Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Jebakan di Taman Mawar
Fajar belum benar-benar menyingsing, namun langit Solaria sudah mulai berubah warna menjadi biru keabu-abuan yang dingin. Aethela tidak bisa tidur setelah kejadian di kamar Valerius. Kata-kata pria itu—bahwa mereka berdua adalah tawanan dari kekuatan yang tidak mereka inginkan—terus bergaung di kepalanya seperti lonceng kematian.
Sebelum kereta kuda Obsidiana menjemputnya secara resmi, Aethela memutuskan untuk mengunjungi Taman Mawar Putih untuk terakhir kalinya. Ini adalah tempat favorit mendiang neneknya, satu-satunya sudut di istana yang tidak tersentuh oleh hiruk-pikuk politik. Ia ingin menghirup aroma tanah kelahirannya sebelum ia hanya bisa mencium bau belerang dan es di Utara.
Ada rasa nostalgia yang menyakitkan. Ia berjalan di antara barisan mawar yang masih basah oleh embun. Setiap bunga mawar di sini memiliki sihir pelindung yang membuatnya mekar sepanjang tahun. Namun, pagi ini, mawar-mawar itu tampak layu di matanya. Ia merasa seolah-olah ia sedang berpamitan pada masa kecilnya, pada identitasnya sebagai Putri Solaria, dan bersiap menjadi "obat" bagi seorang monster.
"Kau seharusnya tidak berada di sini sendirian, Putri."
Aethela tersentak dan berbalik. Di ujung jalan setapak, berdiri seorang pria mengenakan zirah perak ksatria Solaria. Itu adalah Sir Julian, komandan pengawal pribadinya yang sudah ia kenal sejak kecil.
"Julian," Aethela menghela napas lega. "Kau mengejutkanku. Aku hanya ingin mencari ketenangan sebelum keberangkatan."
Ekspresi Julian tampak kaku, matanya tidak menatap langsung ke arah Aethela. "Ketenangan adalah hal yang mahal hari ini. Terutama saat kita menyerahkan permata terbaik kita kepada naga-naga kelaparan itu."
"Aku melakukannya demi perdamaian, Julian. Kau tahu itu."
"Perdamaian yang dibangun di atas penghinaan bukanlah perdamaian, Aethela," suara Julian meninggi, ada nada fanatisme yang berbahaya di sana. "Kami, para ksatria Solaria, tidak akan membiarkanmu dinodai oleh mahluk dari Obsidiana itu. Jika kau tidak bisa tinggal di sini sebagai penguasa kami, maka kau lebih baik tinggal di sini... selamanya."
Aethela mematung. Sesuatu yang dingin merambat di punggungnya. "Apa maksudmu, Julian?"
Tiba-tiba, dari balik semak-semak mawar yang rimbun, muncul empat orang ksatria lain dengan pedang terhunus. Mereka bukan pengawal biasa; mereka adalah anggota faksi "Cahaya Murni", kelompok radikal yang membenci segala bentuk sihir non-manusia.
Ia merasa dikhianati. Orang-orang yang bersumpah untuk melindunginya kini berdiri di depannya dengan niat membunuh. Pengkhianatan dari bangsanya sendiri terasa jauh lebih menyakitkan daripada ancaman dari Valerius.
"Maafkan kami, Putri," bisik Julian, suaranya gemetar namun tangannya mantap saat ia menghunus pedangnya. "Lebih baik kau mati sebagai martir Solaria daripada hidup sebagai pelayan naga."
Perspektif: Valerius Nightshade
Di sisi lain istana, Valerius sedang memeriksa perlengkapan perangnya saat instingnya mendadak berteriak. Jantungnya berdenyut kencang, dan bayangan di bawah kakinya mulai bergejolak liar, menunjuk ke arah taman timur.
Kemarahan yang murni. Ia bisa merasakan sihir Aethela sedang terdesak. Bukan karena ledakan kekuatan, tapi karena ketakutan yang mendalam. Ia tidak peduli pada protokol diplomatik lagi. Jika "aset"-nya terluka di tanahnya sendiri, ia akan membakar tempat ini.
Tanpa berkata apa-apa pada Darius, Valerius berlari. Gerakannya bukan lagi gerakan manusia. Ia melompat melewati pagar balkon, mendarat dengan dentuman yang memecahkan marmer, dan berlari menuju Taman Mawar.
Setiap langkah yang ia ambil membuat tanah di sekitarnya menghitam. Wujud manusianya mulai retak. Sisik-sisik obsidian muncul di rahangnya, dan kuku-kukunya memanjang menjadi cakar yang tajam.
