemasan yang terus menyala di dadanya. Hanya dengan melihat saudara kembar itu bertarung, masa depan yang ia takutkan terasa semakin nyata.
Pangeran Leo melangkah cepat menyusuri lorong istana, pikirannya masih dipenuhi sisa latihan tadi. Tiba tiba Putri Aster muncul dari lorong lain. Ia sibuk melihat gelang baru di tangannya tanpa melihat jalan.
Pangeran Leo tak sempat menghindar
Bugh.
Gadis itu menabrak tubuhnya lalu terhuyung lalu jatuh terduduk di lantai.
“Apa kau buta?!” teriak Putri Aster, wajahnya memerah menahan amarah.
Leo menoleh sekilas, bersikap acuh. Sama sekali tak berniat menolong atau pun meminta maaf. Ia memalingkan wajah, seolah peristiwa itu tidak pernah terjadi.
Aster bangkit berdiri dengan kasar. “Dasar anak hutan,” katanya tajam. “Tidak tahu sopan santun.”
Langkah Leo berhenti. Tumitnya menghentak lantai tiga kali, tak terlalu keras tapi cukup menggema di lorong.
“Mungkin di istana ini ada penghuni alam lain. Teriakannya seram seperti nenek lampir.” katanya santai, nada suaranya penuh ejekan. Ia bergetar berlebihan, berpura-pura ketakutan, lalu berjalan cepat meninggalkan Aster tanpa menoleh lagi.
“Kurang ajar!” Aster berteriak. “Akan kuadukan pada Ayahanda!” Ia menghentakkan kaki, tantrum, suaranya menggema di lorong kosong.
Dari kejauhan, tawa Leo meledak.
“Dia benar-benar mirip ibunya, si nenek lampir tua.” gumamnya. Ia masih mengingat bagaimana Permaisuri Erivana menatap mereka sebagai ancaman.
“Lihat saja… akan kubalas kau.” desisnya, penuh rencana nakal di kepalanya.
Bugh.
Kali ini kesalahannya, ia menabrak seseorang karena sibuk menggerutu.
“Maaf…” Leo refleks berkata sambil menengadah.
Ia langsung mengenali wajah itu. Pria muda dengan sorot mata tenang, anak baik yang sering diceritakan ibundanya. Leo menjaga sikap, lalu mengulurkan tangan.
“Salam kenal, Pangeran Evan. Aku Pangeran Leonardo, putra kedua Pangeran Agung Lexus dan Lady Anastasia.”
“Aku sudah tahu,” jawab Pangeran Evan dingin.
Ia tidak menyambut tangan Leo. Tanpa basa-basi, Evan melangkah pergi, meninggalkan lorong itu sunyi kembali.
Leo terpaku, tangannya masih terulur di udara.
“…Apa di istana ini tidak diajarkan etika?” gumamnya pelan, menggeleng tak habis pikir.
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author