NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 13

[Malam hari - Kantor pusat Lavender, hujan tipis masih turun]

Jam udah nunjukin pukul 10 malam, langit gelap pekat, cuma lampu taman depan kantor yang masih nyala redup. Magnus baru aja selesai ngerapiin tumpukan surat cinta (yang sebagian udah dibacain Lyra sambil ngakak sore tadi).

Lyra udah tidur di kursi panjang, berselimut jaket kebesaran warna abu-abu milik Magnus. Rambut putihnya berantakan, napasnya tenang, wajahnya masih ada noda cokelat dari brownies.

Tiba-tiba

bunyi mesin mobil berhenti di depan kantor.

Lampu depan menyorot ke arah bangunan, memantul di genangan air.

Magnus berdiri pelan, ngeraih senjata di pinggangnya refleks polisi aktif. Tapi begitu pintu mobil kebuka...

Suara berat tapi tenang kedengaran dari balik hujan,

> “Tuan Magnus.”

Magnus ngeh itu suara Pharma.

Jas panjang putihnya basah setengah, rambutnya rapi tapi kelihatan dia habis menempuh perjalanan jauh.

> “Kau terlambat,” kata Magnus datar.

“Aku datang secepat mungkin. Ratchet kirim aku buat jemput gadis itu. Lyra, bukan?”

Magnus melirik ke arah Lyra yang masih tidur, terus kembali menatap Pharma.

> “Dia sudah aman di sini. Tapi aku tak tahu apakah kau datang sebagai dokter… atau sebagai orang yang punya urusan lain.”

Pharma senyum tipis senyum yang terlalu tenang buat malam selelah ini.

> “Tenang saja. Aku bukan datang untuk menjemput mayat.”

Magnus nggak langsung jawab, cuma nyilangin tangan, ngeliatin Pharma seakan bisa baca niat orang.

> “Ratchet bilang gadis itu dekat denganmu. Seharusnya dia di rumah, bukan di kota ini,” lanjut Pharma.

> “Dia tersesat,” jawab Magnus singkat.

“Dan DJD hampir menangkapnya, ya?”

“Kau tahu banyak.”

“Aku selalu tahu hal yang tidak ingin orang lain bicarakan.”

Keheningan berat turun. Hujan makin deras, suara titik-titik air kedengeran jelas di atap seng.

Lyra mulai gerak pelan, setengah sadar, suara lembutnya nyusup di tengah dingin:

> “Hmm... brownies... jangan ambil punyaku...”

Pharma menatap sekilas senyum kecil di bibirnya, lalu tatapannya berubah lembut.

> “Masih polos seperti biasa.”

Magnus ngelangkah pelan ke arah Lyra, ngebenarin selimutnya.

> “Kau mau bawa dia sekarang?”

Pharma ngelap sisa hujan di jasnya, nadanya agak lirih tapi dingin,

> “Ya. Ratchet panik setengah mati. Paul juga. Aku cuma disuruh pastikan dia pulang dengan selamat.”

“Kau yakin cuma itu?” tanya Magnus pelan, tapi nadanya tajam.

Pharma berhenti sebentar di depan pintu.

> “…Aku dokter, Magnus. Tapi aku juga punya tanggung jawab pada sesuatu yang lebih besar.”

Magnus ngelirik, tatapan mereka ketemu.

Ada sesuatu di situ bukan cuma urusan pasien, tapi rahasia yang lebih gelap, sesuatu yang bahkan Lavender pun nggak tahu.

Pharma mendekat ke Lyra, ngebungkuk sedikit dan ngomong pelan,

> “Bangun, Snowdrop. Waktunya pulang.”

Lyra kebangun setengah sadar, matanya masih setengah merem,

> “...Pharma? Kamu kok basah banget?”

“Hujan. Dan karena kau terlalu suka nyasar.”

“Hehe… tapi browniesnya enak kan?”

“Nanti kau ceritakan di mobil, ya.”

Magnus bantu mereka keluar, tapi pas Lyra udah di mobil, dia sempat nahan pintu, matanya nembus ke arah Pharma.

> “Kau tau, bukan? Kalau DJD masih di sekitar sini.”

“Tentu,” jawab Pharma pelan. “Justru itu kenapa aku datang malam ini.”

Pintu mobil nutup. Mesin hidup.

Lampu belakang mobil itu memantul di aspal basah sebelum menghilang di jalanan Lavender yang sepi.

