Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Kunjungan ke Yayasan Al-Hakim
#
"Gue nggak mau ngomong sama lu."
Mahira berdiri di ambang pintu rumahnya, menghalangi Khaerul masuk. Kiara berdiri di belakangnya—postur siaga, siap melindungi kapan saja.
"Mahira, please." Khaerul mengangkat kedua tangannya—gesture menyerah. "Lima menit. Itu aja. Gue cuma mau jelasin."
"Jelasin apa? Jelasin kenapa lu ngancam gue? Kenapa lu ngikutin gue?" Suara Mahira bergetar antara marah dan takut.
"Bukan gue yang kirim surat itu." Mata Khaerul menatap lurus. "Gue sumpah. Gue nggak akan—" ia menghela napas frustrasi, "—gue nggak akan nyakitin Raesha. Atau siapapun di keluarga lu."
"Terus siapa?"
"Itu yang mau gue omongin." Khaerul melirik Kiara sekilas. "Tapi bukan di sini. Terlalu banyak... yang dengerin."
Mahira merasakan bulu kuduknya berdiri. "Maksud lu?"
"Besok. Yayasan Al-Hakim. Lu kan ada kunjungan ke sana jam sepuluh pagi—aku tahu dari jadwal kantor." Khaerul mundur selangkah. "Kita ketemu di sana. Tempat netral. Bawa siapa aja yang lu mau. Gue cuma perlu ngomong. Setelah itu, terserah lu mau percaya atau nggak."
Sebelum Mahira sempat menjawab, Khaerul sudah berbalik dan berjalan menuju mobilnya.
Meninggalkan Mahira dan Kiara berdiri di ambang pintu dengan pertanyaan yang makin menumpuk.
***
Yayasan Pendidikan Al-Hakim terletak di kawasan Pondok Indah—kompleks bangunan modern dengan arsitektur islami yang elegan. Gerbang besar dengan kaligrafi "Bismillahirrahmanirrahim" menyambut pengunjung. Taman hijau dengan air mancur di tengahnya menciptakan suasana damai.
Mahira turun dari mobil bersama Raesha—kakaknya yang bersikeras ikut setelah mendengar ancaman kemarin.
"Tempat ini... indah," gumam Raesha sambil menatap sekeliling.
"Papa bilang ini salah satu yayasan pendidikan terbaik di Jakarta." Mahira merapikan hijab pashmina abu-abu yang ia kenakan hari ini. "Fokus mereka bukan cuma akademik, tapi juga character building berbasis nilai islam."
"Dan ini bagian dari Al-Hakim Corporation?"
"Yep. CSR mereka. Tapi Papa bilang, mereka treat ini lebih dari sekadar CSR. Ini passion." Mahira membuka notes di ponselnya. "Kita dijadwalin ketemu dengan direktur yayasan dulu, terus site visit."
Mereka berjalan memasuki gedung utama—lobby dengan interior kayu jati dan kaligrafi besar di dinding. Aroma wangi oud halus memenuhi ruangan. Beberapa anak yatim piatu dengan seragam rapih sedang berjalan berbaris, dipimpin seorang guru.
"Assalamualaikum," sapa seorang wanita berjilbab syar'i dengan senyum ramah. "Ibu Mahira Qalendra?"
"Waalaikumsalam. Iya, betul." Mahira berjabat tangan. "Ini kakak saya, Raesha."
"Saya Ustadzah Maryam, direktur yayasan. Selamat datang." Wanita itu membimbing mereka masuk lebih dalam. "Mari, saya akan tunjukkan fasilitas kami."
Site visit dimulai dari ruang kelas—kelas dengan kapasitas dua puluh siswa, dilengkapi smart board dan perpustakaan mini di sudut ruangan. Mahira melihat anak-anak sedang belajar dengan antusias. Tidak ada yang mengantuk atau terlihat bosan.
"Metode pembelajaran kami menggabungkan kurikulum nasional dengan pendidikan karakter islami," jelas Ustadzah Maryam. "Setiap pagi dimulai dengan tadarus Al-Quran. Setelah dzuhur ada halaqah—diskusi nilai-nilai kehidupan. Dan setiap malam, sebelum tidur, mereka hafalan doa dan hadist."
