NovelToon NovelToon
Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.

Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.

Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.

Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.

Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.

Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.

Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.

Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat

Air mata yang disembunyikan.

Kesabaran yang tak wajar.

Kebenaran akhirnya mulai retak.

Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran Sengit

“Atharv, dengarkan aku dulu—” suara Zafira terdengar bergetar, ia melangkah setengah langkah mendekat. “Aku tidak bermaksud meremehkan pernikahan ini. Aku hanya ingin kita jujur satu sama lain.”

“Cukup!” Atharv membentak keras.

Zafira tersentak. Tubuhnya menegang, napasnya tercekat. Ia belum pernah mendengar suara Atharv setinggi itu.

“Kau pikir aku menikahimu karena aku mau?” Atharv melanjutkan, suaranya meninggi tanpa kendali. “Kau pikir aku menikmati semua ini? Kau datang ke hidupku membawa kekacauan, rumor, dan sekarang kau dengan mudah meminta cerai seolah ini kesalahan kecil?”

“Aku hanya ingin kau mengerti—” Zafira mencoba bicara, namun suaranya tenggelam.

“Aku sudah mengerti terlalu banyak!” Atharv berteriak, telapak tangannya menghantam meja hingga benda-benda di atasnya bergetar. “Kau tidak tahu apa yang harus aku hadapi di luar sana! Nama keluargaku dipertaruhkan, dan kau bertanya soal mengakhiri pernikahan ini?”

Zafira mundur satu langkah. Matanya membesar, wajahnya memucat. Tangannya gemetar hebat.

“Tolong jangan berteriak,” pintanya lirih.

Namun Atharv sudah terlalu larut dalam amarahnya.

“Kau tidak punya hak meminta apa pun sekarang!” suaranya menggema di ruangan. “Kau adalah istriku. Titik. Kau tinggal di rumah ini, dengan namaku, dan kau akan melakukan apa yang seharusnya!”

Kata-kata itu menghantam Zafira lebih keras daripada bentakan mana pun.

Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak. Ia menunduk, ketakutan, seolah tubuhnya mengecil di hadapan pria yang berdiri menjulang dengan amarah yang mengintimidasi.

“A-aku tidak bermaksud melawanmu,” ucapnya terbata-bata. “Aku hanya lelah disalahkan atas sesuatu yang tidak pernah aku lakukan.”

Atharv terdiam sesaat. Dadanya naik turun, napasnya kasar. Namun sorot matanya masih keras.

“Pergi ke kamar,” perintahnya dingin. “Aku tidak ingin mendengar satu kata pun lagi malam ini.”

Zafira tidak membantah. Dengan langkah gemetar, ia berbalik dan berjalan menjauh. Setiap langkah terasa berat, seolah ia meninggalkan bagian dari dirinya di ruang itu—bersama ketakutan, luka, dan kenyataan pahit bahwa pernikahan ini bukanlah tempat yang aman.

Di belakangnya, Atharv berdiri kaku, amarah masih membara. Namun jauh di dalam dadanya, ada sesuatu yang mulai mengganggu bukan kemarahan, melainkan bayangan wajah Zafira yang ketakutan oleh suaranya sendiri.

Zafira menutup pintu kamarnya perlahan, seolah takut suara kecil pun akan memecahkannya. Begitu kunci terpasang, tubuhnya melemah.

Ia bersandar di balik pintu, lalu perlahan meluncur turun hingga terduduk di lantai. Tangannya menutup mulut, namun isak itu tetap lolos, semakin lama semakin tak terkendali.

Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek. Setiap tarikan udara seperti menusuk, seolah beban di hatinya terlalu berat untuk ditanggung seorang diri.

Air mata jatuh tanpa henti, membasahi punggung tangannya dan lantai dingin di bawahnya. Ia menggigil, bukan karena udara, melainkan karena luka yang terlalu dalam.

“Haruskah aku menanggung semua ini sendirian?” bisiknya lirih, nyaris tak bersuara.

