Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan idaman para Laki-laki
Kkkkrrrrreeeeekkkkkk....
Terdengar suara tali timba sumur, derit suara itu terdengar seperti ada yang menimba air...
"Mak...!!! Mamak bukan...??" Ucap Yitno dari dalam kamar mandi..
Tak ada jawaban sama sekali. Yitno menelan ludah dengan raut wajah ketakutan, ia sudah yakin jika itu pasti hantu atau arwah Lastri yang gentayangan menghantuinya.
Perlahan ia keluar dari kamar mandi mengedarkan pandangannya ke sekitar sumur, tampak ember yang menggantung di tali timba itu bergoyang seperti habis di gunakan.
Yitno segera lari ketakutan masuk ke dalam rumah. Segera ia meraih selimut dan bersembunyi di balik selimut itu.
Teng..!! tenggg..!! tengg...!!!
Terdengar suara begitu keras dari kejauhan, suara seperti besi yang dipukul. Ya! Tak salah lagi itu adalah suara velg mobil yang di gantung di pos ronda yang di gunakan sebagai pengganti kentongan.
"Ada yang ronda..?? Apa aku gabung ke sana aja ya? dari pada di rumah pasti di hantui hantu Lastri." pikir Yitno
Buru-buru ia segera bangkit dari kasur apeknya meraih rokoknya dan ponselnya lalu bergegas menuju pos ronda yang tak jauh dari rumahnya, mungkin hanya sekitar lima puluh meter.
Sekilas tercium bau kapur barus dan beras kuning ketika ia keluar rumah. Yitno tak menghiraukan bau tersebut ia terus melangkahkan kakinya menuju pos ronda, sesampainya di sana ia begitu bingung, di situ sama sekali tak ada warga yang sedang ronda.
"Lho siapa tadi yang mukul mukul velg besi ini kalau gak ada yang ronda? Apa lagi pada keliling ya?" Yitno mengerutkan keningnya melihat velg mobil yang tergantung di pos ronda itu masih bergerak seperti habis di pukul.
Ia pun duduk menyalakan sebatang rokok dan memainkan ponselnya. tak lupa ia juga memukul mukul velk mobil yang di jadikan pengganti alat kentongan itu. Yitno berfikir jika saja yang berkeliling mendengar, mereka pasti akan segera kembali. Waktu menunjukan pukul setengah tiga dini hari.
"Bentar lagi pagi, aku gak perlu takut."
Yitno berusaha menguatkan keberaniannya. Ia bangkit dari duduknya lalu mengumpulkan plastik bekas dan sampah yang berada di jalanan, ia ingin membakar sesuatu, sekedar untuk mengusir rasa dingin dan nyamuk. Tiba-tiba matanya melihat ke arah kejauhan di ujung jalan. Ya! Satu orang sedang berjalan ke arahnya.
"Eh? siapa itu? Orang bukan...??" Yitno memicingkan matanya sedikit tertegun, karna yang berjalan ke arahnya itu adalah seorang wanita.
"Pe-perempuan jam segini? Siapa ya? Apa warga yang pulang kerja? Kayaknya gak ada gadis atau janda di kampung ini yang kerja jadi LC?" Batinnya sembari garuk garuk kepala. Yitno pun kembali duduk di pos ronda sembari menunggu wanita itu lewat.
Gadis itu berjalan dengan menundukkan kepalanya membuat Yitno sulit melihat wajahnya, setelah dekat alangkah terkejutnya ia, gadis itu ternyata sosok Lastri..
Yitno tercekat dengan mata terbelalak, tubuhnya tak bisa bergerak seolah terpatri dengan bumi. Seketika itu juga berhenti aliran darahnya seolah tersengat listrik yang membuatnya tak bisa bergerak.
Gadis itu berhenti tepat di depan pos ronda, mengangkat kepalanya yang tertunduk, wajahnya pucat seperti mayat yang lama terendam air, matanya putih dengan titik hitam pupil matanya yang kecil. Raut wajahnya tampak marah dengan mata menyalang ke arah Yitno.
"Ha...ha...hantu..."
Akhirnya Yitno bisa berteriak, bersamaan dengan itu tubuhnya dapat ia gerakan, dalam sekejap Yitno pun lari tunggang langgang tak karuan, ia menerobos pintu rumahnya hingga roboh, dan ibunya yang kaget pun terbangun.
"Ada apa Yit...!!!" Tanya ibunya panik
"Ha..hantu...Mak....!!!" Ucap Yitno terbata bata
"Lailahaillallah Yit.. Yit.. dari kemarin kamu bilang hantu hantu teros...!!! Liat itu pintunya rusak..!!! Benerin nggak!"
"Iya Mak be..besok aku benerin.."
Karena sudah mau subuh, ibunya pun tak melanjutkan tidur dan memilih melakukan rutinitas pagi seperti beberes dan memasak. Sementara Yitno di dalam kamar begitu setres karena ia sering di ganggu arwah Lastri.