Saat ia sampai di taman, ia melihat pemandangan yang membuat darah naganya mendidih: Aethela tersudut di dinding air mancur, sementara seorang ksatria sedang mengayunkan pedang ke arah lehernya.
"MENJAUH DARI ISTRIKU!"
Raungan itu bukan suara manusia. Itu adalah suara guntur yang memecah kesunyian fajar.
Aethela memejamkan mata, bersiap merasakan dinginnya baja. Namun, yang ia dengar justru suara dentingan logam yang patah.
Ia membuka mata dan terengah-engah. Valerius berdiri di depannya. Pria itu tampak mengerikan. Matanya merah menyala, dan aura hitam pekat meledak dari tubuhnya seperti asap dari gunung berapi. Dengan satu tangan yang kini bersisik naga, Valerius menangkap pedang Julian dan mematahkannya seolah itu hanya sebatang ranting kering.
Aethela merasakan Ketakutan dan kekaguman yang bercampur aduk. Valerius tidak terlihat seperti penyelamat berbaju zirah dalam dongeng; dia terlihat seperti iblis yang datang untuk menuntut haknya. Namun, di balik kengerian itu, Aethela merasakan sesuatu yang aneh: ia merasa aman.
Valerius tidak berhenti. Ia mengibaskan tangannya, dan bayangan-bayangan dari pepohonan sekitar melesat seperti tombak, mengikat keempat ksatria lainnya ke tanah. Julian terlempar ke air mancur dengan satu hantaman telapak tangan Valerius.
Valerius berbalik ke arah Aethela. Napasnya memburu, mengeluarkan uap panas. Ia mencengkeram bahu Aethela, matanya mencari luka di tubuh wanita itu.
"Kau... kau terluka?" geram Valerius, suaranya parau oleh transformasi yang belum sempurna.
"Aku... aku tidak apa-apa," bisik Aethela. Ia menatap tangan Valerius yang masih bersisik hitam tajam. "Valerius, kendalikan dirimu. Kau akan membunuh mereka."
"Mereka mencoba membunuhmu!" Valerius berteriak, suaranya bergetar karena amarah yang protektif. "Di rumahmu sendiri! Di bawah perlindungan ayahmu!"
Ketegangan Romantis: Aethela memberanikan diri. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Valerius yang bersisik. Seketika, sihir bulannya mengalir—lembut, dingin, dan menenangkan. Ia bisa merasakan sisik-sisik itu perlahan merayap kembali ke bawah kulit Valerius saat sihir mereka bersentuhan.
Valerius terdiam, matanya yang merah perlahan kembali menjadi emas cair yang dalam. Ia menatap tangan Aethela yang mungil di atas cakar naganya yang mengerikan.
"Kenapa kau menenangkanku?" tanya Valerius rendah. "Kau seharusnya takut padaku."
"Aku takut," aku Aethela jujur. "Tapi aku lebih takut pada apa yang akan terjadi jika kau kehilangan kemanusiaanmu di sini. Dan... terima kasih."
Valerius menarik tangannya dengan canggung, seolah ia baru saja tersengat. Ia berdiri tegak, kembali mengenakan topeng kedinginannya, meski matanya masih berkilat penuh ancaman ke arah para pengkhianat yang mengerang di tanah.
"Perkemas barang-barangmu, Aethela," kata Valerius, suaranya kembali sedingin es. "Kita berangkat sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu tinggal satu detik lagi di tempat yang penuh dengan ular berbaju zirah ini."
Aethela melihat ke arah Julian yang kini ditangkap oleh pengawal Obsidiana yang baru tiba. Ia menyadari bahwa dunianya yang lama benar-benar telah berakhir. Ksatria-ksatria yang seharusnya melindunginya ingin dia mati, dan naga yang seharusnya menjadi musuhnya adalah satu-satunya yang berdiri di antara dia dan kematian.
Sambil berjalan menuju kereta kuda yang sudah menunggu, Aethela menyadari sebuah kebenaran pahit. Di Solaria, ia hanyalah seorang martir yang diinginkan. Di Obsidiana, di sisi Valerius, ia mungkin seorang tawanan—tapi setidaknya, dia adalah tawanan yang berharga.
Perjalanan menuju Utara akhirnya dimulai, bukan dengan upacara perpisahan yang manis, melainkan dengan bau darah di Taman Mawar dan janji perlindungan yang lahir dari amarah seorang naga.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️