Pernikahan ini terasa seperti penjara yang indah dari luar, tapi menyiksa dari dalam. Ia tidak dicintai, tidak didengarkan, bahkan suaranya sendiri seolah tidak memiliki arti.

Zafira memeluk lututnya erat, menangis hingga tubuhnya terisak, hingga rasa sakit itu melelahkan dirinya sendiri.

Malam itu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Zafira menyadari satu hal yang paling menyakitkan—bahwa bertahan terkadang terasa lebih menyiksa daripada menyerah.

***

Malam yang panjang akhirnya berganti pagi, namun kamar Zafira tetap sunyi. Tirai jendela masih tertutup rapat, cahaya matahari hanya menyelinap tipis dari celahnya.

Zafira tidak keluar dari kamar, bahkan ketika aroma sarapan memenuhi rumah. Nampan yang dibawa Sari kembali ke dapur dalam keadaan utuh—tak tersentuh.

Atharv yang baru turun ke ruang makan menghentikan langkahnya. Tatapannya menyapu meja, lalu beralih pada Sari. “Di mana Zafira?” tanyanya dingin.

“Sejak semalam Nona tidak keluar kamar, Tuan. Sarapan pun belum disentuh,” jawab Sari ragu.

Rahang Atharv mengeras. Amarah yang belum sepenuhnya reda kembali menyala. Ia berbalik tajam dan melangkah cepat menyusuri lorong menuju kamar Zafira. Tanpa mengetuk, ia berhenti di depan pintu, lalu mengetuk keras sekali.

“Zafira!” panggilnya dengan suara tinggi.

Tak ada jawaban.

Atharv mengetuk lebih keras lagi, telapak tangannya menghantam pintu. “Buka pintunya sekarang!”

Di balik pintu yang tertutup rapat itu, keheningan justru terasa semakin berat—seolah sesuatu yang rapuh tengah menunggu untuk pecah.

Tak mendapat jawaban, Atharv mendorong gagang pintu dan mendapati pintu itu tidak terkunci. Ia membukanya dengan kasar.

Pandangannya langsung tertuju pada sosok Zafira yang terbaring di ranjang, tubuhnya meringkuk menghadap dinding. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan napasnya terdengar tidak teratur.

“Apa ini?” suara Atharv terdengar keras, masih diliputi amarah. “Kau pikir dengan mengurung diri semuanya akan selesai?”

Zafira sedikit bergerak, namun tak bangkit. Ia menarik selimut lebih erat, suaranya serak ketika akhirnya menjawab,

“Aku tidak enak badan.”

Atharv melangkah mendekat, berdiri di sisi ranjang.

“Tidak enak badan atau kau sengaja menghindar?” tanyanya tajam.

Zafira memejamkan mata. Dadanya kembali terasa sesak.

 “Aku hanya lelah,” ucapnya lirih. “Aku tidak sanggup menghadapi apa pun pagi ini.”

Atharv terdiam sejenak. Untuk pertama kalinya, kemarahannya goyah saat melihat kondisi Zafira yang jauh dari baik-baik saja.

Namun gengsi dan emosinya masih menahan kata-kata di tenggorokannya. Ia menghela napas kasar, lalu berkata dingin,

“Bangun dan makan. Kau tidak bisa terus seperti ini.”

Zafira tidak menjawab. Air mata kembali merembes di sudut matanya, sementara Atharv berdiri kaku—marah, bingung, dan perlahan mulai menyadari bahwa luka yang ia tinggalkan mungkin lebih dalam dari yang ia kira.

Zafira menggeleng pelan tanpa menoleh. Suaranya sangat lirih, nyaris tenggelam di antara napasnya yang berat.

“Aku tidak nafsu makan. Tolong, biarkan aku sendiri.”

Kalimat itu justru menjadi pemicu.

Atharv menegakkan tubuhnya, sorot matanya kembali mengeras.