Magnus berdiri di depan kantor sendirian, hujan masih turun, dan entah kenapa… firasatnya bilang, itu bukan terakhir kali ia lihat Ly

---

[Malam hari – Jalan lintas menuju Kota Pusat, hujan deras, jam 11:20 malam]

Cahaya lampu jalan cuma kelihatan sekelebat di kaca mobil, bias sama air hujan yang terus menetes.

Mobil Pharma melaju tenang, interiornya sunyi. Hanya suara wiper dan napas Lyra yang berat karena setengah ngantuk.

Dia bersandar di jok, ngebetulin posisi duduk sambil masih pegang boneka kelinci dari taman Lavender tadi.

> “Tadi Magnus baik banget,” gumamnya pelan. “Dia nggak marah waktu aku ngabisin brownies-nya…”

Pharma ngelirik sekilas, senyum kecil tersungging.

> “Dia bukan tipe yang gampang marah. Tapi dia gampang curiga.”

> “Hmm?”

“Bukan apa-apa. Kau senang bisa pulang?”

Lyra ngangguk, pipinya agak merona karena lampu dashboard.

> “Iya. Tapi tadi di Lavender banyak kelinci, loh! Kamu harus liat deh, lucu banget.”

Pharma ketawa pelan. Tapi nada tawanya... kosong. Bukan karena nggak peduli lebih kayak pikirannya nggak di situ.

Tangannya yang nempel di setir sedikit tremor. Ada bekas noda di sarung tangannya warna cokelat tua yang bukan dari kopi.

Lyra baru sadar setelah beberapa menit, matanya nyipit karena penasaran.

> “Kamu berdarah?”

Pharma agak kaku sepersekian detik, lalu jawab tenang banget,

> “Bukan. Ini bekas tinta dari ruang operasi. Kau tahu, warna cat di sana jelek sekali.”

> “Ohh…” Lyra ngangguk , terus diem sebentar dia mengamati.

“Tapi… kamu capek banget ya, matamu merah.”

Pharma cuma senyum tipis, tapi di balik itu ada sesuatu yang berat.

Ia ngerem pelan di tepi jalan, di mana cuma ada satu tiang lampu tua yang nyala.

> “Kau harus tidur. Dua jam lagi sampai rumah.”

> “Tapi kamu sendiri?”

“Aku sudah terbiasa begadang.”

Lyra merhatiin tatapan Pharma yang kosong menatap kaca depan. Hujan di luar bikin dunia di balik jendela kelihatan kayak kabur campuran kota, air, dan cahaya yang nyampur.

> “Kamu kenapa?” tanya Lyra akhirnya, suaranya lirih.

“Aku cuma…” Pharma berhenti, napasnya dalam, “baru kehilangan seseorang.”

> “Pasien?”

“Mungkin lebih dari itu.”

Hening panjang.

Pharma memejamkan mata sebentar, dan di kepalanya masih berputar suara gergaji listrik, jeritan pendek, dan darah yang muncrat di dinding putih ruang operasi rahasia.

Tapi wajahnya tetap tenang. Seolah semua itu cuma mimpi.

Lyra, tanpa ngerti apa yang sebenarnya terjadi, nyeletuk lembut:

> “Kamu harus istirahat. Kamu juga manusia, kan.”

Pharma menatapnya lama, seperti sesuatu di dada kirinya sedikit retak.

> “Ya… kadang aku lupa.”

Mobil mulai jalan lagi.

Hujan terus turun, lampu-lampu kota mulai kelihatan di kejauhan, dan di kursi penumpang, Lyra udah terlelap.

Pharma menatapnya sebentar, lalu menunduk sedikit sambil bergumam,

> “Semoga kau tak pernah tahu apa yang sebenarnya kulakukan demi keselamatanmu, Snowdrop.”

Tangan kanannya yang berdarah samar ia sembunyikan di balik jas putih.

Dan di bagasi belakang mobil sda bau logam samar yang nggak bisa disembunyikan dari siapa pun yang cukup peka untuk menyadarinya.

***

[Pagi hari – Rumah Raven, ruang tamu kaca, jam 8:05]

Uap dari cangkir teh Lyra masih naik ke udara, wangi chamomile tipis nyebar di ruangan.

Dia duduk di kursi dekat jendela, rambut putihnya agak acak, masih pakai sweater kebesaran warna abu muda.

