Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
membantu Indira mengosongkan wadah.m
Arjuna tidak membiarkan kecurigaan Clarissa berkembang lebih jauh. Saat matahari mulai naik, ketegangan di kamar itu memuncak, namun Arjuna tetap memegang kendali penuh.
"Pakai pakaianmu dan pulanglah, Clarissa. Sopir sudah menunggumu di depan," ucap Arjuna dingin sembari mengancingkan kemejanya, bahkan tanpa menoleh ke arah wanita itu.
Clarissa terperangah. "Tapi Juna, ini masih terlalu pagi! Dan kau belum menjawab pertanyaanku soal bau—"
Arjuna menghentikan gerakannya. Ia berbalik dan menatap Clarissa dengan tatapan yang begitu tajam hingga membuat wanita itu membeku. "Dengarkan aku baik-baik, Clarissa. Aku tidak suka wanita yang penuh selidik dan hobi menginterogasiku seperti kriminal di rumahku sendiri."
"Aku hanya bertanya karena aku peduli padamu!" bela Clarissa dengan suara mencicit.
"Peduli atau terobsesi?" Arjuna melangkah mendekat, mengintimidasi. "Jika kau tidak bisa menaruh kepercayaan penuh padaku dan terus membawa kecurigaan konyolmu itu ke dalam hubungan ini, lebih baik kita akhiri saja semuanya hari ini. Aku tidak punya waktu untuk drama detektif."
Wajah Clarissa seketika pucat pasi. Ancaman putus adalah mimpi buruk baginya. Kehilangan Arjuna berarti kehilangan status, kemewahan, dan pria yang selama ini ia puja.
"J-Juna, bukan itu maksudku... maafkan aku," ucap Clarissa terbata-bata, nyalinya menciut seketika. "Aku tidak akan bertanya lagi. Janji. Tolong jangan bicara seperti itu."
"Kalau begitu pulanglah. Aku butuh ketenangan sebelum berangkat rapat," pungkas Arjuna tanpa kompromi.
Dengan perasaan dongkol yang tertahan namun diliputi ketakutan, Clarissa segera meraih tasnya dan keluar dari kamar Arjuna. Ia tidak berani menoleh lagi ke arah lemari buku itu, meski rasa penasaran masih sedikit mengganjal di hatinya. Ancaman Arjuna jauh lebih menakutkan daripada rahasia apa pun di rumah ini.
Setelah memastikan mobil Clarissa keluar dari gerbang utama, Arjuna menghela napas panjang. Beban di pundaknya sedikit terangkat. Ia segera menuju pintu rahasia dan melangkah masuk ke lorong menuju paviliun.
Indira sedang duduk di meja makan kecilnya, tampak lemas dan masih syok dengan kejadian subuh tadi. Ia tersentak saat melihat Arjuna muncul dari pintu rahasia di dalam kamarnya.
"Tuan? Bukankah ada Nona Clarissa?" tanya Indira pelan.
"Dia sudah pergi. Dan dia tidak akan kembali untuk waktu yang lama," jawab Arjuna singkat. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi depan Indira.
Tatapan Arjuna yang biasanya dingin kini tampak sedikit lebih intens saat menatap wajah Indira yang masih terlihat pucat. "Bagaimana perasaanmu? Apa masih sakit?"
Indira menggeleng kecil, wajahnya merona karena malu diingatkan pada kejadian tadi. "Sudah jauh lebih baik, Tuan. Terima kasih."
Arjuna terdiam sejenak, matanya jatuh pada gelas jus yang ada di depan Indira. "Besok-besok, jika kau merasa penuh sebelum waktunya, jangan mencoba memijatnya sendiri sampai kesakitan. Tunggu aku, atau gunakan alat yang benar. Aku tidak suka melihatmu meringis seperti semalam."
Indira tertegun. Jadi, Arjuna melihatnya semalam melalui celah pintu?
"S-saya pikir Tuan sibuk dengan Nona Clarissa, jadi saya..."
"Tidak ada yang lebih penting daripada pengobatanku, Indira. Kau tahu itu," potong Arjuna, namun nada suaranya kali ini tidak sekeras biasanya.
Tiba-tiba, ponsel Arjuna berdering. Ia melihat layar ponselnya—pesan dari asisten pribadinya tentang jadwal rapat. Namun, sebelum beranjak, Arjuna merogoh saku jasnya dan meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja.
"Gunakan krim ini setelah kau mandi. Itu akan mengurangi rasa nyeri dan lecet. Aku tidak ingin 'sumber makananku' rusak hanya karena kau ceroboh," ucapnya dengan gaya bicara yang tetap angkuh, namun tindakannya berkata lain.
Indira menatap kotak krim mahal itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia membenci ketergantungan Arjuna padanya, namun di sisi lain, perhatian-perhatian kecil yang aneh ini mulai mengaburkan batas antara kewajiban dan sesuatu yang lain.
"Terima kasih, Tuan," bisik Indira.
Arjuna berdiri, merapikan jasnya. "Aku akan pulang terlambat malam ini. Pastikan stokmu cukup untuk nanti malam. Aku akan sangat lapar setelah rapat panjang ini."
Tanpa menunggu jawaban, Arjuna kembali masuk ke pintu rahasia, meninggalkan Indira yang terpaku memandangi krim pemberiannya. Di balik dinding rumah mewah itu, rahasia mereka kembali aman, terkunci rapat oleh ancaman Arjuna kepada Clarissa.