“Apa maksudmu tidak nafsu makan?” suaranya meninggi tajam. “Sejak kapan kau bisa memilih-milih seperti ini?”

Zafira tersentak. Tubuhnya menegang, tangannya mencengkeram selimut lebih erat.

 “Aku benar-benar tidak bisa, Atharv,” katanya gemetar. “Dadaku sesak, kepalaku sakit”

“Alasan!” Atharv membentak, suaranya menggema di kamar. “Kau pikir sikapmu ini tidak memalukan? Mengurung diri, melewatkan makan, lalu berharap semua orang memaklumi?”

Zafira akhirnya berbalik sedikit, matanya basah, wajahnya pucat.

“Aku bukan sengaja, aku hanya sedang tidak sanggup,” ucapnya hampir menangis.

Namun Atharv sudah terlanjur terbakar amarah.

“Kau selalu bilang tidak sanggup!” bentaknya lebih keras. “Lalu apa yang sanggup kau lakukan sebagai istriku?”

Kata-kata itu menghantam Zafira tanpa ampun.

Napasnya tercekat, air matanya jatuh deras.

Tubuhnya gemetar hebat, rasa takut kembali mencengkeramnya.

Ia menunduk, tak berani menatap Atharv lagi, sementara pria itu berdiri di hadapannya dengan amarah yang kembali memuncak tanpa menyadari bahwa setiap bentakan semakin menghancurkan perempuan yang berdiri di hadapannya.

1
Yuningsih Nining
sudah waktunya untuk ngebangun kepercayaan di antara kalian, saling mengukuhkan utk tumbangin niat si raisa dgn fitnah² atau pun trik²lain di otak kotor nya
Ariany Sudjana
saya pikir update baru, ternyata cerita kemarin di ulang lagi hari ini
Ndaa: maaf, terdouble kayaknya. soalnya sedikit gangguan tadi.
total 1 replies
Ariany Sudjana
jadi fitnah Raisa sudah dipatahkan dengan hasil pemeriksaan dokter, saatnya kalian berdua membuka hati, jangan ada celah orang ketiga masuk dalam kehidupan rumah tangga kalian
Ariany Sudjana
sudahlah zafira, tinggalkan saja laki-laki seperti atharv, kok lebih percaya sama si ratu racun Raisa. masih banyak laki-laki di luar sana yang lebih bisa menghargai perasaan istrinya dan pasti lebih bertanggung jawab
Ariany Sudjana
bagus zafira, kamu harus tegas, jangan biarkan ular berbisa seperti Raisa, menghancurkan rumah tangga kamu dan atharv
Ariany Sudjana
bagus zafira kamu harus tegas, jangan biarkan perempuan murahan seperti Raisa itu menindas kamu dan atharv kalau kamu mau berpikir, selidiki dulu kebenarannya, jangan termakan omongan Raisa yang beracun itu. atau jangan-jangan Raisa itu mencintai atharv? cuma karena atharv sudah menikah dengan zafira, jadi segala cara dia lakukan untuk menghancurkan zafira
Ariany Sudjana
muak dengan ular berbisa Raisa ini
muna aprilia
lanjut
Ariany Sudjana
ga suka sama atharv,. laki-laki kok lemah dan gampang dipengaruhi sama si ratu ular Raisa
Arw
ceritanya bagus kak...d tunggu Up-nya...seru..ga sabar nunggu Up
sunshine wings
Apalah makna sebuah ikatan tanpa hubungan.. Seperti orang asing.. Tapi ya sudahlaa..
sunshine wings
Tapi kamu tidak menyayangi Zafira apalagi mencintainya Arthav.. 🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️
sunshine wings
🥹🥹🥹🥹🥹
sunshine wings
Alamak! 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
sunshine wings
Ikhlaskan aja sayang maka hidupmu akan diserikan dengan bunga² cinta disinari dengan warna² pelangi yg sangat terang.. ❤️❤️❤️❤️❤️
Heny
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!