"Apa karena aku terlalu takut ya? Emangnya hantu bisa nyelakain manusia? Makan manusia? Kayaknya gak mungkin. Hmm, Nanti malam kalau aku di ganggu lagi aku coba beraniin diri lah. Sebentar lagi udah genep seminggu, kalau udah lewat puasa ini semoga hantu itu gak gangguin aku lagi.." gumam Yitno bertekad
Hari-hari berikutnya Yitno mulai berani, walaupun ia mendengar suara isak tangis atau apapun itu ia mencoba menghiraukannya, bahkan tubuhnya pernah di sentuh Yitno pun biasa saja tak menanggapi. Ia men-sugesti di fikirannya bahwa hantu tak akan bisa menyelakainya.
Sikapnya yang berani bercampur pasrah itu ternyata berhasil, ia mampu melewati tujuh hari puasanya dengan aman. Setelah semua syarat dan tirakat sudah ia penuhi semua, saatnya ia menemui sang kakek di rawa itu.
Siang itu ia pun pergi menemui sang kakek di kediaman gubuk reyotnya dengan membawa pancing, agar warga desa mengira ia hendak pergi memancing ikan.
"Tok...tok...tok...Mbah..Mbah...kulonuwon" ucap Yitno
"sopo yo?" jawab si kakek dari dalam gubuknya
"Kulo Mbah"
"Kulo sinten?"
"Kulonuwon"
"huwoohhh..ngerjain wong tuwek!" si kakek dengan kesal membuka pintu dan ia dapati Yitno berdiri dengan senyuman ngeselinnya.
"Kamu to! Dasar! Hmm..masuk Yit.."
Yitno pun masuk ke dalam rumah itu. Tampak kakek itu ternyata tadi sedang sibuk melinting tembakau, tampak di alas tikar banyak tembakau.
"Emm anu Mbah, udah saya lakuin puasa itu.."
"Bagus.."
"Terus gimana Mbah?" Tanya Yitno
"Ya gak gimana-gimana nanti kamu juga tau,," jawab sang kakek itu sembari beranjak berdiri mengambil sebuah buntelan daun pisang raja yang tempo hari Yitno berikan. Daun itu sudah tampak menguning lalu si kakek membukanya.. Ya kain kafan tersebut ada di dalamnya.
"Ini pegang, ini cuma bisa di gunain malam hari. Batas waktunya sehabis magrib hingga jam tiga malam, ingat baik-baik itu." Ujar sang kakek
"Gunainnya gimana Mbah, caranya?"
"Hmm.. nanti kamu tau sendiri, mulai malam ini terhitung hingga 100 hari kemudian kamu harus mencari darah per*w*n lagi, untuk menjaga kekuatan kain ini agar bisa terus kamu pakai!"
"Apa...!!! Darah per*w*n mayat lagi Mbah? Ya gak mungkin ada Mbah..susah lah."
"Tenang, darah selanjutnya justru bukan dari mayat, tapi dari darah per*w*n dari seorang gadis, kamu harus membasuh kain kafan itu dengan darah per*w*n setiap 100 hari sekali."
"Apa...?? Jadi aku harus gituin per*w*n dalam setahun tiga kali Mbah?" Sang kakek mengangguk-anggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan Yitno.
"Be..berarti dari sekarang atau nunggu 100 hari lagi Mbah?"
"Batas waktunya ya seratus hari, kemarin kan udah dapet tuh dari mayat yang kamu set*buhi, jadi tersisa waktu 93 hari lagi untuk kamu cari per*w*n. Kalau udah dapet yang tenggat waktunya jadi seratus hari lagi, begitu seterusnya." ucap kakek itu menjelaskan
Yitno hanya bisa menelan ludah mendengar itu semua, ia sudah terlanjur masuk ke dalam dunia iblis, ia tak bisa mundur, ia terlanjur meny*t*buhi Mayat dan berpuasa aneh hingga di hantui rasa bersalah dan gangguan dari arwah Lastri.
"Jelasin soal ini Mbah? Gimana saya bisa kaya, dengan ini?" Tanya Yitno penasaran sembari mengepal kain kafan yang ia pegang
"Baiklah Mbah kasih tau, kamu gak bisa kelihatan kalau pakai itu di malam hari, kamu bisa memp*rkos* anak gadis. Mengambil harta orang bahkan membunuh dengan itu." Ucap sang kakek tersenyum menyeringai sedikit menakutkan.
"A..aku bisa gak kelihatan? A...apa bener Mbah?"
"Cobalah malam ini, tetapi ingat kamu bukanlah hantu, kamu tetep manusia dan kamu masih bisa di sentuh. Jadi hati-hati dan tetaplah waspada."
"Ja..jadi begitu, aku bisa mencuri...jika seperti ini kekuatan kain ini mungkin aku akan mudah mendapatkan darah dari gadis per*w*n." Batin Yitno
"Cara gunainnya gimana Mbah, kain ini?" Tanyanya lagi
"Ikatkan di perutmu, di lilit seperti kemben menutupi pusarmu."
"Cuma itu Mbah?"
"Sisahkan ikatannya sedikit, untuk mengelap darah per*w*n yang keluar dari gadis yang menjadi korban mu."
"Baik mbah, aku mengerti." Yitno pun pulang dengan fikiran tak karuan memenuhi sesak isi kepalanya.
Sesampainya di rumah ia masih penasaran dengan ucapan sang kakek tentang kekuatan kain kafan yang katanya bisa membuatnya tidak dapat tampak terlihat, ia sedikit ragu tentang itu. Ia pun berencana selepas magrib nanti akan mengetesnya..Apakah ibunya benar-benar tak bisa melihatnya.