"Berapa jumlah anak asuh di sini?" tanya Raesha.
"Saat ini 250 anak. Dari usia 6 hingga 18 tahun. Semuanya yatim piatu atau dari keluarga tidak mampu." Ustadzah Maryam membuka pintu ke ruang yang lebih besar—aula dengan karpet hijau dan rak sepatu di depan. "Ini musholla kami. Untuk sholat berjamaah dan kajian."
Mahira melangkah masuk. Musholla itu bersih, wangi, dengan Al-Quran tertata rapih di rak. Ada papan tulis dengan jadwal kajian mingguan. Dan di dinding, terpajang kaligrafi ayat Al-Quran tentang kasih sayang dan kepedulian.
"Subhanallah," bisik Mahira. Dadanya terasa hangat. "Ini... ini lebih dari yang gue bayangin."
"Founder kami sangat concern dengan pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda." Ustadzah Maryam tersenyum. "Beliau bilang, anak-anak yatim ini adalah amanah. Kita nggak cuma kasih mereka tempat tinggal dan makan, tapi juga bekal untuk masa depan—secara duniawi dan ukhrawi."
"Founder nya... CEO Al-Hakim Corporation kan?" Mahira bertanya hati-hati.
"Betul. Mr. Zarvan Mikhael Al-Hakim." Nada Ustadzah Maryam penuh kekaguman. "Beliau yang langsung turun tangan merancang kurikulum, memilih pengajar, bahkan sering datang untuk mengecek langsung kondisi anak-anak."
Zarvan.
Nama itu lagi. Mahira meremas tasbih di kantongnya—tasbih pemberian Ustadz Hariz.
"Beliau orangnya seperti apa?" Pertanyaan itu keluar tanpa Mahira sadari.
Ustadzah Maryam terdiam sejenak, seperti mencari kata yang tepat. "Tenang. Bijaksana. Tegas tapi penuh kasih sayang. Anak-anak di sini sangat menghormati sekaligus menyayangi beliau. Dan yang paling saya kagumi... beliau sangat humble. Nggak pernah jumawa meskipun memiliki segalanya."
Raesha melirik adiknya—menangkap pancaran emosi di wajah Mahira yang sulit dijelaskan.
***
Site visit berlanjut ke asrama, perpustakaan, hingga dapur umum. Setiap sudut yayasan ini menunjukkan perhatian detail yang luar biasa. Bukan sekadar membangun gedung dan mengisi dengan anak-anak, tapi benar-benar menciptakan rumah—tempat di mana mereka merasa dicintai dan dihargai.
"Ini program scholarship kami," Ustadzah Maryam membuka folder dokumen di ruang kantornya. "Setiap anak yang lulus SMA dan ingin melanjutkan kuliah akan dibiayai penuh. Bahkan kalau mereka ingin belajar ke luar negeri, kami siapkan."
"Biaya nya dari mana?" tanya Raesha.
"Dari profit Al-Hakim Corporation. 30% dari net profit setiap tahunnya dialokasikan untuk yayasan ini dan program sosial lainnya."
Mahira mengangkat alis. "30%? Itu... itu besar sekali."
"Mr. Zarvan bilang, rezeki yang Allah berikan harus dibagi. Bukan ditimbun." Ustadzah Maryam tersenyum. "Beliau hidup sangat sederhana untuk ukuran seorang CEO multinational corporation. Rumahnya biasa. Mobilnya biasa. Hampir semua uangnya untuk yayasan dan amal."
Mahira terdiam. Gambaran tentang Zarvan yang ia bentuk di kepala—entah kenapa—tidak cocok dengan sosok arrogant businessman yang biasanya memimpin perusahaan besar. Ini... berbeda.
