"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Ulah Zana
"Ya. Beri dia pelajaran."
"Eughh..."
Kalendra mengusap kening Kanaya yang tengah mengigau dalam tidurnya. Menyalurkan ketenangan dan membuat perempuan itu kembali terlelap.
"Jangan. Buat saja dia tak sadarkan diri. Jangan sampai meninggal. Ada kejutan lainnya yang menanti bajingan itu esok hari."
"....."
"Lakukan kerjaanmu dengan benar, maka imbalan yang kuberikan juga akan sepadan."
Tut.
Panggilan dimatikan. Tersenyum miring, Kalendra menyimpan ponselnya di atas nakas. Kemudian, atensinya sepenuhnya tertuju pada wajah cantik sang istri. Menatap perempuan itu penuh puja.
Jari telunjuknya terulur, membelai pipi Kanaya, membentuk pola abstrak di sana.
"Dia ingin merebutmu dariku?" laki-laki itu terkekeh remeh.
"Tidak akan aku biarkan."
"Tapi--- kenapa kau berbohong, Kanaya?" Kalendra menunjukan raut kecewa, meskipun Kanaya tak dapat melihatnya.
"Apa kau berencana untuk kembali padanya? Kau ingin pergi dariku, hm?"
Jemari Kalendra turun, menyusuri bahu ringkih Kanaya, hingga akhirnya berhenti pada punggung tangan perempuan itu. Menggenggam tegas, kemudian membawanya ke bibir, lantas mengecupnya penuh kepemilikan.
Kalendra terkekeh di sela-sela kecupannya. "Mana mungkin."
"Jangankan kembali, kau bahkan tidak percaya dengan ceritanya." ujar Kalendra menyeringai puas.
Kemudian, dia tempelkan telapak tangan Kanaya pada pipinya. Menggosoknya pelan, merasakan kehangatan akibat gesekan pipinya dan telapak tangan sang istri
"Kau tahu, aku sangat bahagia waktu kau membelaku di hadapan dia. Apalagi melihat tatapan bajingan itu yang terluka. Aku sangat menyukainya." adu Kalendra seakan Kanaya sedang mendengarkannya.
"Jadi, mana mungkin kau mau kembali padanya, kan?"
Bibir Kalendra tersungging penuh arti. Membentuk senyum berbahaya yang tak pernah ia tunjukkan pada Kanaya.
"Jika pun memang kau ingin kembali pada bajingan itu, aku tidak akan mengijinkan." tatapan Kalendra menggelap. Binar obsesi terpancar jelas pada irisnya yang tajam.
"Sebelum kau melangkah pergi, aku akan patahkan kakimu. Mengurungmu hanya untuk diriku. Merantai tanganmu dan memberikanmu hukuman yang tak akan pernah orang bayangkan." bisik Kalendra penuh ancaman. Walaupun--- percuma. Kanaya tak dapat mendengarnya.
"Jadi--- jangan macam-macam, oke?"
Kalendra melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Lantas, laki-laki itu mendecakkan lidah. Dia masih ingin bersama Kanaya, sayangnya ada urusan yang harus dirinya urus.
"Aku pergi dulu, hm?"
Kalendra meletakkan tangan Kanaya dengan perlahan. Kemudian, wajahnya mendekat pada kening sang perempuan. Menempelkan bibirnya pada bagian itu dalam. Lantas, dia berbisik rendah.
"Aku harus memberi pelajaran pada bajingan yang berani merecoki hubungan kita."
.
.
Pram tampak membuka pintu mobilnya yang terparkir di basement rumah sakit. Melepas jas putihnya, ia lemparkan benda kebanggaan para dokter itu asal.
Menyadarkan punggungnya pada kursi kemudi, laki-laki itu membuang nafas lelah. Hari ini, cukup banyak pasien yang harus dirinya periksa dan itu sangat melelahkan. Belum lagi--- pembicaraannya dengan Kanaya tadi pagi.
Satu-satunya hal yang berhasil merusak konsentrasinya. Kata-kata Kanaya kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
"Aku tidak suka dengan barang bekas. Aku jijik dengan laki-laki yang pernah berse-tubuh dengan perempuan lain selain diriku."
"Membayangkannya saja, sudah membuatku mual."
"Ck, sial!" umpat Pram, memukul setir kemudinya kasar.
Tak dapat dipungkiri, egonya merasa terkikis mendengar hinaan tak langsung dari Kanaya. Tetapi, lebih dari itu--- dadanya terasa sesak karena Kanaya tidak mau mempercayainya. Hatinya tak terima saat mendengar secara langsung bagaimana Kanaya membela Kalendra.
Orang tak waras yang menjadi penyebab utama terpisahnya dia dengan Kanaya.
Andai si brengsek itu tidak ada. Andai dia tidak mengganggu, Pram yakin, saat ini dia sudah hidup bahagia dengan Kanaya.
"Kalendra-- dia memang gila." desis Pram penuh dendam.
"Aku bersumpah akan membuka kedokmu di hadapan Kanaya. Kanaya-- dia terlalu suci untuk bersama orang kotor sepertimu."
"Itu hanya akan terjadi di dalam mimpimu."
Deg. Suara itu?