Siang itu, Indira pulang dari sekolah dengan langkah gontai. Seragam putih abu-abunya terasa sangat sesak di bagian dada, dan setiap langkah yang ia ambil menimbulkan denyut nyeri yang menyengat. Karena jadwal pelajaran yang padat dan ketatnya pengawasan di sekolah, ia sama sekali tidak punya kesempatan untuk memompa asinya sejak pagi.
Begitu sampai di kamar paviliun, wajahnya sudah memerah padam. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
"Indira? Ya ampun, Nak, wajahmu merah sekali!" seru Darsih yang sedang merapikan tempat tidur.
"Sakit sekali, Bu... kepalaku pusing," rintih Indira sembari duduk di tepi ranjang. Tangannya gemetar saat mencoba membuka kancing seragamnya.
Darsih segera membantu putrinya. Begitu seragam itu terbuka, Darsih terpekik kecil melihat kondisi Indira. Payudara gadis itu sangat keras, membengkak hingga ke arah ketiak, dan terasa sangat panas saat disentuh. Produksi ASI yang berlebih benar-benar menyiksa tubuh mungilnya.
"Ini sudah tidak benar, kamu mulai demam, Nak," ucap Darsih cemas sembari meraba dahi Indira yang panas. "Cepat, gunakan alat pompanya sekarang. Ibu ambilkan air hangat untuk mengompres."
Indira mulai memompa dengan alat manual, namun rasa nyeri itu membuatnya beberapa kali terisak. Cairan putih itu mengalir deras, namun rasa penuh di dadanya seolah tak kunjung berkurang. Tubuhnya mulai menggigil karena gejala mastitis atau radang kelenjar susu mulai menyerangnya.
"Aku tidak sanggup menggunakannya bu,sakit sekali,lebih baik aku tidur." ucapnya lirih.
Darsih tidak bisa berbuat apa apa,karena dia tahu satu satunya mengobati putrinya adalah dengan cara menguras langsung dari wadahnya,dan yang bisa melakukannya hanya den Arjuna.
Sore harinya, Arjuna pulang lebih awal dari kantor. Entah kenapa, sepanjang rapat ia merasa tidak tenang. Pikirannya terus tertuju pada pesan yang ia kirimkan pada Indira pagi tadi.
Begitu memasuki kamar utamanya, ia tidak mendapati siapa pun. Ia segera menekan tombol di balik bingkai foto dan melangkah cepat melewati lorong rahasia menuju kamar Indira.
Saat pintu lorong terbuka, Arjuna tertegun. Ia melihat Indira terbaring lemah di bawah selimut tebal, dengan kompresan air hangat di dahinya. Di atas meja nakas, terlihat botol hasil pompaan yang hanya terisi setengah.
"Apa yang terjadi?" suara berat Arjuna memecah keheningan.
Darsih yang sedang memeras handuk kaget dan langsung berdiri. "Tuan... Indira demam tinggi. Asinya tersumbat karena seharian tadi tidak dikeluarkan di sekolah. Dia sudah mencoba memompa, tapi sepertinya tidak cukup."
Arjuna mendekat, duduk di sisi ranjang Indira. Ia menyentuh pipi gadis itu—panas sekali. Indira membuka matanya perlahan, menatap Arjuna dengan pandangan sayu dan bibir yang pucat.
"Tuan... maaf, stoknya... tidak banyak," bisik Indira dengan suara parau.
Arjuna menatap botol di meja, lalu kembali menatap Indira. Ada kilat kemarahan di matanya, tapi bukan marah kepada Indira, melainkan pada situasi ini. Baginya, melihat Indira sakit berarti "obatnya" juga terancam.
"Keluar, Bi. Biar aku yang mengurusnya," perintah Arjuna tanpa menoleh pada Darsih.
"Tapi Tuan, Indira sedang sakit—"
"Aku tahu cara menanganinya lebih baik daripada alat pompa itu. Keluar sekarang," tekan Arjuna dengan nada yang tidak terbantahkan.
Darsih hanya bisa menunduk dan keluar dari kamar dengan perasaan berat hati. Begitu pintu tertutup, Arjuna membuka selimut Indira. Ia melihat Indira masih menggigil meski suhu tubuhnya tinggi.
"Kau ceroboh, Indira. Sudah kukatakan jangan sampai terlambat mengurasnya," ucap Arjuna sembari membantu Indira bangun ke posisi setengah duduk.
"Sakit, Tuan... jangan keras-keras," rintih Indira saat tangan besar Arjuna mulai menyentuh bagian yang membengkak itu untuk memeriksa penyumbatannya.
Arjuna tidak menjawab. Ia tahu, dalam kondisi meradang seperti ini, hisapan alat pompa tidak akan seefektif hisapan manusia untuk membuka sumbatan yang membuat Indira demam. Dengan gerakan yang lebih hati-hati dari biasanya, Arjuna mulai membantu "mengosongkan" beban yang menyiksa gadis itu.
"Ssshhh... diamlah. Jika tidak dikeluarkan sekarang, demammu tidak akan turun," bisik Arjuna di sela aktivitasnya.
Indira hanya bisa mencengkeram bahu Arjuna, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu sembari menahan tangis.
Di tengah rasa sakit yang hebat, ia merasakan kehangatan yang aneh dari cara Arjuna memperlakukannya sore itu—lebih protektif dan jauh dari kesan angkuh yang biasanya ia tunjukkan.
Ssshhhh...!
Indira mulai mendesah lega menikmati hisapan lembut Arjuna yang menimbulkan rasa gelenyar aneh diseluruh nadinya.
bersambung...