"Boleh kami bertemu dengan Mr. Zarvan?" tanya Mahira. "Maksud saya... untuk project merger, kami perlu—"
"Beliau akan datang tiga hari lagi, bukan?" Ustadzah Maryam mengecek kalender. "Untuk meeting official di kantor Qalendra Group. Tapi kalau Ibu Mahira mau bertemu informal dulu, saya bisa arrange. Beliau biasanya datang ke yayasan setiap Sabtu sore."
"Sabtu..." Mahira menghitung. "Besok?"
"Betul. Sekitar jam 4 sore. Beliau biasanya ngaji bareng anak-anak."
Raesha menendang kaki adiknya di bawah meja—sinyal untuk tidak terlihat terlalu eager.
"Kami... akan coba," kata Mahira pelan. "Terima kasih infonya."
***
Mereka menghabiskan dua jam di yayasan—mengobrol dengan beberapa anak asuh, melihat karya seni mereka, hingga makan siang di kantin bersama. Mahira merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Kehangatan keluarga.
"Kakak," Mahira bersuara saat mereka berjalan kembali ke mobil, "lu ngerasa nggak... yayasan ini special?"
"Special gimana?"
"Entah. Kayak... kayak gue pernah ada di tempat kayak gini. Ngerasain hal yang sama." Mahira memeluk dirinya sendiri. "Tapi bukan di kehidupan ini."
Raesha menghentikan langkahnya. "Visi lagi?"
"Bukan visi. Lebih ke... feeling. Familiar." Mahira menatap gedung yayasan yang kini tertinggal di belakang mereka. "Zarvan... dia pasti orang yang baik. Bukan orang jahat."
"Lu belum ketemu dia, Mahira."
"Aku tahu. Tapi... orang jahat nggak akan bangun tempat kayak gini. Nggak akan peduli sama anak yatim. Nggak akan alokasiin 30% profit perusahaan untuk amal." Mahira menarik napas dalam. "Di masa lalu, Pangeran Zarvan juga digambarkan sebagai orang yang baik. Yang adil. Yang... yang seharusnya aku nikahi."
"Tapi dia gagal nyelamatin Aisyara."
Kata-kata itu menohok. Mahira terdiam.
"Maaf," Raesha langsung memeluk adiknya. "Gue nggak bermaksud—"
"Nggak apa-apa. Lu bener." Mahira membalas pelukan kakaknya. "Dia gagal. Dan sekarang... takdir ngasih kesempatan kedua. Pertanyaannya, apa kali ini akan berbeda?"
Mereka belum sempat melanjutkan percakapan karena ponsel Raesha berbunyi. Wajahnya berubah serius melihat layar.
"Papa. Ada masalah di kantor." Raesha mengangkat telepon. "Halo, Pa?"
Mahira menunggu sambil bersandar di mobil. Matanya menyapu area parkir—dan terhenti pada satu titik.
Di balik pilar gedung seberang, seorang pria berdiri.
Tinggi. Berjas hitam. Berdiri dengan postur sempurna—tangan di saku celana, menatap ke arah Mahira.
Meskipun jaraknya cukup jauh, Mahira bisa merasakan tatapan itu. Tajam. Intens. Seperti... seperti mengenalinya.
Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan.
"Mahira?" Raesha menutup teleponnya. "Kita harus balik ke kantor. Ada—" ia menyadari adiknya terpaku menatap ke satu arah. "Ada apa?"
"Ada... ada orang." Mahira menunjuk. "Di sana. Dia—"
Tapi saat Raesha menoleh, pria itu sudah menghilang.
Seperti tidak pernah ada.
"Mahira, kamu yakin ngeliat—"
"Gue yakin." Mahira masih menatap pilar kosong itu. "Ada seseorang. Dan dia... dia ngelihat gue."
Raesha meraih tangan adiknya, menggenggam erat. "Kita pergi sekarang. Ayo."
Tapi bahkan saat mobil sudah melaju keluar dari kompleks yayasan, Mahira masih bisa merasakan tatapan itu.
Tatapan yang familiar.
Tatapan yang membuatnya merasa... aman dan takut di saat bersamaan.
Dan entah kenapa, ia tahu.
Itu Zarvan.
Belahan jiwa yang sudah menunggunya selama 300 tahun.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 8**