Pram sangat terkejut mendengar suara dari arah kursi belakang. Belum sempat dia menoleh, mulutnya sudah lebih dulu dibekap menggunakan sapu tangan yang mengeluarkan bau menyengat.
Bola mata laki-laki itu membesar. Kedua kakinya bergerak mencari pijakan dengan tangan yang mencoba melepaskan bekapan di mulutnya.
Hingga akhirnya, pergerakannya mulai melemah. Pram merasakan kepalanya berputar-putar. Dan--- dokter itu kehilangan kesadarannya.
"Uhh, tugasku selesai." monolog sang pelaku sembari mengusap dahinya yang mengeluarkan peluh.
Tak lama, jendela mobil terketuk. Lantas, sang pelaku membuka benda itu. Memperlihatkan sesosok laki-laki berwajah dingin dengan sorot tajam.
"Bos." sapa pelaku yang baru saja membuat sang pemilik mobil pingsan.
Kalendra melirik Pram yang tak sadarkan diri di kursi kemudi. "Bawa dia ke apartemen di alamat yang sudah aku kirimkan. Di sana, seseorang sudah menunggunya dengan tidak sabar."
Orang itu mengangguk patuh. "Baik, bos."
"Dan, bisakah kau segera kirimkan bayaran untukku, setelah ini aku ingin bersenang-senang." cengir orang itu yang dibalas dengusan merendahkan oleh Kalendra.
Apa orang itu tersinggung? Tentu saja tidak. Asalkan bayaran yang dia dapatkan setimpal, harga diri bukanlah hal yang penting.
"Lakukan saja tugasmu. Setelah selesai, bersenang-senanglah sampai puas."
Orang itu bersiul senang. Mengacungkan jempol pada Kalendra sebagai isyarat."
"Aman bos."
Di lain tempat, seorang suster terlihat sedang mengganti pakaian seragamnya dengan baju biasa. Jam sift-nya sudah selesai, sekarang waktunya pulang dan beristirahat.
Saat sedang merapikan barang-barangnya sembari bersenandung pelan, tanpa suster sadari, seseorang datang menyelinap masuk ke ruang ganti.
Mengendap-endap, tangan orang itu dengan perlahan vas bunga terletak di rak dekat pintu. Kemudian, dengan gerakan cepat, orang itu memukul kepala sang suster. Keras, sampai vas yang terbuat dari tanah liat itu pecah.
Seketika, rasa pusing bercampur nyeri menyergap kepala suster itu. Tubuhnya ambruk, hingga dia kehilangan kesadaran dengan tangan yang memegang kepalanya yang terluka.
Zana--- sang pelaku, dia tersenyum puas. Lantas, dia singkirkan tubuh yang tak berdaya itu, menyembunyikan di balik meja yang ada di sana.
Kemudian, setelah memastikan tubuh suster itu tak terlihat, Zana mengambil seragam khas rumah sakit. Memakainya, kemudian mengambil masker dan menutupi sebagian wajahnya.
Perempuan itu keluar dari ruang ganti dengan menyamar sebagai suster. Langkahnya pelan namun pasti, menyusuri lorong yang sepi.
Hingga, langkahnya berhenti tepat di depan ruangan bertuliskan vvip, membuka pintunya dengan perlahan, netranya menangkap seseorang yang tengah tertidur lelap di atas bangkar.
Sendiri. Tidak ada orang yang menjaga, membuat batinnya bersorak gembira. Mengira jika takdir sedang berpihak padanya.
Bahkan, takdir saja merestuiku untuk menghabisimu, Nyonya.
Zana mendekati bangkar. Memperhatikan Kanaya yang tengah tertidur lelap. Lantas, bibir yang tertutup oleh masker itu menyeringai bagaikan iblis.
"Nyonya, apakah tidurmu lelap?" ujarnya berbicara sendiri.
"Apa? Ahhh, tidak ya? Kau terlihat terganggu dalam tidurmu." simpul Zana. Padahal, nafas Kanaya terdengar teratur, menandakan bahwa Kanaya nyaman dengan tidurnya.
"Bagaimana, jika aku---" perlahan, Zana mengambil bantal yang menjadi tompangan kepala Kanaya. Seringainya semakin lebar, membayangkan jika rencananya akan segera berhasil.
"Membantu agar tidurmu lebih nyenyak. Kau tidak akan terbangun lagi untuk----"
"Selamanya." bisik Zana hampir tak terdengar.
Kemudian, sudah bisa ditebak. Zana membekap wajah Kanaya menggunakan bantal. Menekannya agar istri Kalendra itu tidak bisa bernafas.
"Mati...mati kau!" desis pembantu itu rendah.
Tubuh Kanaya terlonjak. Tangannya bergerak mencoba melepaskan dengan kaki yang bergerak mencari pijakan.
"Sebentar lagi, semua yang kau miliki akan menjadi milikku, termasuk--- Tuan Kalendra." tawanya penuh kemenangan.
"Memang seharusnya kau mat--
Brakk!!
Zana menegang. Bantal di genggamannya terlepas. Sontak Kanaya sebagai korban menghirup nafas rakus.
Di ujung pintu, Kalendra--- matanya menyorot tajam pada Zana yang sudah menggigil ketakutan.
"Sialan. Kau cari mati, hah?!"