Pharma di seberang meja, lagi nyelesain laporan digital di tab medisnya, rambut peraknya keliatan rapi banget meski matanya jelas kurang tidur.

> “Kamu nggak tidur, ya?” tanya Lyra pelan, sambil nyeruput teh.

Pharma ngangkat alis sedikit, senyum tipis.

> “Tidur itu overrated.”

> “Overrated tapi sehat,” Lyra nyaut cepat, nada manja tapi tulus. “Kalau kamu sakit, siapa yang nyembuhin pasiennya nanti?”

Pharma berhenti ngetik. Tangannya yang tadinya main di layar pelan turun ke meja.

> “Kalau aku jatuh sakit…” ia menatap Lyra lurus, “…mungkin aku biarkan kau yang menyembuhkanku.”

Lyra kaget dikit, pipinya merah.

> “Eh nggak bisa gitu, kamu tuh senior, aku masih… masih magang!”

Pharma ketawa, tapi nada tawanya kali ini hangat beneran.

Dia ngerasa aneh kayak semua suara mesin, jeritan pasien, dan darah semalam tiba-tiba menjauh, tenggelam sama suara cewek kecil di depannya yang cuma peduli soal teh dan jam tidur.

> “Kau… terlalu polos buat dunia ini, Lyra.”

“Terlalu polos itu bagus, kan?”

“Bagus, tapi juga berbahaya.”

Lyra nyengir, matanya bercahaya kena pantulan sinar matahari.

> “Kalau kamu yang jagain aku, nggak bahaya dong.”

Pharma diem. Lama.

Ada sesuatu di situ di antara detik-detik diam itu yang bahkan burung di luar pun kayak berhenti berkicau.

Sampai akhirnya dia cuma berkata pelan:

> “Kau tak tahu seberapa benarnya itu.”

Hening sebentar, lalu Ratchet masuk dari arah dapur sambil nenteng tablet kerja.

> “Pharma, kau masih di sini? Kupikir sudah balik ke Delfi.”

> “Belum. Aku mau pastikan Lyra benar-benar baik dulu.”

“Bagus,” sahut Ratchet tenang. “Besok kau ikut lagi ke kampus, kan?”

“Tentu. Aku ingin lihat perkembangan departemen.”

Sementara dua dokter itu ngobrol soal hal-hal teknis, Lyra udah mulai bengong, ngelamunin sesuatu.

Bukan tentang rapat, bukan juga tentang kerusuhan semalam. Tapi tentang sesuatu yang aneh di mata Pharma.

Kayak... di balik tenangnya, ada sesuatu yang lagi dia sembunyikan dari semua orang.

Tapi Lyra cuma senyum kecil.

Dia percaya orang bisa berubah, dan mungkin cuma mungkin senyum hangat pagi ini jadi awal perubahan buat seseorang yang hatinya udah lama dingin.

---

---

[Sore – Rumah Sakit Bedah Delfi]

Lift kaca naik pelan ke lantai 17. Di dalamnya cuma ada Dr. Pharma.

Jas putihnya bersih, tapi tangan di dalam saku celana dingin kayak mayat. Pandangannya kosong, tapi pikirannya berisik banget.

“Tessa bilang dua hari lagi mereka minta batch baru. Kalau aku nggak kasih, rumah sakit meledak. Kalau aku kasih…”

Dia ngelihat refleksinya di kaca lift.

“…aku yang meledak.”

“Ding-dong”

Pintu lift terbuka.

Aroma kopi vanilla langsung nyambar.

Dan tentu saja suara centil yang udah familiar banget.

> “Dokterrr~ kamu balik juga ternyata!”

Veronica udah berdiri di depan ruangannya, seragam medisnya ketat banget buat ukuran kerja.

Dia senyum lebar, rambut pirangnya dikuncir, dan di tangannya dua gelas kopi.

> “Aku sengaja beliin yang favoritmu. Hazelnut latte, less sugar, extra shot. Aku ingat, kan?”

Pharma ngangkat alis tipis, suara datarnya dingin tapi sopan.

> “Kau selalu ingat hal yang… tidak penting.”

> “Aduh, jangan dingin gitu dong, Doc,” Veronica pura-pura manyun. “Pasien-pasienmu aja bisa senyum, masa aku nggak boleh?”

Pharma nggak jawab. Dia jalan masuk ruangannya.

Tapi Veronica ngikut kayak bayangan.

Meja kerja Pharma penuh berkas medis, hasil bedah, laporan organ donor, dan catatan yang (kalau diperhatiin) ada beberapa yang… disensor paksa.

> “Kau masih kerja soal proyek transplantasi itu?” tanya Veronica, duduk di meja depannya. “Rasanya kamu terlalu fokus, sampai lupa dunia luar.”

Pharma berhenti ngetik.

> “Dunia luar… bukan tempatku, Veronica.”

> “Kalau gitu tempatmu di mana?” Veronica nyengir, matanya memicing nakal.

“Di lab? Atau di hati seseorang yang kamu tolak?”

Pharma mendesah pelan.

Dia berdiri, mendekat, lalu menatap Veronica dari jarak dekat banget. Tatapannya datar, tapi nadanya tajam tajam kayak pisau bedah.

> “Veronica, ada garis yang tidak boleh dilewati. Dan kau sudah menginjaknya.”

Veronica sempat mundur setengah langkah, tapi senyum manisnya nggak hilang.

> “Aku cuma khawatir. Akhir-akhir ini kamu makin pucat. Matamu merah. Aku dokter juga, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu.”

Pharma diem. Lama.

Lalu dia berbalik, menatap kaca besar di ruangannya kaca satu arah, di baliknya ruang bedah yang masih ada noda darah tipis di lantai.

> “Kau benar,” katanya pelan.

“Aku menyembunyikan sesuatu… yang tidak akan bisa kau terima.”

Veronica ngerasa dingin seketika, tapi masih berusaha ketawa.

> “Ck, jangan dramatis banget, Doc. Aku tahu kamu orang sibuk. Tapi kalau ada yang kamu butuh—teman, tempat cerita, atau…”

dia nyengir lagi, “pelukan hangat… aku selalu ada.”

Pharma menatapnya lagi. Tapi kali ini matanya nggak dingin. Justru… kosong.

Kosong kayak seseorang yang udah kehilangan konsep “hangat”.

> “Aku tidak pantas menerima hal itu, Veronica.”

Dia melangkah pergi, meninggalkan Veronica sendirian di ruangan itu masih dengan dua gelas kopi yang salah satunya mulai mendingin.

---

[Malam hari – atap rumah sakit Delfi]

Angin kencang, hujan tipis-tipis.

Pharma berdiri di tepi balkon, di tangannya ada file terenkripsi yang barusan dikirim.

📩 “Batch berikut dikirim malam ini. Jangan gagal.” - DJD

📎 Attachment: Koordinat gudang bawah kota Lavender.

Dia nyalain rokok, hisap dalam-dalam, lalu buang abu ke hujan.

> “Lavender lagi, huh…”

“Kau memang belum selesai"

---

Langit di atas Delfi masih hitam pekat.

Petir menyalak sebentar, memperlihatkan bayangan gedung tinggi yang diam-diam menyimpan rahasia busuk di perutnya.

Pharma baru keluar dari ruangan bawah tanah jas putihnya nyaris tak lagi terlihat putih.

Langkahnya berat, seolah setiap pijakan menambah beban yang menghantui pikirannya.

Di ujung lorong, sudah ada seseorang yang menunggu.

Sepatu hitam mengilap, jas rapi, rokok menyala di tangan kanan sho Wayne.

“Cepat juga kau,” suara Sho datar, tapi ujung bibirnya naik tipis. “Atau… kau takut aku yang datang nyusul ke ruang itu?”

Pharma menatapnya datar, nada suaranya serak.

“Jangan lupa, aku dokter. Bukan jagal.”

Sho mendekat satu langkah, aromanya campuran tembakau dan cologne mahal bau yang sering datang bersamaan dengan masalah.

“Sayangnya, malam ini batas antara dokter dan jagal kabur banget.”

Ia menepuk pundak Pharma pelan, lalu menunduk sedikit, berbisik di telinganya:

“Bos puas. Tapi katanya, kalau kau nolak tugas berikutnya Delfi akan kelihatan indah… dari ledakan yang tinggi.”

Petir kembali menyambar.

Sho tersenyum santai, seolah ancaman itu cuma obrolan bisnis biasa.

Pharma diam.

Satu-satunya suara yang tersisa cuma beep mesin dari ruang bawah dan suara langkah sepatu Sho menjauh, meninggalkan jejak asap.

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!